Dianaira

Petrichor

Archive for the month “March, 2014”

Percintaan Kucing Ras dan Kucing Kampung

              Aku mengamatinya dari balik kaca. Ia berwarna kuning keemasan, bola mata yang besar dan berwarna kuning, juga tubuh yang kekar. Ia memang bukan dari kalangan atas sepertiku, yang makan dengan mudahnya, tidur ditempat yang luas, juga susu yang menjadi minuman tambahanku. Ia hanyalah jantan biasa yang tidur dimana saja dan makanpun didapat dari hasil mencuri atau sisa-sisa makanan orang.

            Kami sering bertemu di teras depan rumah, ketika aku bersantai ia datang dengan tubuhnya yang cukup tinggi itu “ Meong” katanya. Aku jawab lagi dengan kata “Meong” sejak saat itu aku sering keluar dari rumah ini hanya untuk bertemu dan mengeong dengannya.

            Gaya hidupku memang sangat berbeda darinya. Setiap hari aku memakan makanan kucing dengan harga yang lebih mahal daripada manusia, walaupun sebenarnya makanan seperti itu hanya bisa membuat gigiku menjadi tumpul. Setiap dua minggu sekali aku selalu dibawa ke salon untuk dimandikan, dan memotong kuku, padahal kuku adalah caraku untuk memangsa buruan dan bertahan hidup. Aku juga sering diberi vaksin agar terlihat lucu dan sehat.

            Dari matanya yang tajam itu, sudah terlihat kalau ia pejantan yang berbeda denganku. Makan ikan asin saja sudah menjadi barang mewah baginya, kadang ia juga minum dari got-got perkotaan yang berwarna hitam pekat. Tapi hidupnya sehat-sehat saja, tidak sepertiku yang hanya dengan memakan makanan yang harganya sedikit murah saja langsung jatuh sakit.

            Akhir-akhir ini aku sering dikunci di dalam rumah, tidak dibiarkan untuk main-main di halaman rumah seperti biasanya. Aku selalu berharap bahwa ada seseorang yang akan membukakan pintu berkaca itu, dengan seketika aku akan berlari dan mengeong bersamanya lagi. namun apa daya setiap aku berusaha untuk mengelak, mereka selalu menangkapku dan menggendongku dengan rasa gemas.

“ aku tangkap kamu, hayooo mau kemana?? Mau kabuur ya?!!! Hayoo pasti mau pacaran, ih awas ya kamu nggak boleh pacaran sama kucing kampung. Nanti anak kamu jelek loh”.

“ Meong” jawabku datar.

            Majikanku yang satu ini memang sangat memanjakanku, setiap hari ia selalu mengelusku dan berusaha untuk berbicara denganku. Kadang saat aku tidurpun ia menggendongku hingga akhirnya membangunkan tidurku yang lelap. Aku sungguh beruntung tinggal dirumah seperti ini. Semua orang menyukaiku, gemas akan rambutku yang berwarna putih polos dan lebat. Namun satu hal yang tak kusukai  yaitu, mereka melarangku untuk menjalin hubungan dengan lelaki yang selama ini kudambakan.

“ wah, Runa sudah dewasa ya… harus dikawinin dong. Hati-hati loh nanti malah sama kucing kampung jadinya” kata teman majikanku.

“ iya, tapi mau dikiwinin sama siapa ya?”

“ke Obay aja, kucingnya lucu-lucu loh.”

            Firasatku mulai tak enak, sepertinya aku akan dijodohkan dengan kucing lain. Namanya juga manusia, kadang mereka bisa menjadi sangat baik, tapi kadang juga bisa menjadi tega. Apa mereka pikir aku ini tak punya rasa? Aku juga ingin bersama dengan kucing yang kucintai, meski ia hanyalah seekor kucing kampung.

            Kucing baru itu mendatangi kediamanku. Ia berambut lebat, berwarna belang, berhidung pesek, berakaki pendek, bertubuh gempal. Mungkin ia keturunan persia, giginya tertata rapi, matanya begitu bersih. Sungguh dari kalangan kucing kelas atas, sama sepertiku. Namun, aku tak menyambutnya dengan baik karena aku tahu dialah kucing yang akan dijodohkan denganku.

            “ meeeeong…….!!” kataku saat ia mencoba mendekatiku.

            Ia tetap mencoba mendekatiku, mengajakku untuk berkenalan. Aku masih enggan, mencoba untuk menghindarinya. Aku berlari kesana-sini, dari tempat ke tempat yang lain. Bersembunyi dibawah meja, didapur, lemari tapi ia tetap saja mengikutiku. Pintu depan terbuka ini saatnya aku untuk melarikan diri.

            “ meong…” ia sudah tiba, dibalik pagar. Matanya memelas, mengajakku untuk ikut berlari bersamanya. Dengan seketika aku ikut dengannya, meninggalkan kucing berkaki pendek itu.

            Ia memberiku dunia baru, ternyata dibalik rumahku yang penuh dengan fasilitas mewah. Masih banyak kucing liar yang terlantar, ada kucing yang pincang, rambutnya rontok karena tersiram air panas, mata kanannya tak bisa melihat. Semuanya itu hanya bisa terjadi karena dua hal yaitu faktor genetik dan ulah manusia.

            “ meong… meooong.. meoong..”

            “ meong… meooong.. meoong.. meong”

            “ meong? ”

            “ meong “

             Kami saling mengeong berdua, kejar mengejar, bermain, dan saling menyatakan cinta. Aku tidak begitu jauh dari rumah, namun aku belum mau pulang. Biar saja perutku kosong atau haus yang pasti aku bahagia bila aku bersamanya.

            Ikan asin menjadi santapanku kali ini. baru pertama kali aku menyantapnya, rasanya begitu enak meski awalnya aku tak mau untuk menyentuhnya. Aku tak memikirkan perutku yang sangat sensitif ini. namun, baru saja aku menyatap lahapan yang terakhir majikanku sudah bertengger tepat dihadapanku. Ia sedang bersiap-siap untuk menangkapku, matanya begitu siaga, gerakkannya sangat waspada. Ia melangkahkan kaki kanannya dengan hati-hati. Dalam hitungan ketiga ia menangkapku, tapi ternyata kakiku lebih cekatan.

            Aku tidak membenci majikanku, apalagi ia sangat baik terhadapku. Tapi sekali ini saja aku ingin terlepas darinya. Perjuanganku belum berkahir untuk terlepas darinya, kekasihku pun tidak bisa berbuat apa-apa, tiap kali ia ingin menyelamatkanku. Majikanku sudah menatapnya dengan wajah garang, sambil memberikan isyarat mengusir dan berucap “HUUUUSS” padanya.

            “ meooong…” aku menatapnya dengan memelas

            “ ayooo sayang.. nanti kamu diculik..” katanya dengan hangat

            Tatapannya menunjukkan rasa kasih sayang, akupun tak kuasa untuk menolaknya. Aku biarkan tangannya untuk meraih tubuhku. Ia tersenyum dan menatapku dengan wajah gembira.

            “ pulang yuu… nanti kalau kamu diculik terus aku gimana?”

            “ meong..”

            kucing berwarna kuning itu menatapku, mungkinkah ini adalah pertemuan yang terakhir? Aku menatapnya sedih, aku yakin setelah ini aku pasti akan bertemu lagi dengan kucing keturunan persia itu dan menjalin kisah baru bersamanya.

            Kucing bertubuh gempal itu masih menatapku dengan rasa penasaran, aku tetap mengambil jarak darinya, setiap ia melangkahkan kakinya kearahku, aku sudah siap menunjukkan taring kearahnya, rambutku pun terasa berdiri, begitu pula dengan kumisku.

            “ meooong….”

            “ grrrrr…”

            “ meong “

            “ grrrr… “

            “ meooong…” ia menangkapku, aku mencakarnya

            “ grrrr… MEEEEOOOONG.. grrrrr ”

            Akhirnya ia menatapku dengan pasrah, sepertinya ia sudah kelelahan oleh tingkahku. Syukurlah, hari ini ia tidak menyentuhku. Selang beberapa saat ia tertidur pulas, aku bisa meregangkan tubuh dan juga tertidur.

            “ meooong” ada seekor kucing yang memanggilku dari luar. Ternyata dia adalah seekor kucing kampung, kucing pujaanku. Aku menghampirinya dari balik kaca, ternyata dia masih menanti dan mengharapkanku. “ meooong” jawabku.

            “ meeooong meeong meoong.. meoong meoong meoong..”

            “ meoong meoong”

            Aku melihat sekeliling, sepertinya majikanku sedang tidak ada. Inilah waktunya  keluar dari rumah ini untuk yang kedua kali. Kudorong pintu berkaca berkali-kali dan semakin lama celah semakin terbuka. Ya, pintu sudah terbuka sebesar sepuluh cm tentu saja aku bisa keluar dari rumah ini.

            Kami saling berciuman, akhirnya kami bisa bertemu kembali dan bisa bersamanya. Entah kapan aku akan kembali lagi ke rumah ini, mungkin saja pada saat kucing persia itu sudah pergi atau ketika aku sudah mengandung anak dari kucing kampung.

 

Advertisements

Post Navigation