Dianaira

Petrichor

Archive for the month “November, 2016”

Everything you’ve Come to Expect from TLSP

shadow-art

Saya hampir saja  tidak menyangka kalau mereka benar-benar kembali.  Side project  antara vokalis Arctic Monkeys dan Miles Kane, James Ford serta Zach Dawes hadir lagi dengan album ke duanya, setelah pada tahun 2008 sukses merilis album bertajuk The Age of the Understatement. The Last Shadows Puppets merilis album terbarunya yang berjudul Everything You’ve Come to Expect pada awal April 2016.

Jujur pada awal mula kemunculan TLSP, saya tak terlalu menyukai lagu-lagu mereka apalagi pada album The Age of the  Understatement. Mungkin karena jiwa Arctic Monkeys telah begitu melekat pada sang vokalis Alexander David Turner and you have to face the truth that you  wouldn’t found any Arctic Monkeys style at The Last Shadows Puppets. Saya pun tidak menerima, mengapa mereka malah terlihat seperti pasangan homoseksual (okay kali ini mungkin saya memang cemburu) yang saling membutuhkan. Well, forget about that two persons, we talk about their music.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya pun mulai menikmati ke-khasan gaya bermusik The Last Shadow Puppets yang lebih ballad dan yah pokonya berbeda dengan AM. Dan disitulah saya pun akhirnya menyadari bahwa AM dan TLSP adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Mereka memiliki jiwa masing-masing, sayapun tak akan setuju bila TLSP membawakan lagu AM begitu sebaliknya.

Berujung pada peng-ikhlasan ini, album Everything You’ve Come to Expect saya dengar dengan pengharapan akan lebih bagus dari album sebelumnya. Everything You’ve Come to Expect masih memajang model perempuan sebagai cover album, sama pada albumnya yang pertama meski dengan gaya dan pastinya perempuan yang berbeda. Sampai detik ini saya tak mengerti mengapa TLSP memilih perempuan sebagai cover di dua albumnya (padahal neng aja yang jadi modelnya bang 😥 ).

Sebelum perilisan album, Bad habits muncul sebagai single pertama sekaligus dengan Music video-nya. Meski begitu, saya belum merasakan kegeregetan dalam album ini. Semuanya terpecahkan ketika saya mendengarkan Everything you’ve come to Expect dan Aviation yang rilis secara berdempetan.

Music Video-nya pun cukup menarik, sebuah cerita yang berlanjut pada dua single berbeda. Dimulai dengan lagu Everything You’ve Come to expect dengan setting di pinggir pantai. Alex Turner dan Miles Kane terkubur hingga sebatas leher dan ada seorang perempuan yang menari-nari di sekitar mereka. Sepanjang lagu tersebut tidak ditemukan apa alasannya hingga mereka  sampai berada di tempat tersebut. Namun segala pertanyaan itu terjawabkan pada music video selanjutnya yang berjudul Aviation. Dengan bergaya ala mafia-mafia Sisilia, sebuah kisah dimulai dari track tersebut dengan plot flashback (kalau penasaran tonton saja). Ditambah dengan aksi Miles Kane yang sangat menakjubkan dalam video musik tersebut, membuat saya melongo.

Bagi saya kedua lagu tersebut adalah lagu yang paling keren untuk didengar dalam album ini. Meski banyak ditemukan lirik-lirik yang tidak mudah dipahami seperti : Gloomy Conga, Sectoral Heterochromia, Annalise’s Dulcet songs, The Colourama in your eyes Apocalytic lipstick campaign, dll saya tetap bisa merasakan tiap bait yang menyentuh dengan begitu lembut.

Jika dalam track Everything You’ve Come to Expect terkesan begitu seksi, lembut dan indah serta kaya akan majas. Dalam track Aviation akan ditemukan sebuah kegelisahan yang barangkali tak mampu dipahami dengan sekilas pendengaran sehingga membuat kita penasaran mengenai maksud dari lagu ini. Karena saya merasa tak ada korelasinya antara judul lagu Aviation dan isinya (that’s just my opinion).

Di track-track yang lainnya pun akan terasa sangat hype khususnya  dalam lagu Miracle Aligner. Akhirnya, kita akan menemukan sisi lain dari Alex Turner yang selain bisa akting (di MV Aviation) juga bisa dance. Mungkin kalau Miles Kane sudah terbiasa, tapi kalau bang Alex yang terkenal lebih pemalu, kalem nggak banyak aneh-aneh walau sempat mengubah image menjadi lelaki sengak, sungguh luar biasa.

Ada pula Pattern dan Dracula Teeth yang enak didengar selagi melamun atau bersantai ria karena ritme dan temponya yang santai tapi tetap mengena. Saya pun menyukai kedua track ini, apalagi Dracula Teeth yang durasi lagu yang lebih pendek bila dibandingkan yang lainnya.

Keseluruhan dari album yang memiliki 12 track ini, diisi oleh 6 track berikutnya seperti: The Dream Synopsis, The Bourne Identity, Used To be My Girl, Sweet Dreams TN, The Element of Surprise dan She Does The Woods. Membuat kita ingin terus mendengarkannya bagai candu bagi kamu yang memang menyukai jenis musik yang agak sulit dipahami.

Band TLSP yang memilih jalur indie ini semakin melebarkan sayapnya dengan rutin tampil diberbagai acara-acara musik, dengan harapan side project mereka akan terus berlanjut hingga album ke-3, ke-4, ke-5 dan seterusnya.

A Moon Shaped Radiohead

 

radiohead-moon-shaped-pool

A Moon Shaped Pool, seakan menghidupkan kembali jiwa-jiwa band legendaris yang digawangi oleh paman Thom Yorke cs. Setelah beberapa waktu yang lalu sempat membagikan sebuah track berjudul Spectre—yang katanya nyaris saja menjadi lagu soundtrack dalam film Spectre, tapi ternyata digantikan oleh Sam Smith dengan judul Writing on The Walls—dalam akun berbagi musik Soundcloud. Akhirnya, Radiohead merilis album studio ke-9 nya pada bulan Mei 2016.

Daydreaming dan Burn The Witch menjadi single pembuka dalam album bertajuk A Moon Shaped Pool, cukup ampuh untuk membuat nama band besar ini kembali terangkat. Music video nya pun terkesan absurd dan tak pernah meninggalkan segala ke-khasan unsur Radiohead di album-albumnya terdahulu. Meski tak se-eksperimental seperti yang ditemukan dalam lagu Paranoid Android (yang menurut saya sangat kaya, mendalam, puitis dan memberikan kesan amarah  terhadap kehidupan) atau alunan musik yang sederhana seperti dalam lagu High and Dry juga Creep dan The Bends yang terkesan begitu alternatif. Saya tak pernah merasakan adanya kekurangan dalam album ini, khususnya untuk track Daydreaming yang selalu membuat saya merinding ketika mendengarnya.

     Well, album ini memiliki 11 track lagu dengan proses pembuatan lagu yang berbeda-beda (ada lagu yang dibuat sejak dulu) misalnya saja pada 2008 Thom Yorke untuk pertama kalinya pernah menampilkan lagu Present Tense, sedangkan True Love Waits dirilis dengan aransemen yang lebih fresh dan berbeda. Radiohead tetap menyuguhkan kita pada lagu-lagu yang memiliki unsur gelap dan penuh dengan perenungan. Lagu-lagu A Moon Shaped Pool akan membawa kita kedalam sebuah kolam yang begitu dalam menuju ke dasar-an yang tak terhingga, kita akan merasakan lebih dari sekadar rasa kesepian, frustasi dan di luar akal.

Rasanya kita tak akan memahami makna dari lagu-lagu mereka jika kita  hanya mendengarnya sekali saja, meski instrumennya terasa begitu memikat dan menghipnotis. Lagunya harus didengar berulang-ulang maka kita akan terbawa dan terus terbawa ke dalam makna.

Misalnya, Decks Dark  yang memiliki potongan bait“And in your life, There’s come the darkness.” menjadi salah satu track kesukaan saya. Dalam lagu ini kita tak akan mendengarkan alunan musik berdistorsi tinggi, alunan bass-nya terasa begitu kental, musiknya santai dan tak memekakkan telinga (ya terkesan malas-malasan seperti lagu Talk Show Host dan lagu lainnya). Meskipun begitu, tetap saja maknanya sangat emosional dan sentimental.

Sedangkan lagu yang menurut saya paling eksperimental setelah Daydreaming adalah track yang berjudul Identikit (red: aidintikit), judul yang paling menarik dan menimbulkan teka-teki karena awalnya saya tak tahu apa artinya (Untungnya ada di dalam kamus. Bahasa Inggris ya, kalo Bahasa Spanyol mah nggak akan ada, hehe).

Dalam kamus, Identikit ini memiliki dua arti yang mirip dengan makna yang mungkin agak berbeda (silakan cari kamus). Tapi intinya sih, Identikit dalam lagu Radiohead adalah gambaran wajah seseorang yang sudah tak ingin kita lihat dan ingat lagi. Ditambah dengan ke-khasan suara paman Thom Yorke yang tak penah berubah seiring bertambahnya usia, Identikit juga memiliki intro yang sangat menentramkan hati sehingga terasa sangat berkelas.

Present Tense dan True Love Waits menjadi lagu yang paling ballad bagi saya. Seakan mengacak-acak perasaan dengan alunan melodi yang membikin hati galau dan hancur secara perlahan-lahan.  Sayapun menyukai versi terbaru dari track True Love Waits yang dulunya terkesan sangat sederhana tapi mengena karena menggunakan gitar akustik.

Nah, ada juga Burn The Witch yang terasa sangat alternatif, Full Stop, Glass Eyes, The Numbers, Desert Island Disk dan judul yang paling panjang dari semuanya adalah Tinker Tailor Soldier Sailor Rich Man sangat patut untuk didengarkan.

Secara keseluruhan album A Moon Shaped Pool, memiliki tingkat distorsi yang rendah dengan kisaran durasi lagu masing-masing 3-6 menit. Tak akan kita temui track yang memiliki emosi meledak-ledak atau sebuah kemarahan yang diluapkan pada lirik-lirik frontal.

Seperti membawa kita ke dalam sebuah perjalanan yang panjang dan di luar batas. A Moon Shaped Pool mengajak kita masuk ke dalam sebuah pendewasaan diri yang lebih tenang dan  emosi-emosi yang harus tertahan seiring dengan bertambahnya tingkat kedewasaan. Semua rasa amarah, keputus-asaan, patah hati, penyesalan bercampur aduk menjadi sebuah kolam yang tak memiliki dasar dan begitu gelap juga sepi.

Lebih dari sekadar rasa frustasi, bahkan bulan pun sampai berbentuk kolam tak berdasar ini, juga menyerupai sebuah band bernama Radiohead. A Moon Shaped Pool, A Moon Shaped Radiohead will brings you into a deep hole.

 

Track list  Radiohead, A Moon Shaped Pool (2016):

  1. Daydreaming
  2. Decks Dark
  3. Desert Island Disk
  4. Full Stop
  5. Glass Eyes
  6. Identikit
  7. The Numbers
  8. Present Tense
  9. Burn The Witch
  10. Tinker Sailor Soldier Sailor Rich Man
  11. True Love Waits

 

*Saking ademnya, kadang lagu-lagu ini mampu membuatmu mengantuk kemudian memimpikan sebuah dunia yang baru seperti yang kamu harapkan. hehe*

 

Post Navigation