Dianaira

Petrichor

Si Pemikir ‘INTP’

3d5ef8bb858e3489f393a44c4609b26d

sumber gambar: https://www.google.com

I’m an INTP person. Agak membingungkan memang, waktu pertama kali ikutan test MBTI saya mendapatkan diri ini adalah seorang INFP tapi setelah ikutan tes kali kedua, ketiga dan keempat terus-terusan dapet INTP. Ya mungkin karena mereka sodaraan dan cuman beda  di huruf antara F dan T doang. Akhirnya, saya meyakini diri saya sebagai pemilik kepribadian INTP.

Perbedaan antara kepribadian INTP dan INFP terdapat pada T (Thinking) dan F (Feelings). Sebelumnya dalam blog, saya pernah membahas soal tipe INFP (baca: Saya INFP)  yang perasa dan mudah menjadi depresi. Nah, kepribadian perasa ini yang terasa sangat bertolak belakang dengan diri saya yang lebih mementingkan logika dan jauh dari kata sensitif (ya, anggaplah saya ini orang dingin dan kurang bisa memahami emosi orang lain). Karena penasaran, akhirnya saya  ikutan tes lagi (online) dan mendapatkan hasilnya sebagai tipe kepribadian INTP, awalnya saya nggak terima karena sudah merasa nyaman sebagai seorang INFP,  lalu saya ikutan tes lagi dan terus-terusan hasilnya INTP -__-.

Ternyata INTP (Introversion, Intuition, Thinking, Perception) adalah tipe kepribadian yang kurang umum dalam populasi dunia, khususnya bagi perempuan. Di antara perempuan INTP menduduki urutan ke-empat paling langka setelah INTJ, ENTJ dan INFJ. Soal ini saya merasa berbangga hati karena barangkali saya termasuk tipe perempuan yang sulit ditemukan karena spesiesnya yang langka, hanya orang-orang beruntunglah yang bisa mengenali dan mendapatkan saya (sekaligus tersiksa karena sulit memahami karakter ini haha).

Sebagai tipe pemikir, INTP menyukai hal-hal yang bersifat teoritis, suka berdiskusi tentang ilmu pengetahuan. Sama seperti tipikal introvert yang penyendiri, INTP sering terlihat sedang melamun padahal sebenarnya dalam otak mereka sedang berpikir keras. Ini adalah kejadian yang sering saya alami, orang-orang sering mendapati diri saya sedang melamun bahkan memergoki saya sedang tersenyum sendiri. Entah mengapa sayapun meng-iyakannya, agak aneh memang tapi dalam otak saya selalu ada 1001 imajinasi yang sulit saya bicarakan dengan orang lain. Sempat saya bertanya pada diri sendiri saya nggak gila kan?

Tidak suka bertemu dengan banyak orang menjadi karakteristik INTP yang lainnya. Mereka cenderung menarik diri, sering enggan untuk membiarkan siapapun masuk ke dalam pikirannya termasuk soal hati. Namun pada saat yang sama seorang INTP juga bisa bersikap ramah jika ada  pembicaraan yang menarik perhatiannya.

Meski bersifat fleksibel dan santai orang-orang kepribadian INTP ini bisa saja bersifat defensif  bila keyakinannya dipertanyakan atau dikritik. Mereka cenderung merendahkan pendapat orang lain karena merasa pemikiran dirinya lah yang paling benar dengan kemampuan analisis yang memang baik.

Kelemahan INTP yang suka linglung meski mampu memfokuskan semua upaya analisisnya dalam ide spesifik, mereka juga sering  mengabaikan topik lain, kadang lupa pada hal-hal yang tidak menarik perhatiannya. Sering menebak-nebak sendiri tanpa mengargumentasikan pendapatnya pada orang lain. Tidak bisa menggambarkan perasaannya dengan mudah, tanpa emosi, tak suka aturan, tidak tepat waktu, penghindar, skeptis, sulit untuk dibujuk, terlihat seperti tidak bahagia, bertindak sesuka hati, berantakan, tidak teroganisir.

Kelebihan INTP memiliki kemampuan analisis yang mengesankan untuk melompat dari suatu ide ke ide yang lain. Jujur dan to the point, tidak suka basa-basi. Objektif tidak melibatkan emosi dalam mengambil keputusan. Imajinatif dan original, pikirannya selalu meproduksi ide-ide. Berpikiran terbuka, biasanya INTP berpikiran liberal ketika ada norma-norma dan tradisi sosial. Antusias, dapat menghabiskan sebagian besar waktunya demi mencari tahu hal-hal yang membuat mereka tertarik, mereka juga akan sangat antusias ketika membahas topik baru dengan orang lain. Suka berfantasi, menghargai keanehan, cerdas, pencari kebenaran, independen, bekerja sangat baik saat sendiri, berorientasi pada masa depan, tidak punya keinginan untuk memimpin dan mengikuti, pemecah masalah dan biasanya brilian dan berbakat, menyukai fiksi-ilmiah.

Kalau soal asmara, INTP termasuk orang yang tidak romantis, namun sangat setia karena mereka tipe yang tidak banyak menuntut. Sedangkan soal pertemanan INTP termasuk tipe pemilih meski memiliki banyak teman, karena mereka hanya suka membicarakan hal-hal yang menarik perhatian saja dan cenderung tak menyukai basa-basi.

Saya rasa semua karakteristik ini ada dalam diri saya, dibandingkan saat menjadi seseorang dengan karakter INFP.  Ya, setidaknya setelah  mengetahui tipe kepribadian INTP ini, saya mampu untuk memahami cara memperlakukan diri sendiri. Memahami apa yang menjadi kekurangan saya juga kelebihannya. Karena saya selalu yakin bahwa, orang yang paling tahu tentang dirimu adalah dirimu sendiri.

Advertisements

Everything you’ve Come to Expect from TLSP

shadow-art

Saya hampir saja  tidak menyangka kalau mereka benar-benar kembali.  Side project  antara vokalis Arctic Monkeys dan Miles Kane, James Ford serta Zach Dawes hadir lagi dengan album ke duanya, setelah pada tahun 2008 sukses merilis album bertajuk The Age of the Understatement. The Last Shadows Puppets merilis album terbarunya yang berjudul Everything You’ve Come to Expect pada awal April 2016.

Jujur pada awal mula kemunculan TLSP, saya tak terlalu menyukai lagu-lagu mereka apalagi pada album The Age of the  Understatement. Mungkin karena jiwa Arctic Monkeys telah begitu melekat pada sang vokalis Alexander David Turner and you have to face the truth that you  wouldn’t found any Arctic Monkeys style at The Last Shadows Puppets. Saya pun tidak menerima, mengapa mereka malah terlihat seperti pasangan homoseksual (okay kali ini mungkin saya memang cemburu) yang saling membutuhkan. Well, forget about that two persons, we talk about their music.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya pun mulai menikmati ke-khasan gaya bermusik The Last Shadow Puppets yang lebih ballad dan yah pokonya berbeda dengan AM. Dan disitulah saya pun akhirnya menyadari bahwa AM dan TLSP adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Mereka memiliki jiwa masing-masing, sayapun tak akan setuju bila TLSP membawakan lagu AM begitu sebaliknya.

Berujung pada peng-ikhlasan ini, album Everything You’ve Come to Expect saya dengar dengan pengharapan akan lebih bagus dari album sebelumnya. Everything You’ve Come to Expect masih memajang model perempuan sebagai cover album, sama pada albumnya yang pertama meski dengan gaya dan pastinya perempuan yang berbeda. Sampai detik ini saya tak mengerti mengapa TLSP memilih perempuan sebagai cover di dua albumnya (padahal neng aja yang jadi modelnya bang 😥 ).

Sebelum perilisan album, Bad habits muncul sebagai single pertama sekaligus dengan Music video-nya. Meski begitu, saya belum merasakan kegeregetan dalam album ini. Semuanya terpecahkan ketika saya mendengarkan Everything you’ve come to Expect dan Aviation yang rilis secara berdempetan.

Music Video-nya pun cukup menarik, sebuah cerita yang berlanjut pada dua single berbeda. Dimulai dengan lagu Everything You’ve Come to expect dengan setting di pinggir pantai. Alex Turner dan Miles Kane terkubur hingga sebatas leher dan ada seorang perempuan yang menari-nari di sekitar mereka. Sepanjang lagu tersebut tidak ditemukan apa alasannya hingga mereka  sampai berada di tempat tersebut. Namun segala pertanyaan itu terjawabkan pada music video selanjutnya yang berjudul Aviation. Dengan bergaya ala mafia-mafia Sisilia, sebuah kisah dimulai dari track tersebut dengan plot flashback (kalau penasaran tonton saja). Ditambah dengan aksi Miles Kane yang sangat menakjubkan dalam video musik tersebut, membuat saya melongo.

Bagi saya kedua lagu tersebut adalah lagu yang paling keren untuk didengar dalam album ini. Meski banyak ditemukan lirik-lirik yang tidak mudah dipahami seperti : Gloomy Conga, Sectoral Heterochromia, Annalise’s Dulcet songs, The Colourama in your eyes Apocalytic lipstick campaign, dll saya tetap bisa merasakan tiap bait yang menyentuh dengan begitu lembut.

Jika dalam track Everything You’ve Come to Expect terkesan begitu seksi, lembut dan indah serta kaya akan majas. Dalam track Aviation akan ditemukan sebuah kegelisahan yang barangkali tak mampu dipahami dengan sekilas pendengaran sehingga membuat kita penasaran mengenai maksud dari lagu ini. Karena saya merasa tak ada korelasinya antara judul lagu Aviation dan isinya (that’s just my opinion).

Di track-track yang lainnya pun akan terasa sangat hype khususnya  dalam lagu Miracle Aligner. Akhirnya, kita akan menemukan sisi lain dari Alex Turner yang selain bisa akting (di MV Aviation) juga bisa dance. Mungkin kalau Miles Kane sudah terbiasa, tapi kalau bang Alex yang terkenal lebih pemalu, kalem nggak banyak aneh-aneh walau sempat mengubah image menjadi lelaki sengak, sungguh luar biasa.

Ada pula Pattern dan Dracula Teeth yang enak didengar selagi melamun atau bersantai ria karena ritme dan temponya yang santai tapi tetap mengena. Saya pun menyukai kedua track ini, apalagi Dracula Teeth yang durasi lagu yang lebih pendek bila dibandingkan yang lainnya.

Keseluruhan dari album yang memiliki 12 track ini, diisi oleh 6 track berikutnya seperti: The Dream Synopsis, The Bourne Identity, Used To be My Girl, Sweet Dreams TN, The Element of Surprise dan She Does The Woods. Membuat kita ingin terus mendengarkannya bagai candu bagi kamu yang memang menyukai jenis musik yang agak sulit dipahami.

Band TLSP yang memilih jalur indie ini semakin melebarkan sayapnya dengan rutin tampil diberbagai acara-acara musik, dengan harapan side project mereka akan terus berlanjut hingga album ke-3, ke-4, ke-5 dan seterusnya.

A Moon Shaped Radiohead

 

radiohead-moon-shaped-pool

A Moon Shaped Pool, seakan menghidupkan kembali jiwa-jiwa band legendaris yang digawangi oleh paman Thom Yorke cs. Setelah beberapa waktu yang lalu sempat membagikan sebuah track berjudul Spectre—yang katanya nyaris saja menjadi lagu soundtrack dalam film Spectre, tapi ternyata digantikan oleh Sam Smith dengan judul Writing on The Walls—dalam akun berbagi musik Soundcloud. Akhirnya, Radiohead merilis album studio ke-9 nya pada bulan Mei 2016.

Daydreaming dan Burn The Witch menjadi single pembuka dalam album bertajuk A Moon Shaped Pool, cukup ampuh untuk membuat nama band besar ini kembali terangkat. Music video nya pun terkesan absurd dan tak pernah meninggalkan segala ke-khasan unsur Radiohead di album-albumnya terdahulu. Meski tak se-eksperimental seperti yang ditemukan dalam lagu Paranoid Android (yang menurut saya sangat kaya, mendalam, puitis dan memberikan kesan amarah  terhadap kehidupan) atau alunan musik yang sederhana seperti dalam lagu High and Dry juga Creep dan The Bends yang terkesan begitu alternatif. Saya tak pernah merasakan adanya kekurangan dalam album ini, khususnya untuk track Daydreaming yang selalu membuat saya merinding ketika mendengarnya.

     Well, album ini memiliki 11 track lagu dengan proses pembuatan lagu yang berbeda-beda (ada lagu yang dibuat sejak dulu) misalnya saja pada 2008 Thom Yorke untuk pertama kalinya pernah menampilkan lagu Present Tense, sedangkan True Love Waits dirilis dengan aransemen yang lebih fresh dan berbeda. Radiohead tetap menyuguhkan kita pada lagu-lagu yang memiliki unsur gelap dan penuh dengan perenungan. Lagu-lagu A Moon Shaped Pool akan membawa kita kedalam sebuah kolam yang begitu dalam menuju ke dasar-an yang tak terhingga, kita akan merasakan lebih dari sekadar rasa kesepian, frustasi dan di luar akal.

Rasanya kita tak akan memahami makna dari lagu-lagu mereka jika kita  hanya mendengarnya sekali saja, meski instrumennya terasa begitu memikat dan menghipnotis. Lagunya harus didengar berulang-ulang maka kita akan terbawa dan terus terbawa ke dalam makna.

Misalnya, Decks Dark  yang memiliki potongan bait“And in your life, There’s come the darkness.” menjadi salah satu track kesukaan saya. Dalam lagu ini kita tak akan mendengarkan alunan musik berdistorsi tinggi, alunan bass-nya terasa begitu kental, musiknya santai dan tak memekakkan telinga (ya terkesan malas-malasan seperti lagu Talk Show Host dan lagu lainnya). Meskipun begitu, tetap saja maknanya sangat emosional dan sentimental.

Sedangkan lagu yang menurut saya paling eksperimental setelah Daydreaming adalah track yang berjudul Identikit (red: aidintikit), judul yang paling menarik dan menimbulkan teka-teki karena awalnya saya tak tahu apa artinya (Untungnya ada di dalam kamus. Bahasa Inggris ya, kalo Bahasa Spanyol mah nggak akan ada, hehe).

Dalam kamus, Identikit ini memiliki dua arti yang mirip dengan makna yang mungkin agak berbeda (silakan cari kamus). Tapi intinya sih, Identikit dalam lagu Radiohead adalah gambaran wajah seseorang yang sudah tak ingin kita lihat dan ingat lagi. Ditambah dengan ke-khasan suara paman Thom Yorke yang tak penah berubah seiring bertambahnya usia, Identikit juga memiliki intro yang sangat menentramkan hati sehingga terasa sangat berkelas.

Present Tense dan True Love Waits menjadi lagu yang paling ballad bagi saya. Seakan mengacak-acak perasaan dengan alunan melodi yang membikin hati galau dan hancur secara perlahan-lahan.  Sayapun menyukai versi terbaru dari track True Love Waits yang dulunya terkesan sangat sederhana tapi mengena karena menggunakan gitar akustik.

Nah, ada juga Burn The Witch yang terasa sangat alternatif, Full Stop, Glass Eyes, The Numbers, Desert Island Disk dan judul yang paling panjang dari semuanya adalah Tinker Tailor Soldier Sailor Rich Man sangat patut untuk didengarkan.

Secara keseluruhan album A Moon Shaped Pool, memiliki tingkat distorsi yang rendah dengan kisaran durasi lagu masing-masing 3-6 menit. Tak akan kita temui track yang memiliki emosi meledak-ledak atau sebuah kemarahan yang diluapkan pada lirik-lirik frontal.

Seperti membawa kita ke dalam sebuah perjalanan yang panjang dan di luar batas. A Moon Shaped Pool mengajak kita masuk ke dalam sebuah pendewasaan diri yang lebih tenang dan  emosi-emosi yang harus tertahan seiring dengan bertambahnya tingkat kedewasaan. Semua rasa amarah, keputus-asaan, patah hati, penyesalan bercampur aduk menjadi sebuah kolam yang tak memiliki dasar dan begitu gelap juga sepi.

Lebih dari sekadar rasa frustasi, bahkan bulan pun sampai berbentuk kolam tak berdasar ini, juga menyerupai sebuah band bernama Radiohead. A Moon Shaped Pool, A Moon Shaped Radiohead will brings you into a deep hole.

 

Track list  Radiohead, A Moon Shaped Pool (2016):

  1. Daydreaming
  2. Decks Dark
  3. Desert Island Disk
  4. Full Stop
  5. Glass Eyes
  6. Identikit
  7. The Numbers
  8. Present Tense
  9. Burn The Witch
  10. Tinker Sailor Soldier Sailor Rich Man
  11. True Love Waits

 

*Saking ademnya, kadang lagu-lagu ini mampu membuatmu mengantuk kemudian memimpikan sebuah dunia yang baru seperti yang kamu harapkan. hehe*

 

Hanyutlah ke dalam Kisah Sherlock Holmes Abad 21

Sherlock-BBC-poster-1    (sumber gambar: https://www.google.com.)

Bagi kamu penyuka cerita detektif/ misteri pasti sudah tidak asing lagi dengan kisah legendaris karya penulis asal United Kingdom sir Arthur Conan Doyle yang berjudul “Sherlock Holmes”.  Saking fenomenalnya, entah mengapa saya selalu merasa tokoh fiksi satu ini adalah figure nyata yang hidup  di tahun 1800-an dengan keahlian deduksinya yang sungguh di luar nalar.

Sejumlah karya pun banyak yang terinspirasi dari kisah Sherlock Holmes, film-film di buat semakin menambah tingkat popularitasnya. Sherlock Holmes yang diperankan oleh Robert Downey Jr pun begitu apik.  Namun, ada lagi Sherlock Holmes versi lain yang sangat sayang kalau dilewatkan.

Diperankan oleh Benedict Cumberbatch dengan setting abad 21, sosok Sherlock Holmes yang baru pun terlahir.  Drama serial “Sherlock”  yang dibuat oleh Steffen Moffat dan Mark Gatiss ini ditayangkan oleh BBC One dan BBC HD sejak tahun 2010 hingga sekarang (2017). Selain diperankan oleh Cumberbatch, dr. John Watson (partner dari Sherlock Holmes) pun diperankan oleh pemeran Bilbo dalam film trilogy The Hobbit, Martin Freeman. Menurut saya kedua aktor tersebut sudah cukup menjamin kalau serial tv asal Britania ini worth it untuk ditonton.

Tak tanggung-tanggung IMDB memberi rating 9.1 untuk ‘Sherlock’, sedangkan Rotten Tomatoes yang terkenal pelit pun berani menyematkan rating Sherlock sebesar 91%. Dibandingkan dengan versi lain, serial Sherlock berhasil ‘mengadaptasi’ mahakarya dari sir Arthur Conan Doyle dengan cara pandang dan setting yang lebih modern dan sama cerdasnya.

Serial televisi ini telah memproduksi 4 seri dengan 3 episode di setiap seasonnya. Seri 1 yang ditayangkan di tahun 2010 ini di mulai dengan judul “A Study of a Pink”, dengan mengadaptasi cerita awal mula perkenalan antara Holmes dan Watson dalam versi novel aslinya yang berjudul “ A Study in Scarlet”. Sedangkan di episode dua  berjudul The Blind Banker, pada episode ini petunjuk-petunjuk tentang musuh besar muncul kepermukaan. Di eposide 3  “The Great Game”, Moriarty (tokoh antagonis utama)  muncul untuk pertama kalinya dengan diperankan oleh aktor tampan Andrew Scott.

Di tahun 2012 seri ke 2 tayang dimulai dengan pertemuannya dengan seorang perempuan yang mampu menyaingi kecerdasan Sherlock yaitu Irene Adler, dengan judul A Scandal in Belgravia. Irene yang dikenal sebagai The woman adalah seseorang yang selalu ada dalam pikiran Sherlock karena cara pandangnya yang begitu mengagumkan.

Selanjutnya, pada episode 2 yang berjudul The Hounds in Baskerville, Sherlock mengusut kasut tentang anjing besar (seperti monster/ makhluk supranatural) yang memakan korban, karena kasus ini lah nama Sherlock Holmes semakin terkenal dan banyak dimintai untuk memecahkan kasus oleh para kliennya.

Sebagai penutup dari seri ke-dua,  The Reichenbach Fall  dibungkus dengan begitu apik membuat penonton penasaran untuk menonton seri selanjutnya. Pada episode 3 keadaan Sherlock yang begitu dipuja masyarakat diputar balikkan menjadi sosok yang begitu hina karena ulah musuh besarnya James Moriarty. Dengan ending yang menggantung dan menegangkan, para penonton akan dibuat terkejut oleh twisted yang terjadi di seri 3.

     The Empty Hearse yang tayang  di tahun 2014, sebagai pembuka seri 3 mampu menghadirkan twisted yang menjajikan sebagai lanjutan seri ke dua. Menurut saya twisted di episode ini begitu menakjubkan bahkan di luar ekspektasi yang saya bayangkan. Selain twisted yang muncul secara berentetan, pertemuan antara Sherlock dan Holmes setelah dua tahun tidak berjumpa mampu membuat saya terharu sekaligus tertawa. Mereka sangat mirip dengan sepasang kekasih yang saling merindukan namun ketika bertemu selalu saja cek-cok kemudian berdamai, kemudian cek-cok kembali.

Episode 2 dengan judul The Sign of Three adalah jenjang kehidupan baru bagi Watson yang akhirnya menikah dengan perempuan bernama Mary,  seorang perempuan misterius yang juga tak kalah cerdas.  Misteri Mary akhirnya terpecahkan  di episode penutup dengan judul  His Last Vow yang memiliki kejutan tak kalah keren dari  seri lainnya.

Selain berhasil membongkar siapa identitas dari istri Watson yang sebenarnya. His Last Vow  sekaligus berhasil membuat Sherlock terjerat masalah kriminal sehingga ia diharuskan untuk diasingkan ke luar negeri. Namun, pada saat itu pula-lah kekacauan kembali terjadi. Baru saja akan lepas landas, sebuah pesan berisi “Miss Me?” Beredar di se-antero negeri, tak lain dan tak bukan adalah ulah dari lawannya James Moriarty, yang diduga telah mati dan menghilang dalam episode menegangkan The Reichenbach Fall.

Sebagai pengobat rasa rindu untuk menunggu kedatangan seri ke-empat. Pada natal 2015, Sherlock menghadirkan sebuah episode spesial berjudul The Abominable Bride. Sedikit berbeda dengan seri-seri sebelumnya Holmes bermain dengan istana pikirannya untuk memecahkan sebuah kasus yang sudah sangat lama terjadi beratus tahun yang lalu.

Episode ini mengambil setting asli dari kisah Sherlock Holmes di tahun 1800-an . The Abominable Bride mengisahkan tentang seorang pengantin yang bunuh diri bernama Emelia Ricolleti kasusnya menarik perhatian karena setelah kematiannya, sang suami bernama Thomas Ricoletti pun mati tertembak dengan tersangka arwah dari Emelia. Karena sifatnya yang tidak biasa dan karakteristik supranatural jelas, kasus ini menjadi cerita hantu terkenal dan dikaitkan dengan sejumlah pembunuhan berikutnya. Cerita ini juga menyuguhkan tentang feminisme yang mana perempuan pada zaman dahulu tak diperbolehkan untuk memiliki profesi yang setara dengan pria. The Abominable Bride merupakan episode paling rumit dan sangat sulit untuk memahami setiap benang merahnya. Sehingga membuat penonton harus siap me- replay setiap dialog dan adegan  yang terjadi.

Penonton sepertinya memang harus bersabar, karena seri 4 yang baru saja syuting di awal tahun 2016 ini rencananya akan tayang pada awal tahun 2017 dengan kasus dan konflik yang lebih  menarik. Supaya tidak penasaran, trailer Sherlock sudah bisa dinikmati di channel youtube sejak pertengahan tahun 2016.

Saya rasa Sherlock berhasil memberikan twisted yang menakjubkan dalam setiap episode-nya. Serial ini memang membutuhkan konsentrasi yang tinggi agar penonton bisa memahami alur cerita juga twisted yang telah disuguhkan. Tak ayal, kadang untuk sekadar  melewatinya sepersekian menit saja penonton akan merasa keteteran. Saya pun merekomendasikan film ini lebih baik ditonton secara sendirian agar konsentrasi tidak terpecah belah

Meskipun begitu, Sherlock menyuguhkan chemistery yang apik antara Holmes – Watson ala Cumberbatch – Freeman. Lucunya, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sebentar-bentar berdebat kemudian akur lagi.

Dari segi bahasa , beruntunglah bagi yang menyukai  segala hal yang berbau Inggris dan pasti akan sangat berbahagia karena aksen British akan terasa sangat kental terdengar di telinga penonton (ya, karena pemerannya rata-rata juga orang British sih) yang mungkin tak akan dijumpai di versi yang diperankan oleh Robert Downey Jr.

Yang pasti Sherlock pantas dijadikan rekomendasi dalam deretan drama seri detektif yang wajib untuk ditonton bagi kamu pecinta cerita detektif dan misteri.

Selamat hanyut kedalam kisah Sherlock Holmes abad 21!!!!

 

Kajian Sastra

Pattrinesia Herdianaira

1211503097

 

  1. Identifikasi kaitan antara sastra dengan masyarakat!

Jawab : kaitan sastra dengan masyarakat adalah suatu timbal-balik, menurut Soemanto kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Hal ini membuktikan bahwa sastra tidak muncul begitu saja, dari masyarakatlah sastra muncul dan dari sastra masyarakat sadar. Menurut Damono (1978:3-4) mengklasifikasi tentang hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra dan masyarakat, yang secara keseluruhan merupakan bagan berikut:

  1. Konteks sosial pengarang.hal ini berhubungan dengan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan pengarang, misalnya: dimana ia tinggal, bagaimana lingkungannya. Hal ini tentu dapat mempengaruhi isi dari suatu karya sastra
  2. Sastra sebagai cermin masyarakat; sejauh mana sastra dapat me-representasikan dari masyarakat itu sendiri. Sastra diharapkan dapat membuat seseorang/masyarakat sadar akan lingkungannya sendiri.
  3. Fungsi sosial sastra. Meneliti sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan sejauh mana nilai sastra dipengaruhi nilai sosial.

Ini artinya senada seperti yang dipaparkan oleh Wellek dan Warren (1976) bahwa :Literature is a social institution, using as its medium language, a socialcreation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature ‘represent’ ‘life’; and ‘life’ is, in largemeasure, a social reality, eventhough the natural world and the inner orsubjective world of the individual have also been objects of literary ‘imitation’. The poet himself is a member of society, possesed of a specific social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he addresses an audience, however hypothetical. (1976:94).

 

  1. identifikasi karya sastra sebagai dokumen sosial budaya!

Sastra sebagai dianggap sebagai dokumen budaya karena sastra sendiri lahir dari masyarakat yang merujuk pada sosial,sedangkan interaksi sosial itu sendiri akan menghasilkan suatu kebudayaan. Kebudayaan pada masa tertentu akan menghasilkan sastra. Maka dari itu sastra tidak akan lahir tanpa adanya sosial dan budaya. Junus (1986) mengemukakan, bahwa yang menjadi pembicaraan dalam telaah sosiologi sastra adalah karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya. Sastra bisa dilihat sebagai dokumen sosial budaya yang mencatat kenyataan sosio-budaya suatu masyarakat pada suatu masa tertentu. Pendekatan ini bertolak dari anggapan bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Bagaiamanapun karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya. Goldmann (1980) mengatakan, bahwa sastrawan mengamati kehidupan yang terjadi pada masyarakat kemudian menulisnya, memahaminya hingga memindahkannya ke dalam karya sastra.

 

  1. identifikasi pengaruh sosio budaya terhadap penciptaan karya sastra!

Karya sastra tidak dapat dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan tempat ia lahir. Karena karya sastra merupakan cerminan dari realitas social yang tidak turun begitu saja dari langit karena semuanya ada hubungan timbal balik. Maka dari itu karya sastra tak bisa dilepaskan dari kehidupan dimana tempat/lingkungan ia lahir. Grebstein (1968: 161-169) yang isinya antara lain sampai pada beberapa kesimpulan antara lain karya sastra tidak dapat dipahami secara tuntas apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan yang telah menghasilkannya, gagasan yang terdapat dalam karya sastra sama pentingnya dengan bentuk dan teknik penulisannya, setiap karya yang bisa bertahan lama pada hakekatnya adalah suatu moral, masyarakat dapat mendekati karya sastra dari dua arah yaitu sebagai suatu kekuatan material istimewa dan sebagai tradisi, selain itu kritik sastra seharusnya lebih dari sekedar perenungan estetis tanpa pamrih, dan yang terakhir kritikus sastra bertanggung jawab baik kepada sastra masa silam maupun sastra yang akan datang.

  1. Identifikasi penerimaan karya sastra terhadap penulis tertentu!

Penerimaan karya sastra terhadap penulis tertentu tergantung pada respon pembacanya menurut Teeuw (dalam Pradopo 2007:207) menegaskan bahwa resepsi (penerimaan atau penyambutan pembaca) termasuk dalam orientasi pragmatik. Karya sastra lahir karena bertujuan untuk menyadarkan (merefleksikan) masyarakat yang lebih sempitnya adalah pembaca. Maka dari itu, pembaca bisa menentukan makna dan nilai dari karya sastra, sehingga karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang memberikan nilai.

  1. Identifikasi penerapan pendekatan karya strukturalisme genetic

Strukturalisme genetik merupakan cara menganalisis karya sastra dengan mencari tahu asal-usul karya sastra itu sendiri.  Menurut Goldmann ada 3 tahap dalam melakukan penelitiaan sastra menggunakan teori strukturalisme genetik, diantaranya sebagai berikut:

  1. a) Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data
  2. b) Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis
  3. c) Dan terakhir sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.
  4. Identifikasi sistem reproduksi dan pemasaran karya sastra!

Sistem produksi pemasaran karya sastra tergantung oleh tipe dan taraf ekonomi yang ada dalam masyarakatnya itu sendiri, dan penguasa(pemerintah) juga punya andil dalam terbit atau tidaknya suatu karya sastra

.

Referensi

Damono, Sapardi Djoko.1978. Sosiologi Sastra: sebuah pengantar ringkas. Jakarta : Depdikbud.

Goldmann Lucien.1978. Towards a Sociology of the Novel. Tavistock Publication

Junus Umar.1986. Sosiologi Sastra persoalan Teori dan metode. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka

Lauren Diana, Alan Swingewood. The Sociology of Literature.

Wellek Rene dan Austi Werren.1989. Teori Kesusastraan. Melani Budianta. Jakarta Gramedia

Terlahir dari Jemari

     Perempuan itu tak punya apapun selain jari-jemari yang kurus nan panjang beradu pada layar keyboard hingga melahirkan kata. Sesekali jemarinya terhenti, menekan backspace, kemudian  melahirkan kata baru lagi.  Ia tak pernah lupa untuk membagikan hasil tulisannya secara cuma – cuma melalui internet, namun iapun tak pernah menyadari jika ada seseorang, ah bahkan—barangkali—banyak orang yang telah jatuh cinta berawal dari kata yang dihasilkan dari jemarinya itu.

      Ia sudah memiliki lumayan banyak followers dalam akun media sosialnya. Dibandingkan cacian atau umpatan perempuan itu lebih sering menautkan blognya di akun media sosial  atau kalaupun harus, ia lebih senang berfantasi dengan film-film yang sudah ia tonton, buku-buku yang ia baca, atau musik yang ia dengar. Namun dari situ ia tak pernah tahu, bahwa akan ada cinta yang terlahir.

     Satu cara unik tuhan.

     Jari mereka saling bersentuhan.

     140 karakter.

     Seseorang yang akhirnya membuatnya merasa lebih betah untuk menatap layar laptop ataupun smartphone-nya. Tak pernah bertemu namun jari mereka selalu beradu, kata telah menuntunnya pada sebuah cerita.

     “Murakami.”

     Salah satu penulis yang sedang ia cari karya-karyanya. Sebuah kecocokan yang  mengalir begitu saja. Secara tiba-tiba lelaki itu, mem-posting buku yang sedang ia baca dalam akun media sosial 140 karakter tersebut. Perempuan itu menyambutnya dengan sebuah sambaran kecil sebagai ungkapan rasa kekaguman, hingga membuat perempuan itu lagi-lagi tersentak.

     “Nanti saya pinjamkan deh.”

     Cara unik tuhan lagi.

     Perempuan itu mengulum seyumnya, walau ia tahu entah kapan buku itu akan tiba di pelataran rumahnya. Namun dengan hal sekecil itupun telah membuatnya merasa bahagia.

     Rasa penasaran semakin hari semakin bertambah. Dengan mengandalkan sosial media 140 karakter, ia mencari tahu apa yang lelaki itu sukai atau tidak. Tentang bagaimana cara berpikirnya terhadap hal-hal yang terjadi di dunia sekitarnya. Seketika, perempuan itu menyadari bahwa ia telah menjatuhkan hatinya pada lelaki 140 karakter.

     Ia pun mulai membaca karya-karya lelaki itu yang disebarkan melalui blog pribadinya. Kemudian munculah sebuah tulisan baru yang baru lelaki itu sebarkan. Tentang seorang perempuan yang telah membuat lelaki itu merasa jatuh hati dengan judul Berawal dari Kata.

     Sebuah buku mendarat di pelataran rumahnya, sebuah janji dari 140 karakter telah lelaki itu tepati. 1Q84 telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan kecil.

     Ini adalah sebuah kedekatan yang lebih dekat dari sekadar jarak. Sejak buku itu tiba di berandanya, hatinya menjadi sering terombang-ambing. Cukup realistis kah ia? Bahkan ia  hanya tahu rupa lelaki itu lewat foto saja. Bagaimana kalau lelaki itu seorang penipu ulung, atau seorang psikopat yang sedang mencari mangsa? Sebagai perempuan—biasa—ia patut berpikiran seperti itu.

     Namun Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kata, dalam lautan tak berdasar, dalam dunia baru yang diciptakan oleh  teknologi. Mulai saat itu selalu ada yang perempuan itu tunggu selain aplikasi chatting-nya, tapi juga paket-paket yang datangnya silih berganti, berisi buku-buku kesukaannya. Setiap kurir paket tiba di depan rumahnya, setiap kurir itu mengetuk pintu rumahnya dan berteriak kata ‘paket’. Setiap ia membuka bungkusnya, selalu ada rasa baru yang muncul di benaknya, selalu ada rasa ingin bertemu meski pada akhirnya hal itu tak pernah terucap.

     Ia merasa sudah berada di zona nyaman. Ah, mungkin lebih baik seperti ini. Lagipula kalau cocok di dunia maya belum tentu cocok di dunia nyata. Jakarta-Bandung memang tidak begitu jauh, tapi memangnya ada lelaki yang mau ke Bandung hanya demi seorang perempuan, yang belum dikenal pula. Ya setidaknya tidak kenal dalam dunia nyata. Hatinya kembali terombang-ambing, satu sisi hatinya tergerak namun disisi lain ia mencoba untuk realistis

     Pada layar smartphone-nya perempuan itu kembali terpaku saat lelaki itu berujar “Saya mau ke Bandung, bertemu denganmu.”

     Pertemuan pertama.

     Ia menanti hari itu, satu langkah baru. Sungguh jika cinta memang terlahir dari kata, pertemuan hanyalah sebuah pelengkap.

     Entah apa yang bersarang dalam pikiran si perempuan. Dengan singkat ia meminta lelaki itu untuk datang ke rumahnya, bertemu dengan orang tuanya. Seorang lelaki yang bahkan belum pernah ia ingat akan senyumannya, suaranya pun belum pernah terngiang di kepalanya. Ia hanya bisa mengingat satu hal, 140 karakter.

     Sambil menunggu lelaki itu tiba di istana kecilnya, seperti adegan film Ada Apa Dengan Cinta sudah beberapa kali ia berganti pakaian, bercermin, membubuhi wajahnya dengan make up, kemudian menghapusnya lagi. Ini hanyalah sebuah pertemuan bukan kencan, lagi-lagi batinnya berujar.

     Ia mencoba menghapuskan segala prasangka, bahwa apapun yang terlihat di dunia maya, belum tentu indah di dunia nyata. Bisa saja ia merasa tertarik pada lelaki yang belum ditemuinya itu, tapi bisa juga tidak. Begitupun sebaliknya.

     “Hai.” Satu tarikan napas untuk menenangkan perasaannya yang tak karuan, ketika lelaki yang tak tahu apa-apa tentang Bandung tiba dengan selamat. Ia mengulurkan tangannya, senyuman lelaki itu akhirnya untuk pertama kalinya terekam di kepalanya.

     Satu pertemuan saja telah membuatnya merasa yakin, dugaan itu haruslah benar. Berawal dari Kata mestinya ditujukan padanya. Meski ia tahu bahwa hatinya masih membutuhkan jawaban langsung dari lelaki itu, kata dan cinta. Karena sebuah perasaan memang  baiknya untuk diungkapkan.

     Lelaki itu sudah meruntuhkan benteng hati yang telah dibuat se-kokoh mungkin. Walau iapun selalu merasa ragu. Mampukah cinta yang terlahir dari jemari ini bersambut dan bertahan lama?

     3 Minggu kemudian,

     Sebuah tautan blog muncul pada salah satu aplikasi chat-nya. Pada akhirnya lelaki itu memintanya untuk membaca hasil tulisan yang sebenarnya telah perempuan itu ketahui. Ia tak terkejut namun hatinya merasa lega, ternyata Berawal dari Kata memang ditujukan pada perempuan penyuka band Radiohead itu.

     “Tuhan telah menghendaki jari kita untuk saling beradu hingga melahirkan cinta.”

     Perempuan itu meng-klik publish hasil karya terbarunya sebagai balasan perasaan yang ia tujukan pada lelaki itu.

     Kemudian ia hanya bisa mengikuti kisah yang telah tuhan berikan kepadanya dengan cara—yang baginya—terasa sangat unik dan melebihi dari kata romantis

–.

Manusia Kaum Paradoksal

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sumber Gambar: http://www.google.com

Saya teringat pada caption Instagram salah satu musisi indie asal Bandung yang saya kagumi, Fiersa Besari “Kita adalah makhluk paradoksal yang ingin menyelamatkan pohon, sekaligus membabat pohon demi membaca buku dan sekotak tisu”. Saya menyimpulkan bahwa kita menginginkan alam yang lestari tapi juga merusak demi terpenuhinya kebutuhan. Hal ini tentu manusiawi, tapi apakah kita sudah sadar bahwa ketika kita sudah mengambil hal milik alam kita juga bertanggung jawab untuk memulihkannya kembali? Tentu kesadaran ini tak dimiliki oleh semua orang entah dari pihak produsen, pemerintah atau kita sendiri sebagai konsumen.
Kelapa sawit dengan nama lain Ealeis adalah tumbuhan industri yang sangat populer bagi pemilik negara tropis seperti Indonesia. Pohonnya yang mudah tumbuh di negara ini, membuatnya berkembang kian pesat, ditambah lagi dengan manfaat minyaknya yang begitu banyak seperti: minyak masak, minyak industri dan bahan bakar. Kelapa sawit akhirnya dijadikan ladang bisnis bagi banyak produsen khususnya di daerah Sumatera dan Kalimantan. Hal ini tentu secara terus-menerus berdampak pada lingkungan kita sendiri.
Pengalihan lahan hutan menjadi perkebunan, sebagian besar dipegang oleh perusahaan-perusahaan kapitalis yang ingin meraup keuntungan besar bersamaan dengan bertambahnya jumlah Sumber Daya Manusia sehingga kebutuhan hidup pun akan semakin bertambah.
Sistem kapitalisme ini membuat tumbuhan kelapa sawit yang minyaknya sangat bermanfaat, sering dijadikan lahan keuntungan besar—yang mungkin karena faktor kebutuhan pula—dan dapat menghasilkan berbagai manfaat juga produk yang beragam, dimulai dari kebutuhan sembako, makanan, hingga produk kecantikan. Hal ini menunjukkan, bahwa hidup kita tak bisa dipisahkan dari minyak sawit—mungkin—sama seperti air.
Para produsen pun seakan menghalalkan segala cara untuk memberantas hutan-hutan di negeri ini dengan menebang dan membakarnya secara brutal. Tentu saja mereka memiliki andil besar terhadap kerusakan hutan dan harus mempertanggung jawabkannya dengan pemulihan pohon-pohon yang telah ditebang/bakar. Namun kita tak pantas bila menyalahkan mereka sepenuhnya, sudah seharusnya kita berkaca pada diri sendiri karena barangkali permintaan konsumen-lah yang menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan.
Terkadang konsumen tak pernah tahu dan tak ingin tahu tentang dampak barang yang telah mereka beli, yang penting kebutuhan terpenuhi. Jika sudah terkena dampak negatif lingkungan, siapa yang disalahkan? Tentunya para produsen dan pemerintah. Sementara konsumen hanya bisa berkilah, memaki, dan menghina.
Sadarkah kita? kita pun sebagai konsumen berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Seperti sebuah jeratan, budaya kosumerisme seakan merajalela dan kita tak mampu melepas mata rantai ini dengan mudah karena saling bersinggungan. Seiring perkembangan zaman minyak sawit akan terus dibutuhkan hingga dinyatakan langka (mungkin karena kehabisan lahan atau sebagainya) atau ditemukan minyak alternatif lain yang lebih ekonomis dan praktis. Yang pasti minyak sawit sampai detik ini masih berjaya.
Dengan mengatas namakan kebutuhan inilah, maka ditebang hutan-hutan untuk dijadikan lahan perkebunan. Produsen semakin kaya dan konsumen semakin puas karena disuguhkan dengan berbagai pilihan produk yang berasal dari minyak sawit. Sedangkan pemerintah pun sulit mengontrol budaya ini, mengingat ambisi mereka yang menginginkan negeri ini menjadi produsen kelapa sawit nomor wahid di dunia dan lebih parahnya lagi, adanya budaya sogok-menyogok alias suap-menyuap sehingga izin pun gampang turun.
Kembali lagi pada minyak sawit yang memiliki dua sisi mata uang (menguntungkan dan merugikan). Sepatutnya di manapun posisinya, kita harus menyadari dampak dari perluasan lahan pohon sawit yang terus menggerus ekosistem hutan. Hutan bukan hanya tentang pohon, tapi juga tentang kehidupan, tentang habitat asli hewan, tentang manusia dan tentang bumi.
Kita bisa lihat pembakaran hutan terjadi di mana-mana dan dampaknya telah kita rasakan saat ini. Kabut asap yang tak kunjung usai adalah salah satu dampak perluasan lahan kelapa sawit dengan cara pembakaran hutan, tentu konflik ini tetap saja menjadi bahan perdebatan. Hutan yang terbakar memang bisa terjadi karena dua faktor, yaitu; Faktor alam, dampak El Nino yang menghasilkan kemarau berkepanjangan hingga pohon-pohon pun sangat mudah terbakar. Faktor kedua adalah ulah manusia sendiri, membakar hutan dengan sengaja untuk dijadikan lahan perkebunan, perumahan atau juga industri.
Melihat dari jumlah perkebunan kelapa sawit yang membludak, tentu kita menyadari bahwa kita memiliki dosa besar terhadap kebakaran hutan. Siapapun itu, kita adalah kontributor utama, semua pihak turut berkecimplung dalam sekelumit jeratan ini. Konsumen yang membutuhkan, Produsen yang menyediakan, dan pemerintah yang memberi izin. Jika kita menyalahkan satu pihak, maka kita pun harus menyalahkan pihak lain. Misalnya, menyalahkan produsen kapitalis, kita tentunya harus mengetahui tentang meningkatnya jumlah konsumen yang membutuhkan produk mereka.
Dan untuk menghentikan segala jerat keserakahan ini, maka kita semua harus memiliki kesadaran masing-masing. Jadilah konsumen yang cerdas, produsen yang bijak, dan pemerintah yang beradab. Klise memang, tapi memang begitulah adanya.
Sebagai konsumen, kita memang tak tahu hutan mana yang dijadikan lahan perkebunan sawit tapi konsumen juga berhak untuk bersikap kritis. Pilihlah produk terpercaya yang ramah lingkungan. Maka sebagai produsen, jadilah produsen yang bijak dengan mengetahui dampak dari perluasan perkebunan dan tak sembarangan menebang/membakarnya, lakukan pemulihan terhadap pohon-pohon agar ekosistem tidak terganggu. Jadilah pemerintah yang beradab, tidak mengutamakan ambisi negara untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar tanpa mengetahui efek negatifnya, perbanyak hutan lindung, dan tidak sembarangan memberikan izin untuk kepentingan kelompok apalagi pribadi .
Meski, yang saya tahu hanya segelintir produsen, pemerintah dan termasuk konsumen yang menyadarinya. Itu pun berasal dari kalangan aktivis yang gembar-gembor untuk menjaga kelestarian hutan yang semakin lama semakin dilahap habis oleh kita—kaum manusia—entah sebagai produsen, pemerintah atau konsumen. Saya tetap berprasangka baik, bahwa tetap akan ada manusia-manusia yang peduli terhadap kelestarian hutan.
Saya pun percaya dengan apa yang Fiersa Besari ucapkan bahwa manusia hanya digolongkan menjadi dua kategori: mereka yang menghancurkan bumi dengan cepat dan mereka yang menghancurkan bumi dengan lambat. Itu artinya manusia akan tetap akan menjadi salah satu kontributor perusak alam. Tapi, tinggal anda yang memilih mau menjadi perusak secara lambat atau perusak secara cepat? Meski pada kenyataannya alam bisa memulihkan dirinya sendiri. Alam bisa hidup tanpa manusia, manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Reading V for Vendetta by Alan Moore & David Lloyd

Dibaca lagi lagi dan lagi. Berat, seru, menantang, gelap. Tp kenapa mukanya pada mirip?? Apa krn gabiasa baca komik barat?

Reading V for Vendetta by Alan Moore & David Lloyd

View on Path

TUHAN TELAH MATI : Nihilisme, Pengingkaran Terhadap Tuhan

Oleh: Pattrinesia Herdianaira

1211503097

 

Abstrak : Analisis ini bertujuan untuk memahami konsep aliran filsafat Nihilisme melalui ungkapan “Tuhan Telah Mati” yang diambil dari seorang filsuf Jerman Friedrich Nietzsche serta pengingkaran terhadap Tuhan yang berkembang menjadi suatu paham atau ideologi seperti sekulerisme dan atheisme.

Kata Kunci : Friedrich Nietzsche, Ontologi, Nihilisme, Tuhan, Kristen, Atheisme, Sekulerisme.

Pendahuluan :

Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]? [Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125]

Analisis kutipan ini dilatar belakangi oleh pemikiran Nietzsche yang cukup radikal di zamannya tentang keberadaan Tuhan dan konsep nihilisme itu sendiri. Nihilisme merupakan suatu paham bahwa yang meyakini bahwa dunia ini terutama keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan. Nihilisme juga berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Itu artinya dalam Gott ist tot ( Tuhan telah mati) Nietzsche (sang pembunuh Tuhan) menganggap dengan adanya keberadaan Tuhan maka kekreatifitasan manusia akan terkekang oleh hukum-hukum agama, dan seharusnya manusialah yang menjadi penguasa bagi dirinya sendiri. Maka dari itu Nihilisme tidak percaya pada kehidupan sesudah kematian, pengingkaran terhadap tuhan inipun dapat kita temukan dalam beberapa ideologi seperti atheisme dan sekularisme yang sedang marak di zaman sekarang ini. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.

Metode :

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan konsep Ontologi atau metafisik. Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, untuk menamai hakekat yang ada bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan khusus. Metafisika umum adalah istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika atau ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih terbagi menjadi Kosmologi, Psikologi dan Teologi.

Objek kajian ontologi adalah hakikat seluruh kenyataan. Yang nantinya, objek ini melahirkan pandangan-pandangan (point of view) atau aliran-aliran pemikiran dalam kajian ontologi antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme dan Agnotisisme.

Dalam kajian ini yang akan dititik beratkan adalah aliran Nihilisme yaitu konsep dari Tuhan Telah Mati, suatu kutipan yang diambil dari buku karya Friedrich Nietzsche berjudul Die fröhliche Wissenschaft atau dalam bahasa Inggris The Gay Science yang terbit pada tahun 1882. Dengan menganalisis kutipan dari buku tersebut, kita akan memahami konsep dari Nihilisme yang telah Nietzsche buat.

Setelah itu kita akan mengkaji benang merah serta kemiripan konsep antara Nihilisme, sekulerisme dan atheisme yang sama-sama mengingkari keberadaan Tuhan.

Sekilas Tentang Nihilisme

Nihilisme menurut Friedrich Nietzsche adalah ketika moral sudah mulai runtuh dan agama tidak dijadikan sebagai pegangan, maka dari itu semua orang dalam hidupnya tidak lagi memiliki tujuan hidup yang sebenarnya. Sementara konsep Nihilisme sendiri lahir sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.

Konsep ini dipeluk oleh orang-orang yang memahami bahwa realitas yang ada di alam ini hanyalah keburukan. Mereka beranggapan bahwa fenomena-fenomena yang ada pada manusia tidak lain adalah kemalangan, penderitaan, kemiskinan dan kehancuran.

Hasil Analisa

Analisa Nihilisme dan Tuhan Telah Mati Menurut Friedrich Nietzsche

Analisa ini difokuskan pada kutipan Tuhan Telah Mati serta hubungannya dengan konsep Nihilisme yang berujung pada pengingkaran terhadap Tuhan. Sebenarnya Nietzche mengkritik orang-orang kristen pada zamannya yang menganggap agamanya sebagai ritual belaka yang membuat semua makna dan nilai yang menjadi pegangan (yang mencirikan kewarasan) kini seluruhnya sudah roboh. Dengan berseru “Tuhan sudah mati”, Nietzsche pertama-tama tidak bermaksud mau membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Bagi Nietzsche, pembuktian mengenai eksistensi Tuhan merupakan cara bicara para metafisisi yang hanya bersandar pada prinsip-prinsip logika saja. Sedangkan Nietzsche dalam nihilismenya juga menolak keabsahan logika itu.

Nihilisme berarti penyingkapan bahwa di balik ide indah tentang Idea, Tuhan atau apa pun ternyata hanyalah kekosongan belaka. Lebih parah lagi bahwa idea kekosongan ini ternyata sepanjang segala abad dikehendaki dengan mati-matian. Hal ini adalah ironi zaman, menurut Nietzsche, kehendak akan Kebenaran-Kebaikan-Keadilan secara mati-matian ternyata hanyalah kehendak akan kekosongan. Tersingkapkan sekarang bahwa valuasi berlebihan atas nilai tersebut memiliki sisi mematikan lainnya, yaitu devaluasi atas realitas senyatanya.

Nihilisme sebagai runtuhnya nilai-nilai merupakan keadaan yang normal dan akibat yang harus terjadi. Nihilisme adalah hasil yang tak terelakkan dari seluruh gerak sejarah sebelumnya yang diresapi gagasan-gagasan ketuhanan.

Maka dari itulah “ Tuhan Telah Mati” : Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]? [Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125] karena tuhan hanya dijadikan ritual kekosongan saja. Bagi Nietzsche Tuhan telah mati.

Jadi sesungguhnya Nietzsche berusaha menaklukan Nihilisme itu sendiri. Melalui paradigma yang telah dibangun oleh kutipan Tuhan Telah Mati. Nietzsche mengkritik orang-orang kristen di zamannya sebagai penganut Nihilisme (secara tidak sadar) yang mana ritual keagamaan hanyalah sebagai ritual kekosongan belaka, yang membuat mereka menjadi skeptis dan takut akan dosa dan mematikan sisi kekreatifitasan mereka sendiri. Secara tak sadar orang kristen menganggap tuhan telah mati.

Kemiripan Konsep antara Nihilisme, Sekulerisme dan Atheisme

Nihilisme

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Nihilisme memahami bahwa manusia tidak memiliki tujuan hidup yang sesungguhnya. Kehidupan tidak memiliki arti Tuhan atau apa pun ternyata hanyalah kekosongan belaka.

Sekularisme

Menurut KBBI sekularisme adalah paham atau pandangan yg berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pd ajaran agama. Jadi antara duniawi dan agama haruslah terpisah. Kehidupan duniawi tak ada hubungannya dengan agama.

Atheisme

Ateisme adalah paham yg tidak mengakui adanya Tuhan. Tak ada yang namanya hari akhir, surga ataupun neraka, serta pembalasan atas apa yang telah dilakukan di dunia. Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani ἄθεος (átheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai “ateis” muncul pada abad ke-18.

Ketiga paham tersebut memiliki persamaan. Yaitu sama-sama merujuk kepada pengingkaran terhadap tuhan. Dalam makna Nihilisme tuhan hanyalah kekosongan belaka. Sedangkan dalam ideologi sekularisme moral tak perlu di dasarkan pada ajaran agama yang juga tidak mementingkan kehadiran tuhan. Sedangkan ateis juga berawal dari pertanyaan-pertanyaan/ skepitisme terhadap adanya tuhan. Maka dari itu Nietzsche menganggap bahwa Tuhan telah mati.

Simpulan

Dalam bukunya Die fröhliche Wissenschaft Tuhan yang pernah diakui sebagai tujuan dan dasar bagi dunia dan hidup manusia, semakin pudar. Setiap usaha untuk menghidupkan-Nya kembali sia-sia. Usaha-usaha itu justru menimbulkan berbagai konflik dan situasi menyulitkan dan akhirnya mempercepat proses nihilisme. Situasi nihilistik ini pada akhirnya menjadi semangat zaman karena melampaui kekuasaan manusia perorangan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam arti sempit, matinya Tuhan menunjuk pada runtuhnya jaminan absolut yang merupakan sumber pemaknaan dunia dan hidup manusia. Nietzsche menyebut situasi ini sebagai nihilisme.

Menurut Nietzsche manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberinya nilai. Dan ia menunjukkan bagaimana harus melakukannya tanpa bercita-cita menciptakan, secara singkat nihilisme dapat disimpulkan sebagai suatu kehilangan makna. Manusia tenggelam dalam situasi tertentu dan menerima saja keberadaannya. Suatu sifat nilai-nilai dan kultur tertentu yang menyediakan makna ilusoris tentang kekuasaan sebagai agensi. Menghadapi bahaya nihilisme ini, Nietzsche mengusulkan interpretasi baru. Interpretasi baru harus praktis. Karena itu, manusia harus memahami dirinya sebagai subjek masa kini dan masa depan. Untuk memperkuat pendapatnya tentang otoritas subjek, ia melemparkan dan mengklaim “ Tuhan sudah mati”. Bila Tuhan sudah mati, manusia dapat bebas mewujudkan kekuasaannya. Dengan meninggalkan Tuhan yang dianggap sebagai peletak dasar nilai-nilai, manusia berhadapan dengan suatu kemayaan.

Sementara pada zaman modern seperti sekarang konsep Nihilisme semakin berkembang. Di mana agama hanya sebagai ritual kekosongan belaka sehingga maraklah paham-paham lain seperti sekularisme dan atheisme. Munculnya teknologi yang semakin berkembang, membuat manusia menjadi terasa skeptis kepada agama. Mereka memisahkan agama dan kehidupan duniawinya. Sehingga nilai-nilai moral yang dari dulu telah agama buat terasa hancur begitu saja.

Itulah yang ingin dijelaskan Nietzsche bahwa tuhan telah mati. Karena nilai manusia telah hilang, zaman sekarang pun banyak yang melakukan pengingkaran terhadap tuhan.

Daftar Pustaka

Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern: dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2007..

Laktutus Ruben Moruk de: Nihilisme menurut Friedrich W Nietzsche(1844-1900). http://wwwrubenmorukofm.blogspot.com/2011/01/nihilisme-menurut-friedrich-w-nietzsche.html. 2011. diunduh pada tgl 29 Oktober 2014.

Nietzsche Friedrich, The Gay Science(edited by Bernard Williams). UK: Cambridge Press. 2001.

Setyo Wibowo, A., Gaya Filsafat Netzsche, Yogyakarta: Galang Press, 2004.

Sunardi, St., Nietzsche, Yogyakarta: LkiS, 1996.

Say Hi to CHVRCHES

Chvrches_undertheradar_ExteriorBack to Indie corner, Back to female vocalists! Kali ini gue mau membahas sebuah band Indie aliran electronic, synthpop yang bernama CHVRCHES. Band asal Glasgow, Skotlandia ini terbentuk pada tahun 2011 dan beranggotakan Lauren Mayberry (vocals), Iain Cook (synthesisers, guitar, bass, vocals), dan Martin Doherty (synthesisers, samplers, vocals). Chvrches sendiri sudah merilis satu album di tahun 2013 dengan judul The Bones of What You Believe dengan 12 singles plus 2 bonus tracks didalamnya.
Single yang pertama kali gue dengar dari Chvrhes ini adalah The Mother We Share, tapi yang sangat berkesan dan membuat gue jadi suka sama band asal UK ini pas waktu Lauren Mayberry dkk meng-cover lagu Do I Wanna Know-nya Arctic Monkeys. Berhubung gue suka banget sama AM, gue mendapat kesan baru tentang lagu Do I Wanna versi Chvrches.
Suara Mayberry yang menurut gue khas dan unik, berhasil merubah versi asli lagu Do I Wanna Know yang kesannya maskulin banget jadi lebih feminine dan easy listening. Dengan alunan musik elektronik, lagu Do I Wanna Know yang kental banget dengan suara Alex Turner dan alunan gitarnya berubah total tanpa menghilangkan ke-orisinalitasan lagunya. Gue sempat mengulang-ulang lagu Do I Wanna Know Chvrches cover version dan akhirnya berlanjut untuk mendengar lagu Chvrches yang lain.
Recover adalah lagu ke-tiga yang gue dengar dari Chvrches. Dari awal gue selalu merasa kalau suara khas Lauren Mayberry ini disebabkan oleh usia Lauren yang masih belia (faktor wajahnya yang lucu) dan apalagi kalau diperhatikan postur badannya bisa dibilang kecil untuk ukuran bule. Tapi ternyata gue salah besar Lauren Mayberry tahun ini akan berusia 28 tahun hahaha. Back to the their music, gue jadi makin tertarik sama band yang satu ini. Apalagi pas gue tahu kalau Chvrches sempat dinominasikan dalam kategori British Breakthrough Act di ajang Brit Award 2015. Meski tidak berhasil mendapat penghargaan, menurut gue ini adalah prestasi yang sukses buat band pendatang baru.
Alasan lainnya gue tertarik sama Chvrches. Adalah genre musik yang sangat masa kini, tapi bukan berarti mainstream. Seperti yang kita tahu aliran elektronik dan synthpop/rock memang sedang berkembang pesat di dunia permusikan. Dan Chvrches sebagai band Indie worth it banget buat dijadikan referensi bermusik.

maxresdefault
The Bones of What You Believe – Chvrches:
1. The Mother We Share
2. We Sink
3. Gun
4. Tether
5. Lies
6. Under The Tide
7. Recover
8. Night Sky
9. Science, Fiction
10. Lungs
11. By The Throat
12. You Caught The Light
Bonus Track:
1. Strong Hand
2. The Mother We Share (Errors Remix)

Post Navigation