Dianaira

Petrichor

Janda Belum Berlaki

Janda Belum Berlaki

Berpacaran dan kemudian ditinggalkan, itu yang terjadi pada diri Ayu. Berulang kali ia ditinggalkan oleh pria yang ia cintai. Baginya berpacaran adalah hal yang wajib, meski akhirnya ia harus ditinggalkan. Entah berapa kali tubuhnya rusak karena dijamahi pria yang belum jadi suaminya yang sah; entah berapa kali bibirnya yang ranum itu diberikan pada mereka dengan mudahnya.
Ia adalah pemuja cinta; pemuja lelaki, ia juga merasa sangat beruntung bila ada banyak pria yang mengejar-ngejarnya; mengemis-ngemis untuk meminta hatinya. Padahal lelaki itu hanya ingin mempermainkannya; mengangkatnya dan kemudian membuangnya. Entah sudah berapa lelaki yang sudah pernah menjalin hubungan dengannya, bilapun harus dihitung dengan jari sepuluh jari tangan pun tak akan cukup untuk menghitung jumlah mantan kekasihnya.
Sudah sering kali hatinya merasa dilema, memilih pria mana yang pantas menjadi kekasih hatinya; ia benar-benar merasa menjadi primadona, sebenarnya tak ada satupun pria yang benar-benar ia cintai; tak ada satupun pria yang benar-benar mencintainya. Karena itu hati kecilnya tetap merasa kosong; terus mencari pria dengan terus memacarinya.
Ia mungkin terlalu polos atau mungkin terlalu bodoh. Hari-harinya selalu dihiasi oleh lelaki-lelaki nakal, baginya ia sudah dihiasi dengan cinta. Pesan singkat, setiap hari selalu membanjiri telepon selulernya; entah hanya untuk sekedar menyapa atau mengajak makan. Setiap hari pikirannya dipenuhi dengan iming-iming cinta; iming-iming para lelaki.
Sebenarnya aku tak begitu peduli dengan apapun yang sudah ia lakukan, namun hal itu cukup mengusik pandanganku. Setiap ada lelaki yang menghampiri, logikanya jadi tidak karuan; kadang ia menjerit, atau berbicara dengan suara lengkingan manja. Sebagai seorang lelaki aku memang pernah menyukainya; menyukai sifat Ayu yang manja. Tapi semakin lama aku makin semakin jijik padanya; ia bagaikan seorang janda yang haus lelaki.
Teman-teman dikampusku sangat banyak yang mengenalnya;mengenal sosok Ayu dengan dekat. kadang aku selalu menemukan hal yang lucu: temanku adalah mantan kekasihnya dan temannya temanku juga mantan kekasihnya,ternyata temannya teman temanku adalah mantan kekasih Ayu. Aku sering tertawa sendiri karena sudah menjadi saksi betapa banyaknya mantan kekasih Ayu.
Sebagai seorang lelaki, aku tak pernah memandang Ayu sebagai wanita yang cantik, mungkin karena cantik relatif, jadi bagiku ia wanita yang biasa-biasa saja. Ia hanya gadis pesolek ditambah dengan sifatnya yang manja. Pria mana yang tak bernafsu dengan wanita seperti itu; apalagi melihat penampilannya yang begitu aduhai.
Ayu masih memutar-mutarkan penanya yang berwarna merah jambu, melayangkan matanya ke langit-langit kelas. Bajunya begitu ketat; berwarna hijau terang, rambutnya dibiarkan tergerai panjang. Lelaki yang duduk dibelakangnya banyak yang berbincang tentangnya.
“ ssst… bisa nggak lo dapetin si Ayu?”
“ ah! kalau cuman Ayu mah, nggak usah dikejer juga dateng sendiri.”
“ Ayuuu…!!!” kata Boris dengan manja.
Ayu menoleh dengan matanya yang binal, kemudian ia menjadi hilang akal.
“ Apaaaa Boriiiiiiis?”
“ duduk disini dong… Boris mau ngomong” Boris menyediakan satu tempat duduk kosong disebelahnya.
“ apa sih kamu?! Ya udah deh Ayu kesana” . Ayu beranjak dan duduk disebalah tempat duduk yang didiami Boris. Kini ia dikelilingi oleh pria-pria iseng, dan aku hanya bisa menyeringai.
Gadis itu begitu kegirangan, ia seakan memamerkan dirinya dihadapan wanita lain yang berada di kelas. Kadang ia menjerit “AUUW!”; “IIIH” atau tertawa terbahak-bahak. Perilakunya membuat seisi kelas merasa terganggu tapi mereka hanya bisa diam; mendengarkan Ayu.
“ IIIH.. Ayu kan sukanya sama Ibeng..” ia menunjuk ke arahku dan langsung memindahkan tempat duduknya kedekatku.
“ Ibeeeeng… lagi apa sih?! Kok diem terus?!!” rayunya.
“ apaan sih lo, ganggu banget”
“ ciieee… Ibeng dideketin Ayu.. hajar aja Beng!!”
“ Ibeng kok jutek sih sama Ayu? Ayu kan cuman nanya.”
Ia terus menempel didekatku, dosen belum juga datang setelah memberikan tugas. Aku masih fokus dengan tugas; Ayu masih mencoba menarik perhatianku.
Ayu lupa kalau kekasihnya adalah temanku; teman sekelas, yang artinya juga teman sekelasnya. Hari ini Rino tidak masuk, katanya sih sakit. Tapi aku sudah tau sifat temanku itu, paling ia berkencan dengan wanita lain.
“ inget pacar Yu…” tambah Boris
“ IIIH pacar?! Ayu kan pingin pacarannya sama Ibeng, lagian Rino tuh ya udah sebulan nggak ngasih kabar. Katanya sih sakit, tapi pas Ayu dateng ke kosannya dia nggak ada.”
Memang sudah sebulan ia tidak masuk kelas, sempat beberapa kali aku mengirim pesan padanya. Tapi tak satupun pesan ia balas, kalaupun dibalas yaitu pesan seminggu yang lalu yang menyatakan kalau dirinya sedang sakit, katanya ia juga memutuskan kembali ke tempat asalnya untuk beberapa waktu.
“ Yu.. si Rino itu emang bener sakit atau kawin sama cewek lain?”
“ sakit sih katanya, sms nggak dibales soalnya”
“ kawin kali” canda Ryan.
“ apaan sih Ryaaaaaan…?! ya udah deh kalo gitu Ayu mau sama Ibeng aja.”
Desas-desus kalau Rino menikah memang sudah terendus sejak dua minggu yang lalu, namun Ayu tak pernah percaya; Ayu yakin kalau Rino sakit. Desas-desus kalau Rino menghamili anak orangpun terus terangkat. Aku sih percaya saja, karena Rino memang dikenal sebagai lelaki nakal.
Tatapan Ayu padaku tidak se-centil tadi, ia menatap telepon selulernya dengan hampa. Memandang fotonya yang berada dalam pelukkan Rino, mungkin ia merasa ragu sudah satu bulan Rino tidak menghubunginya.
Tiba-tiba nada dering telepon selulerku berbunyi, tertulis nama Rino di dalamnya.
“ halo Beng? Mulai hari ini gue keluar dari kampus. Gue mau langsung nyari kerja.”
“ loh? Emang kenapa No?” Ayu menatapku dengan lekat, berharap ia bisa berbicara dengan kekasihnya.
“ besok gue mau nikah Beng, minta doanya aja ya.”
“ nikah?! Nikah sama siapa?!! Lo sekarang dimana?! Terus Ayu?!!”
Tatapan Ayu mulai melemah, badannya hampir tumbang. Wajahnya pucat, Ayu seakan kehilangan dunianya.
“ ya… nikah sama calon istri gue… hmm Ayu hmm gimana ya? Buat lo aja deh.” Rino menutup teleponnya tanpa sampai ke telinga Ayu terlebih dahulu.
Mata Ayu mulai meneteskan air mata, hingga akhirnya menangis.
***
Sudah seminggu Ayu ditinggal kawin oleh pacarnya, gosip tentang pernikahan Rino tetap menjadi misteri. Lagi-lagi Ayu ditinggal; lagi-lagi Ayu dipermainkan. Semua orang berbicara tentang Ayu; tentang cara berpacaran mereka berdua dahulu yang terlampau liberal.
Mungkin Ayu menyesal, karena sudah sangat merasa tersakiti hatinya; mungkin batinnya merasa ditipu. Sempat beberapa kali aku melihatnya termenung, tak ada lagi sapaan manja yang terdengar ditelingaku.
Aku ingat saat mereka berdua masih berpacaran, kemesraan selalu terumbar didepan umum. Entah hanya sekedar bercanda, berpegangan tangan ataupun berpelukkan. Semuanya terlihat secara jelas, tak bersensor sedikitpun
***
Dua bulan sudah berlalu, aku pikir dia sudah benar-benar berubah. Tapi ternyata ia tetap menjadi Ayu yang dulu; Ayu yang haus akan kasih sayang. Setiap melihat lelaki ia tetap menjadi perempuan yang manja. Sekarang ia siap dipacari lagi, hingga akhirnya ditinggalkan.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: