Dianaira

Petrichor

Hujan yang Berdamai dengan Kembang api

 

Jejak-jejak hujan akhir tahun di Kota Kembang Bandung masih terasa sangat basah. Gerimis;  aku tak yakin kalau tahun baru kali ini masih se-meriah biasanya; penuh dengan kembang api, teriakkan terompet atau acara-acara musik yang menggelegar di setiap titik keramaian. Mungkin, kali ini akan menjadi ‘tahunnya’ acara  televisi, karena dari pagi tadi hujan tak henti-hentinya turun. Orang-orang mungkin malas untuk keluar rumah, dan terpaksa “mau” dimanjakan oleh acara-acara televisi yang biasa menayangkan film Box Office itu.

Aku tidak begitu tertarik dengan perayaan tahun baru, apalagi semua keluargaku sedang tidak ada di rumah, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Di keluargaku memang hampir tidak pernah menjalankan tradisi tahunan itu. Baginya tahun baru adalah saat untuk merenung—untuk interopeksi diri dan membuat resolusi—bukannya hura-hura atau semacamnya. Ya, setidaknya aku memang setuju dengan perkataan mereka.

Hari ini—tanggal 31 Desember—rintik hujan masih belum berhenti. Hujan kota Bandung masih membasahi aspal. Aku yakin orang-orang akan melewatkan tahun baru  seperti hari-hari biasanya; banyak orang yang akan tertidur karena hujan atau mungkin karena bosan menonton tv. Tapi ternyata dugaanku salah, bunyi terompet masih saja mengusik telingaku; anak-anak kecil menyalakan petasan seperti di bulan puasa, suara klakson motor dan mobil saling bersahutan, kemacetan terjadi dimana-mana. Orang-orang tetap menerobos hujan demi menyambut tahun baru.

Sebenarnya, aku agak sedikit heran. Kenapa orang-orang begitu menyukai perayaan tahun baru, apa mungkin tahun baru itu semacam lampu wasiatnya aladdin  yang bisa mengabulkan permintaan orang-orang? Tapi yang aku sukai dari tahun baru hanyalah kembang api, sebenarnya jarang sekali aku sengaja keluar rumah untuk melihat kembang api. Aku hanya melihatnya di balik jendela kamar. Kadang aku malah menutup mata dan berdoa kepada tuhan seperti sedang melihat bintang jatuh. Aku selalu berpikir mungkinkah aku melihat kembang api yang sama seperti yang ia lihat—seseorang yang dari dulu kusukai—sama seperti ketika aku melihat bulan, bintang dan langit; akan sama seperti yang ia lihat.

Aku tahu Kota Bandung memanglah luas, lagipula kembang api bukanlah seperti bulan yang bisa terlihat dari mana saja; ia hanya bisa terlihat dalam radius beberapa km. Tapi disetiap pergantian tahun itulah yang selalu aku harapkan; melihat kembang api yang sama, di bawah langit yang sama dan malam yang sama dengannya. Mungkin aku akan terlihat sangat bodoh, tapi yang pasti setiap aku melihat kembang api aku selalu berdoa.

“Di bawah langit yang sama, Bintang yang sama, bulan yang sama dan malam yang sama, aku harap aku bisa melihat kembang api yang sama dengannya. Memang bukanlah hal yang mudah; apalagi kota Bandung begitu luas; kembang api juga selalu datang silih berganti di sepanjang pergantian tahun. Tapi semoga saja aku bisa melihat kembang api yang sama dengannya”

Tapi hujan tak hentinya berhenti, aku tak yakin kalau kali ini kembang api akan semeriah biasanya, meski orang-orang tetap memaksakan diri untuk keluar dari rumah. Apa mungkin kembang api bisa menyala jika hujan tetap turun?

Aku memantapkan kakiku di Jalan Braga, tempatnya yang unik dan tidak terlalu luas membuat semuanya terasa sesak dan ramai namun tetap terasa nyentrik. Gerimis tak jadi hambatan, sebuah panggung musik berhasil memblokir jalan; ukurannya tidak terlalu besar tapi cukuplah untuk ditempatkan satu set alat band. Di sisi jalan banyak terdapat pedagang kaki lima; mulai dari bajigur, kue ape, bandros, sekoteng dan jajanan tradisional lainnya. Bahkan ada yang menjualnya secara gratis; aku, tentu saja tak lupa untuk mencicipinya.

Satu cangkir bajigur dan sebuah ubi rebus mampu mengalahkan dinginnya gerimis Bandung. Tentu saja, aku jarang sekali menemukannya di hari-hari biasa; sekalipun ketika musim hujan.

“ Mana temen-temennya neng?” kata seorang tukang bajigur yang sedang sibuk melayani pembeli yang lain.

“ Sendirian aja kok mang, tadi kebetulan lewat.”

“ Kenapa atuh sendirian? Kan sayang neng ngerayain tahun baru malah sendirian.”

“ Ini kan banyak orang mang, kan jadi nggak kerasa sendiriannya hehehe..”

“ Ah, si neng mah suka gitu” aku tertawa simpul. Tatapanku masih tertuju pada orang-orang yang berkerumun melawan gerimis. Di sepanjang jalan ada yang asik menonton konser musik; memakai payung, membiarkan tubuhnya terkena hujan atau menggunakan jaket sebagai pelindung. Musik yang terdengar adalah lantunan jazz yang agak sedikit nge-beat. Ada juga orang-orang yang sibuk berburu makanan; bersama teman atau bersama pacar. Pandanganku terhenti pada seseorang yang menggunakan jaket berbahan kulit yang menutupi kaos berwarna merah tua. Badannya lumayan tinggi, ia memakai celana berbahan jeans dan sepatu pentofel. Sepertinya aku mengenalinya. aku mengamatinya agak lama, sampai orang-orang menutupi pandanganku padanya.

 

***                                                              

Perutku masih belum merasa puas, aku menghampiri seorang tukang sekoteng yang berada tidak cukup jauh dari tukang bajigur yang baru saja aku beli. Beruntungnya, aku kali ini. si tukang sekoteng menjualnya secara cuma-cuma. Aku duduk disebelahnya, sambil melihat keramaian. Gerimis masih tak mau mengalah. Aku masih tak yakin kalau tengah malam nanti akan ada jeritan kembang api.

“ Mang, kira-kira kembang api bakal tetep ada nggak ya?” aku memulai pembicaraan.

“ Ya, saya kurang tau neng. Emang kalau gerimis gini kembang api bisa nyala ya?” si tukang sekoteng malah balik bertanya kepadaku.

Aku masih berharap bahwa kembang api tetap menghiasi langit Bandung, bukan karena tahun baru; bagiku, asal ada kembang api hatiku akan terasa gembira; kapan saja, entah pada saat lebaran atau hari besar apapun yang penting bagiku adalah kembang api. Saat melihat kembang api, orang-orang pasti harus melihat langit. Saat itu pula aku berharap bahwa ia juga akan melihat ke arah langit; melihat kembang api.

Ia adalah seseorang yang tak pernah bisa aku ungkapkan, sudah tiga tahun lebih aku memendamnya; aku tak pernah mempunyai alasan untuk menyukainya; ia seseorang yang membuatku begitu penasaran. Sebenarnya, rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Tapi anehnya sampai saat ini kami tidak pernah saling mengenal. Aku ingat kami selalu berpas-pasan pada saat itu; hampir tiap hari malah. Tapi sejak setahun belakangan ini aku hampir tak pernah melihatnya lagi.

Kamera Single Lens Reflex yang kini menggantung di leherku menjadi saksi-nya. Aku sempat memotretnya secara diam-diam beberapa kali, sambil memakan semangkuk sekoteng yang sudah hampir habis aku mulai membuka-bukanya kembali.

Aku memang suka memotret. Bagiku di dunia ini tak ada hal yang bisa memuaskan diri selain memotret. Dimana dan kapan saja kamera Single Lens Reflex sudah menjadi teman sejatiku sejak dua tahun yang lalu, aku tak mengerti mengapa aku sangat menyukainya yang pasti ia sudah menjelma menjadi mataku. Setiap hal yang menarik pasti ku abadikan dengan kamera, dimulai dari hal kecil sampai ke hal-hal yang unik. Memotret memang sangat menarik, aku bisa tersenyum sendiri karenanya; seperti orang yang sedang dilanda cinta.

Saat itu aku tak sengaja melihatnya di kampus, aku tak begitu tau apa dia sekampus denganku atau hanya mampir-mampir biasa saja. Ia menggunakan kemeja kota-kotak yang lengannya dilipat hingga sebatas siku. Kancingnya dibiarkan terbuka supaya kaos polos berwarna hitam tetap bisa kelihatan. Ia seperti sedang membaca, atau mungkin hanya melihat-lihat kertas yang berada digenggamannya saja. Spontan, aku langsung memotretnya hingga berkali-kali. Ia menghilang dari lensa kamera ku.

“ Kenapa neng? Kok senyum-senyum sendiri?” kata tukang sekoteng.

“ Ngga mang, ini lagi liat foto-foto” aku masih melihat lcd kamera.

“ Mang beli satu porsi ” seorang pria akhirnya duduk disebelahku. Aku tak terlalu memperdulikannya, lagipula apa peduliku.

“ Sendirian aja ncep? ” sapa si tukang sekoteng kepada lelaki itu.

“ Iya mang..”                                      

“ Oh sama atuh kaya si neng..” ia menatap ke arahku.

“ Sendirian apanya mang? Kan disini banyak orang” jawabku sambil asik menatap layar kamera.

“ Tahun baru kalau Gerimis gini emang bakal ada kembang api mang?” tanya lelaki itu. Aku masih asik dengan kameraku.

“ Moga aja ada ncep, mudah-mudahan nanti hujan berhenti.”

“ Oh iya mang, pasti banyak yang nyampah ya?”

“ Ya iya atuh ncep.. eeuh sampah teh bertumpuk dimana-mana, petugas kebersihan pada kewalahan pemulung juga ngga cukup buat ngebantuin.”

“ Biasalah sampah akhir tahun buat tahun baru hehehe” mereka berdua tertawa cengengesan.

“ Bener mang ini gratisan?” kataku memotong pembicaraan.

“ Ya iya atuh neng, se-pe-syal ini mah”

“ Makasih atuh ya mang”

“ Sumuhun neng geulis”

Aku berlalu meninggalkan pria ber-sepatu pentofel itu. Sekilas aku merasa mengenalnya, tapi apa iya? Ah, tatapanku kembali terhenti pada sebuah potret yang sekitar setahun lalu berhasil ku ambil, tak lain adalah pria itu; lelaki bernama Bimo.

Tiap minggu pagi aku memang tak pernah absen untuk berolahraga, sebenarnya bukan untuk berolahraga. Tapi untuk berburu foto, minggu pagi memang santapan menarik untuk memotret. Kadang aku memotret seseorang bersama anjingnya, ada yang bersepeda dan juga berjogging ria bersama keluarga. Lensa kameraku tertuju pada pria itu, sebenarnya setelannya bukan seperti sedang berolahraga; malah seperti orang yang akan pergi ke sebuah tempat. Sebuah Helm sudah berada dalam genggamannya, sebuah tas gitar juga sudah berada di punggungnya. Ia menggunakan jaket kulit berwarna cokelat dan sepatu boots yang terpasang dikakinya. Rambutnya waktu itu agak sedikit gondrong berwarna kecokelatan. Dengan sigap aku memotretnya hingga berkali-kali.

Lagi, aku tersenyum simpul sendiri. Betapa rindunya hatiku ingin melihatnya lagi. aku selalu berharap setiap jepretan yang aku tangkap di kameraku, gambarnya akan selalu tiba-tiba hadir. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih ada sekitar dua jam lagi untuk melihat kembang api yang masih belum tentu keberadaannya. Gerimis masih terasa di kepalaku. Tapi semakin lama aku semakin tak peduli. Sebuah band akhirnya menyanyikan lagu kesukaanku.

“ And all the roads we have to walk are winding

And all the lights that lead us there are blinding

There are many things that I would like to say to you

But I don’t know how”

Semakin lama bibirku menikmatinya dan mulai bernyanyi sekencang-kencangnya, aku merasa senang karena ada yang membawakan lagu ini.

“ because maybe.. you’re gonna be the one that saves me.. and after all.. you’re my wonderwall”

“ I don’t believe that anybody feels the way I do.. about you know”

And all the roads that lead you there were winding

And all the lights that light the way are blinding

There are many things that I would like to say to you

But i don’t know how..”

 “ I said maybe.. you’re gonna be the one that saves me.. and after all.. you’re my wonderwall…”

Lagu Oasis berjudul Wonderwall sukses di bawakan oleh sebuah band indie asal Bandung. Dari kejauhan panggung aku tak lupa memotretnya. Memotret sang Vokalis, Gitaris, Bassist hingga yang paling belakang Drummer. Aku juga tak lupa memotret para penonton yang lumayan kebasahan, ada juga orang yang dari tadi meneriaki payung yang menghalangi pemandangannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa, pandanganku kembali tertuju pada kamera, melihat-lihat hasil jepretanku tadi.

***

Gerimis masih tetap enggan mengalah, hingga pukul setengah sebelas malam. Ia masih bermain-main dengan bumi. Ah, sepertinya kembang api memang tak akan hadir di tahun baru kali ini. tapi orang-orang sama egoisnya dengan hujan—tak ada yang mau mengalah—mereka terus bernyanyi untuk menyambut tahun baru.

Hujan semakin deras, orang-orang mulai berlarian untuk berteduh. Panggung semakin lama semakin sepi oleh penonton. Banyak orang mencaci, kenapa hujan harus datang sekarang? Para pedagang sepertinya yang malah kebagian untung. Mereka semua dipenuhi oleh para pembeli yang sedang berteduh. Cuaca semakin dingin, banyak orang yang yang ingin pulang. Harapanku tentang kembang api semakin sirna. Aku mengencangkan jaket untuk menolak dinginnya angin hujan. Sesekali aku mengusap kameraku agar tak kebasahan. Semua orang berderet dipinggir jalan mengusap-usap kedua tangannya.

Mungkin dugaanku benar, seharusnya aku tak keluar rumah malam ini. toh, biasanya juga aku melihat kembang api dari balik jendela. Padahal, seharusnya aku menonton acara televisi  saja; aku tak akan kedinginan seperti ini pastinya. Ah, harusnya aku memotret ini. di balik hujan aku memfoto semuanya, panggung, orang-orang, hujan, pedagang kaki lima dan pelanggannya. Semakin lama aku menikmatinya, kembali tersenyum sendiri.

Hujan semakin reda, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tinggal beberapa menit lagi untuk bisa melihat kembang api. Sepertinya hujan sudah mengadakan negosiasi dengan kembang api. Lihat saja Gerimis tiba-tiba tak terasa lagi di kepalaku. Panggung kembali ramai oleh penonton, pengisi acara pun semakin antusias untuk menghadapi malam pergantian tahun. Musik kembali memenangkan rinai hujan. Cuaca semakin terasa dingin. Harapan itu kembali berada di otakku.

Melihat kembang api yang sama di bawah langit yang sama, mungkinkah bisa terjadi? Aku biarkan musik mengalun di pendengaranku. Aku menutup mata, si vokalis band itu menyanyikan sebuah lagu yang sangat aku kenal. Yaitu Fix You.

when you try your best but you don’t succeed

When you get what you want but not what you need

Stuck in reverse..

Lights will guide you home..

And ignite your bones and I will try to fix you”

Musik berhenti…

Gerimis kembali..

“ SEMUANYA.. kita tutup tahun ini dengan sebuah kebahagiaan. Biarkan semuanya menjadi kenangan. Kita jalani tahun baru dengan kata OPTIMIS siapkan resolusi, kerja keras daaaaan… berdoa….”

“ DALAM HITUNGAN LIMA KITA SAMBUT TAHUN BARU!!!!”

“LIMA….”

“ EMPAT..”

“ TIGA…”

“ DUA…..”

“ SELAMAT TAHUUUN BAAARUUU DUA RIIBU EMPAAT BELAS!!!!…”

Kembang api datang silih berganti, distorsi musik muncul mengalun rendah.

Sepertinya hujan mau berdamai dengan kembang api, dingin melebur bersama api hingga menghasilkan hangat. Berkali-kali dentuman itu berbunyi begitu keras, percikkannya terasa sampai ke mata. Namun, gerimis tetap merintik, tapi tidak terasa dingin. Malah terasa seperti air hangat yang memercik kulit dan kepalaku.

Aku melihatnya, melihat kembang api. Juga suaranya; suara dentumannya yang keras ; juga suara musik yang masih mengalun rendah, gerimis terasa di kulit kepalaku. Tapi tak memadamkan semangat si kembang api. Aku menutup mata dan berdoa kepada tuhan.

“Semoga aku berada di langit yang sama, di bawah langit kota Bandung. Juga dengan kembang api yang sama. Dalam hitungan yang sama di malam yang sama.”

Dalam doa, musik masih mengalun rendah.

“high above and down below, when you too in love to let it go.. But if you never try you’ll never know.. just what your worth..

Lights will guide you home… and ingnite your bones and I will try to.. fix.. you..”

Kembang api semakin memudar, musik semakin meninggi.

“ Tears streaming down your face when you lose something you cannot replace, tears stream and down your face….. and  I…. Tears streaming down your face  promise you I will learn for my mistake.. tears streaming down your face and I……. lights.. will guide…. you home… and ignite… your bones…and I will try… to… fix you.”

Aku membuka mata dan tersenyum. Semuanya terasa begitu indah, gerimis masih terasa. Aku melihat sekeliling, dan juga menoleh ke arah kanan. Ia tepat berada di sebelahku. Jaket kulitnya, rambutnya yang agak kebasahan, badannya yang lumayan tinggi. Tepat berada di sampingku.

***

Waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi, Jejak Hujan Tahun lalu masih enggan pergi. Pagi yang dingin di tanggal 1 Januari. Secangkir cokelat panas sudah siap untukku minum. Kembang api masih terngiang di kepalaku, tak akan pernah ku lupakan.

Aku tak begitu yakin, apa benar itu adalah ia? Sempat aku ingin memperhatikan wajahnya, tapi apa daya ia begitu cepat berlalu dengan sebuah motor yang terparkir cukup jauh. Namun, entah mengapa jantungku begitu berdegup kencang; hatiku terasa gembira. Seperti ada sesuatu yang memecah rindu.

Lamunanku kembali tertuju kepada Bimo. Mungkinkah Tuhan mengabulkan doaku? Mungkinkah kami melihat kembang api yang sama? ah, kalaupun benar aku bisa apa? Sebenarnya mataku masih merasa kantuk. Sempat aku berpikir untuk tertidur lagi, setelah sampai di rumah pukul setenga dua dini hari tadi. Tapi aku rasa tidak perlu.

            Kamera tergeletak di atas meja belajarku, aku mulai mengambilnya dan memasukkan kartu memorinya ke dalam laptop. Satu persatu aku lihat, ada yang terlihat begitu romantis, karena jaket yang memayungi yang terlihat sebagai sepasang kekasih itu. Ada juga yang fotonya tidak jelas, ada yang narsis. Yang pasti semuanya berhasil membuatku tersenyum.

            Ternyata lelaki itu berhasil ku foto, namun wajahnya tidak begitu jelas. Kutekan keyboard next dan lelaki itu ternyata selalu berhasil ku foto. Tapi lagi-lagi tidak begitu jelas. Hingga agak  lama aku mendapatkan potretnya lagi, kini foto itu lumayan terlihat jelas.

            Bimo?!! Benarkah itu dia?!! Tunggu bukankah lelaki itu juga yang duduk di sebelahku waktu makan sekoteng? Apa dia juga yang berdiri di sebelahku?! Aku kembali memperbesar foto tersebut. Iya, itu benar-benar Bimo. Tapi kenapa rambutnya berbeda? Apa mungkin ia memotong rambutnya?

Aku masih terkejut, kami benar-benar melihat kembang api yang sama. kenapa aku tidak menyadarinya? Aku mulai tersenyum. Di luar masih hujan. Aku mendekat ke arah jendela. Di bawah ada seseorang yang melewati rumahku. Ia tak menggunakan payung, wajahnya masih terlihat acak-acakkan, dari kejauhan, aku memutarkan lensa kameraku. Di awal tahun untuk yang pertama kalinya, aku memotretnya sekali lagi.

***

Bandung, 1 Januari 2014

Hujan yang Berdamai dengan Kembang Api

Hujan. Aku tak tau kapan kau berdamai dengan kembang api. Bagaimanapun kau tidak pernah akur bila melihatnya. Tapi gerimis. Kemarin aku tetap merasakannya. Melebur. Bersama percikkan kembang api.

Gerimis menyentuh kulit kepalaku. Tapi aku tetap bisa melihat langit yang dipenuhi cahaya. Bukan. Bukan bintang. Bukan juga bulan. Tapi kembang api, juga dentumannya.

Kembang api. Aku melihat langit; melihatnya. Semua orang juga terpesona padanya. Aku harap ia seperti bulan. Di lihat oleh semua orang. Di lihat oleh seseorang yang ku harapkan.

Kembang api. Memang bukanlah sebuah bulan. Yang bisa dilihat semua orang dari sisi manapun. Tapi aku selalu berdoa. Kalau aku bisa melihat kembang api yang sama seperti yang ia lihat. Di bawah langit yang sama. dalam detik yang sama dan malam yang sama.

Hey, ternyata kau sedari tadi berada di sampingku. Kita melihat kembang api yang sama di bawah percikkan gerimis. Harusnya tadi kau tau. Saat kembang api masih menyala, aku menundukkan kepala dan berdoa kepada tuhan layaknya melihat bintang jatuh. Semoga aku bisa melihat kembang api layaknya aku melihat bulan. Bentuk yang sama seperti yang kau lihat.

Jejak hujan. Masih membekas di tahun baru. Menyisakan kenangan. Untuk tahun lalu. Aku masih ingat kembang api. Aku juga masih ingat gerimis. Aku masih ingat kembang api yang memercik gerimis. Aku juga masih mengingatmu, saat aku mendoakanmu yang ternyata ada disampingku.

Untuk kembang api yang memercik gerimis. Aku harap kau akan tetap seperti itu. Gerimis yang berubah menjadi air hangat. Dan kembang api yang terasa jatuh di kepalaku. Berdamailah kalian. Meski air enggan berdamai dengan api. Atau panas yang enggan berdamai dengan dingin.

Untukmu, aku harap kita akan selalu melihat kembang api yang sama, dalam detik yang sama, di malam yang sama. dan hati yang sama.

                                                  

Sebuah sajak yang ku buat, untuk Bimo, kembang api dan gerimis di akhir tahun. Ku tulis di sebuah lembar buku harian yang agak usang. Lagi-lagi semuanya akan menjadi kenangan saat aku menghadapi tahun yang baru.

selesai

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: