Dianaira

Petrichor

Archive for the month “October, 2015”

Manusia Kaum Paradoksal

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sumber Gambar: http://www.google.com

Saya teringat pada caption Instagram salah satu musisi indie asal Bandung yang saya kagumi, Fiersa Besari “Kita adalah makhluk paradoksal yang ingin menyelamatkan pohon, sekaligus membabat pohon demi membaca buku dan sekotak tisu”. Saya menyimpulkan bahwa kita menginginkan alam yang lestari tapi juga merusak demi terpenuhinya kebutuhan. Hal ini tentu manusiawi, tapi apakah kita sudah sadar bahwa ketika kita sudah mengambil hal milik alam kita juga bertanggung jawab untuk memulihkannya kembali? Tentu kesadaran ini tak dimiliki oleh semua orang entah dari pihak produsen, pemerintah atau kita sendiri sebagai konsumen.
Kelapa sawit dengan nama lain Ealeis adalah tumbuhan industri yang sangat populer bagi pemilik negara tropis seperti Indonesia. Pohonnya yang mudah tumbuh di negara ini, membuatnya berkembang kian pesat, ditambah lagi dengan manfaat minyaknya yang begitu banyak seperti: minyak masak, minyak industri dan bahan bakar. Kelapa sawit akhirnya dijadikan ladang bisnis bagi banyak produsen khususnya di daerah Sumatera dan Kalimantan. Hal ini tentu secara terus-menerus berdampak pada lingkungan kita sendiri.
Pengalihan lahan hutan menjadi perkebunan, sebagian besar dipegang oleh perusahaan-perusahaan kapitalis yang ingin meraup keuntungan besar bersamaan dengan bertambahnya jumlah Sumber Daya Manusia sehingga kebutuhan hidup pun akan semakin bertambah.
Sistem kapitalisme ini membuat tumbuhan kelapa sawit yang minyaknya sangat bermanfaat, sering dijadikan lahan keuntungan besar—yang mungkin karena faktor kebutuhan pula—dan dapat menghasilkan berbagai manfaat juga produk yang beragam, dimulai dari kebutuhan sembako, makanan, hingga produk kecantikan. Hal ini menunjukkan, bahwa hidup kita tak bisa dipisahkan dari minyak sawit—mungkin—sama seperti air.
Para produsen pun seakan menghalalkan segala cara untuk memberantas hutan-hutan di negeri ini dengan menebang dan membakarnya secara brutal. Tentu saja mereka memiliki andil besar terhadap kerusakan hutan dan harus mempertanggung jawabkannya dengan pemulihan pohon-pohon yang telah ditebang/bakar. Namun kita tak pantas bila menyalahkan mereka sepenuhnya, sudah seharusnya kita berkaca pada diri sendiri karena barangkali permintaan konsumen-lah yang menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan.
Terkadang konsumen tak pernah tahu dan tak ingin tahu tentang dampak barang yang telah mereka beli, yang penting kebutuhan terpenuhi. Jika sudah terkena dampak negatif lingkungan, siapa yang disalahkan? Tentunya para produsen dan pemerintah. Sementara konsumen hanya bisa berkilah, memaki, dan menghina.
Sadarkah kita? kita pun sebagai konsumen berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Seperti sebuah jeratan, budaya kosumerisme seakan merajalela dan kita tak mampu melepas mata rantai ini dengan mudah karena saling bersinggungan. Seiring perkembangan zaman minyak sawit akan terus dibutuhkan hingga dinyatakan langka (mungkin karena kehabisan lahan atau sebagainya) atau ditemukan minyak alternatif lain yang lebih ekonomis dan praktis. Yang pasti minyak sawit sampai detik ini masih berjaya.
Dengan mengatas namakan kebutuhan inilah, maka ditebang hutan-hutan untuk dijadikan lahan perkebunan. Produsen semakin kaya dan konsumen semakin puas karena disuguhkan dengan berbagai pilihan produk yang berasal dari minyak sawit. Sedangkan pemerintah pun sulit mengontrol budaya ini, mengingat ambisi mereka yang menginginkan negeri ini menjadi produsen kelapa sawit nomor wahid di dunia dan lebih parahnya lagi, adanya budaya sogok-menyogok alias suap-menyuap sehingga izin pun gampang turun.
Kembali lagi pada minyak sawit yang memiliki dua sisi mata uang (menguntungkan dan merugikan). Sepatutnya di manapun posisinya, kita harus menyadari dampak dari perluasan lahan pohon sawit yang terus menggerus ekosistem hutan. Hutan bukan hanya tentang pohon, tapi juga tentang kehidupan, tentang habitat asli hewan, tentang manusia dan tentang bumi.
Kita bisa lihat pembakaran hutan terjadi di mana-mana dan dampaknya telah kita rasakan saat ini. Kabut asap yang tak kunjung usai adalah salah satu dampak perluasan lahan kelapa sawit dengan cara pembakaran hutan, tentu konflik ini tetap saja menjadi bahan perdebatan. Hutan yang terbakar memang bisa terjadi karena dua faktor, yaitu; Faktor alam, dampak El Nino yang menghasilkan kemarau berkepanjangan hingga pohon-pohon pun sangat mudah terbakar. Faktor kedua adalah ulah manusia sendiri, membakar hutan dengan sengaja untuk dijadikan lahan perkebunan, perumahan atau juga industri.
Melihat dari jumlah perkebunan kelapa sawit yang membludak, tentu kita menyadari bahwa kita memiliki dosa besar terhadap kebakaran hutan. Siapapun itu, kita adalah kontributor utama, semua pihak turut berkecimplung dalam sekelumit jeratan ini. Konsumen yang membutuhkan, Produsen yang menyediakan, dan pemerintah yang memberi izin. Jika kita menyalahkan satu pihak, maka kita pun harus menyalahkan pihak lain. Misalnya, menyalahkan produsen kapitalis, kita tentunya harus mengetahui tentang meningkatnya jumlah konsumen yang membutuhkan produk mereka.
Dan untuk menghentikan segala jerat keserakahan ini, maka kita semua harus memiliki kesadaran masing-masing. Jadilah konsumen yang cerdas, produsen yang bijak, dan pemerintah yang beradab. Klise memang, tapi memang begitulah adanya.
Sebagai konsumen, kita memang tak tahu hutan mana yang dijadikan lahan perkebunan sawit tapi konsumen juga berhak untuk bersikap kritis. Pilihlah produk terpercaya yang ramah lingkungan. Maka sebagai produsen, jadilah produsen yang bijak dengan mengetahui dampak dari perluasan perkebunan dan tak sembarangan menebang/membakarnya, lakukan pemulihan terhadap pohon-pohon agar ekosistem tidak terganggu. Jadilah pemerintah yang beradab, tidak mengutamakan ambisi negara untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar tanpa mengetahui efek negatifnya, perbanyak hutan lindung, dan tidak sembarangan memberikan izin untuk kepentingan kelompok apalagi pribadi .
Meski, yang saya tahu hanya segelintir produsen, pemerintah dan termasuk konsumen yang menyadarinya. Itu pun berasal dari kalangan aktivis yang gembar-gembor untuk menjaga kelestarian hutan yang semakin lama semakin dilahap habis oleh kita—kaum manusia—entah sebagai produsen, pemerintah atau konsumen. Saya tetap berprasangka baik, bahwa tetap akan ada manusia-manusia yang peduli terhadap kelestarian hutan.
Saya pun percaya dengan apa yang Fiersa Besari ucapkan bahwa manusia hanya digolongkan menjadi dua kategori: mereka yang menghancurkan bumi dengan cepat dan mereka yang menghancurkan bumi dengan lambat. Itu artinya manusia akan tetap akan menjadi salah satu kontributor perusak alam. Tapi, tinggal anda yang memilih mau menjadi perusak secara lambat atau perusak secara cepat? Meski pada kenyataannya alam bisa memulihkan dirinya sendiri. Alam bisa hidup tanpa manusia, manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Advertisements

Post Navigation