Dianaira

Petrichor

Archive for the month “December, 2013”

Hujan yang Berdamai dengan Kembang api

 

Jejak-jejak hujan akhir tahun di Kota Kembang Bandung masih terasa sangat basah. Gerimis;  aku tak yakin kalau tahun baru kali ini masih se-meriah biasanya; penuh dengan kembang api, teriakkan terompet atau acara-acara musik yang menggelegar di setiap titik keramaian. Mungkin, kali ini akan menjadi ‘tahunnya’ acara  televisi, karena dari pagi tadi hujan tak henti-hentinya turun. Orang-orang mungkin malas untuk keluar rumah, dan terpaksa “mau” dimanjakan oleh acara-acara televisi yang biasa menayangkan film Box Office itu.

Aku tidak begitu tertarik dengan perayaan tahun baru, apalagi semua keluargaku sedang tidak ada di rumah, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Di keluargaku memang hampir tidak pernah menjalankan tradisi tahunan itu. Baginya tahun baru adalah saat untuk merenung—untuk interopeksi diri dan membuat resolusi—bukannya hura-hura atau semacamnya. Ya, setidaknya aku memang setuju dengan perkataan mereka.

Hari ini—tanggal 31 Desember—rintik hujan masih belum berhenti. Hujan kota Bandung masih membasahi aspal. Aku yakin orang-orang akan melewatkan tahun baru  seperti hari-hari biasanya; banyak orang yang akan tertidur karena hujan atau mungkin karena bosan menonton tv. Tapi ternyata dugaanku salah, bunyi terompet masih saja mengusik telingaku; anak-anak kecil menyalakan petasan seperti di bulan puasa, suara klakson motor dan mobil saling bersahutan, kemacetan terjadi dimana-mana. Orang-orang tetap menerobos hujan demi menyambut tahun baru.

Sebenarnya, aku agak sedikit heran. Kenapa orang-orang begitu menyukai perayaan tahun baru, apa mungkin tahun baru itu semacam lampu wasiatnya aladdin  yang bisa mengabulkan permintaan orang-orang? Tapi yang aku sukai dari tahun baru hanyalah kembang api, sebenarnya jarang sekali aku sengaja keluar rumah untuk melihat kembang api. Aku hanya melihatnya di balik jendela kamar. Kadang aku malah menutup mata dan berdoa kepada tuhan seperti sedang melihat bintang jatuh. Aku selalu berpikir mungkinkah aku melihat kembang api yang sama seperti yang ia lihat—seseorang yang dari dulu kusukai—sama seperti ketika aku melihat bulan, bintang dan langit; akan sama seperti yang ia lihat.

Aku tahu Kota Bandung memanglah luas, lagipula kembang api bukanlah seperti bulan yang bisa terlihat dari mana saja; ia hanya bisa terlihat dalam radius beberapa km. Tapi disetiap pergantian tahun itulah yang selalu aku harapkan; melihat kembang api yang sama, di bawah langit yang sama dan malam yang sama dengannya. Mungkin aku akan terlihat sangat bodoh, tapi yang pasti setiap aku melihat kembang api aku selalu berdoa.

“Di bawah langit yang sama, Bintang yang sama, bulan yang sama dan malam yang sama, aku harap aku bisa melihat kembang api yang sama dengannya. Memang bukanlah hal yang mudah; apalagi kota Bandung begitu luas; kembang api juga selalu datang silih berganti di sepanjang pergantian tahun. Tapi semoga saja aku bisa melihat kembang api yang sama dengannya”

Tapi hujan tak hentinya berhenti, aku tak yakin kalau kali ini kembang api akan semeriah biasanya, meski orang-orang tetap memaksakan diri untuk keluar dari rumah. Apa mungkin kembang api bisa menyala jika hujan tetap turun?

Aku memantapkan kakiku di Jalan Braga, tempatnya yang unik dan tidak terlalu luas membuat semuanya terasa sesak dan ramai namun tetap terasa nyentrik. Gerimis tak jadi hambatan, sebuah panggung musik berhasil memblokir jalan; ukurannya tidak terlalu besar tapi cukuplah untuk ditempatkan satu set alat band. Di sisi jalan banyak terdapat pedagang kaki lima; mulai dari bajigur, kue ape, bandros, sekoteng dan jajanan tradisional lainnya. Bahkan ada yang menjualnya secara gratis; aku, tentu saja tak lupa untuk mencicipinya.

Satu cangkir bajigur dan sebuah ubi rebus mampu mengalahkan dinginnya gerimis Bandung. Tentu saja, aku jarang sekali menemukannya di hari-hari biasa; sekalipun ketika musim hujan.

“ Mana temen-temennya neng?” kata seorang tukang bajigur yang sedang sibuk melayani pembeli yang lain.

“ Sendirian aja kok mang, tadi kebetulan lewat.”

“ Kenapa atuh sendirian? Kan sayang neng ngerayain tahun baru malah sendirian.”

“ Ini kan banyak orang mang, kan jadi nggak kerasa sendiriannya hehehe..”

“ Ah, si neng mah suka gitu” aku tertawa simpul. Tatapanku masih tertuju pada orang-orang yang berkerumun melawan gerimis. Di sepanjang jalan ada yang asik menonton konser musik; memakai payung, membiarkan tubuhnya terkena hujan atau menggunakan jaket sebagai pelindung. Musik yang terdengar adalah lantunan jazz yang agak sedikit nge-beat. Ada juga orang-orang yang sibuk berburu makanan; bersama teman atau bersama pacar. Pandanganku terhenti pada seseorang yang menggunakan jaket berbahan kulit yang menutupi kaos berwarna merah tua. Badannya lumayan tinggi, ia memakai celana berbahan jeans dan sepatu pentofel. Sepertinya aku mengenalinya. aku mengamatinya agak lama, sampai orang-orang menutupi pandanganku padanya.

 

***                                                              

Perutku masih belum merasa puas, aku menghampiri seorang tukang sekoteng yang berada tidak cukup jauh dari tukang bajigur yang baru saja aku beli. Beruntungnya, aku kali ini. si tukang sekoteng menjualnya secara cuma-cuma. Aku duduk disebelahnya, sambil melihat keramaian. Gerimis masih tak mau mengalah. Aku masih tak yakin kalau tengah malam nanti akan ada jeritan kembang api.

“ Mang, kira-kira kembang api bakal tetep ada nggak ya?” aku memulai pembicaraan.

“ Ya, saya kurang tau neng. Emang kalau gerimis gini kembang api bisa nyala ya?” si tukang sekoteng malah balik bertanya kepadaku.

Aku masih berharap bahwa kembang api tetap menghiasi langit Bandung, bukan karena tahun baru; bagiku, asal ada kembang api hatiku akan terasa gembira; kapan saja, entah pada saat lebaran atau hari besar apapun yang penting bagiku adalah kembang api. Saat melihat kembang api, orang-orang pasti harus melihat langit. Saat itu pula aku berharap bahwa ia juga akan melihat ke arah langit; melihat kembang api.

Ia adalah seseorang yang tak pernah bisa aku ungkapkan, sudah tiga tahun lebih aku memendamnya; aku tak pernah mempunyai alasan untuk menyukainya; ia seseorang yang membuatku begitu penasaran. Sebenarnya, rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Tapi anehnya sampai saat ini kami tidak pernah saling mengenal. Aku ingat kami selalu berpas-pasan pada saat itu; hampir tiap hari malah. Tapi sejak setahun belakangan ini aku hampir tak pernah melihatnya lagi.

Kamera Single Lens Reflex yang kini menggantung di leherku menjadi saksi-nya. Aku sempat memotretnya secara diam-diam beberapa kali, sambil memakan semangkuk sekoteng yang sudah hampir habis aku mulai membuka-bukanya kembali.

Aku memang suka memotret. Bagiku di dunia ini tak ada hal yang bisa memuaskan diri selain memotret. Dimana dan kapan saja kamera Single Lens Reflex sudah menjadi teman sejatiku sejak dua tahun yang lalu, aku tak mengerti mengapa aku sangat menyukainya yang pasti ia sudah menjelma menjadi mataku. Setiap hal yang menarik pasti ku abadikan dengan kamera, dimulai dari hal kecil sampai ke hal-hal yang unik. Memotret memang sangat menarik, aku bisa tersenyum sendiri karenanya; seperti orang yang sedang dilanda cinta.

Saat itu aku tak sengaja melihatnya di kampus, aku tak begitu tau apa dia sekampus denganku atau hanya mampir-mampir biasa saja. Ia menggunakan kemeja kota-kotak yang lengannya dilipat hingga sebatas siku. Kancingnya dibiarkan terbuka supaya kaos polos berwarna hitam tetap bisa kelihatan. Ia seperti sedang membaca, atau mungkin hanya melihat-lihat kertas yang berada digenggamannya saja. Spontan, aku langsung memotretnya hingga berkali-kali. Ia menghilang dari lensa kamera ku.

“ Kenapa neng? Kok senyum-senyum sendiri?” kata tukang sekoteng.

“ Ngga mang, ini lagi liat foto-foto” aku masih melihat lcd kamera.

“ Mang beli satu porsi ” seorang pria akhirnya duduk disebelahku. Aku tak terlalu memperdulikannya, lagipula apa peduliku.

“ Sendirian aja ncep? ” sapa si tukang sekoteng kepada lelaki itu.

“ Iya mang..”                                      

“ Oh sama atuh kaya si neng..” ia menatap ke arahku.

“ Sendirian apanya mang? Kan disini banyak orang” jawabku sambil asik menatap layar kamera.

“ Tahun baru kalau Gerimis gini emang bakal ada kembang api mang?” tanya lelaki itu. Aku masih asik dengan kameraku.

“ Moga aja ada ncep, mudah-mudahan nanti hujan berhenti.”

“ Oh iya mang, pasti banyak yang nyampah ya?”

“ Ya iya atuh ncep.. eeuh sampah teh bertumpuk dimana-mana, petugas kebersihan pada kewalahan pemulung juga ngga cukup buat ngebantuin.”

“ Biasalah sampah akhir tahun buat tahun baru hehehe” mereka berdua tertawa cengengesan.

“ Bener mang ini gratisan?” kataku memotong pembicaraan.

“ Ya iya atuh neng, se-pe-syal ini mah”

“ Makasih atuh ya mang”

“ Sumuhun neng geulis”

Aku berlalu meninggalkan pria ber-sepatu pentofel itu. Sekilas aku merasa mengenalnya, tapi apa iya? Ah, tatapanku kembali terhenti pada sebuah potret yang sekitar setahun lalu berhasil ku ambil, tak lain adalah pria itu; lelaki bernama Bimo.

Tiap minggu pagi aku memang tak pernah absen untuk berolahraga, sebenarnya bukan untuk berolahraga. Tapi untuk berburu foto, minggu pagi memang santapan menarik untuk memotret. Kadang aku memotret seseorang bersama anjingnya, ada yang bersepeda dan juga berjogging ria bersama keluarga. Lensa kameraku tertuju pada pria itu, sebenarnya setelannya bukan seperti sedang berolahraga; malah seperti orang yang akan pergi ke sebuah tempat. Sebuah Helm sudah berada dalam genggamannya, sebuah tas gitar juga sudah berada di punggungnya. Ia menggunakan jaket kulit berwarna cokelat dan sepatu boots yang terpasang dikakinya. Rambutnya waktu itu agak sedikit gondrong berwarna kecokelatan. Dengan sigap aku memotretnya hingga berkali-kali.

Lagi, aku tersenyum simpul sendiri. Betapa rindunya hatiku ingin melihatnya lagi. aku selalu berharap setiap jepretan yang aku tangkap di kameraku, gambarnya akan selalu tiba-tiba hadir. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih ada sekitar dua jam lagi untuk melihat kembang api yang masih belum tentu keberadaannya. Gerimis masih terasa di kepalaku. Tapi semakin lama aku semakin tak peduli. Sebuah band akhirnya menyanyikan lagu kesukaanku.

“ And all the roads we have to walk are winding

And all the lights that lead us there are blinding

There are many things that I would like to say to you

But I don’t know how”

Semakin lama bibirku menikmatinya dan mulai bernyanyi sekencang-kencangnya, aku merasa senang karena ada yang membawakan lagu ini.

“ because maybe.. you’re gonna be the one that saves me.. and after all.. you’re my wonderwall”

“ I don’t believe that anybody feels the way I do.. about you know”

And all the roads that lead you there were winding

And all the lights that light the way are blinding

There are many things that I would like to say to you

But i don’t know how..”

 “ I said maybe.. you’re gonna be the one that saves me.. and after all.. you’re my wonderwall…”

Lagu Oasis berjudul Wonderwall sukses di bawakan oleh sebuah band indie asal Bandung. Dari kejauhan panggung aku tak lupa memotretnya. Memotret sang Vokalis, Gitaris, Bassist hingga yang paling belakang Drummer. Aku juga tak lupa memotret para penonton yang lumayan kebasahan, ada juga orang yang dari tadi meneriaki payung yang menghalangi pemandangannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa, pandanganku kembali tertuju pada kamera, melihat-lihat hasil jepretanku tadi.

***

Gerimis masih tetap enggan mengalah, hingga pukul setengah sebelas malam. Ia masih bermain-main dengan bumi. Ah, sepertinya kembang api memang tak akan hadir di tahun baru kali ini. tapi orang-orang sama egoisnya dengan hujan—tak ada yang mau mengalah—mereka terus bernyanyi untuk menyambut tahun baru.

Hujan semakin deras, orang-orang mulai berlarian untuk berteduh. Panggung semakin lama semakin sepi oleh penonton. Banyak orang mencaci, kenapa hujan harus datang sekarang? Para pedagang sepertinya yang malah kebagian untung. Mereka semua dipenuhi oleh para pembeli yang sedang berteduh. Cuaca semakin dingin, banyak orang yang yang ingin pulang. Harapanku tentang kembang api semakin sirna. Aku mengencangkan jaket untuk menolak dinginnya angin hujan. Sesekali aku mengusap kameraku agar tak kebasahan. Semua orang berderet dipinggir jalan mengusap-usap kedua tangannya.

Mungkin dugaanku benar, seharusnya aku tak keluar rumah malam ini. toh, biasanya juga aku melihat kembang api dari balik jendela. Padahal, seharusnya aku menonton acara televisi  saja; aku tak akan kedinginan seperti ini pastinya. Ah, harusnya aku memotret ini. di balik hujan aku memfoto semuanya, panggung, orang-orang, hujan, pedagang kaki lima dan pelanggannya. Semakin lama aku menikmatinya, kembali tersenyum sendiri.

Hujan semakin reda, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tinggal beberapa menit lagi untuk bisa melihat kembang api. Sepertinya hujan sudah mengadakan negosiasi dengan kembang api. Lihat saja Gerimis tiba-tiba tak terasa lagi di kepalaku. Panggung kembali ramai oleh penonton, pengisi acara pun semakin antusias untuk menghadapi malam pergantian tahun. Musik kembali memenangkan rinai hujan. Cuaca semakin terasa dingin. Harapan itu kembali berada di otakku.

Melihat kembang api yang sama di bawah langit yang sama, mungkinkah bisa terjadi? Aku biarkan musik mengalun di pendengaranku. Aku menutup mata, si vokalis band itu menyanyikan sebuah lagu yang sangat aku kenal. Yaitu Fix You.

when you try your best but you don’t succeed

When you get what you want but not what you need

Stuck in reverse..

Lights will guide you home..

And ignite your bones and I will try to fix you”

Musik berhenti…

Gerimis kembali..

“ SEMUANYA.. kita tutup tahun ini dengan sebuah kebahagiaan. Biarkan semuanya menjadi kenangan. Kita jalani tahun baru dengan kata OPTIMIS siapkan resolusi, kerja keras daaaaan… berdoa….”

“ DALAM HITUNGAN LIMA KITA SAMBUT TAHUN BARU!!!!”

“LIMA….”

“ EMPAT..”

“ TIGA…”

“ DUA…..”

“ SELAMAT TAHUUUN BAAARUUU DUA RIIBU EMPAAT BELAS!!!!…”

Kembang api datang silih berganti, distorsi musik muncul mengalun rendah.

Sepertinya hujan mau berdamai dengan kembang api, dingin melebur bersama api hingga menghasilkan hangat. Berkali-kali dentuman itu berbunyi begitu keras, percikkannya terasa sampai ke mata. Namun, gerimis tetap merintik, tapi tidak terasa dingin. Malah terasa seperti air hangat yang memercik kulit dan kepalaku.

Aku melihatnya, melihat kembang api. Juga suaranya; suara dentumannya yang keras ; juga suara musik yang masih mengalun rendah, gerimis terasa di kulit kepalaku. Tapi tak memadamkan semangat si kembang api. Aku menutup mata dan berdoa kepada tuhan.

“Semoga aku berada di langit yang sama, di bawah langit kota Bandung. Juga dengan kembang api yang sama. Dalam hitungan yang sama di malam yang sama.”

Dalam doa, musik masih mengalun rendah.

“high above and down below, when you too in love to let it go.. But if you never try you’ll never know.. just what your worth..

Lights will guide you home… and ingnite your bones and I will try to.. fix.. you..”

Kembang api semakin memudar, musik semakin meninggi.

“ Tears streaming down your face when you lose something you cannot replace, tears stream and down your face….. and  I…. Tears streaming down your face  promise you I will learn for my mistake.. tears streaming down your face and I……. lights.. will guide…. you home… and ignite… your bones…and I will try… to… fix you.”

Aku membuka mata dan tersenyum. Semuanya terasa begitu indah, gerimis masih terasa. Aku melihat sekeliling, dan juga menoleh ke arah kanan. Ia tepat berada di sebelahku. Jaket kulitnya, rambutnya yang agak kebasahan, badannya yang lumayan tinggi. Tepat berada di sampingku.

***

Waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi, Jejak Hujan Tahun lalu masih enggan pergi. Pagi yang dingin di tanggal 1 Januari. Secangkir cokelat panas sudah siap untukku minum. Kembang api masih terngiang di kepalaku, tak akan pernah ku lupakan.

Aku tak begitu yakin, apa benar itu adalah ia? Sempat aku ingin memperhatikan wajahnya, tapi apa daya ia begitu cepat berlalu dengan sebuah motor yang terparkir cukup jauh. Namun, entah mengapa jantungku begitu berdegup kencang; hatiku terasa gembira. Seperti ada sesuatu yang memecah rindu.

Lamunanku kembali tertuju kepada Bimo. Mungkinkah Tuhan mengabulkan doaku? Mungkinkah kami melihat kembang api yang sama? ah, kalaupun benar aku bisa apa? Sebenarnya mataku masih merasa kantuk. Sempat aku berpikir untuk tertidur lagi, setelah sampai di rumah pukul setenga dua dini hari tadi. Tapi aku rasa tidak perlu.

            Kamera tergeletak di atas meja belajarku, aku mulai mengambilnya dan memasukkan kartu memorinya ke dalam laptop. Satu persatu aku lihat, ada yang terlihat begitu romantis, karena jaket yang memayungi yang terlihat sebagai sepasang kekasih itu. Ada juga yang fotonya tidak jelas, ada yang narsis. Yang pasti semuanya berhasil membuatku tersenyum.

            Ternyata lelaki itu berhasil ku foto, namun wajahnya tidak begitu jelas. Kutekan keyboard next dan lelaki itu ternyata selalu berhasil ku foto. Tapi lagi-lagi tidak begitu jelas. Hingga agak  lama aku mendapatkan potretnya lagi, kini foto itu lumayan terlihat jelas.

            Bimo?!! Benarkah itu dia?!! Tunggu bukankah lelaki itu juga yang duduk di sebelahku waktu makan sekoteng? Apa dia juga yang berdiri di sebelahku?! Aku kembali memperbesar foto tersebut. Iya, itu benar-benar Bimo. Tapi kenapa rambutnya berbeda? Apa mungkin ia memotong rambutnya?

Aku masih terkejut, kami benar-benar melihat kembang api yang sama. kenapa aku tidak menyadarinya? Aku mulai tersenyum. Di luar masih hujan. Aku mendekat ke arah jendela. Di bawah ada seseorang yang melewati rumahku. Ia tak menggunakan payung, wajahnya masih terlihat acak-acakkan, dari kejauhan, aku memutarkan lensa kameraku. Di awal tahun untuk yang pertama kalinya, aku memotretnya sekali lagi.

***

Bandung, 1 Januari 2014

Hujan yang Berdamai dengan Kembang Api

Hujan. Aku tak tau kapan kau berdamai dengan kembang api. Bagaimanapun kau tidak pernah akur bila melihatnya. Tapi gerimis. Kemarin aku tetap merasakannya. Melebur. Bersama percikkan kembang api.

Gerimis menyentuh kulit kepalaku. Tapi aku tetap bisa melihat langit yang dipenuhi cahaya. Bukan. Bukan bintang. Bukan juga bulan. Tapi kembang api, juga dentumannya.

Kembang api. Aku melihat langit; melihatnya. Semua orang juga terpesona padanya. Aku harap ia seperti bulan. Di lihat oleh semua orang. Di lihat oleh seseorang yang ku harapkan.

Kembang api. Memang bukanlah sebuah bulan. Yang bisa dilihat semua orang dari sisi manapun. Tapi aku selalu berdoa. Kalau aku bisa melihat kembang api yang sama seperti yang ia lihat. Di bawah langit yang sama. dalam detik yang sama dan malam yang sama.

Hey, ternyata kau sedari tadi berada di sampingku. Kita melihat kembang api yang sama di bawah percikkan gerimis. Harusnya tadi kau tau. Saat kembang api masih menyala, aku menundukkan kepala dan berdoa kepada tuhan layaknya melihat bintang jatuh. Semoga aku bisa melihat kembang api layaknya aku melihat bulan. Bentuk yang sama seperti yang kau lihat.

Jejak hujan. Masih membekas di tahun baru. Menyisakan kenangan. Untuk tahun lalu. Aku masih ingat kembang api. Aku juga masih ingat gerimis. Aku masih ingat kembang api yang memercik gerimis. Aku juga masih mengingatmu, saat aku mendoakanmu yang ternyata ada disampingku.

Untuk kembang api yang memercik gerimis. Aku harap kau akan tetap seperti itu. Gerimis yang berubah menjadi air hangat. Dan kembang api yang terasa jatuh di kepalaku. Berdamailah kalian. Meski air enggan berdamai dengan api. Atau panas yang enggan berdamai dengan dingin.

Untukmu, aku harap kita akan selalu melihat kembang api yang sama, dalam detik yang sama, di malam yang sama. dan hati yang sama.

                                                  

Sebuah sajak yang ku buat, untuk Bimo, kembang api dan gerimis di akhir tahun. Ku tulis di sebuah lembar buku harian yang agak usang. Lagi-lagi semuanya akan menjadi kenangan saat aku menghadapi tahun yang baru.

selesai

An Allegory Through Ernest and Algernon : A Conquest Named Ernest between Worthing and Moncrieff

 

We should agree that The Importance of Being Earnest has powerful men characters, those are Jack Worthing and Algernon Moncrieff. Jack Worthing is the Major (protagonist) character in drama which made by Oscar Wilde, he called Jack in the country and Ernest in the city. He used it named in the city because he was pretending that he has a brother named Ernest. Robert Russel (2004) argues the another reason why he used it named because of he wants to escape about his responsibility as guardian of Cecily1, until he met Gwendolen Fairfax a young lady that make him crushed and was enchanted about named Earnest2.

 In the Minor Character the Importance of being Earnest has Algernon Moncrieff, he was Jack’s friend simultaneously as Gwendolen’s cousin. He felt in love with Cecily and pretended to be Ernest too. Cecily knew that Jack has brother and it name is Ernest. So, she believe that Ernest is Algernon and Algernon is Ernest. Algernon pretend to be Ernest in order to get attention from Cecily.

In this drama we can see that these two role characters have same mission to get their love with pretending to be Ernest. in the different characteristics, they have same motives to marrying the girl whom they loved, they hide their own identity just to get good image. The Ernest itself is a symbol of valor, wisdom, and honesty. That’s why every women will be falling in love with the man name Ernest.

If we analyzed Ernest and Moncrieff are allegory of Victorian age3. Zaidan (2004)  argues that allegory is the symbol (figurative language) of human life which  connected  with its values  i.e. : loyalty, honesty etc. The author hide her/his mind  simultaneously to published it.  We agree with her statement, we found that Oscar Wilde actually wanted to hide and published his mind through The Importance of being Earnest. He  criticize about the era Victoria age through  satire comedy genre. He tried to showed the reality of Victoria age which full of hypocrisy and untruthfulness towards role of Jack and Moncrieff to get something named Ernest. It’s a dream to get honesty and loyalty. Initially, if we watched this drama we never know what Wilde meant to be  but when we analyze we’ll find a propaganda to figured out about the importance of honesty.

Victorian age is symbol of luxury and glory whereas, actually Victorian also regarded by some people as the era of hypocrisy, decadence, and lies. Modernism also the sign of the Victorian age, 1899’s was the first published of the importance of Being Earnest that’s meant its drama was including to the latest Victorian age.

Allegory seemed when Jack Worthing lies about his name, initially he asked to Gwendolen how’s if his name is not Ernest and Gwendolen answered that the only really safe name is Ernest (The Importance of Being Earnest act II) and it makes Jack to continue about his lying. In different way, Algernon was criticize about Jack’s behavior but actually he also do what Jack did.. Hypocrisy and untruthfulness happened in these two characters. It happened in the reality of Victorian age Murfin ( ) revealed that generally perception of Victoria era is the hypocrisy, politeness, and close-minded. Victoria age also changes every section of life especially to middle-social class. Many of people from middle-social wants to joined in aristocrat peoples. The second Allegory happened again when Gwendolen and Cecily wanted Marry with the people whom named Ernest. they felt  their class will be up when they marry with Ernest.

 Especially, this drama came when the latest of Victorian era so, it clearly seemed that Victorian era has bad sides. The other sides Victorian age also has good sides William J. Long (2004) states Victoria Era  is the climax of Democracy. It means  that’s an age of popular education, of religious tolerance, of growing brotherhood, and of profound social unrest. We concluded that Victorian age has mission to reached a good human-values towards the wrong way which is filled by hypocrisy. It happened to Jack and Moncrieff, they hide their hypocrisy with the good willing that’s to marry with the girl whom they love. They also hiding in the name of Ernest in order to get the good image.

In the Ending of story we knew that Jack is the real Ernest ( The importance of being Earnest : act III) , it suppose that Ernest need not to be pretend about his identity to protect his image because the truth (honesty, loyalty, etc image) will be approach without pretending. Nor,  Algernon even he wasn’t the real Ernest, he still get his love ( Cecily) it showed that he doesn’t need to be hypocrite to get the happiness. It happened with Victoria age which showed the hypocrisy to get glory image. Even its also has the good  result, Wilde himself still asked the decadence of the end of Victoria age.

Realism is the wilde’s way in drama “The importance of being Earnest”. Luxemburg ( 1987 in tentang sastra )  revealed realism is the importance literature in 19th centuries, its genre try to reflect the fact in real life but in 20th centuries  realism doesn’t meant like that “Realism” isn’t use in genre of literature but  to reflect the way of language. We provoke that the meant of  realism in this drama are both of them those are realism in 19th  and 20th centuries because this drama came in the first half 20th centuries (1899). Luxemburg also add that realism writer tried to give objective information which has coherences with the real life that’s depend on point of view the author, themes, character, etc.

In realism the main character acts in problematic and they usually against the norms. It actually happened in Jack who had against the right norm with hypocrisy. The way of language also has realism characteristics, Wilde wrote the script with to the point, if we try to connect this drama with real life surely there are  connections. The first point is about marriage, then about honesty, class social and the last is satire about victoria (aristocrats) age which really happened in its era.

Prophecy also fill The Importance of Being Earnest, prophecy is the prediction  about the things that will be happened in the future or that period. Surely story like that will be happened in each period from passed, now, or future because this story tells about trivial comedy which maybe happen to anyone. The relationship that is  filled by lying and hypocrisy maybe happen in the future or now.

Comedy satire which showed The Importance of Being Earnest has obvious Allegory if we watched it with appreciate. Eagleton (1996) argues there are connection between development literature and politic also ideology in 20th  centuries. This connection is not only about war, economy, and revolution but also about they were in, such as : crisis of human-relation,  simultaneously social phenomenon. This is it The Importance Being Earnest that full of crisis human-relation, social phenomenon and trick of human behaviour which package with comedy.

Oscar Wilde is the  smart person to place the Allegory. Indirectly he criticism about Victoria age  and surely the social phenomenon which happened in that period. He made this story seems easy but also meaningful. He also has good technique to serve the literature. Maybe that’s why The Importance being Ernest also called as trivial comedy for serious people.

 

1 Granddaughter from a man named Thomas Cardew, who has passed away. Cardew adopted Jack as a baby and  now Cecily has been entrusted to Jack.

2Ernest is the symbol of masculinity1

3 victorian age begun from 1837-1901

 

References

Zaidan, Abdul Rozak dkk . 2004.Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka

Luxemburg, Jan Van dkk. 1991. Tentang Sastra. Jakarta: Intermassa

Eagleton,Terry. 1996. Literary Theory: An introduction, 2nd edition. Massachusetts: Blackwell publisher.

Long, William J. 2004. English literature. England : Proofreaders

Russel, Robert. 2006. The Importance of Being Earnest. England: New Mermaids.

 

 

 

 

 

 

Keunikan Yogyakarta : Antara Monarki dan Republik

Yogyakarta memang selalu menyimpan berjuta keistimewaan didalamnya. Di mulai dari budayanya yang terasa masih sangat kental sampai ke status ke istimewaannya itu sendiri. Seperti yang sudah diketahui, Yogyakarta masih memegang teguh tradisi keraton dan kesultanan. Dibalik sistem politik Indonesia yang menganut Republik Demokrasi, Yogyakarta menjadi salah satu tempat istimewa yang memiliki sistem otonomi yang khusus yaitu bersifat monarki, namun jangan berpikir bahwa Yogyakarta memiliki sistem monarki yang absolut seperti sistem pemerintahan yang lainnya.

Sistem monarki  di Yogyakarta hanyalah monarki budaya seperti yang dijelaskan Suryono seorang peneliti dari Universitas Gadjah Mada  bahwa Sistem Monarki di Yogyakarta bukan monarki murni alias hanya sekadar monarki budaya bukan monarki politis. Sultan menjadi raja di Yogyakarta adalah tuntutan budaya keraton bukan karena ambisi kekuasaan. Dan yang terpenting meskipun sultan berkuasa di provinsi DIY namun memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap sistem-sistem politik-ekonomi yang berlaku di Indonesia. Namun, walaupun begitu para masyarakat Yogyakarta sangat menghargai sang Sultan dan tidak pernah merasa terganggu. 

Satu lagi hal yang istimewa dari Yogyakarta, rakyat Yogyakarta berbesar hati untuk memilih sultan sebagai gubernurnya sama hal hanya yang dikatakan oleh Djoko bahwa Monarki konstitusional sistem pemerintahan yang berjalan sesuai dengan undang-undang, raja hanya sebagai simbol. Menurt Djoko sebagian masyarakat yogya masih mengakui sultan sebagai pemimpin dan itu dinilai tidak bertentangan dengan  aturan tatanan pemerintahan. Buktinya, sampai saat ini semuanya baik-baik saja. Tapi kalau dipilih masyarakat bisa pecah. Nantinya Gubernur pemerintahan itu bukan lagi sultan, tapi partaimu.

Kita tentunya masih ingat pada tahun 2010 yang lalu, presiden hendak membuat RUU tentang keistimewaan Yogyakarta yang baru. Pada saat itu masyarakat Jogja merasa tersakiti hatinya bahkan seorang seniman Jogja sampai besiap untuk mengasah keris mereka berkata bahwa Kami ini demokrasi yang berdasarkan kultural, bukan demokrasi yang justru memecah belah.

Terlihat sekali kesetiaan rakyat Jogja kepada sang Sultan, mereka juga tidak setuju kalau Daerah Istimewa Yogayakarta disebut monarki. Bagi mereka rakyatlah yang memilih, bagi mereka itu adalah sebuah demokrasi; demokrasi kultural, bukan demokrasi yang mengatasnamakan politik. Setidaknya itulah yang dipegang teguh oleh masyarakat Yogya.

Sungguh tak ada salahnya kalau Yogyakarta mendapatkan tempat istimewa bagi Indonesia karena dilihat dari sisi historisnya. Seharusnya pemerintah pusat juga tidak perlu merasa takut kalau sistem politik republik demokratisnya akan tercoreng, presiden juga tak perlu khawatir kalau nantinya rakyat justru akan lebih takluk kepada sultan. Karena sebenarnya dibalik sistem monarki itu ada kekuasaan yang lebih absolut yaitu kekuatan pemerintah pusat. Monarki di Yogyakarta hanyalah semata-mata untuk melestarikan kebudayaan, tak ada sama sekali ambisi untuk memperoleh kekuasaan.

Kesultanan dan Keraton memang menjadi daya tarik bagi siapapun yang melihatnya. Mereka seakan-akan sudah menjadi urat nadi Yogyakarta. Dari turis lokal sampai mancanegara  mengakui hal itu. Yogyakarta memang selalu menyimpan hal unik, dari bangunannya sampai ke sistem pemerintahannya.

Referensi :

Ismoko Widjaya.2010. Betulkah raja Yogya monarki.Dikutip dari vivanews.com. Diunduh pada tanggal 10/11/2013

MUH Syaifullah.2010. Tolak istilah monarki, seniman Yogyakarta ngasah keris.Dikutip dari tempo.com. Diunduh pada tanggal 10/11/2013

Surono.2010. Demokrasi versus Monarki Yogyakarta.Dikutip dari nasional.kompas.com. Diunduh pada tanggal 10/11/2013

Biarkan Saja, Toh Kau Tak Bisa Mencegahnya

Biarkan saja air menjadi uap

Karena cintanya terhadap panas

Biarkan uap menjadi awan

Yang terjebak di bawah langit

Biarkan awan menjadi hujan

Seirama angin yang membawanya

Selanjutnya..

Akan terus seperti itu

Hujan jatuh bertemu tanah

Menjadi sungai, danau, laut dan samudra

Kemudian jatuh cinta pada panas

Hingga menjadi  uap dan awan

Jadi biarkan saja mereka saling jatuh cinta

Toh, kau tak bisa mencegahnya.

Kala Senja

Sudah dua tahun terakhir ini ia terbaring di kasur berwarna putih gading itu. Tak ada yang bisa ia lakukan; ia hanya bisa berteriak, kadang juga ia terduduk untuk mengacak-ngacak apa saja yang ada dihadapannya. Ia sudah lupa padaku, yang ia ingat hanyalah masa mudanya dulu; masa kecilnya. Sering ia mengompol di atas kasur ; untuk sekedar menceboki-nya adalah hal biasa bagiku. Apalagi soal berak; kadang ia malah mengacak-acaknya di atas kasur kapuk itu.

Makan harus aku yang suapi; untuk menyuapinya memakan waktu lebih dari satu jam; kadang ia me-lepehnya ; makanannya berceceran dimana-mana. Aku sudah terbiasa menghadapinya, tak ada lagi rasa jijik menimpa batinku. Aku sudah mati rasa; apalagi akulah satu-satunya anaknya yang tersisa.

Ia adalah ibuku. Ia sudah tidak muda lagi; aku juga tidak bisa disebut anak muda. Ibuku berusia delapan puluh lima tahun dan aku lebih muda empat puluh tahun darinya. Sebenarnya, aku adalah anak bungsu dari 5 bersaudara tapi semuanya pada mati muda. Tinggal aku yang tersisa, wanita berusia empat puluh lima tahun.

Selain menjadi seorang anak, aku juga menjadi seorang ibu bagi ke tiga anak-anakku. Yang paling tua berusia 24 tahun; seorang lelaki, yang tengah berusia 16 tahun; seorang gadis dan si bungsu berusia sepuluh tahun. Gandhi anakku yang paling tua adalah tulang punggung keluarga kami, apalagi setelah sepeninggal suamiku; ayah mereka yang wafat tiga tahun yang lalu. Kini aku hanyalah wanita tua yang sedang mengurus seorang wanita tua yang kenak-kanakkan.

Sesekali ia melamun dan tertawa sendiri; aku sangat sedih ketika melihatnya. Aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya. Kadang aku mengenang semua hal yang sudah ia berikan padaku, ah bukan semua tapi sebagian karena tentu saja apa yang sudah ia berikan padaku tak akan pernah bisa terhitung. “ bu, apa ibu ingat? Aku harap kau masih ingat kalau aku adalah anakmu. Anak yang dulu pernah kau lahirkan, kau susu-i , kau nina-bobokan, kau gendong, kau peluk dan kau manja?” wanita tua itu hanya menatapku dengan tatapan kosong. aku menyisir rambutnya yang sudah sangat putih itu, di dalam kamarnya aku hampir menitikkan air mata, tapi untungnya aku bisa menahannya.

“ ah, sudahlah bu. Mungkin kau sudah lupa padaku, tapi kalau aku ingat saat masa kecil dulu aku sangat bahagia. Saat kita masih di kampung bu. Apa kau ingat? Waktu itu aku pernah terbawa arus sungai. Ibu, bapak dan warga mencariku. Kau tau bagaimana saat aku melihatmu lagi? aku sangat bahagia bu. Dulu, aku pikir aku akan mati tenggelam dan tak bisa bertemu denganmu lagi.” aku tertawa.

Ia masih tak bergeming. Aku menatapnya dengan cemas, apa dia benar-benar sepikun itu? Aku yang anaknya sendiri sudah lupa. Ah, apa ia masih ingat pada bapak yang meninggal 15 tahun yang lalu? Apa ia masih ingat pada alm. kakak-kakakku? Atau ia masih ingat pada cucu-cucunya? Ya, jangankan cucu-cucunya yang lain, yang tinggal serumah saja masih tidak ingat.

“ Bu, apa kau ingat cucumu? Liara, anak ke-dua-ku bu. Ia sungguh anak yang baik. Kemarin, kau tau siapa yang membersihkan kotoranmu? Dia yang membersihkannya bu. Padahal aku tidak menyuruhnya, tapi ia bilang Liara sangat kasihan padaku. Ia ingin membantuku walau hanya sedikit; tak ada rasa jijik terbesit di hatinya. Aku bangga padanya, pada Gandhi, pada Liara, juga pada si bungsu Ryan.”

“ mas…. Rah….man?”

“ kau ingat bapak bu?”

“ aku juga bangga padanya. Ia adalah bapak yang sangat baik dan tegas. Ia mengajarkan kita hidup sederhana dan rendah hati. Aku ingat, bapak tidak pernah pilih kasih. Semua anak-anaknya ia marahi kalau ada yang bertindak salah.”

Aku tersenyum, akhirnya ibu bicara. Walau hanya sepatah kata tapi semua terasa bermakna buatku, aku selesai menyisir rambutnya yang sebatas pinggang itu dan kemudian menggelungnya.

***

Terkadang ia ingat namun kadang ia lupa, itulah kebiasaannya sehari-hari. Kadang ia menyebut namaku, kadang ia menyebutku dengan nama kakak-kakakku. Mungkin pikirannya memang sudah lelah, kini ia hanya bisa menunggu; menunggu kematian. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ibu memang sudah menderita penyakit ini; penyakit tua; penyakit pikun. Namun dulu tak separah sekarang, aku ingat sekali waktu itu. Ibu menghilang selama hampir seminggu. Ia tersesat saat akan pulang ke rumah, padahal ia hanya jalan-jalan pagi selama tiga puluh menit. Sejak itulah penyakitnya berangsur-angsur parah.

“ ma, apa nanti semua nenek-nenek kaya’ gitu?”

“ maksud kamu apa sayang?” aku bertanya pada anak bungsuku.

“ iya, kaya gitu ma…. nggak bisa ngapa-ngapain. Kamarnya bau, terus ngompol dimana-mana  kaya bayi, makan harus disuapin. Emang kaya gitu ya ma?” aku masih mengusap-usap rambutnya yang tergerai di pangkuanku.

“ sayaaaaang.. kamu nggak boleh ngomong gitu ah. nggak semua nenek-nenek kaya gitu ko..”

“ tapi ne—nek?”

“ walau gimanapun dia tetep nenek kamu. Orang yang udah melahirkan mama, kamu tau nggak gimana nenek kamu itu dulu? Hmmm.. dia itu orang yang sangat baik, wajahnya cantik, terus rela berkorban apa aja demi anak-anaknya.”

“ kaya mama?”

“ iya sayaaaang… kaya’ mama. Mau berkorban demi kamu, Kak Gandhi dan Kak Liara”

Ryan diam dan berpikir sebentar.

“ tapi emang mama nggak cape apa? Mama harus ngurusin rumah, kita sama nenek.” Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“ mama mana mungkin bisa cape.. kaan ada kamu…tapi kamu sayangkan sama mama?” Ryan mengangguk dan tersenyum. Aku memeluk tubuh mungilnya.

“ makanya, kamu cepet gede, biar bisa jagain mama. Udah ah tidur sana, mama mau ke kamar nenek dulu” aku mengecup keningnya dan memadamkan lampu kamarnya.

Ryan memang masih sangat polos. Dengan hatinya yang jujur, ia katakan lewat perkataannya; ia hanya belum bisa mengerti. Mungkin saat aku tua nanti aku bisa saja seperti ibu; kamar yang bau; mengompol ah, tapi kuharap aku tak akan seperti itu. Kasihan aku dengan mereka, yang pasti aku harus sehat; agar tak menyusahkan mereka.

Aku mengintip ibu dari balik pintu, ia sudah tidur; hingga saat semua orang tertidur ia malah terjaga. Aku memang harus selalu berada disampingnya; takut-takut ia terjatuh dari kasur atau apa-lah. Kadang aku harus memaksakan diriku untuk menahan rasa kantuk; semua ini kulakukan hanya untuk ia;untuk ibu. Sempat aku berpikir untuk menyewa seorang pengasuh, agar bebanku agak sedikit berkurang. Namun, rasanya aku masih bisa menanganinya sendiri. Agar tidak terlalu lelah untuk membersihkan bekas ompolnya aku pernah membelikannya diapers namun hal itu tidak bertahan lama. Ibu merasa tidak betah dan malah berusaha untuk membukanya.

Ibu terlihat seperti orang yang sudah lelah akan kehidupan, badannya tinggal ditutupi oleh kulit yang keriput. Tatapannya kosong, ngomongnya ngelantur. Aku hanya bisa meng-iyakan semua perkataannya.

***

            Ia mulai lagi, ibu buang kotoran di atas kasur lagi. sistem pencernaannya sedang tidak baik; mungkin karena ia sudah sangat renta. Berkali-kali aku membersihkannya; mengganti sprei-nya. Aku berusaha untuk bersabar; walau kadang terbesit rasa kesal di hatiku.

“ bu… minum obat dulu ya” ibu tak mau membuka mulutnya.

“ Gen—dis ?” ia menyebutku dengan nama kakak ke-tiga ku.

“ bukan bu, ini Rima”

“ Gen—dis?”

“ hmm… iya bu.. ini Gendis. Minum obat dulu ya bu.”

“ Gun—tur ?” aku terdiam menarik napas.

“ Dhika mana?” sambung ibu.

“ Seeee—ruuu—ni ?.. mas Rah—man mana?”

“ mereka semua sudah meninggal bu..”

“ bu apa kau tak ingat padaku? Kau belum menyebut namaku bu..”

Aku menatapnya dengan sendu, berharap ingatannya akan pulih. Bukankah aku juga anak kandungnya. Tatapannya masih kosong, masih enggan untuk membuka mulut. Aku kesal; aku lempar obat sekaligus sendoknya ke atas lantai.

“ bu.. coba tatap aku?! Apa kau tak ingat padaku bu? Apa kau tak ingat kalau kau pernah melahirkan aku? Kenapa kau ingat mereka semua? Sedangkan aku tidak?! Apa kau lupa dengan semua rasa kasih sayang pernah kau berikan padaku dulu?! Aku sendiri tidak pernah melupakannya bu. Lihat aku bu, lihat air mata yang mengalir ini. ingat aku buuuu…. aku mohooooooon…..!!” aku menyentuh wajahnya hingga akhirnya memeluknya.

Ibu melihatku dengan tatapan kosong sesekali ia memperhatikan raut mukaku yang basah. Akhirnya tangannya menyentuh wajahku.

“ Riiii—maaa..?”

“ Riiii—maaa…?” ulangnya. Aku mengangukkan kepala.

“ Riii—maaa.. anak bungsu ku?”

“ a—nakk—u ya—ng tersi—sa sa—tu—sa—tu—nya?”

“ ibu ingat padaku?” iya mengangguk dan menitikkan air mata.

Air mata kami mengalir, ada kerinduan yang terlepas. Ia ingat namaku, ia ingat pada anaknya; tidak ia tak pernah lupa. Ia tidak pernah melupakanku; ini hanyalah faktor umur. Ingatannya tertutup oleh kenangan; kenangan yang sangat-sangat jauh dari waktuku lahir.

“ maafkan aku bu… tadi aku menggertakmu… sungguh aku tak bermaksud.”

Ia tidak mendengar ucapanku, ia tetap memelukku dengan erat seakan-akan enggan berpisah denganku. “ ja—ngan per—gi” sambungnya.

“ aku tak akan pergi kemana-mana bu. Sudah ayo minum obat.” Aku baru ingat kalau botol obat tersebut pecah karena aku banting.

“ tunggu sebentar ya bu.. aku ambil lap dulu..” aku meninggalkan ibu yang berwajah sedih nan dingin.

GUBRAKKKK!!!

Suara apa itu? Ada suara yang cukup keras hingga terdengar sampai ke dapur; suara itu berasal dari kamar ibu. Astaghfirullah!!! IBU?!

Vespa ber-plat AB

Si oranye ber-plat AB

Mendendangkan mesin keliling kota

Gayanya memang nyentrik

Ditambah kota yang cukup unik

 

Kacamata hitam menghiasi iris mata

Dan helm menjadi tiara

Jaket berbahan jeans sebagai tahta

Sepatu sebagai penginjak bumi

 

Vespa berwarna oranye

Hiasi  kota ber-plat AB

Gedung-gedung menjadi saksi

Gaya klasik masa kini

 

Post Navigation