Dianaira

Petrichor

Kala Senja

Sudah dua tahun terakhir ini ia terbaring di kasur berwarna putih gading itu. Tak ada yang bisa ia lakukan; ia hanya bisa berteriak, kadang juga ia terduduk untuk mengacak-ngacak apa saja yang ada dihadapannya. Ia sudah lupa padaku, yang ia ingat hanyalah masa mudanya dulu; masa kecilnya. Sering ia mengompol di atas kasur ; untuk sekedar menceboki-nya adalah hal biasa bagiku. Apalagi soal berak; kadang ia malah mengacak-acaknya di atas kasur kapuk itu.

Makan harus aku yang suapi; untuk menyuapinya memakan waktu lebih dari satu jam; kadang ia me-lepehnya ; makanannya berceceran dimana-mana. Aku sudah terbiasa menghadapinya, tak ada lagi rasa jijik menimpa batinku. Aku sudah mati rasa; apalagi akulah satu-satunya anaknya yang tersisa.

Ia adalah ibuku. Ia sudah tidak muda lagi; aku juga tidak bisa disebut anak muda. Ibuku berusia delapan puluh lima tahun dan aku lebih muda empat puluh tahun darinya. Sebenarnya, aku adalah anak bungsu dari 5 bersaudara tapi semuanya pada mati muda. Tinggal aku yang tersisa, wanita berusia empat puluh lima tahun.

Selain menjadi seorang anak, aku juga menjadi seorang ibu bagi ke tiga anak-anakku. Yang paling tua berusia 24 tahun; seorang lelaki, yang tengah berusia 16 tahun; seorang gadis dan si bungsu berusia sepuluh tahun. Gandhi anakku yang paling tua adalah tulang punggung keluarga kami, apalagi setelah sepeninggal suamiku; ayah mereka yang wafat tiga tahun yang lalu. Kini aku hanyalah wanita tua yang sedang mengurus seorang wanita tua yang kenak-kanakkan.

Sesekali ia melamun dan tertawa sendiri; aku sangat sedih ketika melihatnya. Aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya. Kadang aku mengenang semua hal yang sudah ia berikan padaku, ah bukan semua tapi sebagian karena tentu saja apa yang sudah ia berikan padaku tak akan pernah bisa terhitung. “ bu, apa ibu ingat? Aku harap kau masih ingat kalau aku adalah anakmu. Anak yang dulu pernah kau lahirkan, kau susu-i , kau nina-bobokan, kau gendong, kau peluk dan kau manja?” wanita tua itu hanya menatapku dengan tatapan kosong. aku menyisir rambutnya yang sudah sangat putih itu, di dalam kamarnya aku hampir menitikkan air mata, tapi untungnya aku bisa menahannya.

“ ah, sudahlah bu. Mungkin kau sudah lupa padaku, tapi kalau aku ingat saat masa kecil dulu aku sangat bahagia. Saat kita masih di kampung bu. Apa kau ingat? Waktu itu aku pernah terbawa arus sungai. Ibu, bapak dan warga mencariku. Kau tau bagaimana saat aku melihatmu lagi? aku sangat bahagia bu. Dulu, aku pikir aku akan mati tenggelam dan tak bisa bertemu denganmu lagi.” aku tertawa.

Ia masih tak bergeming. Aku menatapnya dengan cemas, apa dia benar-benar sepikun itu? Aku yang anaknya sendiri sudah lupa. Ah, apa ia masih ingat pada bapak yang meninggal 15 tahun yang lalu? Apa ia masih ingat pada alm. kakak-kakakku? Atau ia masih ingat pada cucu-cucunya? Ya, jangankan cucu-cucunya yang lain, yang tinggal serumah saja masih tidak ingat.

“ Bu, apa kau ingat cucumu? Liara, anak ke-dua-ku bu. Ia sungguh anak yang baik. Kemarin, kau tau siapa yang membersihkan kotoranmu? Dia yang membersihkannya bu. Padahal aku tidak menyuruhnya, tapi ia bilang Liara sangat kasihan padaku. Ia ingin membantuku walau hanya sedikit; tak ada rasa jijik terbesit di hatinya. Aku bangga padanya, pada Gandhi, pada Liara, juga pada si bungsu Ryan.”

“ mas…. Rah….man?”

“ kau ingat bapak bu?”

“ aku juga bangga padanya. Ia adalah bapak yang sangat baik dan tegas. Ia mengajarkan kita hidup sederhana dan rendah hati. Aku ingat, bapak tidak pernah pilih kasih. Semua anak-anaknya ia marahi kalau ada yang bertindak salah.”

Aku tersenyum, akhirnya ibu bicara. Walau hanya sepatah kata tapi semua terasa bermakna buatku, aku selesai menyisir rambutnya yang sebatas pinggang itu dan kemudian menggelungnya.

***

Terkadang ia ingat namun kadang ia lupa, itulah kebiasaannya sehari-hari. Kadang ia menyebut namaku, kadang ia menyebutku dengan nama kakak-kakakku. Mungkin pikirannya memang sudah lelah, kini ia hanya bisa menunggu; menunggu kematian. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ibu memang sudah menderita penyakit ini; penyakit tua; penyakit pikun. Namun dulu tak separah sekarang, aku ingat sekali waktu itu. Ibu menghilang selama hampir seminggu. Ia tersesat saat akan pulang ke rumah, padahal ia hanya jalan-jalan pagi selama tiga puluh menit. Sejak itulah penyakitnya berangsur-angsur parah.

“ ma, apa nanti semua nenek-nenek kaya’ gitu?”

“ maksud kamu apa sayang?” aku bertanya pada anak bungsuku.

“ iya, kaya gitu ma…. nggak bisa ngapa-ngapain. Kamarnya bau, terus ngompol dimana-mana  kaya bayi, makan harus disuapin. Emang kaya gitu ya ma?” aku masih mengusap-usap rambutnya yang tergerai di pangkuanku.

“ sayaaaaang.. kamu nggak boleh ngomong gitu ah. nggak semua nenek-nenek kaya gitu ko..”

“ tapi ne—nek?”

“ walau gimanapun dia tetep nenek kamu. Orang yang udah melahirkan mama, kamu tau nggak gimana nenek kamu itu dulu? Hmmm.. dia itu orang yang sangat baik, wajahnya cantik, terus rela berkorban apa aja demi anak-anaknya.”

“ kaya mama?”

“ iya sayaaaang… kaya’ mama. Mau berkorban demi kamu, Kak Gandhi dan Kak Liara”

Ryan diam dan berpikir sebentar.

“ tapi emang mama nggak cape apa? Mama harus ngurusin rumah, kita sama nenek.” Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“ mama mana mungkin bisa cape.. kaan ada kamu…tapi kamu sayangkan sama mama?” Ryan mengangguk dan tersenyum. Aku memeluk tubuh mungilnya.

“ makanya, kamu cepet gede, biar bisa jagain mama. Udah ah tidur sana, mama mau ke kamar nenek dulu” aku mengecup keningnya dan memadamkan lampu kamarnya.

Ryan memang masih sangat polos. Dengan hatinya yang jujur, ia katakan lewat perkataannya; ia hanya belum bisa mengerti. Mungkin saat aku tua nanti aku bisa saja seperti ibu; kamar yang bau; mengompol ah, tapi kuharap aku tak akan seperti itu. Kasihan aku dengan mereka, yang pasti aku harus sehat; agar tak menyusahkan mereka.

Aku mengintip ibu dari balik pintu, ia sudah tidur; hingga saat semua orang tertidur ia malah terjaga. Aku memang harus selalu berada disampingnya; takut-takut ia terjatuh dari kasur atau apa-lah. Kadang aku harus memaksakan diriku untuk menahan rasa kantuk; semua ini kulakukan hanya untuk ia;untuk ibu. Sempat aku berpikir untuk menyewa seorang pengasuh, agar bebanku agak sedikit berkurang. Namun, rasanya aku masih bisa menanganinya sendiri. Agar tidak terlalu lelah untuk membersihkan bekas ompolnya aku pernah membelikannya diapers namun hal itu tidak bertahan lama. Ibu merasa tidak betah dan malah berusaha untuk membukanya.

Ibu terlihat seperti orang yang sudah lelah akan kehidupan, badannya tinggal ditutupi oleh kulit yang keriput. Tatapannya kosong, ngomongnya ngelantur. Aku hanya bisa meng-iyakan semua perkataannya.

***

            Ia mulai lagi, ibu buang kotoran di atas kasur lagi. sistem pencernaannya sedang tidak baik; mungkin karena ia sudah sangat renta. Berkali-kali aku membersihkannya; mengganti sprei-nya. Aku berusaha untuk bersabar; walau kadang terbesit rasa kesal di hatiku.

“ bu… minum obat dulu ya” ibu tak mau membuka mulutnya.

“ Gen—dis ?” ia menyebutku dengan nama kakak ke-tiga ku.

“ bukan bu, ini Rima”

“ Gen—dis?”

“ hmm… iya bu.. ini Gendis. Minum obat dulu ya bu.”

“ Gun—tur ?” aku terdiam menarik napas.

“ Dhika mana?” sambung ibu.

“ Seeee—ruuu—ni ?.. mas Rah—man mana?”

“ mereka semua sudah meninggal bu..”

“ bu apa kau tak ingat padaku? Kau belum menyebut namaku bu..”

Aku menatapnya dengan sendu, berharap ingatannya akan pulih. Bukankah aku juga anak kandungnya. Tatapannya masih kosong, masih enggan untuk membuka mulut. Aku kesal; aku lempar obat sekaligus sendoknya ke atas lantai.

“ bu.. coba tatap aku?! Apa kau tak ingat padaku bu? Apa kau tak ingat kalau kau pernah melahirkan aku? Kenapa kau ingat mereka semua? Sedangkan aku tidak?! Apa kau lupa dengan semua rasa kasih sayang pernah kau berikan padaku dulu?! Aku sendiri tidak pernah melupakannya bu. Lihat aku bu, lihat air mata yang mengalir ini. ingat aku buuuu…. aku mohooooooon…..!!” aku menyentuh wajahnya hingga akhirnya memeluknya.

Ibu melihatku dengan tatapan kosong sesekali ia memperhatikan raut mukaku yang basah. Akhirnya tangannya menyentuh wajahku.

“ Riiii—maaa..?”

“ Riiii—maaa…?” ulangnya. Aku mengangukkan kepala.

“ Riii—maaa.. anak bungsu ku?”

“ a—nakk—u ya—ng tersi—sa sa—tu—sa—tu—nya?”

“ ibu ingat padaku?” iya mengangguk dan menitikkan air mata.

Air mata kami mengalir, ada kerinduan yang terlepas. Ia ingat namaku, ia ingat pada anaknya; tidak ia tak pernah lupa. Ia tidak pernah melupakanku; ini hanyalah faktor umur. Ingatannya tertutup oleh kenangan; kenangan yang sangat-sangat jauh dari waktuku lahir.

“ maafkan aku bu… tadi aku menggertakmu… sungguh aku tak bermaksud.”

Ia tidak mendengar ucapanku, ia tetap memelukku dengan erat seakan-akan enggan berpisah denganku. “ ja—ngan per—gi” sambungnya.

“ aku tak akan pergi kemana-mana bu. Sudah ayo minum obat.” Aku baru ingat kalau botol obat tersebut pecah karena aku banting.

“ tunggu sebentar ya bu.. aku ambil lap dulu..” aku meninggalkan ibu yang berwajah sedih nan dingin.

GUBRAKKKK!!!

Suara apa itu? Ada suara yang cukup keras hingga terdengar sampai ke dapur; suara itu berasal dari kamar ibu. Astaghfirullah!!! IBU?!

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: