Dianaira

Petrichor

Archive for the category “Journals”

TUHAN TELAH MATI : Nihilisme, Pengingkaran Terhadap Tuhan

Oleh: Pattrinesia Herdianaira

1211503097

 

Abstrak : Analisis ini bertujuan untuk memahami konsep aliran filsafat Nihilisme melalui ungkapan “Tuhan Telah Mati” yang diambil dari seorang filsuf Jerman Friedrich Nietzsche serta pengingkaran terhadap Tuhan yang berkembang menjadi suatu paham atau ideologi seperti sekulerisme dan atheisme.

Kata Kunci : Friedrich Nietzsche, Ontologi, Nihilisme, Tuhan, Kristen, Atheisme, Sekulerisme.

Pendahuluan :

Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]? [Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125]

Analisis kutipan ini dilatar belakangi oleh pemikiran Nietzsche yang cukup radikal di zamannya tentang keberadaan Tuhan dan konsep nihilisme itu sendiri. Nihilisme merupakan suatu paham bahwa yang meyakini bahwa dunia ini terutama keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan. Nihilisme juga berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Itu artinya dalam Gott ist tot ( Tuhan telah mati) Nietzsche (sang pembunuh Tuhan) menganggap dengan adanya keberadaan Tuhan maka kekreatifitasan manusia akan terkekang oleh hukum-hukum agama, dan seharusnya manusialah yang menjadi penguasa bagi dirinya sendiri. Maka dari itu Nihilisme tidak percaya pada kehidupan sesudah kematian, pengingkaran terhadap tuhan inipun dapat kita temukan dalam beberapa ideologi seperti atheisme dan sekularisme yang sedang marak di zaman sekarang ini. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.

Metode :

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan konsep Ontologi atau metafisik. Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, untuk menamai hakekat yang ada bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan khusus. Metafisika umum adalah istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika atau ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih terbagi menjadi Kosmologi, Psikologi dan Teologi.

Objek kajian ontologi adalah hakikat seluruh kenyataan. Yang nantinya, objek ini melahirkan pandangan-pandangan (point of view) atau aliran-aliran pemikiran dalam kajian ontologi antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme dan Agnotisisme.

Dalam kajian ini yang akan dititik beratkan adalah aliran Nihilisme yaitu konsep dari Tuhan Telah Mati, suatu kutipan yang diambil dari buku karya Friedrich Nietzsche berjudul Die fröhliche Wissenschaft atau dalam bahasa Inggris The Gay Science yang terbit pada tahun 1882. Dengan menganalisis kutipan dari buku tersebut, kita akan memahami konsep dari Nihilisme yang telah Nietzsche buat.

Setelah itu kita akan mengkaji benang merah serta kemiripan konsep antara Nihilisme, sekulerisme dan atheisme yang sama-sama mengingkari keberadaan Tuhan.

Sekilas Tentang Nihilisme

Nihilisme menurut Friedrich Nietzsche adalah ketika moral sudah mulai runtuh dan agama tidak dijadikan sebagai pegangan, maka dari itu semua orang dalam hidupnya tidak lagi memiliki tujuan hidup yang sebenarnya. Sementara konsep Nihilisme sendiri lahir sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.

Konsep ini dipeluk oleh orang-orang yang memahami bahwa realitas yang ada di alam ini hanyalah keburukan. Mereka beranggapan bahwa fenomena-fenomena yang ada pada manusia tidak lain adalah kemalangan, penderitaan, kemiskinan dan kehancuran.

Hasil Analisa

Analisa Nihilisme dan Tuhan Telah Mati Menurut Friedrich Nietzsche

Analisa ini difokuskan pada kutipan Tuhan Telah Mati serta hubungannya dengan konsep Nihilisme yang berujung pada pengingkaran terhadap Tuhan. Sebenarnya Nietzche mengkritik orang-orang kristen pada zamannya yang menganggap agamanya sebagai ritual belaka yang membuat semua makna dan nilai yang menjadi pegangan (yang mencirikan kewarasan) kini seluruhnya sudah roboh. Dengan berseru “Tuhan sudah mati”, Nietzsche pertama-tama tidak bermaksud mau membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Bagi Nietzsche, pembuktian mengenai eksistensi Tuhan merupakan cara bicara para metafisisi yang hanya bersandar pada prinsip-prinsip logika saja. Sedangkan Nietzsche dalam nihilismenya juga menolak keabsahan logika itu.

Nihilisme berarti penyingkapan bahwa di balik ide indah tentang Idea, Tuhan atau apa pun ternyata hanyalah kekosongan belaka. Lebih parah lagi bahwa idea kekosongan ini ternyata sepanjang segala abad dikehendaki dengan mati-matian. Hal ini adalah ironi zaman, menurut Nietzsche, kehendak akan Kebenaran-Kebaikan-Keadilan secara mati-matian ternyata hanyalah kehendak akan kekosongan. Tersingkapkan sekarang bahwa valuasi berlebihan atas nilai tersebut memiliki sisi mematikan lainnya, yaitu devaluasi atas realitas senyatanya.

Nihilisme sebagai runtuhnya nilai-nilai merupakan keadaan yang normal dan akibat yang harus terjadi. Nihilisme adalah hasil yang tak terelakkan dari seluruh gerak sejarah sebelumnya yang diresapi gagasan-gagasan ketuhanan.

Maka dari itulah “ Tuhan Telah Mati” : Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]? [Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125] karena tuhan hanya dijadikan ritual kekosongan saja. Bagi Nietzsche Tuhan telah mati.

Jadi sesungguhnya Nietzsche berusaha menaklukan Nihilisme itu sendiri. Melalui paradigma yang telah dibangun oleh kutipan Tuhan Telah Mati. Nietzsche mengkritik orang-orang kristen di zamannya sebagai penganut Nihilisme (secara tidak sadar) yang mana ritual keagamaan hanyalah sebagai ritual kekosongan belaka, yang membuat mereka menjadi skeptis dan takut akan dosa dan mematikan sisi kekreatifitasan mereka sendiri. Secara tak sadar orang kristen menganggap tuhan telah mati.

Kemiripan Konsep antara Nihilisme, Sekulerisme dan Atheisme

Nihilisme

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Nihilisme memahami bahwa manusia tidak memiliki tujuan hidup yang sesungguhnya. Kehidupan tidak memiliki arti Tuhan atau apa pun ternyata hanyalah kekosongan belaka.

Sekularisme

Menurut KBBI sekularisme adalah paham atau pandangan yg berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pd ajaran agama. Jadi antara duniawi dan agama haruslah terpisah. Kehidupan duniawi tak ada hubungannya dengan agama.

Atheisme

Ateisme adalah paham yg tidak mengakui adanya Tuhan. Tak ada yang namanya hari akhir, surga ataupun neraka, serta pembalasan atas apa yang telah dilakukan di dunia. Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani ἄθεος (átheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai “ateis” muncul pada abad ke-18.

Ketiga paham tersebut memiliki persamaan. Yaitu sama-sama merujuk kepada pengingkaran terhadap tuhan. Dalam makna Nihilisme tuhan hanyalah kekosongan belaka. Sedangkan dalam ideologi sekularisme moral tak perlu di dasarkan pada ajaran agama yang juga tidak mementingkan kehadiran tuhan. Sedangkan ateis juga berawal dari pertanyaan-pertanyaan/ skepitisme terhadap adanya tuhan. Maka dari itu Nietzsche menganggap bahwa Tuhan telah mati.

Simpulan

Dalam bukunya Die fröhliche Wissenschaft Tuhan yang pernah diakui sebagai tujuan dan dasar bagi dunia dan hidup manusia, semakin pudar. Setiap usaha untuk menghidupkan-Nya kembali sia-sia. Usaha-usaha itu justru menimbulkan berbagai konflik dan situasi menyulitkan dan akhirnya mempercepat proses nihilisme. Situasi nihilistik ini pada akhirnya menjadi semangat zaman karena melampaui kekuasaan manusia perorangan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam arti sempit, matinya Tuhan menunjuk pada runtuhnya jaminan absolut yang merupakan sumber pemaknaan dunia dan hidup manusia. Nietzsche menyebut situasi ini sebagai nihilisme.

Menurut Nietzsche manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberinya nilai. Dan ia menunjukkan bagaimana harus melakukannya tanpa bercita-cita menciptakan, secara singkat nihilisme dapat disimpulkan sebagai suatu kehilangan makna. Manusia tenggelam dalam situasi tertentu dan menerima saja keberadaannya. Suatu sifat nilai-nilai dan kultur tertentu yang menyediakan makna ilusoris tentang kekuasaan sebagai agensi. Menghadapi bahaya nihilisme ini, Nietzsche mengusulkan interpretasi baru. Interpretasi baru harus praktis. Karena itu, manusia harus memahami dirinya sebagai subjek masa kini dan masa depan. Untuk memperkuat pendapatnya tentang otoritas subjek, ia melemparkan dan mengklaim “ Tuhan sudah mati”. Bila Tuhan sudah mati, manusia dapat bebas mewujudkan kekuasaannya. Dengan meninggalkan Tuhan yang dianggap sebagai peletak dasar nilai-nilai, manusia berhadapan dengan suatu kemayaan.

Sementara pada zaman modern seperti sekarang konsep Nihilisme semakin berkembang. Di mana agama hanya sebagai ritual kekosongan belaka sehingga maraklah paham-paham lain seperti sekularisme dan atheisme. Munculnya teknologi yang semakin berkembang, membuat manusia menjadi terasa skeptis kepada agama. Mereka memisahkan agama dan kehidupan duniawinya. Sehingga nilai-nilai moral yang dari dulu telah agama buat terasa hancur begitu saja.

Itulah yang ingin dijelaskan Nietzsche bahwa tuhan telah mati. Karena nilai manusia telah hilang, zaman sekarang pun banyak yang melakukan pengingkaran terhadap tuhan.

Daftar Pustaka

Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern: dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2007..

Laktutus Ruben Moruk de: Nihilisme menurut Friedrich W Nietzsche(1844-1900). http://wwwrubenmorukofm.blogspot.com/2011/01/nihilisme-menurut-friedrich-w-nietzsche.html. 2011. diunduh pada tgl 29 Oktober 2014.

Nietzsche Friedrich, The Gay Science(edited by Bernard Williams). UK: Cambridge Press. 2001.

Setyo Wibowo, A., Gaya Filsafat Netzsche, Yogyakarta: Galang Press, 2004.

Sunardi, St., Nietzsche, Yogyakarta: LkiS, 1996.

A Million Moment of KKM

DSC06989

KKM ( Kuliah Kerja Nyata- Mahasiswa) menyimpan berjuta kenangan. Mungkin ini adalah salah satu hal yang nggak akan dilupakan seumur hidup gue. Nggak akan pernah nyangka kalau segala hal akan terjadi hanya dalam waktu 30 hari, dari senang –sedih kasmaran sampai patah hati udah pernah gue alamin hahaha.

Asmara menjadi hal yang paling menarik untuk dibahas. Ya, mungkin karena sering ketemu sama orang itu-itu aja, benih-benih cinta muncul dengan sendirinya, termasuk dengan diri gue yang lugu ini (jika mau muntah silahkan). Yah, yang namanya ngeceng semua orang juga pasti pernah ngalamin.

Dan “ ciee… ciiee..” adalah kata yang paling sering digunakan ketika terjadi moment yang romantis, so sweet, atau hanya sekedar bercandaan doang. “ Ciee” akan terus berkumandang sampai si target mesem-mesem sendiri, salah tingkah dan wajahnya memerah merona membabi buta. Kalau kata ciie nggak berhasil maka terlontarlah kata “mmmmm…” hingga si target kehabisan kata-kata.

Cinta segi-segi-an juga terjadi dalam kehidupan KKM. Ada yang cinta segitiga sama sisi, segitiga sembarang, segilima dan segi nggak beraturan barangkali juga terjadi. Menurut curhat-curhatan yang gue tangkap sih, selalu ada kejadian dimana si A suka sama si B, si B suka sama si C, si C suka sama si D ya gitu lah kaya cinta tak berujung gitu. Tapi ada juga yang sama-sama suka tapi apa daya sama-sama memiliki kekasih hehehe(ciiiie…). Nah, kalau gue sih cinta bertepuk sebelah tangan hahaha ya udah sih ga usah dibahas, toh gue cuma basa-basi.

Selain kisah asmara KKM ini juga mengangkat cerita sosial. Nggak tahu kenapa, semenjak KKM perasaan gue jadi lebih peka sama orang lain. Tinggal di pedesaan mengajarkan gue untuk beramah-tamah terlebih lagi di tempat itu gue ngajar anak-anak di SD dan Madrasah Diniyah.

Madrasah Diniyah Al-Ikhlas adalah tempat yang paling berkesan bagi gue. Karena, anak-anaknya yang sedikit dan ngajarnya semau gue, jadi lebih enak dan intensif dalam mengajar. Di MD gue ngajar Bahasa Inggris, gue senang karena memiliki anak-anak yang antusias dalam belajar dan cerdas. Yah, walaupun agak bandel namanya juga bocah.

Let me introduce about my students (yeah sok Inggris bener gue). Pertama ada Maulana yang luar biasa oces dan teu daek cicing. Ariya yang pintar dan nulisnya acak-acakan, Selly ( satu-satunya cewe dikelas gue) yang pintar, Raihan yang logat Tasik-nya paling lucu, Kiki yang daya tangkapnya cepat walau agak jail, Ihsan yang paling sensitif  dan yang paling antusias kalau belajar Bhs. Ing, Gungun yang sering tunjuk tangan tapi kadang dia nggak tahu jawabannya apa, Apit yang pendiam. Dan nggak lupa pula sama anak-anak kelas satu dan tiga.

Di kelas tiga gue kenal Mukti yang kayanya bakal pi-ganteng-eun kalau udah gede, gue nggak akan lupa sama anak itu “teteh menunggumu dewasa nak” (lho?), Syakira yang item manis dan cerdas, Yudi yang suka mengumandangkan pengumuman, Kurniawan yang suka males-malesan dan Risa yang pendiam tapi pintar. Di kelas satu gue inget Vidi yang luar biasa maceuh, gumincir kaya belut, Andini yang tukang nge-les dan pintar ngomong, Mila yang hatinya mudah tersentuh dan masih banyak lagi tingkah anak-anak yang  kalau dijelaskan akan menghabiskan ratusan halaman(hah?). yang pasti KKM kali ini ngebuat gue belajar gimana cara memperlakukan anak kecil.

Kembali lagi ke berjuta kenangan KKM. Banyak banget hal yang nggak bakal gue lupa di Desa Kadipaten Kab. Tasikmalaya. Gue selalu ingat sama jargon-jargon populer yang dengan sukses terluncur dari bibir ke bibir. Dimulai dari “ Nehnik”, “ Keindahan”, “ Ngenah”, “OOOKAY”, sampai ke “ulala cetar membahana” lengkap dengan logat Syahrini. Gue juga akan berterimakasih pada kartu UNO yang berhasil memecah kebosanan yang melanda hati ini. “ Main UNO aja sampai bodoh” adalah hal yang paling sering dikatakan hehehe. Gue sih sebagai seorang pemenang hakiki juga pernah mengalami kekalahan dalam menjalani hiruk-pikuk permainan UNO ini (ngomong apa sih gue??!!).

Tak lupa pula ucapan terimakasih saya hantarkan pada gitar yang membuat kami nyanyi-nyanyi. Pada 2 toilet yang tiap shubuh selalu dipenuhi oleh riuhnya suara ketukan pintu “ Habis kamu akuu yaa.” “ Duh nggak kuat nih aku pingin e*”. AAARGH pokoknya berterimaksih pada semuanya, ibu warung, pada tv, pada sofa, pada jemuran, terimakasih pada lagu Taylor Swift, pada orang yang pernah ngendap-ngendap rumah(nambahin kenangan aja ente jang), pada kerudung( ingatlah pada kalimat “ ada cowo!!”), dan pada buang angin (kalo ini hanya orang tertentu yang tahu.).

Nggak akan ada habisnya deh kalau ngomongin KKM, yang mana ada 31 orang tinggal dalam dua rumah (1 rumah cewe, 1 lagi cowo). Ngebuat kami saling mengenal. Gue bersyukur karena ke tiga kelompok ini tinggal bersama, jadi nambah kenalan sih intinya hahaha. Ini dia ke 31 orang itu sekaligus kesan yang gue tangkap selama 30 hari.

Dimulai dari kelompok gue!!

Agus A.K.A Subragus Supratman                 : Ketua gue,garing abiis, kadang bijak kadang nggak, sok asik tapi yang paling  sensitif kalau ngomongin soal anak-anak.

Lutfi A.K.A Upil                                              : Lelaki idaman wanita, someone who always listening and understanding           (kaya asuransi). Ngerti banget gimana cara memperlakukan cewe. *UFC (Upil jangan berubah yaaa!!)

A’Iqbal A.K.A Bedul                                        : Urakan tapi ia adalah The Natural Leader , memiliki pemikiran yang “JERO”. *AIFC

Wahyu                                                           : Seorang PHP ulung hahaha. Cara ngomongnya lembut, pelan dan  medoknya itu lho.

Rere                                                              : Good speaker, penceramah sejati, calon istri sholehah (amiin).

Achy A.K.A Dechong                                      : Gokil, gumincir dan selalu ngebuat orang khawatir. Baik karena bawa mobil (hah?).

Raisa A.K.A Jaja                                             : Kakak tercintanya dechong, dewasa, baik tapi kadang sengklek juga sih, apik dan nggak banyak omong kalau kerja. Seseorang yang menciptakan kata bedul.

Fitri A.K.A teh Mpit                                           : Seorang teteh-teteh sejati yang dewasa, baik dan kreatif.buat dipeyuuuuk).

Inay  A.K.A Naysilla Mirdad, Lul                       : She has nice voice, galak dan gue suka sama gaya ketawanya.

Elis A.K.A Bu Elis                                              : cerewet, kadang suka polos, sigap dalam mengajar.

Next kelompok 101

Poppy                                                                   :  Temen sekelas gue yang suaranya paling sering diimitasi sama anak-      anak dan sensitif.

Nisa A.K.A Ica                                                      : Seseorang yang manggil gue Eca, supel, asik, temen bercanda gue.

Eci                                                                        : LUCUU.

Teh Noneng                                                         : Nyunda banget bahasanya, lembut orangnya.

Teh Elis                                                                : Calon istri idaman yang sholehan (amiin).

A’ Samsul A.K.A  A’ Sam                                      : “ The Dawn Superhero” selalu siap siaga kalau cewe manggil cowo         untuk bawa rice cooker. *ASFC

Allan                                                                      : Pria berwajah sangar hati Hello Kitty, punya ketawa yang unik nutup         mulut pakai tangan sambil merem dan geleng-geleng.

Ridwan                                                                   : Aa Boyband, te-teleponan terus.

Wahyudi                                                                : Cool Man, baik, orang yang pertama dateng ke posko cewe buat makan, lelaki paling wangi.

Asep                                                                       : Baik, supel, asik diajak bercanda walau kadang suka sensi dan kalo   mandi LAMA (menurut berbagai sumber) . *AFC

Kel 102

Pupung                                                                  : Temen sekelas gue yang berbaik hati untuk meminjamkan peralatannya pada diri yang lugu ini,  dimulai dari sandal,detergent, sikat sampai headset (makaaasih Upung).

Teh Mia                                                                  : Gue suka sama gayanya yang cuek dan sering pakai kaos  para aktivis.

Ema                                                                        : Humoris, lawak, lucu (sama aja sih artinya hahah)

Tria                                                                          : Junior gue yang masih gue pertanyakan keberadaanya kenapa smt 6 ikut KKM??! (hehehe) baik dan suka je-Jepangan.

Lidya                                                                        : Baik walau sorotan matanya itu membunuhku.

Wawan                                                                     : Lelaki yang menciptakan jargon “Nehnik”, “ Keindahan” dan “Ngenah”

Bang Ali                                                                    : Orang sebrang bermarga Nasution. Yang ga bisa berbahasa Sunda     dan memiliki logat bukan batak melainkan Bekasi ( iya nggak?! Sok tahu aja sih si gue mah 😦 ).

Dani                                                                         : Memiliki godeg yang ulala~

Rijal                                                                          : Good speaker, tahu gimana harus berperilaku, humoris dan suka          banget nge-bully orang.

Rusdan                                                                   : Orang Thailand yang menurut gue punya banyak fans (swadekap).

Eng ing eng dan yang terakhir adalah….

Pattrinesia Herdianaira                                           : Gue nggak pernah tahu sama arah hidupnya kemana, udah mah tiisan, cuek, nggak peka lagi, tapi asli dia itu Rock n Roll banget. Super duper keren lah, she’s  the one and only in the world man!!!, ngangenin banget(??????????&*&^%$#% –“).

Itulah kesan yang gue tangkap selama 30 hari bersama mereka. Gue nggak akan pernah lupa sama masa-masa itu. Sejuta kenangan akan selalu tersimpan dalam benak gue. Untungya otak ini bukan flashdisk yang bisa di format, karena gue ga akan pernah nge-format ingatan gue bersama mereka. KKM emang cuma terjadi sekali seumur hidup, tapi kesannya itu akan berbekas sampai gue ketemu jodoh dan punya anak nanti. Love U All.

Gue juga masih open member buat *UFC (Upil Fansclub), *ASFC (A’Sam Fansclub), *AFC (Asep Fansclub), *AIFC ( A’Iqbal Fansclub) karena anggotanya cuma itu-itu aja. 😥

Makasih Ya Allah karena telah mempertemukan kami.

Sejuta kenangan ini akan membekas sampai ke aliran darah.

Ampuni Aim Ya Allah.

 

Mitos Kucing Hitam dan Refleksinya Terhadap Cerita Pendek Karya Edgar Allan Poe “ The BLACK CAT”

black-cat-946162872

( Analisis Karya Edgar Allan Poe; The Black Cat)
Pattrinesia Herdianaira
1211503097
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
nairadianaira@rocketmail.com

Abstract

This research is aimed to explained about the horror short stories which titled “ The Black Cat” by Edgar Allan Poe and connected it to the mythology about black cat. Through mimetic approach, we will analyze cat symbolism in each countries and continent, also compared with the other mythology about cat.

Kata-kata Kunci : kucing, mitos, Edgar Allan Poe

Pendahuluan:

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya mitos-mitos yang terjadi dalam masyarakat mengenai kucing hitam dan simbol dari kucing itu sendiri. Berbagai mitos ini muncul akibat realitas masyarakat yang menganggap bahwa kucing (khususnya kucing hitam) adalah jelmaan dari penyihir, juga simbol kematian dan kesialan. Dalam cerita pendek Edgar Allan Poe yang dibuat pada tahun 1843 dengan mengangkat tema gotic dan horror, Poe menggambarkan bahwa kucing yang bernama Pluto yang sebenarnya tidak bersalah dan bersifat netral berubah menjadi sosok antagonis akibat dari khayalan yang diciptakan oleh narator, sama halnya mitos yang dibangun oleh masyarakat mengenai kejahatan kucing hitam.
Selama abad pertengahan di Eropa kucing hitam di anggap sebagai pendamping dari penyihir, dan siapapun yang tertangkap sedang bersama kucing itu akan dibunuh. Takhayul ini menyebabkan orang untuk membunuh kucing hitam secara besar-besaran.
Zaman semakin berubah namun, mitos tentang kucing hitam belum juga berubah. Mitos yang telah mengakar di masyarakat tetap memandang kucing hitam sebagai simbol kesialan. Hampir dari semua legenda di dunia menggambarkan kucing hitam sebagai makhluk yang memiliki kekuatan mistis. Meski, di Jepang kucing hitam merupakan simbol keberuntungan di Indonesia kucing hitam masih di anggap sebagai simbol kesialan.
Dari mitos yang di bangun inilah kita mampu menganalisis tentang psikoanalisis masyarakat yang direflesikan pada cerita pendek karya Edgar Allan Poe. Dalam cerita tersebut kucing berubah menjadi makhluk jahat dan mempengaruhi hidup si narator yang tidak bernama tersebut.

Metode

Metode yang digunakan adalah kualitatif dan dengan menggunakan pendekatan mimesis, yaitu menurutt Abrams (1999) mimesis adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai imitasi atau refleksi juga representasi dari kehidupan dan perilaku manusia.
Melalui pendekatan mimetik penulis dapat menganalisis tentang karya yang di buat oleh Edgar Allan Poe dan menghubungkannya dengan mitos yang dibangun oleh kalangan masyarakat itu sendiri. Penulis akan menghubungkannya dengan realitas masyarakat (khususnya barat) mengenai simbolisasi kucing hitam. Penulis juga membutuhkan berbagai pendekatan sosiologi sastra untuk mengetahui latar belakang Poe dan lingkungan masyarakatnya.
Metode yang digunakan dalam metode kualitatif adalah dengan mengkaji teks yakni isi dari cerita pendek karya Edgar Allan Poe berjudul “ The Black Cat” yang menjadi objek dari penelitian. Dengan memahami berbagai simbol yang muncul, serta latar suasana yang gotic dapat memberikan esensi yang lebih dalam dari maknanya sendiri. Sudut pandang narator juga memiliki peranan penting tentang pikiran yang ia buat mengenai Pluto. Setelah, mengkaji teks penulis akan melakukan mencari data-data yang berkenaan tentang berbagai mitos kucing hitam yang terjadi khususnya di kalangan barat. Data-data tersebut akan akan diaplikasikan pada saat pembahasan. Terakhir, penulisan akan menafsirkan data-data yang telah ditemukan dan menganalisisnya pada objek penelitian secara logis.
Sekilas Tentang Edgar Allan Poe dan The Black Cat
Edgar Allan Poe ( Edgar Poe) adalah seorang sastrawan asal Amerika yang lahir di Boston pada tanggal 19 Januari 1809 dan wafat pada 17 Oktober 1849. Ia merupakan salah satu sastrawan yang berkonsentrasi pada aliran sastra romantik Amerika. Poe dikenal karena mengusung cerita-cerita yang bertemakan misteri, horror dan suspens.
Poe merupakan anak kedua dari aktris kelahiran Inggris yang bernama Elizabeth Elizabeth Arnold Hopkins Poe dan aktor David Poe, Jr dia memiliki kakak laki-laki, William Henry Leonard Poe , dan seorang adik perempuan, Rosalie Poe. Kakek mereka, David Poe, Sr, beremigrasi dari Cavan, Irlandia, ke Amerika sekitar tahun 1750. Ayahnya meninggalkan keluarga mereka pada tahun 1810, dan ibunya meninggal setahun kemudian akibat terserang penyakit tuberkolosis paru-paru. Poe kemudian dibawa ke rumah John Allan, seorang pedagang Skotlandia sukses di Richmond, Virginia, yang berurusan dalam berbagai barang termasuk tembakau, kain, gandum, batu nisan , dan budak The Allans menjabat sebagai keluarga angkat dan memberinya nama ” Edgar Allan Poe ” meskipun mereka tidak pernah secara resmi mengadopsinya.
Ia mulai menulis secara aktif setelah memenangkan sayembara menulis cerita pendek berjudul “MS Found in a Bottle”. Black Cat merupakan satu dari banyak cerita pendek bergenre horror karangan Poe. Cerpen in pertama kali dipublikasikan pada tanggal 19 Agustus 1843. Kisah ini menceritkan tentang seseorang yang memelihara kucing hitam di rumahnya, awalnya semua berjalan baik dan tak ada hal yang aneh. Namun, akibat ketergantungan terhadap alkohol, narrator berubah menjadi seseorang yang hilang kendali dan paranoid. Akibat pengaruh alkohol ia mencongkel mata kucingnya sendiri hingga akhirnya membunuh kucing bernama Pluto itu. Setelah membunuhnya, narrator dihinggapi rasa ketakutan yang sungguh luar biasa dan menganggap kucing sebagai makhluk paling mengerikan ia merasa telah dihantui oleh arwah Pluto. Narrator semakin kehilangan kendali dan akhirnya membunuh istrinya sendiri dan menguburnya di dinding rumah.

Hasil Penelitian

Analisis ini difokuskan pada karya Edgar Allan Poe yang berjudul The Black Cat. Dengan memperlihatkan berbagai perpepsi narrator tentang kucing yang ia miliki. Dalam cerita ini kucing seakan menjadi bisikan jahat yang menggugah perasaan narator untuk membunuh itrinya. Kemudian bagaimana karya ini memiliki kekuatan horror akibat mitos dan legenda yang telah dibangun oleh masyarakat kalangan barat. Selain itu penulis juga perlu untuk meneliti psikoanalisis tentang pengaruh alcohol yang terjadi pada narrator.

Analisis Karya The Black Cat

Cerita pendek ini bergenre dark romantic yang memiliki berbagai ciri khas yakni; bernuansa gothic, horror, supernatunaral dan illogical. Sedangkan menurut G.R Thompson dark romantic merupakan lawan dari aliran romantic mainstream lainnya (light romantic)“ Fallen man’s inability fully to comprehend haunting reminders of another, supernatural realm that yet seemed not to exist, the constant perplexity of inexplicable and vastly metaphysical phenomena, a propensity for seemingly perverse or evil moral choices that had no firm or fixed measure or rule, and a sense of nameless guilt combined with a suspicion the external world was a delusive projection of the mind–these were major elements in the vision of man the Dark Romantics opposed to the mainstream of Romantic though” . Aliran ini berkembang dan populer di Amerika pada tahun 1836 hingga 1840-an.
Dari ciri dan karakteristik yang telah ditentukan di atas penulis menemukan berbagai elemen yang terdapat pada subgenre dark romantik. Pada Black Cat karya Edgar Allan Poe ditemukan pula setting dengan latar malam yang merujuk pada nuansa gotik. “ I remember that night very well. I came home late, full ofdrink again. I could not understand why Pluto was not pleased to see me. The cat was staying away from me. My Pluto did not want to come near me! I caught him and picked him up, holding him strongly. He was afraid of me and bit my hand.” ( Edgar Allan Poe, 1999:2). Nuansa malam disebutkan hingga beberapa kali dalam plot.
Supernatural dan hal-hal yang tidak logis juga terjadi dalam novel ini selain itu, adanya pikira-pikiran yang mengerikan yang diceritakan oleh narator juga muncul “ How can I explain this fear? It was not really a fear of something evil . . . but then how else can I possibly describe it? Slowly, this strange fear grew into horror. Yes, horror. If I tell you why, you will not believe me. You will think Iam mad”. ( Edgar Allan Poe, 1999:2). Narrator menggambarkan bahwa mungkin ia sudah gila karena ketakutan selalu melandanya. Ia yakin bahwa kucing itu adalah hantu yang akhirnya sudah menguasai pikirannya. Kucing, yang dulunya adalah hewan kesayangannya berubah menjadi hantu baginya.
Kucing yang menjadi symbol mistis kembali muncul pada akhir cerita yaitu pada saat polisi berusaha untuk menghancurkan dinding yang diduga ada mayat istrinya yang telah narrator bunuh. “And there was the cat, standing on her head, his red mouth wide open in a scream, and his one gold eye shining like fire. The clever animal! My wife was dead because of him, and now his evil voice was sending me to the gallows.” Secara tak sengaja narrator telah menguburnya di dinding bersama istrinya. Ia menganggap kalau ia telah dirasuki oleh kucing berwarna hitam itu. Dalam kaitannya pikiran narator juga berperan penting dalam penggambaran kucing Benjamin F Fisher “A second type of popular fiction, the comic mode, also strongly appealed to Poe. More important, many writers discerned how to mingle horror with humorwithin an individual tale, and sow may find many with initial hints that supernaturalism is besetting the protagonist, only to discover in the conclusion that the narrator had a nightmare or that his fantastic circumstances resulted from his drunken irrationality or the hallucinatory effects produced by drugs, opium being the most commonly ingested substance among these narratorprotagonists because it was easy to obtain for medical uses. “

Simbolisme Kucing Hitam Pada Mitologi Barat, Yunani dan Roma

Pada awal abad pertengahan kucing di anggap sebagai pembantu penyihir yang menyebabkan ribuan kucing dibunuh. Pembunuhan besar-besaran terhadap kucing membawa kutukan bagi masyarakat Eropa hingga menyebabkan munculnya wabah pes yang dibawa oleh tikus.masyarakat menganggap bahwa wabah pes ini disebabkan oleh kutukan yang dibawa kucing. Sedengkan, dalam mitologi Yunani kucing di anggap sebagai dewa kematian Hebei Jiatong Vocational (2012) menjelaskan bahwa “ We becomes increasingly aware of his superstitious belief as the story progresses from the fact that he calls his cat, Pluto, who in Greek and Roman mythology was the god of the dead and the ruler of the underworld. One moment he will be in a perfect frenzy of violence, with nothing but curses and vituperation even for those he loves. Very quickly, however, he is overcome with remorse and is sorry for all that he has said and done.”
Dalam cerita narrator menyebutkan bahwa ia menemukan seekor kucing hitam yang sangat mirip dengan sosok Pluto. Namun, ada yang berbeda di sana kucing baru itu memiliki tanda putih melingkar yang ada di sekitar lehernya. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah, kucing kedua itu adalah jelmaan dari Pluto? Renkairnasi ini merujuk kembali pada mitologi Roma dan Yunani. Bahwa kucing hitam sebenarnya jelmaan dari dewa yang hidup kembali dan mengutuk hidup seseorang yang berdosa.
Beberapa mitologi ini dapat direfleksikan pada cerita pendek Black Cat yang telah menyiksa kehidupan narrator. Narator merasa terkena kutukan oleh Pluto karena telah membunuhnya. Selain itu penyihir yang seringkali digambarkan oleh sosok wanita dan muncul pada sosok istri narrator. Ia menganggap bahwa istrinya mirip kucing yang telah ia bunuh, dalam mitologi Eropa kucing adalah jelmaan penyihir dan penyihir merujuk pada perempuan itu artinya perempuan dan kucing harus ia bunuh.
Kutukan yang dibawa oleh kucing membuat narrator menjadi gila, dalam psikoanalisis ia diduga telah menderita schizophrenia. Namun, dalam pandangan sosiologi sastra cerita ini merujuk pada berbagai mitologi yang terjadi di masyarakat dibelahan dunia khususnya barat.
Simpulan
Karya sastra memang takkan terjadi begitu saja. Karya sastra bisa lahir dari lingkungan dan latar belakang pengarangnya, termasuk mitos yang telah dibangun oleh masyarakat. Poe memberikan sebuah allegory tentang pandangan masyarakat tentang kucing berwarna hitam, yaitu tentang simbolisme kucing yang dipandang buruk. Poe mengambarkan Pluto sebagai makhluk polos yang tidak bersalah dan berubah menjadi makhluk antagonis akibat persepsi yang dibangun oleh narrator. seperti itulah yang terjadi pada masyarakat barat, kucing yang sebenarnya makhluk predator tikus dan menjaga kestabilitasan ekosistem, dipandang buruk akibat mitos dan legenda yang terjadi di masyarakat.

Daftar Pustaka

Dincer Figun.2010. “The Light and Dark Romantic Features in Irving Hawthorne and Poe”. The Journal of International Social Research.
Fisher, F Benjamin. 2008. The Cambridge to Introduction to Edgar Allan Poe. UK : Cambride University Press.
Haiyuan Liu; Zhang Junfeng. 2012. The Conflicting Mind Reflected in Edgar Allan Poe’s “The Black Cat” and D. H. Lawrence’s “The Horse Dealer’s Daughter”. Hebei Jiaotong Vocational and Technical College.
Piancentino, Ed. 1998. Studies in Short Fiction:Poe’s “ The Black Cat”as Psychobiography: Some reflection on the Narratolical Dynamics. America : Newberry College.
Poe, Allan Edgar.1999. The Black Cat and Other Stories. England : Penguin Books.

Poe, Allan Edgar.2011. Kisah-Kisah Tengah Malam Edgar Allan Poe : “ Kucing Hitam” , terj oleh Maggie Tiojakin. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

 

Post Navigation