Dianaira

Petrichor

Antara Empat Ratus Potret Yogyakarta

Bagiku di dunia ini tak ada hal yang bisa memuaskan diri selain memotret. Dimana dan kapan saja kamera Single Lens Reflex sudah menjadi teman sejatiku sejak dua tahun yang lalu, aku tak mengerti mengapa aku sangat menyukainya yang pasti ia sudah menjelma menjadi mataku. Setiap hal yang menarik pasti ku abadikan dengan kamera, dimulai dari hal kecil sampai ke hal-hal yang unik. Memotret memang sangat menarik, aku bisa tersenyum sendiri karenanya; seperti orang yang sedang dilanda cinta.
Yogyakarta salah satu kota yang tak mungkin aku lupakan. Di setiap sudutnya tak ada moment yang terlewat untuk tak diabadikan. Dari penduduknya, kuliner sampai bangunannya selalu ada cerita; selalu pantas untuk ku jepret. Sekitar tiga bulan yang lalu aku berada di sana; di Yogyakarta. Aku masih ingat untuk apa aku berada, aku masih ingat gudegnya yang manis, cuacanya yang cukup panas, juga foto-foto hasil jepretanku sendiri. Semuanya masih berada dalam ingatanku, dalam ingatan si kamera.
Aku membuka kembali folder hasil jepretanku di Yogyakarta; cukup banyak, hampir empat ratus. Dari bangunan, kuliner sampai orang-orang yang tak kukenal terpampang disetiap foto, ada yang mengundang tawa, mengundang takjub sampai mengundang penasaran.
Diantara empat ratus jepretan itu, ada foto-foto yang membuatku tersenyum simpul; ia adalah pria bertubuh tinggi, berkemeja merah, bercelana jeans belel, serta berkalung kamera. Aku secara diam-diam sering memotretnya; hasil potretan yang cukup banyak. Hampir seminggu aku berada di Jogjakarta, hampir seminggu itu pula kami bertemu. Segala memori tentang pria itu kembali teringat.
Panas, cuaca yang cukup berbeda dari kota asalku Bandung. Aku membeli sebotol minuman mineral dipedagang asongan dekat keraton. Dahaga terasa mencekik kerongkongan, saat itu pula aku melihatnya. Ia hanya seorang diri, asyik memotret sekitar keraton. Mungkin dia juga seorang wisatawan sepertiku, tiba-tiba mataku terhenti padanya. Aku langsung menyambar kamera yang tergantung di leherku dan memotretnya; hasil yang sempurna. Ia tidak menyadari bahwa aku baru saja memotonya.
Keraton memang menjadi salah satu objek foto yang menarik, dimulai dari penjaga-penjaganya yang menggunakan baju khas daerah Jogjakarta, lampu-lampunya juga begitu unik; desain khas belanda tempo dulu. Lukisan-lukisan sultan hamengku Buwono dari yang pertama sampai saat ini, terpampang disebuah ruangan; tak lupa pula dengan puteri-puterinya.
Wisatawan asing sudah menjadi pemandangan biasa disana, beberapa kali aku meminta berfoto bersama mereka, memang terkesan agak kampungan tapi kami juga sempat berbincang, bertukar pikiran; bertukar pandangan.
Lagi-lagi aku melihat lelaki itu, ia sedang berbincang dengan penjaga keraton. Mungkin ia sedang mengulik informasi atau hanya sekedar bertukar pikiran. Sekali lagi aku memotretnya namun aku merasa tidak puas, aku memotretnya lagi; memotret lagi; memotret lagi setiap detik dari gerakkannya aku abadikan. Kameraku juga tak hentinya memperbesar lensa untuk memfokuskan untuk memperjelas raut wajahnya. Hidungnya lumayan mancung, matanya tajam, kulitnya berwarna kecokelatan. Aku tersenyum melihatnya, sungguh objek yang menarik.
***
Di benteng Vedenburg aku melihatnya lagi, ia masih seorang diri asyik bersama kameranya. Aku memang tidak melihat wajahnya karena aku berada dibelakangnya, tapi aku masih ingat baju apa yang tadi pagi ia kenakan. Kaos berwarna merah dengan tulisan berbahasa Inggris itu masih melekat ditubuhnya, aku memotretnya lagi tepat dengan latar benteng bertuliskan Vedenburg, sungguh hasil foto yang memuaskan.
“ mbak boleh minta foto?” seorang ibu, memintaku untuk memotretnya bersama keluarga. Aku sih mengiyakan saja hitung-hitung membantu orang. Namun, saat aku memfoto mereka lelaki itu menghilang dari pandanganku.
“ makasih ya mbak, biasalah saya baru pertama kali datang kesini.”
“ iya sama-sama ibu, saya juga baru pertama kali” aku menyunggingkan senyum.
“ loh, emang darimana?”
“ dari Bandung”
“ oh satu kampung kalo gitu, saya juga dari Bandung. Makasih atuh ya.”
Ibu berperawakan agak gemuk itu meninggalkanku bersama suami dan ke-tiga anaknya yang masih kecil.
Mataku kembali mencarinya, berharap ia akan datang tak sengaja. Tapi kali ini dugaanku salah, aku sama sekali tak melihat batang hidungnya. Kameraku kembali memotret benda-benda yang lainnya; orang-orang yang sedang berlalu lalang, pedagang pinggir jalan, dan lain-lain sudah cukup untuk menghibur hatiku. Aku memang sangat suka memotret, seandainya ia benda hidup aku pasti bersedia menjadi pasangannya, tapi apa daya kamera tetaplah hanya kamera.
Aku tinggal disebuah hotel sederhana dekat Malioboro, bagiku tempat mewah bukan gayaku. Yang penting ada tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat. Makanan khas Jogja sudah aku cicipi, dimulai dari gudeg yang sering aku temui di kota asalku sampai makanan yang kurasa aneh.
Mencari oleh-oleh sudah menjadi hal wajib ketika berwisata, apalagi hotelku sangat dekat dengan pasar Malioboro. Banyak sekali barang dagangan yang dijual murah, aku membeli beberapa aksesoris seperti kalung, gelang dan gantungan kunci untuk dibagikan kepada keponakan-keponakanku. Suasana yang sangat ramai, dipenuhi oleh wisatawan lokal dan asing. Para berdagang berlomba untuk mendapatkan pembeli, para pembeli juga berbondong-bondong untuk menawar harga. Ada yang tidak tanggung-tanggung menawar hingga setengah harga, ada pula yang takut-takut. Aku tak lupa untuk memotret berjuta ekspresi yang beragam itu.
Pria berkaos merah itu muncul lagi di mataku untuk yang kesekian kalinya. Entah ini yang namanya jodoh atau apa yang pasti ia berada diantara keramaian bersamaku. Sekali lagi aku memotretnya diam-diam, tapi mungkin kali ini ia mulai menyadarinya. Tiba-tiba ia melihat dan menatapku dengan lekat. Jelas saja jika aku merasa salah tingkah.
Ini sudah waktunya makan malam, perutku mulai kosong. Nasi kucing menjadi makanan yang paling aku buru selama di Jogja. Dengan harga seribu lima ratus rupiah sudah bisa mendapatkan satu porsi nasi dengan lauknya. Porsinya memang tidak sebanyak nasi bungkus yang lainnya maka dari itu makanan ini disebut nasi kucing.
Disebuah angkringan aku memakan seporsi nasi kucing ditemani oleh secangkir teh manis, sinden-sinden khas Jawa menghiasi malam Jogjakarta, aku memang tak mengerti tentang apa yang pesinden itu dendangkan namun aku cukup menikmatinya.
Ada seorang pria duduk tepat disebelahku, ia menggunakan kaos berwarna merah serta kamera yang tergantung dilehernya.
“ satu porsi mbok” katanya
Beberapa menit kemudian sebungkus nasi kucing dan segelas kopi tubruk sudah ia dapatkan. Sepertinya aku mengenalinya,aku mencoba untuk melirik ke arahnya. Kini lelaki yang sering ku foto secara diam-diam tepat berada disampingku. Dia membalas tatapanku dan tersenyum.
Folder dengan empat ratus foto yang berjudul Yogyakarta sudah selesai kulihat; semuanya mengukir kenangan indah. Tak akan pernah kulupa sedikitpun. Tiga bulan memang sudah berlalu, tapi kuharap aku bisa kembali kesana; ke Yogyakarta.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: