Dianaira

Petrichor

Kucing Hitam

4966211_20130117081142Bagi seseorang yang pernah membaca cerita pendek karangan Edgar Allan Poe yang berjudul Black Cat, tentu tidak akan lupa dengan sosok kucing hitam bernama Pluto yang dibunuh dan menghantui majikkannya sendiri hingga ia merasa gila. Aku masih ingat akan cerita itu, cerita yang pernah aku baca secara tak sengaja ketika aku masih kecil dan  mempunyai pengaruh yang cukup kuat kepada kehidupanku sekarang. Aku tak pernah menyukai kucing hitam hingga hari ini, meski aku sangat menyukai kucing. Aku tak pernah berharap kalau aku akan memiliki seekor kucing berwarna hitam dan bermata kuning terang. Bagiku, hewan itu terlihat begitu mistis dan mengerikan. Apalagi aku memang sering mendengar mitos-mitos buruk tentang famili harimau berwarna hitam itu. Selain itu aku juga memiliki kisah yang tak masuk akal yang bahkan tak kan ada yang percaya tentang kucing hitam itu.

Kucing itu sering melewati di depan rumahku pada malam hari, ia selalu datang dengan tiba-tiba dan menghilang entah kemana. Jujur saja ketika melihatnya, aku selalu merasa bulu kudukku berdiri dan merasakan suatu kengerian yang tak masuk akal. Matanya seperti bulan sabit yang berwarna kuning terang dengan tatapannya yang  liar, rambutnya berwana hitam pekat, tubuhnya lumayan besar untuk seukuran kucing kampung lainnya, dan seringainya menunjukkan taring-taringnya yang tajam. Ia tak pernah mengeong namun ia lebih sering menyeringai ganas kepadaku dan kemudian menghilang entah kemana.

Aku melihatnya dari balik jendela, lagi-lagi kucing itu melewati depan rumahku. Ia melihatku sesaat dan kemudian berjalan dengan santai.

“ Akhir-akhir kucing hitam itu selalu lewat depan rumahku Dev, ada apa ya?“ kataku memecahkan hening diantara aku dan Devan.

“ Ada yang mau meninggal mungkin” Devan menjawab seenaknya.

“ Kamu ngomong apa sih? Nakut nakutin aja.” Aku memukul badan Devan dengan sebuah majalah yang sedang aku baca.

“ Nal, kamu kan tau menurut mitos kucing hitam itu melambangkan kematian, sihir dan hal-hal buruk lainnya. Mungkin emang bakal terjadi hal buruk.” Aku terdiam.

“ Kamu percaya? Aku bercanda Nal” lanjut Devan sedikit tertawa.

“ Kamu apaan sih nggak lucu tau?”

“ Jangan ngambek dong ” Devan melihat jam yang melingkar di lengan bawahnya, waktu sudah menunjukkan waktu jam setengah sebelas malam. “ Udah malem Nal, aku pulang ya.”

Devan memakai jaket kulit berwarna hitam, dan pamit kepada kedua orang tuaku. Aku mengantarnya sampai depan rumah.

“ Hati-hati ya, Dev. Mau hujan nih”

Sebuah motor berukuran besar sudah siap melaju, ia menyunggingkan senyum dengan sebuah helm yang sedang ia genggam. Lagi, kucing hitam itu muncul dengan tiba-tiba.

“ Tuh kan kucingnya ada lagi.” kataku dengan nada takut.

Kucing itu mendekati motor Devan dan mengelus-elus kaki Devan yang masih berpijak pada tanah. “ Kamu kenapa sih Nal? Kucing gini doang ditakutin. Padahal kamu kan punya kucing.” Aku tidak menjawab perkataan Devan. Ia memakai helm dan menyalakan gas hingga kemudian berlalu meninggalkan aku bersama kucing hitam mengerikan itu. Mungkin ini hanya firasatku saja, atau rasa takutku akibat membaca cerpen karangan Edgar Allan Poe hingga berkali-kali itu. Aku berusaha mendekati dan menyapanya dengan nada halus.

“ Pssst… meong sini sayang.” Namun, ternyata ia tak mau aku dekati. Ia malah mendesis dan pergi meninggalkanku.

Setelah malam itu Devan terlihat agak berbeda. Ia selalu bertanya padaku apakah kucing berwarna hitam itu masih sering melewati depan rumahku atau tidak. Jujur saja, sudah beberapa hari  aku tak pernah melihat kucing  aneh itu lagi.  Aku bertanya padanya, namun ia tidak ada jawaban yang menurutku sesuai dengan apa yang sudah aku tanyakan padanya.

“ Kamu kenapa sih nanyain kucing itu terus, kok jadi kamu yang paranoid sih?”

“ Nggak kenapa-napa Nal aku cuman nanya aja.  Barangkali kamu masih ketakutan sama itu kucing.”

Aku berdiri menyentuh kaca jendela, pandangnaku mengarah pada jalanana yang kosong hingga tatapan kami bertemu. Ia menatapku dengan matanya yang bulat itu.

“ Itu kucingnya Dev.” Devan langsung bereaksi, tatapannya begitu serius, entah mengapa wajahnya menjadi pucat. Devan langsung menghampiriku.

Setelah melihat kucing itu, tanpa berkata-kata ia langsung berlari keluar. Aku hanya bisa melongo dan mengikutinya.

“ Berarti dia masih hidup, terus yang kemarin berarti kucing lain.”

“ Maksud kamu?” aku masih berada di belakangnya ketika ia berkata seperti itu.

“ Ah, ngga Nal” katanya gugup.

“ Pssst meong.. Devan berusaha mendekati kucing itu. Namun, ia malah pergi.

“ Syukur deh.. berarti salah liat.”

“ Kamu kenapa sih ko aneh banget?”

Devan tidak menjawab perkataanku.

Keanehan mulai terjadi, setelah kuperhatikan dengan seksama kucing itu selalu muncul hanya ketika Devan sedang bersama denganku.

“ Ko aneh ya setelah aku perhatiin itu kucing bakal muncul pas ada kamu.” Kataku di sebuah warung makan soto.

“ Masa sih?” Devan masih berkonsentrasi pada satu porsi sotonya.

“ Iya Dev, aku nggak akan ngeliat kucing itu kalau ngga ada kamu.”

“ Hmm… sebenernya gini Nal, aku justru hampir setiap hari ngeliat kucing hitam persis kaya’ yang sering kita liat.”

“ Maksudnya?”

“ Aku pikir itu kucing lain, tapi pas diperhatiin ko sama ya? Kucing itu jadi sering datengin aku kaya’ hantu Nal.” Devan mulai serius. “ Kamu inget kan waktu kucing itu pernah ngelus-ngelus kaki aku? Waktu itu hujannya gede banget Nal. Aku bener-bener ngga sengaja nabrak kucing. Aku pikir itu kucing yang sama soalnya warnanya sama persis, tapi mana mungkin soalnya pas aku nabrak posisi aku tuh udah jauh dari rumah kamu. Asalnya aku mau ngubur dia, tapi ujannya gede banget. Jadi, aku tinggalin di pinggir jalan.”

“ Ya ampuun Dev ko kamu tega banget sih” aku tak habis pikir, Devan tega melakukan hal seperti itu. Aku buang muka , di seberang jalan aku menangkap pandangan seekor kucing yang juga sedang menatapku.

“ Dev.. itu kucingnya ngikutin kita.” Mata Devan langsung menangkap seekor kucing yang berada tepat di seberang jalan. Dengan tergesa-gesa kami menghabiskan semangkuk soto.

Aku dan Devan berlari mengejar kucing hitam itu, ia berlari dengan cukup cepat namun, seakan memberi kami petunjuk untuk tetap mengejarnya. Kami sampai di suatu tempat yang cukup familiar.

“ Di sini aku nabrak kucing itu di daerah sini.”

“ Di mananya Dev?” aku mencari-cari bangkai kucing yang mungkin sudah dua minggu membusuk karena tak di kubur. Hingga akhirnya aku mencium bau yang tak enak dan melihat kucing bangkai kucing yang sudah membusuk itu. “ Devaan, ini kucingnya sebelah sini.” Namun Devan tidak menjawab.” Kinaal, aku dapat kucingnya.” Jawab Devan. Aku memang melihat sesosok kucing hitam itu lagi tepat di seberang jalan. Dengan tergesa-gesa Devan menyebrang tanpa menoleh ke arah kiri dan kanan. Hingga sebuah mobil berwarna hitam menabrak tubuhnya. “ Devaaaann……!!!!” teriakku. Sedangkan kucing hitam itu menghilang entah kemana.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: