Dianaira

Petrichor

Archive for the month “November, 2013”

Antara Empat Ratus Potret Yogyakarta

Bagiku di dunia ini tak ada hal yang bisa memuaskan diri selain memotret. Dimana dan kapan saja kamera Single Lens Reflex sudah menjadi teman sejatiku sejak dua tahun yang lalu, aku tak mengerti mengapa aku sangat menyukainya yang pasti ia sudah menjelma menjadi mataku. Setiap hal yang menarik pasti ku abadikan dengan kamera, dimulai dari hal kecil sampai ke hal-hal yang unik. Memotret memang sangat menarik, aku bisa tersenyum sendiri karenanya; seperti orang yang sedang dilanda cinta.
Yogyakarta salah satu kota yang tak mungkin aku lupakan. Di setiap sudutnya tak ada moment yang terlewat untuk tak diabadikan. Dari penduduknya, kuliner sampai bangunannya selalu ada cerita; selalu pantas untuk ku jepret. Sekitar tiga bulan yang lalu aku berada di sana; di Yogyakarta. Aku masih ingat untuk apa aku berada, aku masih ingat gudegnya yang manis, cuacanya yang cukup panas, juga foto-foto hasil jepretanku sendiri. Semuanya masih berada dalam ingatanku, dalam ingatan si kamera.
Aku membuka kembali folder hasil jepretanku di Yogyakarta; cukup banyak, hampir empat ratus. Dari bangunan, kuliner sampai orang-orang yang tak kukenal terpampang disetiap foto, ada yang mengundang tawa, mengundang takjub sampai mengundang penasaran.
Diantara empat ratus jepretan itu, ada foto-foto yang membuatku tersenyum simpul; ia adalah pria bertubuh tinggi, berkemeja merah, bercelana jeans belel, serta berkalung kamera. Aku secara diam-diam sering memotretnya; hasil potretan yang cukup banyak. Hampir seminggu aku berada di Jogjakarta, hampir seminggu itu pula kami bertemu. Segala memori tentang pria itu kembali teringat.
Panas, cuaca yang cukup berbeda dari kota asalku Bandung. Aku membeli sebotol minuman mineral dipedagang asongan dekat keraton. Dahaga terasa mencekik kerongkongan, saat itu pula aku melihatnya. Ia hanya seorang diri, asyik memotret sekitar keraton. Mungkin dia juga seorang wisatawan sepertiku, tiba-tiba mataku terhenti padanya. Aku langsung menyambar kamera yang tergantung di leherku dan memotretnya; hasil yang sempurna. Ia tidak menyadari bahwa aku baru saja memotonya.
Keraton memang menjadi salah satu objek foto yang menarik, dimulai dari penjaga-penjaganya yang menggunakan baju khas daerah Jogjakarta, lampu-lampunya juga begitu unik; desain khas belanda tempo dulu. Lukisan-lukisan sultan hamengku Buwono dari yang pertama sampai saat ini, terpampang disebuah ruangan; tak lupa pula dengan puteri-puterinya.
Wisatawan asing sudah menjadi pemandangan biasa disana, beberapa kali aku meminta berfoto bersama mereka, memang terkesan agak kampungan tapi kami juga sempat berbincang, bertukar pikiran; bertukar pandangan.
Lagi-lagi aku melihat lelaki itu, ia sedang berbincang dengan penjaga keraton. Mungkin ia sedang mengulik informasi atau hanya sekedar bertukar pikiran. Sekali lagi aku memotretnya namun aku merasa tidak puas, aku memotretnya lagi; memotret lagi; memotret lagi setiap detik dari gerakkannya aku abadikan. Kameraku juga tak hentinya memperbesar lensa untuk memfokuskan untuk memperjelas raut wajahnya. Hidungnya lumayan mancung, matanya tajam, kulitnya berwarna kecokelatan. Aku tersenyum melihatnya, sungguh objek yang menarik.
***
Di benteng Vedenburg aku melihatnya lagi, ia masih seorang diri asyik bersama kameranya. Aku memang tidak melihat wajahnya karena aku berada dibelakangnya, tapi aku masih ingat baju apa yang tadi pagi ia kenakan. Kaos berwarna merah dengan tulisan berbahasa Inggris itu masih melekat ditubuhnya, aku memotretnya lagi tepat dengan latar benteng bertuliskan Vedenburg, sungguh hasil foto yang memuaskan.
“ mbak boleh minta foto?” seorang ibu, memintaku untuk memotretnya bersama keluarga. Aku sih mengiyakan saja hitung-hitung membantu orang. Namun, saat aku memfoto mereka lelaki itu menghilang dari pandanganku.
“ makasih ya mbak, biasalah saya baru pertama kali datang kesini.”
“ iya sama-sama ibu, saya juga baru pertama kali” aku menyunggingkan senyum.
“ loh, emang darimana?”
“ dari Bandung”
“ oh satu kampung kalo gitu, saya juga dari Bandung. Makasih atuh ya.”
Ibu berperawakan agak gemuk itu meninggalkanku bersama suami dan ke-tiga anaknya yang masih kecil.
Mataku kembali mencarinya, berharap ia akan datang tak sengaja. Tapi kali ini dugaanku salah, aku sama sekali tak melihat batang hidungnya. Kameraku kembali memotret benda-benda yang lainnya; orang-orang yang sedang berlalu lalang, pedagang pinggir jalan, dan lain-lain sudah cukup untuk menghibur hatiku. Aku memang sangat suka memotret, seandainya ia benda hidup aku pasti bersedia menjadi pasangannya, tapi apa daya kamera tetaplah hanya kamera.
Aku tinggal disebuah hotel sederhana dekat Malioboro, bagiku tempat mewah bukan gayaku. Yang penting ada tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat. Makanan khas Jogja sudah aku cicipi, dimulai dari gudeg yang sering aku temui di kota asalku sampai makanan yang kurasa aneh.
Mencari oleh-oleh sudah menjadi hal wajib ketika berwisata, apalagi hotelku sangat dekat dengan pasar Malioboro. Banyak sekali barang dagangan yang dijual murah, aku membeli beberapa aksesoris seperti kalung, gelang dan gantungan kunci untuk dibagikan kepada keponakan-keponakanku. Suasana yang sangat ramai, dipenuhi oleh wisatawan lokal dan asing. Para berdagang berlomba untuk mendapatkan pembeli, para pembeli juga berbondong-bondong untuk menawar harga. Ada yang tidak tanggung-tanggung menawar hingga setengah harga, ada pula yang takut-takut. Aku tak lupa untuk memotret berjuta ekspresi yang beragam itu.
Pria berkaos merah itu muncul lagi di mataku untuk yang kesekian kalinya. Entah ini yang namanya jodoh atau apa yang pasti ia berada diantara keramaian bersamaku. Sekali lagi aku memotretnya diam-diam, tapi mungkin kali ini ia mulai menyadarinya. Tiba-tiba ia melihat dan menatapku dengan lekat. Jelas saja jika aku merasa salah tingkah.
Ini sudah waktunya makan malam, perutku mulai kosong. Nasi kucing menjadi makanan yang paling aku buru selama di Jogja. Dengan harga seribu lima ratus rupiah sudah bisa mendapatkan satu porsi nasi dengan lauknya. Porsinya memang tidak sebanyak nasi bungkus yang lainnya maka dari itu makanan ini disebut nasi kucing.
Disebuah angkringan aku memakan seporsi nasi kucing ditemani oleh secangkir teh manis, sinden-sinden khas Jawa menghiasi malam Jogjakarta, aku memang tak mengerti tentang apa yang pesinden itu dendangkan namun aku cukup menikmatinya.
Ada seorang pria duduk tepat disebelahku, ia menggunakan kaos berwarna merah serta kamera yang tergantung dilehernya.
“ satu porsi mbok” katanya
Beberapa menit kemudian sebungkus nasi kucing dan segelas kopi tubruk sudah ia dapatkan. Sepertinya aku mengenalinya,aku mencoba untuk melirik ke arahnya. Kini lelaki yang sering ku foto secara diam-diam tepat berada disampingku. Dia membalas tatapanku dan tersenyum.
Folder dengan empat ratus foto yang berjudul Yogyakarta sudah selesai kulihat; semuanya mengukir kenangan indah. Tak akan pernah kulupa sedikitpun. Tiga bulan memang sudah berlalu, tapi kuharap aku bisa kembali kesana; ke Yogyakarta.

Advertisements

Putih-telur Borobudur

Satu persatu
Batu disusun rapi
Seratus tahun

Hingga merekat
Sampai bertingkat-tingkat
Menjadi candi

Tangga dan stupa
Relief dan patung Buddha
Berucap syukur

Dan para bhiksu
Didalam Borobudur
Masih berdo’a

Juga pendatang
Tak memandang agama
Menyentuh candi

Tetap merekat
Keajaiban tuhan
Ribuan tahun

Janda Belum Berlaki

Janda Belum Berlaki

Berpacaran dan kemudian ditinggalkan, itu yang terjadi pada diri Ayu. Berulang kali ia ditinggalkan oleh pria yang ia cintai. Baginya berpacaran adalah hal yang wajib, meski akhirnya ia harus ditinggalkan. Entah berapa kali tubuhnya rusak karena dijamahi pria yang belum jadi suaminya yang sah; entah berapa kali bibirnya yang ranum itu diberikan pada mereka dengan mudahnya.
Ia adalah pemuja cinta; pemuja lelaki, ia juga merasa sangat beruntung bila ada banyak pria yang mengejar-ngejarnya; mengemis-ngemis untuk meminta hatinya. Padahal lelaki itu hanya ingin mempermainkannya; mengangkatnya dan kemudian membuangnya. Entah sudah berapa lelaki yang sudah pernah menjalin hubungan dengannya, bilapun harus dihitung dengan jari sepuluh jari tangan pun tak akan cukup untuk menghitung jumlah mantan kekasihnya.
Sudah sering kali hatinya merasa dilema, memilih pria mana yang pantas menjadi kekasih hatinya; ia benar-benar merasa menjadi primadona, sebenarnya tak ada satupun pria yang benar-benar ia cintai; tak ada satupun pria yang benar-benar mencintainya. Karena itu hati kecilnya tetap merasa kosong; terus mencari pria dengan terus memacarinya.
Ia mungkin terlalu polos atau mungkin terlalu bodoh. Hari-harinya selalu dihiasi oleh lelaki-lelaki nakal, baginya ia sudah dihiasi dengan cinta. Pesan singkat, setiap hari selalu membanjiri telepon selulernya; entah hanya untuk sekedar menyapa atau mengajak makan. Setiap hari pikirannya dipenuhi dengan iming-iming cinta; iming-iming para lelaki.
Sebenarnya aku tak begitu peduli dengan apapun yang sudah ia lakukan, namun hal itu cukup mengusik pandanganku. Setiap ada lelaki yang menghampiri, logikanya jadi tidak karuan; kadang ia menjerit, atau berbicara dengan suara lengkingan manja. Sebagai seorang lelaki aku memang pernah menyukainya; menyukai sifat Ayu yang manja. Tapi semakin lama aku makin semakin jijik padanya; ia bagaikan seorang janda yang haus lelaki.
Teman-teman dikampusku sangat banyak yang mengenalnya;mengenal sosok Ayu dengan dekat. kadang aku selalu menemukan hal yang lucu: temanku adalah mantan kekasihnya dan temannya temanku juga mantan kekasihnya,ternyata temannya teman temanku adalah mantan kekasih Ayu. Aku sering tertawa sendiri karena sudah menjadi saksi betapa banyaknya mantan kekasih Ayu.
Sebagai seorang lelaki, aku tak pernah memandang Ayu sebagai wanita yang cantik, mungkin karena cantik relatif, jadi bagiku ia wanita yang biasa-biasa saja. Ia hanya gadis pesolek ditambah dengan sifatnya yang manja. Pria mana yang tak bernafsu dengan wanita seperti itu; apalagi melihat penampilannya yang begitu aduhai.
Ayu masih memutar-mutarkan penanya yang berwarna merah jambu, melayangkan matanya ke langit-langit kelas. Bajunya begitu ketat; berwarna hijau terang, rambutnya dibiarkan tergerai panjang. Lelaki yang duduk dibelakangnya banyak yang berbincang tentangnya.
“ ssst… bisa nggak lo dapetin si Ayu?”
“ ah! kalau cuman Ayu mah, nggak usah dikejer juga dateng sendiri.”
“ Ayuuu…!!!” kata Boris dengan manja.
Ayu menoleh dengan matanya yang binal, kemudian ia menjadi hilang akal.
“ Apaaaa Boriiiiiiis?”
“ duduk disini dong… Boris mau ngomong” Boris menyediakan satu tempat duduk kosong disebelahnya.
“ apa sih kamu?! Ya udah deh Ayu kesana” . Ayu beranjak dan duduk disebalah tempat duduk yang didiami Boris. Kini ia dikelilingi oleh pria-pria iseng, dan aku hanya bisa menyeringai.
Gadis itu begitu kegirangan, ia seakan memamerkan dirinya dihadapan wanita lain yang berada di kelas. Kadang ia menjerit “AUUW!”; “IIIH” atau tertawa terbahak-bahak. Perilakunya membuat seisi kelas merasa terganggu tapi mereka hanya bisa diam; mendengarkan Ayu.
“ IIIH.. Ayu kan sukanya sama Ibeng..” ia menunjuk ke arahku dan langsung memindahkan tempat duduknya kedekatku.
“ Ibeeeeng… lagi apa sih?! Kok diem terus?!!” rayunya.
“ apaan sih lo, ganggu banget”
“ ciieee… Ibeng dideketin Ayu.. hajar aja Beng!!”
“ Ibeng kok jutek sih sama Ayu? Ayu kan cuman nanya.”
Ia terus menempel didekatku, dosen belum juga datang setelah memberikan tugas. Aku masih fokus dengan tugas; Ayu masih mencoba menarik perhatianku.
Ayu lupa kalau kekasihnya adalah temanku; teman sekelas, yang artinya juga teman sekelasnya. Hari ini Rino tidak masuk, katanya sih sakit. Tapi aku sudah tau sifat temanku itu, paling ia berkencan dengan wanita lain.
“ inget pacar Yu…” tambah Boris
“ IIIH pacar?! Ayu kan pingin pacarannya sama Ibeng, lagian Rino tuh ya udah sebulan nggak ngasih kabar. Katanya sih sakit, tapi pas Ayu dateng ke kosannya dia nggak ada.”
Memang sudah sebulan ia tidak masuk kelas, sempat beberapa kali aku mengirim pesan padanya. Tapi tak satupun pesan ia balas, kalaupun dibalas yaitu pesan seminggu yang lalu yang menyatakan kalau dirinya sedang sakit, katanya ia juga memutuskan kembali ke tempat asalnya untuk beberapa waktu.
“ Yu.. si Rino itu emang bener sakit atau kawin sama cewek lain?”
“ sakit sih katanya, sms nggak dibales soalnya”
“ kawin kali” canda Ryan.
“ apaan sih Ryaaaaaan…?! ya udah deh kalo gitu Ayu mau sama Ibeng aja.”
Desas-desus kalau Rino menikah memang sudah terendus sejak dua minggu yang lalu, namun Ayu tak pernah percaya; Ayu yakin kalau Rino sakit. Desas-desus kalau Rino menghamili anak orangpun terus terangkat. Aku sih percaya saja, karena Rino memang dikenal sebagai lelaki nakal.
Tatapan Ayu padaku tidak se-centil tadi, ia menatap telepon selulernya dengan hampa. Memandang fotonya yang berada dalam pelukkan Rino, mungkin ia merasa ragu sudah satu bulan Rino tidak menghubunginya.
Tiba-tiba nada dering telepon selulerku berbunyi, tertulis nama Rino di dalamnya.
“ halo Beng? Mulai hari ini gue keluar dari kampus. Gue mau langsung nyari kerja.”
“ loh? Emang kenapa No?” Ayu menatapku dengan lekat, berharap ia bisa berbicara dengan kekasihnya.
“ besok gue mau nikah Beng, minta doanya aja ya.”
“ nikah?! Nikah sama siapa?!! Lo sekarang dimana?! Terus Ayu?!!”
Tatapan Ayu mulai melemah, badannya hampir tumbang. Wajahnya pucat, Ayu seakan kehilangan dunianya.
“ ya… nikah sama calon istri gue… hmm Ayu hmm gimana ya? Buat lo aja deh.” Rino menutup teleponnya tanpa sampai ke telinga Ayu terlebih dahulu.
Mata Ayu mulai meneteskan air mata, hingga akhirnya menangis.
***
Sudah seminggu Ayu ditinggal kawin oleh pacarnya, gosip tentang pernikahan Rino tetap menjadi misteri. Lagi-lagi Ayu ditinggal; lagi-lagi Ayu dipermainkan. Semua orang berbicara tentang Ayu; tentang cara berpacaran mereka berdua dahulu yang terlampau liberal.
Mungkin Ayu menyesal, karena sudah sangat merasa tersakiti hatinya; mungkin batinnya merasa ditipu. Sempat beberapa kali aku melihatnya termenung, tak ada lagi sapaan manja yang terdengar ditelingaku.
Aku ingat saat mereka berdua masih berpacaran, kemesraan selalu terumbar didepan umum. Entah hanya sekedar bercanda, berpegangan tangan ataupun berpelukkan. Semuanya terlihat secara jelas, tak bersensor sedikitpun
***
Dua bulan sudah berlalu, aku pikir dia sudah benar-benar berubah. Tapi ternyata ia tetap menjadi Ayu yang dulu; Ayu yang haus akan kasih sayang. Setiap melihat lelaki ia tetap menjadi perempuan yang manja. Sekarang ia siap dipacari lagi, hingga akhirnya ditinggalkan.

Post Navigation