Dianaira

Petrichor

Archive for the category “Others”

Hanyutlah ke dalam Kisah Sherlock Holmes Abad 21

Sherlock-BBC-poster-1    (sumber gambar: https://www.google.com.)

Bagi kamu penyuka cerita detektif/ misteri pasti sudah tidak asing lagi dengan kisah legendaris karya penulis asal United Kingdom sir Arthur Conan Doyle yang berjudul “Sherlock Holmes”.  Saking fenomenalnya, entah mengapa saya selalu merasa tokoh fiksi satu ini adalah figure nyata yang hidup  di tahun 1800-an dengan keahlian deduksinya yang sungguh di luar nalar.

Sejumlah karya pun banyak yang terinspirasi dari kisah Sherlock Holmes, film-film di buat semakin menambah tingkat popularitasnya. Sherlock Holmes yang diperankan oleh Robert Downey Jr pun begitu apik.  Namun, ada lagi Sherlock Holmes versi lain yang sangat sayang kalau dilewatkan.

Diperankan oleh Benedict Cumberbatch dengan setting abad 21, sosok Sherlock Holmes yang baru pun terlahir.  Drama serial “Sherlock”  yang dibuat oleh Steffen Moffat dan Mark Gatiss ini ditayangkan oleh BBC One dan BBC HD sejak tahun 2010 hingga sekarang (2017). Selain diperankan oleh Cumberbatch, dr. John Watson (partner dari Sherlock Holmes) pun diperankan oleh pemeran Bilbo dalam film trilogy The Hobbit, Martin Freeman. Menurut saya kedua aktor tersebut sudah cukup menjamin kalau serial tv asal Britania ini worth it untuk ditonton.

Tak tanggung-tanggung IMDB memberi rating 9.1 untuk ‘Sherlock’, sedangkan Rotten Tomatoes yang terkenal pelit pun berani menyematkan rating Sherlock sebesar 91%. Dibandingkan dengan versi lain, serial Sherlock berhasil ‘mengadaptasi’ mahakarya dari sir Arthur Conan Doyle dengan cara pandang dan setting yang lebih modern dan sama cerdasnya.

Serial televisi ini telah memproduksi 4 seri dengan 3 episode di setiap seasonnya. Seri 1 yang ditayangkan di tahun 2010 ini di mulai dengan judul “A Study of a Pink”, dengan mengadaptasi cerita awal mula perkenalan antara Holmes dan Watson dalam versi novel aslinya yang berjudul “ A Study in Scarlet”. Sedangkan di episode dua  berjudul The Blind Banker, pada episode ini petunjuk-petunjuk tentang musuh besar muncul kepermukaan. Di eposide 3  “The Great Game”, Moriarty (tokoh antagonis utama)  muncul untuk pertama kalinya dengan diperankan oleh aktor tampan Andrew Scott.

Di tahun 2012 seri ke 2 tayang dimulai dengan pertemuannya dengan seorang perempuan yang mampu menyaingi kecerdasan Sherlock yaitu Irene Adler, dengan judul A Scandal in Belgravia. Irene yang dikenal sebagai The woman adalah seseorang yang selalu ada dalam pikiran Sherlock karena cara pandangnya yang begitu mengagumkan.

Selanjutnya, pada episode 2 yang berjudul The Hounds in Baskerville, Sherlock mengusut kasut tentang anjing besar (seperti monster/ makhluk supranatural) yang memakan korban, karena kasus ini lah nama Sherlock Holmes semakin terkenal dan banyak dimintai untuk memecahkan kasus oleh para kliennya.

Sebagai penutup dari seri ke-dua,  The Reichenbach Fall  dibungkus dengan begitu apik membuat penonton penasaran untuk menonton seri selanjutnya. Pada episode 3 keadaan Sherlock yang begitu dipuja masyarakat diputar balikkan menjadi sosok yang begitu hina karena ulah musuh besarnya James Moriarty. Dengan ending yang menggantung dan menegangkan, para penonton akan dibuat terkejut oleh twisted yang terjadi di seri 3.

     The Empty Hearse yang tayang  di tahun 2014, sebagai pembuka seri 3 mampu menghadirkan twisted yang menjajikan sebagai lanjutan seri ke dua. Menurut saya twisted di episode ini begitu menakjubkan bahkan di luar ekspektasi yang saya bayangkan. Selain twisted yang muncul secara berentetan, pertemuan antara Sherlock dan Holmes setelah dua tahun tidak berjumpa mampu membuat saya terharu sekaligus tertawa. Mereka sangat mirip dengan sepasang kekasih yang saling merindukan namun ketika bertemu selalu saja cek-cok kemudian berdamai, kemudian cek-cok kembali.

Episode 2 dengan judul The Sign of Three adalah jenjang kehidupan baru bagi Watson yang akhirnya menikah dengan perempuan bernama Mary,  seorang perempuan misterius yang juga tak kalah cerdas.  Misteri Mary akhirnya terpecahkan  di episode penutup dengan judul  His Last Vow yang memiliki kejutan tak kalah keren dari  seri lainnya.

Selain berhasil membongkar siapa identitas dari istri Watson yang sebenarnya. His Last Vow  sekaligus berhasil membuat Sherlock terjerat masalah kriminal sehingga ia diharuskan untuk diasingkan ke luar negeri. Namun, pada saat itu pula-lah kekacauan kembali terjadi. Baru saja akan lepas landas, sebuah pesan berisi “Miss Me?” Beredar di se-antero negeri, tak lain dan tak bukan adalah ulah dari lawannya James Moriarty, yang diduga telah mati dan menghilang dalam episode menegangkan The Reichenbach Fall.

Sebagai pengobat rasa rindu untuk menunggu kedatangan seri ke-empat. Pada natal 2015, Sherlock menghadirkan sebuah episode spesial berjudul The Abominable Bride. Sedikit berbeda dengan seri-seri sebelumnya Holmes bermain dengan istana pikirannya untuk memecahkan sebuah kasus yang sudah sangat lama terjadi beratus tahun yang lalu.

Episode ini mengambil setting asli dari kisah Sherlock Holmes di tahun 1800-an . The Abominable Bride mengisahkan tentang seorang pengantin yang bunuh diri bernama Emelia Ricolleti kasusnya menarik perhatian karena setelah kematiannya, sang suami bernama Thomas Ricoletti pun mati tertembak dengan tersangka arwah dari Emelia. Karena sifatnya yang tidak biasa dan karakteristik supranatural jelas, kasus ini menjadi cerita hantu terkenal dan dikaitkan dengan sejumlah pembunuhan berikutnya. Cerita ini juga menyuguhkan tentang feminisme yang mana perempuan pada zaman dahulu tak diperbolehkan untuk memiliki profesi yang setara dengan pria. The Abominable Bride merupakan episode paling rumit dan sangat sulit untuk memahami setiap benang merahnya. Sehingga membuat penonton harus siap me- replay setiap dialog dan adegan  yang terjadi.

Penonton sepertinya memang harus bersabar, karena seri 4 yang baru saja syuting di awal tahun 2016 ini rencananya akan tayang pada awal tahun 2017 dengan kasus dan konflik yang lebih  menarik. Supaya tidak penasaran, trailer Sherlock sudah bisa dinikmati di channel youtube sejak pertengahan tahun 2016.

Saya rasa Sherlock berhasil memberikan twisted yang menakjubkan dalam setiap episode-nya. Serial ini memang membutuhkan konsentrasi yang tinggi agar penonton bisa memahami alur cerita juga twisted yang telah disuguhkan. Tak ayal, kadang untuk sekadar  melewatinya sepersekian menit saja penonton akan merasa keteteran. Saya pun merekomendasikan film ini lebih baik ditonton secara sendirian agar konsentrasi tidak terpecah belah

Meskipun begitu, Sherlock menyuguhkan chemistery yang apik antara Holmes – Watson ala Cumberbatch – Freeman. Lucunya, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sebentar-bentar berdebat kemudian akur lagi.

Dari segi bahasa , beruntunglah bagi yang menyukai  segala hal yang berbau Inggris dan pasti akan sangat berbahagia karena aksen British akan terasa sangat kental terdengar di telinga penonton (ya, karena pemerannya rata-rata juga orang British sih) yang mungkin tak akan dijumpai di versi yang diperankan oleh Robert Downey Jr.

Yang pasti Sherlock pantas dijadikan rekomendasi dalam deretan drama seri detektif yang wajib untuk ditonton bagi kamu pecinta cerita detektif dan misteri.

Selamat hanyut kedalam kisah Sherlock Holmes abad 21!!!!

 

Advertisements

Kajian Sastra

Pattrinesia Herdianaira

1211503097

 

  1. Identifikasi kaitan antara sastra dengan masyarakat!

Jawab : kaitan sastra dengan masyarakat adalah suatu timbal-balik, menurut Soemanto kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Hal ini membuktikan bahwa sastra tidak muncul begitu saja, dari masyarakatlah sastra muncul dan dari sastra masyarakat sadar. Menurut Damono (1978:3-4) mengklasifikasi tentang hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra dan masyarakat, yang secara keseluruhan merupakan bagan berikut:

  1. Konteks sosial pengarang.hal ini berhubungan dengan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan pengarang, misalnya: dimana ia tinggal, bagaimana lingkungannya. Hal ini tentu dapat mempengaruhi isi dari suatu karya sastra
  2. Sastra sebagai cermin masyarakat; sejauh mana sastra dapat me-representasikan dari masyarakat itu sendiri. Sastra diharapkan dapat membuat seseorang/masyarakat sadar akan lingkungannya sendiri.
  3. Fungsi sosial sastra. Meneliti sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan sejauh mana nilai sastra dipengaruhi nilai sosial.

Ini artinya senada seperti yang dipaparkan oleh Wellek dan Warren (1976) bahwa :Literature is a social institution, using as its medium language, a socialcreation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature ‘represent’ ‘life’; and ‘life’ is, in largemeasure, a social reality, eventhough the natural world and the inner orsubjective world of the individual have also been objects of literary ‘imitation’. The poet himself is a member of society, possesed of a specific social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he addresses an audience, however hypothetical. (1976:94).

 

  1. identifikasi karya sastra sebagai dokumen sosial budaya!

Sastra sebagai dianggap sebagai dokumen budaya karena sastra sendiri lahir dari masyarakat yang merujuk pada sosial,sedangkan interaksi sosial itu sendiri akan menghasilkan suatu kebudayaan. Kebudayaan pada masa tertentu akan menghasilkan sastra. Maka dari itu sastra tidak akan lahir tanpa adanya sosial dan budaya. Junus (1986) mengemukakan, bahwa yang menjadi pembicaraan dalam telaah sosiologi sastra adalah karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya. Sastra bisa dilihat sebagai dokumen sosial budaya yang mencatat kenyataan sosio-budaya suatu masyarakat pada suatu masa tertentu. Pendekatan ini bertolak dari anggapan bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Bagaiamanapun karya sastra itu mencerminkan masyarakatnya dan secara tidak terhindarkan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya. Goldmann (1980) mengatakan, bahwa sastrawan mengamati kehidupan yang terjadi pada masyarakat kemudian menulisnya, memahaminya hingga memindahkannya ke dalam karya sastra.

 

  1. identifikasi pengaruh sosio budaya terhadap penciptaan karya sastra!

Karya sastra tidak dapat dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan tempat ia lahir. Karena karya sastra merupakan cerminan dari realitas social yang tidak turun begitu saja dari langit karena semuanya ada hubungan timbal balik. Maka dari itu karya sastra tak bisa dilepaskan dari kehidupan dimana tempat/lingkungan ia lahir. Grebstein (1968: 161-169) yang isinya antara lain sampai pada beberapa kesimpulan antara lain karya sastra tidak dapat dipahami secara tuntas apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan yang telah menghasilkannya, gagasan yang terdapat dalam karya sastra sama pentingnya dengan bentuk dan teknik penulisannya, setiap karya yang bisa bertahan lama pada hakekatnya adalah suatu moral, masyarakat dapat mendekati karya sastra dari dua arah yaitu sebagai suatu kekuatan material istimewa dan sebagai tradisi, selain itu kritik sastra seharusnya lebih dari sekedar perenungan estetis tanpa pamrih, dan yang terakhir kritikus sastra bertanggung jawab baik kepada sastra masa silam maupun sastra yang akan datang.

  1. Identifikasi penerimaan karya sastra terhadap penulis tertentu!

Penerimaan karya sastra terhadap penulis tertentu tergantung pada respon pembacanya menurut Teeuw (dalam Pradopo 2007:207) menegaskan bahwa resepsi (penerimaan atau penyambutan pembaca) termasuk dalam orientasi pragmatik. Karya sastra lahir karena bertujuan untuk menyadarkan (merefleksikan) masyarakat yang lebih sempitnya adalah pembaca. Maka dari itu, pembaca bisa menentukan makna dan nilai dari karya sastra, sehingga karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang memberikan nilai.

  1. Identifikasi penerapan pendekatan karya strukturalisme genetic

Strukturalisme genetik merupakan cara menganalisis karya sastra dengan mencari tahu asal-usul karya sastra itu sendiri.  Menurut Goldmann ada 3 tahap dalam melakukan penelitiaan sastra menggunakan teori strukturalisme genetik, diantaranya sebagai berikut:

  1. a) Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data
  2. b) Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis
  3. c) Dan terakhir sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.
  4. Identifikasi sistem reproduksi dan pemasaran karya sastra!

Sistem produksi pemasaran karya sastra tergantung oleh tipe dan taraf ekonomi yang ada dalam masyarakatnya itu sendiri, dan penguasa(pemerintah) juga punya andil dalam terbit atau tidaknya suatu karya sastra

.

Referensi

Damono, Sapardi Djoko.1978. Sosiologi Sastra: sebuah pengantar ringkas. Jakarta : Depdikbud.

Goldmann Lucien.1978. Towards a Sociology of the Novel. Tavistock Publication

Junus Umar.1986. Sosiologi Sastra persoalan Teori dan metode. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka

Lauren Diana, Alan Swingewood. The Sociology of Literature.

Wellek Rene dan Austi Werren.1989. Teori Kesusastraan. Melani Budianta. Jakarta Gramedia

Manusia Kaum Paradoksal

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sumber Gambar: http://www.google.com

Saya teringat pada caption Instagram salah satu musisi indie asal Bandung yang saya kagumi, Fiersa Besari “Kita adalah makhluk paradoksal yang ingin menyelamatkan pohon, sekaligus membabat pohon demi membaca buku dan sekotak tisu”. Saya menyimpulkan bahwa kita menginginkan alam yang lestari tapi juga merusak demi terpenuhinya kebutuhan. Hal ini tentu manusiawi, tapi apakah kita sudah sadar bahwa ketika kita sudah mengambil hal milik alam kita juga bertanggung jawab untuk memulihkannya kembali? Tentu kesadaran ini tak dimiliki oleh semua orang entah dari pihak produsen, pemerintah atau kita sendiri sebagai konsumen.
Kelapa sawit dengan nama lain Ealeis adalah tumbuhan industri yang sangat populer bagi pemilik negara tropis seperti Indonesia. Pohonnya yang mudah tumbuh di negara ini, membuatnya berkembang kian pesat, ditambah lagi dengan manfaat minyaknya yang begitu banyak seperti: minyak masak, minyak industri dan bahan bakar. Kelapa sawit akhirnya dijadikan ladang bisnis bagi banyak produsen khususnya di daerah Sumatera dan Kalimantan. Hal ini tentu secara terus-menerus berdampak pada lingkungan kita sendiri.
Pengalihan lahan hutan menjadi perkebunan, sebagian besar dipegang oleh perusahaan-perusahaan kapitalis yang ingin meraup keuntungan besar bersamaan dengan bertambahnya jumlah Sumber Daya Manusia sehingga kebutuhan hidup pun akan semakin bertambah.
Sistem kapitalisme ini membuat tumbuhan kelapa sawit yang minyaknya sangat bermanfaat, sering dijadikan lahan keuntungan besar—yang mungkin karena faktor kebutuhan pula—dan dapat menghasilkan berbagai manfaat juga produk yang beragam, dimulai dari kebutuhan sembako, makanan, hingga produk kecantikan. Hal ini menunjukkan, bahwa hidup kita tak bisa dipisahkan dari minyak sawit—mungkin—sama seperti air.
Para produsen pun seakan menghalalkan segala cara untuk memberantas hutan-hutan di negeri ini dengan menebang dan membakarnya secara brutal. Tentu saja mereka memiliki andil besar terhadap kerusakan hutan dan harus mempertanggung jawabkannya dengan pemulihan pohon-pohon yang telah ditebang/bakar. Namun kita tak pantas bila menyalahkan mereka sepenuhnya, sudah seharusnya kita berkaca pada diri sendiri karena barangkali permintaan konsumen-lah yang menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan.
Terkadang konsumen tak pernah tahu dan tak ingin tahu tentang dampak barang yang telah mereka beli, yang penting kebutuhan terpenuhi. Jika sudah terkena dampak negatif lingkungan, siapa yang disalahkan? Tentunya para produsen dan pemerintah. Sementara konsumen hanya bisa berkilah, memaki, dan menghina.
Sadarkah kita? kita pun sebagai konsumen berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Seperti sebuah jeratan, budaya kosumerisme seakan merajalela dan kita tak mampu melepas mata rantai ini dengan mudah karena saling bersinggungan. Seiring perkembangan zaman minyak sawit akan terus dibutuhkan hingga dinyatakan langka (mungkin karena kehabisan lahan atau sebagainya) atau ditemukan minyak alternatif lain yang lebih ekonomis dan praktis. Yang pasti minyak sawit sampai detik ini masih berjaya.
Dengan mengatas namakan kebutuhan inilah, maka ditebang hutan-hutan untuk dijadikan lahan perkebunan. Produsen semakin kaya dan konsumen semakin puas karena disuguhkan dengan berbagai pilihan produk yang berasal dari minyak sawit. Sedangkan pemerintah pun sulit mengontrol budaya ini, mengingat ambisi mereka yang menginginkan negeri ini menjadi produsen kelapa sawit nomor wahid di dunia dan lebih parahnya lagi, adanya budaya sogok-menyogok alias suap-menyuap sehingga izin pun gampang turun.
Kembali lagi pada minyak sawit yang memiliki dua sisi mata uang (menguntungkan dan merugikan). Sepatutnya di manapun posisinya, kita harus menyadari dampak dari perluasan lahan pohon sawit yang terus menggerus ekosistem hutan. Hutan bukan hanya tentang pohon, tapi juga tentang kehidupan, tentang habitat asli hewan, tentang manusia dan tentang bumi.
Kita bisa lihat pembakaran hutan terjadi di mana-mana dan dampaknya telah kita rasakan saat ini. Kabut asap yang tak kunjung usai adalah salah satu dampak perluasan lahan kelapa sawit dengan cara pembakaran hutan, tentu konflik ini tetap saja menjadi bahan perdebatan. Hutan yang terbakar memang bisa terjadi karena dua faktor, yaitu; Faktor alam, dampak El Nino yang menghasilkan kemarau berkepanjangan hingga pohon-pohon pun sangat mudah terbakar. Faktor kedua adalah ulah manusia sendiri, membakar hutan dengan sengaja untuk dijadikan lahan perkebunan, perumahan atau juga industri.
Melihat dari jumlah perkebunan kelapa sawit yang membludak, tentu kita menyadari bahwa kita memiliki dosa besar terhadap kebakaran hutan. Siapapun itu, kita adalah kontributor utama, semua pihak turut berkecimplung dalam sekelumit jeratan ini. Konsumen yang membutuhkan, Produsen yang menyediakan, dan pemerintah yang memberi izin. Jika kita menyalahkan satu pihak, maka kita pun harus menyalahkan pihak lain. Misalnya, menyalahkan produsen kapitalis, kita tentunya harus mengetahui tentang meningkatnya jumlah konsumen yang membutuhkan produk mereka.
Dan untuk menghentikan segala jerat keserakahan ini, maka kita semua harus memiliki kesadaran masing-masing. Jadilah konsumen yang cerdas, produsen yang bijak, dan pemerintah yang beradab. Klise memang, tapi memang begitulah adanya.
Sebagai konsumen, kita memang tak tahu hutan mana yang dijadikan lahan perkebunan sawit tapi konsumen juga berhak untuk bersikap kritis. Pilihlah produk terpercaya yang ramah lingkungan. Maka sebagai produsen, jadilah produsen yang bijak dengan mengetahui dampak dari perluasan perkebunan dan tak sembarangan menebang/membakarnya, lakukan pemulihan terhadap pohon-pohon agar ekosistem tidak terganggu. Jadilah pemerintah yang beradab, tidak mengutamakan ambisi negara untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar tanpa mengetahui efek negatifnya, perbanyak hutan lindung, dan tidak sembarangan memberikan izin untuk kepentingan kelompok apalagi pribadi .
Meski, yang saya tahu hanya segelintir produsen, pemerintah dan termasuk konsumen yang menyadarinya. Itu pun berasal dari kalangan aktivis yang gembar-gembor untuk menjaga kelestarian hutan yang semakin lama semakin dilahap habis oleh kita—kaum manusia—entah sebagai produsen, pemerintah atau konsumen. Saya tetap berprasangka baik, bahwa tetap akan ada manusia-manusia yang peduli terhadap kelestarian hutan.
Saya pun percaya dengan apa yang Fiersa Besari ucapkan bahwa manusia hanya digolongkan menjadi dua kategori: mereka yang menghancurkan bumi dengan cepat dan mereka yang menghancurkan bumi dengan lambat. Itu artinya manusia akan tetap akan menjadi salah satu kontributor perusak alam. Tapi, tinggal anda yang memilih mau menjadi perusak secara lambat atau perusak secara cepat? Meski pada kenyataannya alam bisa memulihkan dirinya sendiri. Alam bisa hidup tanpa manusia, manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Rasa Setahun Kemarin

Setahun kemarin, aku masih menyukainya. Saat harapan masih mengayuh dan gerumulan perasaan yang kusimpan mencandu imaji. 365 hari yang lalu aku masih bermain dengan perasaanku sendiri hingga punggunya dapat kuraih.12 bulan kemarin bukanlah hal mudah untuk menghindari rasa sakit yang menyenangkan ini. 48 minggu yang lalu ruang hati masih terbuka lebar dan hanya ia yang dapat mengisi.

Tentu saja ini bukan kisah cinta terpendam selama setahun. Ini adalah kisah rasa jenuh karena memendam perasaan terlalu lama. Bukan mundur, karena aku tak pernah berucap maju. Ini adalah tentang rasa JENUH yang akhirnya terucap dari hati. Sesekali penyesalan datang meski akhirnya harus ku ikhlaskan. Ahh! Mengapa aku harus menyukainya?

Lagu-lagu cinta yang selalu kuperuntukkan untuknya kini terasa hambar. Tak ada lagi guratan perasaan yang tersisa, selain sebuah rasa penerimaan dan kata ‘menyerah’. Mungkin tuhan tidak menggariskannya untukku. Lantas, untuk apa aku menghabiskan waktu?

Dan akhirnya aku melepaskannya. Melepas segala hasrat dan imaji. Berbahagia saat ia bersama yang lain, klise memang. Tapi, itulah yang pantas aku ucapkan untuk menguatkan hati. Hingga akhirnya ruang hati ini terasa kosong dan siap untuk diisi. Aku siap jatuh cinta lagi.

Aku siap untuk jatuh cinta lagi. Sungguh merindukan kata ajaib itu. Saat hati terisi oleh berjuta perasaan tak menentu dan lagi-lagi bermain dengan perasaan sendiri. Aku merindukannya, tapi bukan dengan’nya’ melainkan orang baru—yang barangkali adalah—orang yang tepat.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menemukan cinta. Pada kenyataannya kata ‘itu’ bukanlah sesuatu yang gampang untuk dirasakan, yah bisa dibilang cinta memang butuh waktu. Perasaan sesaatpun datang silih berganti, untuk sekedar penyejuk saat hati terasa kosong dan bosan. Aku tentu tak ingin menoleh masa lalu lagi, rasanya tak perlu membahas cinta tak terucapku yang dulu.

Menemukanmu. Aku merasa takut untuk jatuh terlalu dalam. Ternyata untuk masalah hati aku masih terlalu takut kecewa. Ini bukan perasaan sesaat, aku bisa merasakan perbedaannya. Aku takut terluka dan takut jika penyembuhnya hanyalah kau. Aku mengerti kalau aku tak ingin jatuh pada lubang yang sama.

Mengendalikan diri, aku berupaya untuk melakukannya. Sekuat tenaga supaya aku tak ber-imaji apapun tentangmu. Meski saat kau berada didekatku atau sedang bercanda. Jangan sampai perasaan ini tumbuh terlalu liar.

Mulai detik ini tak bisa ku tolak lagi, aku menyukaimu. Bukan hanya sebatas suka, tapi hati ini mulai terisi oleh cinta. Mencintai seseorang memang menyakitkan sekaligus menyenangkan. Ruangan yang kosong itu akan diisi oleh orang baru.

Seseorang dari setahun kemarin telah berganti. Masa lalu sudah benar-benar terlupakan, aku menyambut perasaan baru. Kau datang dan tak sengaja mengisi hari-hariku. Membuatku tersenyum dan berbahagia. Hati yang kosong terisi perlahan.

Semakin tak terkendali, aku selalu ingin tahu tentangmu. Apa yang kau lakukan, yang kau sukai dan adakah seseorang yang mengisi ruanganmu. Pernahkah sedikit saja aku berada di ruangan itu? Atau memang ada orang lain? Segalanya semakin tak terkondisi, perasaan ini terlampau menggebu.

Dan aku jatuh pada lubang yang sama seperti keledai. Kembali memiliki perasaan yang tak terucap karena terpaksa untuk menyimpannya saja. Barangkali bagi cinta, aku bukanlah pemeran utamanya. Anggap saja aku hanya pemeran pendukung, antagonis atau figuran. Hanya berada diantara kisah seseorang kemudian dilupakan. Terluka, dan tak tersorot.

Pada akhirnya di satu tahun ke depan nanti, kau hanya menjadi satu tahun kemarin. Sesuatu yang akan kulupakan dan akan kutemui yang lain.

Bentang, I can’t Believe This!!!

Satu hal yang terlintas dalam pikiran saya ” I can’t believe this!!!”. Sebuah perjalanan rahasia untuk menggapai cita-cita dan saya benar-benar melakukannya. Awalnya agak ragu menjalankan misi rahasia ini, mengingat saya termasuk orang yang tak bisa berbohong di hadapan orang tua. Namun, kali ini saya percaya pada White Lies, kebohongan dengan tujuan yang baik ya, apalagi kalau bukan menggapai cita-cita saya sebagai seorang penulis.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak mengutarakan keinginan saya untuk ke Yogyakarta diantaranya: 1. Ayah saya yang overprotective 2. Saya ingin memakai uang sendiri 3. SENSASI!! 4. KEJUTAAN!!. Well, akhirnya ketika sampai di St. Kiara Condong saya tak hentinya bergumam ” I can’t believe this!! Mom, Dad I’ll really be fine.” ini adalah kali pertama saya naik kereta api (alay :”(( )

And I’m really fine God, setelah kurang lebih 9 jam berada di kereta kelas ekonomi yang lumayan nyaman itu (meski bangkunya terlalu tegak, hingga membuat saya sulit tertidur). Saya dan anak-anak Akademi Bercerita Bandung (komunitas yang belum lama ini saya ikuti) tiba dengan sentosa di St. Lempuyangan sekitar pukul 5 shubuh. Kemudian kami menuju mushola sebelah stasiun untuk solat.

Wisma Aisyah, titik pertama yang kami kunjungi setelah tiba di Yogyakarta, apalagi kalau untuk sekedar melepaskan lelah. Tempatnya sangat nyaman, pemiliknya juga sangat ramah. dan yang tidak saya sangka adalah, nasi dan air mineral sudah mereka siapkan selama kami tinggal. Bagi saya itu adalah pelayanan yang sangat memuaskan mengingat biaya inapnya yang murah.

Sampailah ke destinasi utama kami, yaitu Bentang Pustaka yang berada di JL. Plemburan No. 1, Pogung Lor. Kami harus mengalami perjalanan yang cukup ekstrem yaitu berjalan di pinggir jalan yang saya rasa tak ada trotoarnya, yang nampak hanyalah garis bahu yang begitu sempit ( seperti berjalan di jalan setapak), lantaran kami tak tahu jalan mana lagi yang bisa kami tempuh. Nyatanya, kami tiba di Bentang Pustaka sekitar pukul sebelas lebih 15 menit. Di saat itu kami bertemu seseorang yang biasa dipanggil mas Udin. Kemudian bertemu (lagi) dengan mas Imam, para editor : Ka Ika, Ka Dila dan Ka Noni.

Sekilas tentang mas Udin dan mas Imam entah mengapa saya mengira kalau mereka itu mirip atau mungkin kembar (??) mungkin karena efek kacamata dan dua-duanya yang sama-sama memiliki sifat humoris.Kemudian,  perhatian saya beralih pada editor di mulai dari Ka Dila yang bagi saya sangat Cute apalagi saat tertawa, kemudian ada kak Noni yang terlihat sangat serius dengan kacamatanya dan Ka Ika yang begitu cerdas, tegas dan kritis. Melihat ke-tiga editor ini membuat saya teringat pada kakak perempuan saya yang juga ber-profesi sebagai editor di sebuah penerbit buku, dalam benak saya bertanya  jangan-jangan kakak saya juga se-kritis mereka??

Presentasi naskah pun dilakukan di hari itu juga (red: Jumat). Presentatornya adalah : Gelar, Ira, Amel dan teh Ica. Walaupun hari itu saya tak kebagian untuk mempresentasikan Draft saya, tapi jujur saya juga ikutan deg-degan. kemudian hari Sabtu dilanjutkan dengan Kak Tria, Ega ( Akademi Bercerita Jogja), Saya, Kak Tia, kak Nanae, Kak Oeti dan kak Lela. Presentasi naskah di mulai dari jam 10 pagi sampai pukul 14.00. Semua pun akhirnya selesai menjalankan misi bersama untuk menjual naskah masing-masing kepada para editor.

Setelah dari Bentang kami melakukan perjalanan lagi dengan menyewa sebuah mobil. Kami ber-8 (minus kapten dan Amel) mengelilingi Jogja dan singgah di Candi Ratu Boko. Yups, tujuannya untuk melihat sunset di sana. Pertama kali saya berada di Ratu Boko, mengingat saat ke Yogyakarta beberapa waktu yang lalu Candi Ratu Boko tak ada di daftar destinasi saya. Adalah puing-puing Candi yang begitu menakjubkan, saya merasa sedang berada di Roma (ga tau kenapa malah mikir ke sana) kemudian khayalan saya melayang bila saya hidup di zaman kejayaan Candi ini. Hidup tanpa listrik, tanpa gadget , menyatu dengan alam AAARRGGH apakah saya bisa melewati semua ini?!! ( red: abaikan).

Hari ketiga di Bentang Pustaka, kami bertemu dengan pemilik nama Salman Faridi CEO dari Bentang Pustaka, setelannya asik (bergaya anak muda) sempat saya berpikir kalau beliau itu….. ahh sudahlah lupakan. Mas Salman berbagi cerita kepada kami tentang dunia penerbitan. Banyak ilmu yang bisa kami dapatkan, impian saya: saya bisa bergabung dengan kalian.

Setelah berbagi ilmu dengan mas Salman, kami kembali ke Wisma Aisyah untuk packing. hal yang membuat saya terenyuh ketika ibu pemilik Wisma mengajak kami berfoto bersama (berasa artis) dan setelah itu statusnya berucap ” Makasih romb. penulis muda Bdg.. (amiin). Meninggalkan Wisma Aisyah kami berbelanja oleh-oleh dan sekitar pukul lima sore kami tiba di stasiun Lempuyangan. Untuk kembali ke tanah tercinta Bandung.

Sebuah perjalan untuk meraih impian masih kami tempuh, pada akhirnya ketika tiba di Bandung dengan selamat, sentosa sejahtera dan tak ada satu yang kurang pun saya berpikir kalau cita-cita memang harus diperjuangkan. Bila sudah yakin dengan cita-citamu yang harus kamu lakukan adalah fokus, tak perduli seberapa ratus kali kamu terjatuh haruslah bangkit lagi. Dan saya benar-benar melakukannya untuk meraih impian saya, dulu saya memang agak ragu pada cita-cita saya ini, mengingat masih jarang ada yang menjadikan penulis sebagai impian utamanya (ambisi) tapi faktanya orang bisa sukses dalam bidang apapun bila ia fokus terhadap tujuannya dan akan sangat menyenangkan bila profesi berawal dari hobby.

Saya jadi ingat akan puisi yang saya pelajari di kampus karya Robert Frost berjudul The Road Not Taken. Saya mengambil jalan berbeda dari orang kebanyakan ketika orang-orang memilih untuk menjadi scientist, dokter dan sebagainya saya memilih menjadi penulis yang jarang orang tapaki ” I took the one less traveled by, And that has made all the difference.” Apalagi saya berkuliah di jurusan sastra ketika orang-orang semakin melupakan sastra, mungkin saya memang harus berada di jalur ini.

Dan semoga benar-benar ada KEJUTAAN untuk orang tua saya, ketika nama saya terpampang di sebuah buku sebagai penulisnya. (CEEEILEEE!!!)

IMG-20140922-WA0007

(tengah) mas Salman  bersama (dari kiri) Gelar, Ka Ica, Ka Tia, Ka Oeti, Ka Lela, Amel, Ira, Kapten Ariel, Ka Tria, Saya, dan Ka Nanae.

IMG-20140922-WA0004

Thanks to Wisma Aisyah

IMG-20140920-WA0006

(kiri) Gelar, Mas Udin, Mas Imam, Kak Tria, Saya, Kak Nanae, Kak Lela, Kak Tia, Kak Ika, Amel, Ka Ica, Ira.

IMG-20140918-WA0007

Kereta Api Kelas ekonomi yang nyaman.

Pict2393

Sebuah misi rahasia.

Saya INFP!

Bar181430_168694343290429_1151190486_nu beberapa hari lalu saya melihat tweet dari sebuah akun yang membahas kepribadian, saya langsung tertarik untuk mengetes kepribadian sendiri. Sebenarnya saya sudah pernah mencoba tes temperamen dan hasilnya adalah koleris ( Pemimpin, keras kepala). Namun ada yang berbeda dari test temperamen yang dulu pernah saya coba, kepribadian yang saya baca disebuah akun twitter tersebut menunjukkan singkatan-singkatan yang tidak saya mengerti misalnya INTJ, INTP dll. Akhirnya saya mencari tahu pada mbah google dan saya menemukan MBTI Personality.

MBTI personality adalah singkatan dari Myers-Brigg Type Indicator yang menjelaskan bahwa kepribadia memiliki 16 karakteristik. Nah, diantaranya INFP yang menjadi jenis kepribadian saya. INFP adalah singkatan dari I= Introvert N= iNtutition F= Feeling dan P= Perceiving. Katanya INFP itu adalah orang yang idealis dan pemimpi.

Awalnya saya agak kaget saat melihat hasilnya. Ah masa sih? lagi pula saya bukanlah salah satu orang yang perasa alias sensitif. Tapi setelah saya baca lagi ternyata ada yang memang cocok dari diri saya. Menurut hasil tes, INFP itu cocok untuk menjadi penulis, jurnalis dan peneliti. Saya ingat betul kalau pas kecil saya pernah bercita-cita untuk menjadi Scientist, nah pas udah gede saya emang bercita-cita jadi penulis dan jurnalis. Lumayan nyambunglah.

Saya adalah pengagum musik-musiknya Radiohead dan ternyata si om Thom Yorke berasal dari INFP dan yang ga disangka lagi ternyata orang-orang yang saya kagumi memang berasal dari INFP. Seperti Putri Diana, JK. Rowling juga Johnny Depp. Kalo dalam tokoh fiksi yang mencerminkan diri saya di buku karangan JK. Rowling yang berjudul Harry Potter adalah Luna Lovegood. Waktu zaman alay dulu, nama Facebook saya adalah Dianaira Lovegood. Karena saya emang suka sama karakter Luna yang aneh dan juga namanya yang unyu.

Dan mungkin itu memang pencerminan diri saya, karena semakin lama saya merasa cocok dengan sandangan INFP si pemimpi. Lagipula saya sangat tertarik di bidang bahasa dan sastra dan emang tipikal orang yang suka bermimpi. Tapi, katanya (lagi) INFP itu salah satu orang yang religius dan mudah depresi. Saya mikir lagi, kalo religius kayanya biasa aja deh apalagi depresi karena saya orangnya cuek. Selepas dari hal-hal itu saya bisa menerima kalo saya memang INFP.

Orang INFP itu Nerd, weird, freak. Pokoknya anehlah (anti-mainstream), saya sadar saya orangnya emang aneh –” ” But I’m a creep I’m a weirdo” kata Radiohead and it was holy sh*t, Creep adalah lagu kebangsaan saya. INFP juga individualis, emang saya banget itu, saya ga suka berada di tempat yang terlalu rame.

Kalo dibandingkan dengan tipe temperamen emang agak berbanding terbalik yang saya tahu Koleris adalah orang yang emosian, berjiwa pemimpin dan keras kepala. Kalo INFP lebih perasa, mungkin saya itu kombinasi dari sifat Koleris dan INFP. Selepas dari semua itu saya suka dengan keunikan diri saya sebagai seorang pemimpi idealis dan koleris. Setiap orang memiliki keunikan sendiri, maka dari itu ketahui kepribadianmu!!

(500) Days of Summer

Some people are meant to fall in love with each other.

But not meant to be together. -(500) Days of Summer.

I always love your smile even you never smile at me. – Dianaira-

Everything into Nothing

I will never remember you as my past nor expect you as my future. -Dianaira-

 

 

Wanita Ber-plastik Palsu

Aku melihatnya sebagai wanita yang rapuh dan penuh kepalsuan. Ia hanyalah sebuah mannequin yang akhirnya hanya dipermainkan pria dan di buang layaknya barang rusak. Kini wanita itu sedang bersedih, wajahnya yang terbuat dari plastik itu tetap dipamerkan dan menjadi pajangan.
“ Kamu cantik” banyak orang yang berkata seperti itu dan mencoba menyentuh wajahnya. Ia memang sangat cantik dan alami. Tapi tetap saja semua itu hanyalah terbuat dari plastik, kulitnya begitu putih dan kencang, tepat seperti porselen.
Ia melakukan segala cara untuk menyenangkan dunia dan dirinya sendiri. Termasuk menjalani sebuah kepalsuan dari hidupnya. Hidupnya sama seperti porselen yang mudah retak dan pecah. Dia seperti boneka yang hidup dan bukan lagi manusia yang mirip boneka. Dan lama-kelamaan baginya hidup ini akan seperti plastik yang palsu.

Fake Plastic Trees – Radiohead

#FiksiLaguku

Post Navigation