Dianaira

Petrichor

Archive for the month “August, 2016”

Kajian Sastra

Pattrinesia Herdianaira

1211503097

 

  1. Identifikasi kaitan antara sastra dengan masyarakat!

Jawab : kaitan sastra dengan masyarakat adalah suatu timbal-balik, menurut Soemanto kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Hal ini membuktikan bahwa sastra tidak muncul begitu saja, dari masyarakatlah sastra muncul dan dari sastra masyarakat sadar. Menurut Damono (1978:3-4) mengklasifikasi tentang hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra dan masyarakat, yang secara keseluruhan merupakan bagan berikut:

  1. Konteks sosial pengarang.hal ini berhubungan dengan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan pengarang, misalnya: dimana ia tinggal, bagaimana lingkungannya. Hal ini tentu dapat mempengaruhi isi dari suatu karya sastra
  2. Sastra sebagai cermin masyarakat; sejauh mana sastra dapat me-representasikan dari masyarakat itu sendiri. Sastra diharapkan dapat membuat seseorang/masyarakat sadar akan lingkungannya sendiri.
  3. Fungsi sosial sastra. Meneliti sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan sejauh mana nilai sastra dipengaruhi nilai sosial.

Ini artinya senada seperti yang dipaparkan oleh Wellek dan Warren (1976) bahwa :Literature is a social institution, using as its medium language, a socialcreation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature ‘represent’ ‘life’; and ‘life’ is, in largemeasure, a social reality, eventhough the natural world and the inner orsubjective world of the individual have also been objects of literary ‘imitation’. The poet himself is a member of society, possesed of a specific social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he addresses an audience, however hypothetical. (1976:94).

 

  1. identifikasi karya sastra sebagai dokumen sosial budaya!

Sastra sebagai dianggap sebagai dokumen budaya karena sastra sendiri lahir dari masyarakat yang merujuk pada sosial,sedangkan interaksi sosial itu sendiri akan menghasilkan suatu kebudayaan. Kebudayaan pada masa tertentu akan menghasilkan sastra. Maka dari itu sastra tidak akan lahir tanpa adanya sosial dan budaya. Junus (1986) mengemukakan, bahwa yang menjadi pembicaraan dalam telaah sosiologi sastra adalah karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya. Sastra bisa dilihat sebagai dokumen sosial budaya yang mencatat kenyataan sosio-budaya suatu masyarakat pada suatu masa tertentu. Pendekatan ini bertolak dari anggapan bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Bagaiamanapun karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya. Goldmann (1980) mengatakan, bahwa sastrawan mengamati kehidupan yang terjadi pada masyarakat kemudian menulisnya, memahaminya hingga memindahkannya ke dalam karya sastra.

 

  1. identifikasi pengaruh sosio budaya terhadap penciptaan karya sastra!

Karya sastra tidak dapat dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan tempat ia lahir. Karena karya sastra merupakan cerminan dari realitas social yang tidak turun begitu saja dari langit karena semuanya ada hubungan timbal balik. Maka dari itu karya sastra tak bisa dilepaskan dari kehidupan dimana tempat/lingkungan ia lahir. Grebstein (1968: 161-169) yang isinya antara lain sampai pada beberapa kesimpulan antara lain karya sastra tidak dapat dipahami secara tuntas apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan yang telah menghasilkannya, gagasan yang terdapat dalam karya sastra sama pentingnya dengan bentuk dan teknik penulisannya, setiap karya yang bisa bertahan lama pada hakekatnya adalah suatu moral, masyarakat dapat mendekati karya sastra dari dua arah yaitu sebagai suatu kekuatan material istimewa dan sebagai tradisi, selain itu kritik sastra seharusnya lebih dari sekedar perenungan estetis tanpa pamrih, dan yang terakhir kritikus sastra bertanggung jawab baik kepada sastra masa silam maupun sastra yang akan datang.

  1. Identifikasi penerimaan karya sastra terhadap penulis tertentu!

Penerimaan karya sastra terhadap penulis tertentu tergantung pada respon pembacanya menurut Teeuw (dalam Pradopo 2007:207) menegaskan bahwa resepsi (penerimaan atau penyambutan pembaca) termasuk dalam orientasi pragmatik. Karya sastra lahir karena bertujuan untuk menyadarkan (merefleksikan) masyarakat yang lebih sempitnya adalah pembaca. Maka dari itu, pembaca bisa menentukan makna dan nilai dari karya sastra, sehingga karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang memberikan nilai.

  1. Identifikasi penerapan pendekatan karya strukturalisme genetic

Strukturalisme genetik merupakan cara menganalisis karya sastra dengan mencari tahu asal-usul karya sastra itu sendiri.  Menurut Goldmann ada 3 tahap dalam melakukan penelitiaan sastra menggunakan teori strukturalisme genetik, diantaranya sebagai berikut:

  1. a) Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data
  2. b) Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis
  3. c) Dan terakhir sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.
  4. Identifikasi sistem reproduksi dan pemasaran karya sastra!

Sistem produksi pemasaran karya sastra tergantung oleh tipe dan taraf ekonomi yang ada dalam masyarakatnya itu sendiri, dan penguasa(pemerintah) juga punya andil dalam terbit atau tidaknya suatu karya sastra

.

Referensi

Damono, Sapardi Djoko.1978. Sosiologi Sastra: sebuah pengantar ringkas. Jakarta : Depdikbud.

Goldmann Lucien.1978. Towards a Sociology of the Novel. Tavistock Publication

Junus Umar.1986. Sosiologi Sastra persoalan Teori dan metode. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka

Lauren Diana, Alan Swingewood. The Sociology of Literature.

Wellek Rene dan Austi Werren.1989. Teori Kesusastraan. Melani Budianta. Jakarta Gramedia

Terlahir dari Jemari

     Perempuan itu tak punya apapun selain jari-jemari yang kurus nan panjang beradu pada layar keyboard hingga melahirkan kata. Sesekali jemarinya terhenti, menekan backspace, kemudian  melahirkan kata baru lagi.  Ia tak pernah lupa untuk membagikan hasil tulisannya secara cuma – cuma melalui internet, namun iapun tak pernah menyadari jika ada seseorang, ah bahkan—barangkali—banyak orang yang telah jatuh cinta berawal dari kata yang dihasilkan dari jemarinya itu.

      Ia sudah memiliki lumayan banyak followers dalam akun media sosialnya. Dibandingkan cacian atau umpatan perempuan itu lebih sering menautkan blognya di akun media sosial  atau kalaupun harus, ia lebih senang berfantasi dengan film-film yang sudah ia tonton, buku-buku yang ia baca, atau musik yang ia dengar. Namun dari situ ia tak pernah tahu, bahwa akan ada cinta yang terlahir.

     Satu cara unik tuhan.

     Jari mereka saling bersentuhan.

     140 karakter.

     Seseorang yang akhirnya membuatnya merasa lebih betah untuk menatap layar laptop ataupun smartphone-nya. Tak pernah bertemu namun jari mereka selalu beradu, kata telah menuntunnya pada sebuah cerita.

     “Murakami.”

     Salah satu penulis yang sedang ia cari karya-karyanya. Sebuah kecocokan yang  mengalir begitu saja. Secara tiba-tiba lelaki itu, mem-posting buku yang sedang ia baca dalam akun media sosial 140 karakter tersebut. Perempuan itu menyambutnya dengan sebuah sambaran kecil sebagai ungkapan rasa kekaguman, hingga membuat perempuan itu lagi-lagi tersentak.

     “Nanti saya pinjamkan deh.”

     Cara unik tuhan lagi.

     Perempuan itu mengulum seyumnya, walau ia tahu entah kapan buku itu akan tiba di pelataran rumahnya. Namun dengan hal sekecil itupun telah membuatnya merasa bahagia.

     Rasa penasaran semakin hari semakin bertambah. Dengan mengandalkan sosial media 140 karakter, ia mencari tahu apa yang lelaki itu sukai atau tidak. Tentang bagaimana cara berpikirnya terhadap hal-hal yang terjadi di dunia sekitarnya. Seketika, perempuan itu menyadari bahwa ia telah menjatuhkan hatinya pada lelaki 140 karakter.

     Ia pun mulai membaca karya-karya lelaki itu yang disebarkan melalui blog pribadinya. Kemudian munculah sebuah tulisan baru yang baru lelaki itu sebarkan. Tentang seorang perempuan yang telah membuat lelaki itu merasa jatuh hati dengan judul Berawal dari Kata.

     Sebuah buku mendarat di pelataran rumahnya, sebuah janji dari 140 karakter telah lelaki itu tepati. 1Q84 telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan kecil.

     Ini adalah sebuah kedekatan yang lebih dekat dari sekadar jarak. Sejak buku itu tiba di berandanya, hatinya menjadi sering terombang-ambing. Cukup realistis kah ia? Bahkan ia  hanya tahu rupa lelaki itu lewat foto saja. Bagaimana kalau lelaki itu seorang penipu ulung, atau seorang psikopat yang sedang mencari mangsa? Sebagai perempuan—biasa—ia patut berpikiran seperti itu.

     Namun Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kata, dalam lautan tak berdasar, dalam dunia baru yang diciptakan oleh  teknologi. Mulai saat itu selalu ada yang perempuan itu tunggu selain aplikasi chatting-nya, tapi juga paket-paket yang datangnya silih berganti, berisi buku-buku kesukaannya. Setiap kurir paket tiba di depan rumahnya, setiap kurir itu mengetuk pintu rumahnya dan berteriak kata ‘paket’. Setiap ia membuka bungkusnya, selalu ada rasa baru yang muncul di benaknya, selalu ada rasa ingin bertemu meski pada akhirnya hal itu tak pernah terucap.

     Ia merasa sudah berada di zona nyaman. Ah, mungkin lebih baik seperti ini. Lagipula kalau cocok di dunia maya belum tentu cocok di dunia nyata. Jakarta-Bandung memang tidak begitu jauh, tapi memangnya ada lelaki yang mau ke Bandung hanya demi seorang perempuan, yang belum dikenal pula. Ya setidaknya tidak kenal dalam dunia nyata. Hatinya kembali terombang-ambing, satu sisi hatinya tergerak namun disisi lain ia mencoba untuk realistis

     Pada layar smartphone-nya perempuan itu kembali terpaku saat lelaki itu berujar “Saya mau ke Bandung, bertemu denganmu.”

     Pertemuan pertama.

     Ia menanti hari itu, satu langkah baru. Sungguh jika cinta memang terlahir dari kata, pertemuan hanyalah sebuah pelengkap.

     Entah apa yang bersarang dalam pikiran si perempuan. Dengan singkat ia meminta lelaki itu untuk datang ke rumahnya, bertemu dengan orang tuanya. Seorang lelaki yang bahkan belum pernah ia ingat akan senyumannya, suaranya pun belum pernah terngiang di kepalanya. Ia hanya bisa mengingat satu hal, 140 karakter.

     Sambil menunggu lelaki itu tiba di istana kecilnya, seperti adegan film Ada Apa Dengan Cinta sudah beberapa kali ia berganti pakaian, bercermin, membubuhi wajahnya dengan make up, kemudian menghapusnya lagi. Ini hanyalah sebuah pertemuan bukan kencan, lagi-lagi batinnya berujar.

     Ia mencoba menghapuskan segala prasangka, bahwa apapun yang terlihat di dunia maya, belum tentu indah di dunia nyata. Bisa saja ia merasa tertarik pada lelaki yang belum ditemuinya itu, tapi bisa juga tidak. Begitupun sebaliknya.

     “Hai.” Satu tarikan napas untuk menenangkan perasaannya yang tak karuan, ketika lelaki yang tak tahu apa-apa tentang Bandung tiba dengan selamat. Ia mengulurkan tangannya, senyuman lelaki itu akhirnya untuk pertama kalinya terekam di kepalanya.

     Satu pertemuan saja telah membuatnya merasa yakin, dugaan itu haruslah benar. Berawal dari Kata mestinya ditujukan padanya. Meski ia tahu bahwa hatinya masih membutuhkan jawaban langsung dari lelaki itu, kata dan cinta. Karena sebuah perasaan memang  baiknya untuk diungkapkan.

     Lelaki itu sudah meruntuhkan benteng hati yang telah dibuat se-kokoh mungkin. Walau iapun selalu merasa ragu. Mampukah cinta yang terlahir dari jemari ini bersambut dan bertahan lama?

     3 Minggu kemudian,

     Sebuah tautan blog muncul pada salah satu aplikasi chat-nya. Pada akhirnya lelaki itu memintanya untuk membaca hasil tulisan yang sebenarnya telah perempuan itu ketahui. Ia tak terkejut namun hatinya merasa lega, ternyata Berawal dari Kata memang ditujukan pada perempuan penyuka band Radiohead itu.

     “Tuhan telah menghendaki jari kita untuk saling beradu hingga melahirkan cinta.”

     Perempuan itu meng-klik publish hasil karya terbarunya sebagai balasan perasaan yang ia tujukan pada lelaki itu.

     Kemudian ia hanya bisa mengikuti kisah yang telah tuhan berikan kepadanya dengan cara—yang baginya—terasa sangat unik dan melebihi dari kata romantis

–.

Post Navigation