Dianaira

Petrichor

Archive for the category “Short Stories”

Terlahir dari Jemari

     Perempuan itu tak punya apapun selain jari-jemari yang kurus nan panjang beradu pada layar keyboard hingga melahirkan kata. Sesekali jemarinya terhenti, menekan backspace, kemudian  melahirkan kata baru lagi.  Ia tak pernah lupa untuk membagikan hasil tulisannya secara cuma – cuma melalui internet, namun iapun tak pernah menyadari jika ada seseorang, ah bahkan—barangkali—banyak orang yang telah jatuh cinta berawal dari kata yang dihasilkan dari jemarinya itu.

      Ia sudah memiliki lumayan banyak followers dalam akun media sosialnya. Dibandingkan cacian atau umpatan perempuan itu lebih sering menautkan blognya di akun media sosial  atau kalaupun harus, ia lebih senang berfantasi dengan film-film yang sudah ia tonton, buku-buku yang ia baca, atau musik yang ia dengar. Namun dari situ ia tak pernah tahu, bahwa akan ada cinta yang terlahir.

     Satu cara unik tuhan.

     Jari mereka saling bersentuhan.

     140 karakter.

     Seseorang yang akhirnya membuatnya merasa lebih betah untuk menatap layar laptop ataupun smartphone-nya. Tak pernah bertemu namun jari mereka selalu beradu, kata telah menuntunnya pada sebuah cerita.

     “Murakami.”

     Salah satu penulis yang sedang ia cari karya-karyanya. Sebuah kecocokan yang  mengalir begitu saja. Secara tiba-tiba lelaki itu, mem-posting buku yang sedang ia baca dalam akun media sosial 140 karakter tersebut. Perempuan itu menyambutnya dengan sebuah sambaran kecil sebagai ungkapan rasa kekaguman, hingga membuat perempuan itu lagi-lagi tersentak.

     “Nanti saya pinjamkan deh.”

     Cara unik tuhan lagi.

     Perempuan itu mengulum seyumnya, walau ia tahu entah kapan buku itu akan tiba di pelataran rumahnya. Namun dengan hal sekecil itupun telah membuatnya merasa bahagia.

     Rasa penasaran semakin hari semakin bertambah. Dengan mengandalkan sosial media 140 karakter, ia mencari tahu apa yang lelaki itu sukai atau tidak. Tentang bagaimana cara berpikirnya terhadap hal-hal yang terjadi di dunia sekitarnya. Seketika, perempuan itu menyadari bahwa ia telah menjatuhkan hatinya pada lelaki 140 karakter.

     Ia pun mulai membaca karya-karya lelaki itu yang disebarkan melalui blog pribadinya. Kemudian munculah sebuah tulisan baru yang baru lelaki itu sebarkan. Tentang seorang perempuan yang telah membuat lelaki itu merasa jatuh hati dengan judul Berawal dari Kata.

     Sebuah buku mendarat di pelataran rumahnya, sebuah janji dari 140 karakter telah lelaki itu tepati. 1Q84 telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan kecil.

     Ini adalah sebuah kedekatan yang lebih dekat dari sekadar jarak. Sejak buku itu tiba di berandanya, hatinya menjadi sering terombang-ambing. Cukup realistis kah ia? Bahkan ia  hanya tahu rupa lelaki itu lewat foto saja. Bagaimana kalau lelaki itu seorang penipu ulung, atau seorang psikopat yang sedang mencari mangsa? Sebagai perempuan—biasa—ia patut berpikiran seperti itu.

     Namun Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kata, dalam lautan tak berdasar, dalam dunia baru yang diciptakan oleh  teknologi. Mulai saat itu selalu ada yang perempuan itu tunggu selain aplikasi chatting-nya, tapi juga paket-paket yang datangnya silih berganti, berisi buku-buku kesukaannya. Setiap kurir paket tiba di depan rumahnya, setiap kurir itu mengetuk pintu rumahnya dan berteriak kata ‘paket’. Setiap ia membuka bungkusnya, selalu ada rasa baru yang muncul di benaknya, selalu ada rasa ingin bertemu meski pada akhirnya hal itu tak pernah terucap.

     Ia merasa sudah berada di zona nyaman. Ah, mungkin lebih baik seperti ini. Lagipula kalau cocok di dunia maya belum tentu cocok di dunia nyata. Jakarta-Bandung memang tidak begitu jauh, tapi memangnya ada lelaki yang mau ke Bandung hanya demi seorang perempuan, yang belum dikenal pula. Ya setidaknya tidak kenal dalam dunia nyata. Hatinya kembali terombang-ambing, satu sisi hatinya tergerak namun disisi lain ia mencoba untuk realistis

     Pada layar smartphone-nya perempuan itu kembali terpaku saat lelaki itu berujar “Saya mau ke Bandung, bertemu denganmu.”

     Pertemuan pertama.

     Ia menanti hari itu, satu langkah baru. Sungguh jika cinta memang terlahir dari kata, pertemuan hanyalah sebuah pelengkap.

     Entah apa yang bersarang dalam pikiran si perempuan. Dengan singkat ia meminta lelaki itu untuk datang ke rumahnya, bertemu dengan orang tuanya. Seorang lelaki yang bahkan belum pernah ia ingat akan senyumannya, suaranya pun belum pernah terngiang di kepalanya. Ia hanya bisa mengingat satu hal, 140 karakter.

     Sambil menunggu lelaki itu tiba di istana kecilnya, seperti adegan film Ada Apa Dengan Cinta sudah beberapa kali ia berganti pakaian, bercermin, membubuhi wajahnya dengan make up, kemudian menghapusnya lagi. Ini hanyalah sebuah pertemuan bukan kencan, lagi-lagi batinnya berujar.

     Ia mencoba menghapuskan segala prasangka, bahwa apapun yang terlihat di dunia maya, belum tentu indah di dunia nyata. Bisa saja ia merasa tertarik pada lelaki yang belum ditemuinya itu, tapi bisa juga tidak. Begitupun sebaliknya.

     “Hai.” Satu tarikan napas untuk menenangkan perasaannya yang tak karuan, ketika lelaki yang tak tahu apa-apa tentang Bandung tiba dengan selamat. Ia mengulurkan tangannya, senyuman lelaki itu akhirnya untuk pertama kalinya terekam di kepalanya.

     Satu pertemuan saja telah membuatnya merasa yakin, dugaan itu haruslah benar. Berawal dari Kata mestinya ditujukan padanya. Meski ia tahu bahwa hatinya masih membutuhkan jawaban langsung dari lelaki itu, kata dan cinta. Karena sebuah perasaan memang  baiknya untuk diungkapkan.

     Lelaki itu sudah meruntuhkan benteng hati yang telah dibuat se-kokoh mungkin. Walau iapun selalu merasa ragu. Mampukah cinta yang terlahir dari jemari ini bersambut dan bertahan lama?

     3 Minggu kemudian,

     Sebuah tautan blog muncul pada salah satu aplikasi chat-nya. Pada akhirnya lelaki itu memintanya untuk membaca hasil tulisan yang sebenarnya telah perempuan itu ketahui. Ia tak terkejut namun hatinya merasa lega, ternyata Berawal dari Kata memang ditujukan pada perempuan penyuka band Radiohead itu.

     “Tuhan telah menghendaki jari kita untuk saling beradu hingga melahirkan cinta.”

     Perempuan itu meng-klik publish hasil karya terbarunya sebagai balasan perasaan yang ia tujukan pada lelaki itu.

     Kemudian ia hanya bisa mengikuti kisah yang telah tuhan berikan kepadanya dengan cara—yang baginya—terasa sangat unik dan melebihi dari kata romantis

–.

Advertisements

Kucing Hitam

4966211_20130117081142Bagi seseorang yang pernah membaca cerita pendek karangan Edgar Allan Poe yang berjudul Black Cat, tentu tidak akan lupa dengan sosok kucing hitam bernama Pluto yang dibunuh dan menghantui majikkannya sendiri hingga ia merasa gila. Aku masih ingat akan cerita itu, cerita yang pernah aku baca secara tak sengaja ketika aku masih kecil dan  mempunyai pengaruh yang cukup kuat kepada kehidupanku sekarang. Aku tak pernah menyukai kucing hitam hingga hari ini, meski aku sangat menyukai kucing. Aku tak pernah berharap kalau aku akan memiliki seekor kucing berwarna hitam dan bermata kuning terang. Bagiku, hewan itu terlihat begitu mistis dan mengerikan. Apalagi aku memang sering mendengar mitos-mitos buruk tentang famili harimau berwarna hitam itu. Selain itu aku juga memiliki kisah yang tak masuk akal yang bahkan tak kan ada yang percaya tentang kucing hitam itu.

Kucing itu sering melewati di depan rumahku pada malam hari, ia selalu datang dengan tiba-tiba dan menghilang entah kemana. Jujur saja ketika melihatnya, aku selalu merasa bulu kudukku berdiri dan merasakan suatu kengerian yang tak masuk akal. Matanya seperti bulan sabit yang berwarna kuning terang dengan tatapannya yang  liar, rambutnya berwana hitam pekat, tubuhnya lumayan besar untuk seukuran kucing kampung lainnya, dan seringainya menunjukkan taring-taringnya yang tajam. Ia tak pernah mengeong namun ia lebih sering menyeringai ganas kepadaku dan kemudian menghilang entah kemana.

Aku melihatnya dari balik jendela, lagi-lagi kucing itu melewati depan rumahku. Ia melihatku sesaat dan kemudian berjalan dengan santai.

“ Akhir-akhir kucing hitam itu selalu lewat depan rumahku Dev, ada apa ya?“ kataku memecahkan hening diantara aku dan Devan.

“ Ada yang mau meninggal mungkin” Devan menjawab seenaknya.

“ Kamu ngomong apa sih? Nakut nakutin aja.” Aku memukul badan Devan dengan sebuah majalah yang sedang aku baca.

“ Nal, kamu kan tau menurut mitos kucing hitam itu melambangkan kematian, sihir dan hal-hal buruk lainnya. Mungkin emang bakal terjadi hal buruk.” Aku terdiam.

“ Kamu percaya? Aku bercanda Nal” lanjut Devan sedikit tertawa.

“ Kamu apaan sih nggak lucu tau?”

“ Jangan ngambek dong ” Devan melihat jam yang melingkar di lengan bawahnya, waktu sudah menunjukkan waktu jam setengah sebelas malam. “ Udah malem Nal, aku pulang ya.”

Devan memakai jaket kulit berwarna hitam, dan pamit kepada kedua orang tuaku. Aku mengantarnya sampai depan rumah.

“ Hati-hati ya, Dev. Mau hujan nih”

Sebuah motor berukuran besar sudah siap melaju, ia menyunggingkan senyum dengan sebuah helm yang sedang ia genggam. Lagi, kucing hitam itu muncul dengan tiba-tiba.

“ Tuh kan kucingnya ada lagi.” kataku dengan nada takut.

Kucing itu mendekati motor Devan dan mengelus-elus kaki Devan yang masih berpijak pada tanah. “ Kamu kenapa sih Nal? Kucing gini doang ditakutin. Padahal kamu kan punya kucing.” Aku tidak menjawab perkataan Devan. Ia memakai helm dan menyalakan gas hingga kemudian berlalu meninggalkan aku bersama kucing hitam mengerikan itu. Mungkin ini hanya firasatku saja, atau rasa takutku akibat membaca cerpen karangan Edgar Allan Poe hingga berkali-kali itu. Aku berusaha mendekati dan menyapanya dengan nada halus.

“ Pssst… meong sini sayang.” Namun, ternyata ia tak mau aku dekati. Ia malah mendesis dan pergi meninggalkanku.

Setelah malam itu Devan terlihat agak berbeda. Ia selalu bertanya padaku apakah kucing berwarna hitam itu masih sering melewati depan rumahku atau tidak. Jujur saja, sudah beberapa hari  aku tak pernah melihat kucing  aneh itu lagi.  Aku bertanya padanya, namun ia tidak ada jawaban yang menurutku sesuai dengan apa yang sudah aku tanyakan padanya.

“ Kamu kenapa sih nanyain kucing itu terus, kok jadi kamu yang paranoid sih?”

“ Nggak kenapa-napa Nal aku cuman nanya aja.  Barangkali kamu masih ketakutan sama itu kucing.”

Aku berdiri menyentuh kaca jendela, pandangnaku mengarah pada jalanana yang kosong hingga tatapan kami bertemu. Ia menatapku dengan matanya yang bulat itu.

“ Itu kucingnya Dev.” Devan langsung bereaksi, tatapannya begitu serius, entah mengapa wajahnya menjadi pucat. Devan langsung menghampiriku.

Setelah melihat kucing itu, tanpa berkata-kata ia langsung berlari keluar. Aku hanya bisa melongo dan mengikutinya.

“ Berarti dia masih hidup, terus yang kemarin berarti kucing lain.”

“ Maksud kamu?” aku masih berada di belakangnya ketika ia berkata seperti itu.

“ Ah, ngga Nal” katanya gugup.

“ Pssst meong.. Devan berusaha mendekati kucing itu. Namun, ia malah pergi.

“ Syukur deh.. berarti salah liat.”

“ Kamu kenapa sih ko aneh banget?”

Devan tidak menjawab perkataanku.

Keanehan mulai terjadi, setelah kuperhatikan dengan seksama kucing itu selalu muncul hanya ketika Devan sedang bersama denganku.

“ Ko aneh ya setelah aku perhatiin itu kucing bakal muncul pas ada kamu.” Kataku di sebuah warung makan soto.

“ Masa sih?” Devan masih berkonsentrasi pada satu porsi sotonya.

“ Iya Dev, aku nggak akan ngeliat kucing itu kalau ngga ada kamu.”

“ Hmm… sebenernya gini Nal, aku justru hampir setiap hari ngeliat kucing hitam persis kaya’ yang sering kita liat.”

“ Maksudnya?”

“ Aku pikir itu kucing lain, tapi pas diperhatiin ko sama ya? Kucing itu jadi sering datengin aku kaya’ hantu Nal.” Devan mulai serius. “ Kamu inget kan waktu kucing itu pernah ngelus-ngelus kaki aku? Waktu itu hujannya gede banget Nal. Aku bener-bener ngga sengaja nabrak kucing. Aku pikir itu kucing yang sama soalnya warnanya sama persis, tapi mana mungkin soalnya pas aku nabrak posisi aku tuh udah jauh dari rumah kamu. Asalnya aku mau ngubur dia, tapi ujannya gede banget. Jadi, aku tinggalin di pinggir jalan.”

“ Ya ampuun Dev ko kamu tega banget sih” aku tak habis pikir, Devan tega melakukan hal seperti itu. Aku buang muka , di seberang jalan aku menangkap pandangan seekor kucing yang juga sedang menatapku.

“ Dev.. itu kucingnya ngikutin kita.” Mata Devan langsung menangkap seekor kucing yang berada tepat di seberang jalan. Dengan tergesa-gesa kami menghabiskan semangkuk soto.

Aku dan Devan berlari mengejar kucing hitam itu, ia berlari dengan cukup cepat namun, seakan memberi kami petunjuk untuk tetap mengejarnya. Kami sampai di suatu tempat yang cukup familiar.

“ Di sini aku nabrak kucing itu di daerah sini.”

“ Di mananya Dev?” aku mencari-cari bangkai kucing yang mungkin sudah dua minggu membusuk karena tak di kubur. Hingga akhirnya aku mencium bau yang tak enak dan melihat kucing bangkai kucing yang sudah membusuk itu. “ Devaan, ini kucingnya sebelah sini.” Namun Devan tidak menjawab.” Kinaal, aku dapat kucingnya.” Jawab Devan. Aku memang melihat sesosok kucing hitam itu lagi tepat di seberang jalan. Dengan tergesa-gesa Devan menyebrang tanpa menoleh ke arah kiri dan kanan. Hingga sebuah mobil berwarna hitam menabrak tubuhnya. “ Devaaaann……!!!!” teriakku. Sedangkan kucing hitam itu menghilang entah kemana.

I Love You, You Love Her but She Belongs to Him

KCD-01_zpsd7686963Ia masih memalingkan perasaannya pada gadis itu. Seseorang yang sebenarnya tak mungkin ia raih. Gadis itu memang cantik—primadona kelasku—bermata bundar, memiliki hidung yang kecil dan lancip juga kulit yang lumayan putih. Namun, hanya tinggal hitungan bulan saja sebuah cincin akan segera melingkar di jari manisnya. Naya memang dijodohkan oleh ke dua orang tuanya dengan lelaki yang sepuluh tahun lebih tua darinya, jelas ia tak mampu menolak karena tuntutan ekonomi, namun hal yang paling menyedihkan adalah Naya dan Deva tetap menjalani sebuah hubungan yang sepatutnya tidak terjadi pada wanita yang siap dipinang.

Aku masih menyukainya. Seseorang yang tak pernah menoleh ke arahku—yang dengan sengaja selalu memberikan perhatiannya pada wanita yang sebentar lagi akan dinikahi oleh lelaki lain—dan selalu memberikan senyumnya pada gadis sok polos itu. Dia Deva, seseorang bertubuh tinggi nan kurus serta kulitnya yang berwarna kecokelatan. Wajahnya tak begitu tampan, namun aku tak mengerti sejak kapan menyimpan perasaan ini padanya.

Sebenarnya banyak sekali yang kubagi dengannya. Hatiku telah memilih dan meyakini bahwa lelaki yang selalu memakai kaos bertuliskan “ Bring Me The Horizon” itu adalah seseorang yang kucari selama ini. Apalagi setelah aku tahu bahwa kami memiliki selera musik yang sama, kami sama-sama menyukai musik Hardcore. Sejak itu aku memutuskan untuk terus memelihara perasaan ini selama bertahun-tahun.

Di kampus pertama kali aku berjumpa dengannya. Sejak awal ia memang sudah menaruh perhatian pada gadis bernama Naya itu. Apapun yang Naya pinta pasti selalu ia turuti demi mendapat perhatian darinya. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan dengan tatapan yang agak kesal.

Aku masih terbaring bersama khayalku yang menggantung di langit-langit kamar. Sesekali memainkan jemari dan membentuknya menjadi lambang metal. Kakiku berusaha menendang langit, bibirku tak hentinya bergerak mengucapkan kalimat bahasa Inggris yang kadang membuat lidahku bergerak tak karuan. Ku mainkan rambutku yang tergerai panjang yang menyentuh sprei dan menutupi sebagian dari wajah. Aku bangkit dan melonjak-lonjakkan kakiku hingga suara ranjang berderik meminta tolong. Tanganku berpura-pura menggenggam microphone, dan menyanyikan band kesukaanku Sleeping With Sirens.

Tembok pun menutup telinganya saat mendengar  Kellin Quinn mengeluarkan suara scream. Tembok malang yang dihiasi berbagi poster band metal itu masih berusaha tegak berdiri. Sound speaker dari komputerku aku putar sekencang-kencangnya. Seperti inilah hidupku dihiasi oleh musik-musik bernada kencang dan keras yang juga bisa juga diartikan sebagai pelarian atas perasaan yang mengendap di dasar hatiku.

Sementara langit kabupaten Bandung di hari minggu masih cerah. Aku harap hujan tak akan mengguyur daerah ini. Jika hujan, aku pasti akan segera bersiap-siap mengantisipasi banjir dan mengangkat barang-barang ke atas loteng. Sungguh hal ini sudah menjadi kebiasaan keluargaku yang sebenarnya membuatku begitu lelah.

Besok rutinitas kembali di mulai. Dengan berbagai perasaan yang selalu bergejolak di dalam dada. Dengan rasa cemburu yang selalu menimpa hidupku, aku harus mampu menghadapi dua sejoli yang di mabuk asmara itu. Mendengarkan cerita-cerita Naya yang bimbang karena akan segera dinikahi oleh pria mapan. Sebenarnya hatiku sangat gembira saat mendengar Naya akan segera menikah dengan pria lain, namun setengah dari hatiku juga merasa sedih melihat Deva harus patah hati.

Tak ada yang lebih melelahkan selain menempuh perjalanan ke kampus. Kampus ku memang berada di ujung kota Bandung, bayangkan saja dari ujung ke ujung dan aku harus melewatinya bertahun-tahun dengan 4 angkot. Setiap hari aku harus siap bangun lebih pagi dan menaikki 4 jurusan angkot yang berbeda Ciparay- Dayeuh kolot, Dayeuh Kolot- Buah Batu, angkot berwarna cokelat dan Cicadas-Cibiru. Pernah aku merengek untuk dibelikan motor kepada ke dua orang tuaku namun sepertinya mereka masih terlalu takut, mengingat aku adalah satu-satunya anak mereka.

Dengan langkah cepat, aku masih menyumpahi angkot yang telah membuatku terlambat masuk kelas. Berulang kali aku menatap arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Jarum panjang dan pendeknya sama-sama menunjukkan angka 8 aku terlambat hampir setengah jam.

Hari ini adalah mata kuliah Survey of Victorian Literature. Ya, aku memang berkuliah di jurusan sastra Inggris. Pada saat itu aku tak mengerti mengapa aku memilih jurusan ini, aku hanya melakukan ritual menutup mata dan memilih sekenanya.

Sialan, pak Ramzi adalah dosen dari mata kuliah yang biasa disingkat Sovlit itu, ia dosen terkiller. Ia selalu memberikan kuis mendadak bagi siapa saja yang terlambat masuk ke kelasnya.

Perjuangan yang sangat melelahkan, aku berhasil meraih pintu yang terletak di lantai tiga itu. Aku menarik napas panjang dan meraih gagang pintu yang memberikan aroma mistik itu, semoga aku tidak mendapatkan kuis mendadak dari Pak. Ramzi.

“ Boleh masuk pak?” kataku dengan nada ragu.

Pria berbadan besar bagai Bodyguard itu menganggukkan kepalanya, dengan tatapan acuh tak acuh. Aku duduk di baris paling depan lantaran hanya bangku itulah yang masih tersisa.

“ Lo dari mana aja sih?” Ariana berbisik padaku.

“ Gila! Angkotnya ngetem. Sialan bangetlah.”

“ Eh, udah denger info belum?”

“ Apaan?” aku membalas bisikkannya dengan rasa penasaran. Sesekali aku menatap raut muka pak Ramzi yang sedang menerangkan materi kuliah yang sebenarnya tak begitu aku pahami. Aku harap ia tak menyadari tingkah kami yang sedang asyik membicarakan hal lain.

“ Bulan depan Naya mau nikah. Sekarang dia udah berhenti kuliah, calon suaminya nggak izinin dia ngelanjutin.”

Sontak aku merasa kaget. Tatapanku kembali tertuju pada pak. Ramzi yang sedang asyik bersama power point yang ia tunjukkan melalui proyektor. Ia tak menyadari ekspresi kaget yang aku tuangkan dengan menutup mulut dengan ke dua tanganku. Bukannya Naya baru akan menikah tahun depan. Lantas bagaimana dengan nasib Deva?

“ Gue pingin banget ngeliat gimana mukanya Deva pas Naya nikah. Pasti sakit tuh, lagian Naya udah mau nikah masih aja nekat dipacarin.” Jelas Ariana dengan nada meringis.

“ Iya Ri, gue juga ngerasa puas ngeliat Deva patah hati.” Apa yang telah aku katakan jelas berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. Deva yang sangat memuja Naya, hatinya pasti hancur berkeping-keping. Hatiku pun merasa teriris bisa saja Deva kehilangan semangat hidupnya.

“ Ran, lo udah nggak suka sama Deva kan?”

“ Ya, enggaklah. Cowo freak kaya’ dia mana mungkin masih gue pertahanin.” Lagi-lagi apa yang telah kukatakan berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan. Aku memaksakan senyumku mengembang dan memperlihatkannya pada Ariana. Perempuan berwajah imut itu membalas senyumanku dan memalingkan pandangannya pada layar, kemudian ia mencatatnya pada binder kesayangannya yang berwarna merah itu.

Sejak dulu Ariana memang tidak pernah menyukai Deva, Begitu pula dengan Kayana teman seperjuanganku yang satu lagi. Yang lebih parahnya lagi hampir seisi kelas tak ada yang menyukai Deva selain aku dan Naya tentunya. Kesalahan terbesar yang dilakukan Deva adalah mencintai seseorang yang sudah hampir dipinang. Bahkan ia rela melakukan segala cara demi mendapatkan cinta Naya dan hasilnya perempuan bermata bundar itu juga membalas perasaannya meski tetap saja tak merubah keadaan untuk membatalkan hari pernikahan.

Di sela pintu yang sedikit terbuka, aku melihat Deva. Ia memakai kemeja kotak-kotak yang bagian lengannya ia lipat hingga sebatas siku. Sebuah kacamata stylish ia gunakan sebagai penghias, sebuah topi berwarna biru dan hitam juga terpasang rapi di kepalanya. Aku teringat pada yang Kayana katakan waktu itu, katanya gayanya terlihat berlebihan sebagai lelaki yang menyukai musik metal. Memang iya, tapi apa peduliku toh aku tetap menyukainya.

Dengan Mata Kuliah yang sama, ia masuk seusai kelasku berakhir. Sementara ia masih asyik pada smartphone dan juga sepasang handsfree yang menempel di telinganya. Pikiranku menerawang, musik apakah yang sedang ia dengarkan sekarang? Sleeping With Sirens, Bring Me The Horizon, Burgerkill atau Dream Theater? Sungguh aku penasaran akan musik yang sedang ia dengarkan itu. Aku ingin berbagi pengetahuan musik metalku padanya.

Lalu aku teringat pada yang dikatakan Ariana barusan. Sontak aku ingin memahami perasaannya, hatinya pasti sedang kalut dan bercampur aduk. Orang yang ia cintai akan menikah hanya dengan hitungan minggu. Mungkinkah musik metal adalah pelarian dari kesedihan dan kemarahannya sama?

Tiba-tiba Kayana bangkit dari tempat duduknya, ia menutup pintu rapat-rapat. Harapanku untuk menatap Deva lama-lama sirna sudah. Pandangaku kembali tertuju pada layar proyektor, dengan lagak sok serius aku mulai mencatat hal-hal yang sudah diterangkan oleh pak Ramzi.

Cincin sudah melingkar di jari manis Naya, terhitung sudah tiga bulan sejak hari pernikahannya. Akupun tak lupa untuk mengecek status yang telah dibuat Deva sebagai luapan perasaannya. Di mulai dari Facebook, twitter, BBM hingga Path. Untaian kalimat mengandung makna patah hati ia luapkan di semua jejaring sosial. Perasaanku ikut teriris meski harusnya aku merasa bahagia.

Di hari pernikahannya Naya memang terlihat berbeda. Senyumnya selalu ia tebarkan pada tamu yang berusaha menyalaminya di pelaminan. Kebaya berwarna merah tua begitu cocok ia kenakan pada tubuhnya yang ramping. Akupun berusaha membalut rasa tak sukaku padanya dengan sebuah senyuman dan ucapan selamat yang ia balas dengan sebuah pelukan dan sampai detik ini aku masih tak memahami yang sebenarnya Naya rasakan, entah bahagia atau justru kesedihan sedang melanda hatinya. Tak kulihat batang hidung Deva sama sekali selama acara resepsi berlangsung, ah mana mungkin ia bisa menguatkan hatinya saat melihat gadis yang ia cintai bersanding dengan lelaki lain.

You’re so beautiful and I can’t forget your lips when you smile at me.

Aku yakin pernikahan tak menjamin sebuah kebahagiaan.

Itulah dua status terakhir yang ia tulis di beberapa jejaring sosial. Hatiku merasa iba, meski sejumlah pertanyaan juga menumpuk. Apakah hanya Naya yang kau cinta? Kenapa hanya Naya yang kau cinta? Bagaimana bisa hanya Naya yang kau cintai? Kapan kau akan berpaling dari Naya?

Aku masih mengenggam smartphoneku dengan hati teriris, di ruangan yang bernamakan kamar ini aku bisa dengan leluasa meluapkan perasaan. Aku masih duduk dipojok kasur dekat jendela sambil melipat kedua lututku dan membalutnya dengan kedua tanganku. Sudah tiga bulan Naya menikah. Memang tak mudah untuk melupakan seseorang yang sangat dicintai. Harapanku masih per nol sekian persen untuk membuat Deva menyukaiku, meski kami memiliki kegemaran musik yang sama.

Namun tiba-tiba sebuah kabar mengejutkan datang dari Naya. Baru sekitar dua menit yang lalu ia memperbaharui statusnya “ Alhamdulillah, kandunganku sudah berusia 2 bulan. Mudah-mudahan diberi kelancaran. Amiin. J”  Naya akhirnya akan menjadi seorang ibu.

“ Kalian kan punya selera musik yang sama. Deketin aja kenapa sih, lagian Deva belum deket sama siapa-siapa lagi” Kayana meyakinkanku sehabis pulang ngampus. Akhirnya Ariana dan Kayana tahu bahwa aku masih menyimpan perasaan pada lelaki bertubuh kurus itu.

“ Gimana caranyaa Kaaay?”

“ Yah gampang, lo tuh kan admin twitter Sleeping With Sirens Bandung tuh. Ajak aja ke event-event SWS. Terus kalian bisa tuker-tukeran lagu-lagu yang lo suka.” Kayana masih sibuk dengan segelas jus jambu yang meluncur melalui sedotannya. Sedangkan Ariana masih sibuk dengan seporsi seblak1 yang berhasil membuatnya bungkam karena kepedasan.

“ Boro-boro nanya Kaay, tiap ketemu sama dia. Lutut gue terasa lumpuh, gue ngga bisa ngapa-ngapain lagi lidah gue juga langsung kaku kalau ketemu dia.”

“ Emang lo sesuka itu ya sama si Logay?” kata Ariana berusaha menelan makanannya, bibirnya berwarna merah menyala. Logay adalah singkatan dari Loba Gaya yang bila dibahasa Indonesiakan berarti Banyak gaya.

Aku mengangguk lemah sambil menatap poster boyband Korea yang tertempel di dinding kosan Kayana. Kamar berukuran 5×6 meter itu adalah tempat peristirahatanku yang paling nyaman, harus kuakui sebagai pecinta musik Hardcore aku juga menyukai Boyband asal negeri ginseng itu, khususnya Big Bang.

“ Jujur ya dari dulu sampe sekarang gue nggak pernah suka sama si Deva.” Sambung Kayana.

“ Iyaaa gue tau.”

“ Nah untuk ratusan kalinya gue tanya ke lo. Kenapa lo suka sama Deva?”

Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemah. Tak ada jawaban yang tepat untuk menjelaskan alasan mengapa aku begitu menyukainya, mulutku bungkam oleh sesumpit lumpiah basah yang aku beli di dekat kampus. Sebentar lagi aku akan menginjak tingkat akhir, namun perasaan ini belum juga berakhir.

“ Naya udah melahirkan belum ya?” Ariana memecahkan lamunan kami bertiga.

“ Nggak tahu, gue belum ngedenger kabar lagi.”

“ Harusnya sih udah.” Kayana mencoba mengkalkulasi waktu kehamilan dengan jarinya.

“ Ciie Rana.. udah mau punya keponakan nih.” Ariana menggodaku.

“ Sialaaan!! ”

“ Iih nggak boleh gitu sama keponakan, harus baik-baik.”

Mereka berdua tak hentinya menggodaku dengan candaan. Sesekali aku ikut tertawa, namun aku pun merasa geli ketika anak Naya memanggilku dengan sebutan tante nantinya. Anak seseorang yang sangat dicintai Deva, seseorang yang sangat aku cintai.

Sumpitan terakhir sudah berhasil ku lahap dengan rasa kenyang dan ditutup dengan tegukkan air mineral yang membasuh dahaga. Setelah menahan lapar sejak jam kuliah selesai, aku merasa puas. Aku berbaring di atas kasur dan mulai mengeluarkan sepasang headset dan siap menempelkannya pada smartphone. Lagu Don’t go yang dibawakan oleh lelaki tampan bernama Oliver Sykes dan bandnya yang bernama Bring Me The Horizon mulai menggema di kepalaku. Perlahan namun pasti aku mulai terlalap hingga sesaat kemudian Ariana dan Kayana menindih badanku.

 Aku memutuskan untuk menyimpan perasaanku sendiri. Tak ada kesempatan bagiku untuk mendekati Deva. Ia masih terpuruk dan masih menyimpan perasaannya untuk Naya. Sampai hari ini pun status-status yang ia buat hanya untuk perempuan beranak satu itu. Aku pun tak hentinya hanya bisa memandang Deva dari kejauhan, sambil berharap waktu akan membuat Deva melupakan Naya atau setidaknya waktu dapat membuatku melupakan Deva.

 Kami berada di ruangan yang sama. Mata kuliah umum menyatukan kami, ia duduk tepat didepanku. Sekujur tubuhku serasa tersetrum, perasaan itu masih tersimpan di dasar hatiku.

“ Eheem.” Kayana berdehem sekeras mungkin. Aku mengerti, Kay sedang melakukan kode.

Aku masih terdiam sambil membenarkan wajahku yang tersipu. Aku tak mampu menahan senyuman yang dengan spontan tersungging di ujung bibir. Perasaanku tak karuan sambil menggantungkan kakiku di kaki kursi.

Berada di belakangnya saja mampu membuatku merasa begitu bahagia, meski hanya melihat tulang punggungnya aku tak kuasa menahan senyuman. Materi kuliah yang dijelaskan oleh pak Ahmad pun terasa menguap. Rasanya ingin terus berada di posisi ini, berada tepat dibelakangnya. Mengamati ujung rambut yang menyentuh kerah kemejanya juga tulang leher yang jenjang itu. Sesekali tangannya yang kurus itu menyentuh tungkai leher. Posisi duduk yang berubah dari menyender hingga tegak menghadap ke depan. Aku masih asik mengamatinya, sampai tak sadar materi sudah dijelaskan seluruhnya oleh pak Ahmad.

Setelah pak Ahmad keluar dari kelas, para mahasiswa langsung berhamburan keluar. Meja dan lutut saling berantuk sedangkan Deva masih asik pada smartphone. Rasanya berat untuk meninggalkannya dari ruangan ini. Ariana dan Kayana pergi entah kemana, langkahku terasa memberat. Namun apa lagi yang bisa kulakukan di sini rasanya aneh bila aku berlama-lama di tempat ini.

Kuputuskan untuk meninggalkannya sambil berharap ia akan menoleh ke arahku. Namun aku rasa itu hanya tinggal di anganku saja, Deva tak pernah mengarahkan pandangannya padaku.

Deva memang sudah sangat keterlaluan. Rasa cintanya pada Naya tak mampu ia hentikan, perasaannya malah semakin menggebu. Aku tak memahami bagaimana Naya sangat berarti bagi hidupnya sampai detik ini. Seperti sebuah kalimat yang begitu familiar ku dengar “ ku tunggu jandamu”. Ya, Deva masih mau menunggu Naya seorang wanita bersuami dan beranak satu.

Semakin banyak gosip miring yang bermunculan, meski Naya sudah berhenti kuliah. Kisah hidup Naya masih selalu menjadi pusat perhatian. Orang-orang masih banyak yang membicarakannya, tentang sebuah hubungan terlarang antara Deva dan dirinya.

Begitu kerasnya perasaan Deva, bagiku harusnya Deva sadar diri. Tak sepatutnya ia masih menunggu perempuan yang sudah dinikahi orang lain, tak etis rasanya bila Deva tetap mempertahankan Naya. Sementara, aku yakin bila harus memilih Naya pasti akan tetap memilih suaminya yang mampu memberinya nafkah secara lahir dan bathin sedangkan Deva hanyalah mahasiswa dan pemain band di kampus.

Atau Naya yang harusnya sadar diri karena tak pantas seorang istri menjalin sebuah hubungan rahasia dibelakang suaminya, apalagi kini ia sudah memiliki seorang putra. Seharusnya Naya bisa melepaskan Deva seseorang yang sangat mencintainya itu. Bila Naya tak melepaskan Deva, tentu saja Deva akann terus bertahan untuk Naya.

Dan mungkin aku yang seharusnya sadar diri. Aku takkan pernah menjadi bagian penting dalam hidup Deva. Lagipula, kami tak begitu saling mengenal. Yang ia tahu tentangku hanyalah selera musik yang sama.

Salah mataku yang  peka melihatnya saat pertama bertemu, Salah bibirku yang selalu membalas senyumannya meski ia tak tersenyum padaku, salah lututku yang selalu lemas bila melihatnya, salah pendengaranku yang menyukai musik sama seperti yag ia suka.

Secangkir Hot Capuccino masih terisi penuh, lukisan cokelat bubuk bertuliskan “ Good Luck” masih terhias rapi diantara busa yang menempel hingga bibir cangkir. Aku sama sekali tak berniat untuk mengaduk abjad yang berisikan harapan itu sama sekali. Sesekali jari telunjukku menyentuh bibir cangkir yang dihiasi oleh busa. Aku merasa tak mengenali diriku sendiri, sebegitu hebatnyakah cinta sampai mampu mengubah diriku yang biasanya selalu asyik sendiri dengan Sleeping With Sirens, Bring Me The Horizon dan Burgerkill.

Diantara keramaian aku merasa begitu seorang diri. Meski musik telah terpasang keras-keras ditelingaku, keramaian De’ Kaffee juga tak mampu membuatku merasa nyaman. Tak biasanya aku berada di tempat seperti ini, karena jujur saja aku lebih sering kumpul bareng di Basecamp bersama komunitas penikmat band Hardcore.

Sebuah tiket acara musik bernamakan Bandung Berisik masih berada digenggamanku. Bandung Berisik adalah acara tahunan yang diisi oleh band-band indie beraliran metal seperti Burgerkill dll. Aku tak pernah absen untuk menontonnya, apalagi harganya bisa dibilang murah. Acara seperti ini memang selalu ku nantikan setiap tahunnya.

Namun ada yang berbeda sejak bertemu dengan Deva. Disetiap tahun aku selalu berharap tiket yang kugenggam sekarang ini berjumlah dua. Satu untukku dan satu lagi untuk Deva. Dalam imajinasiku kami berteriak bersama, menyanyikan lagu keras bersama-sama. Namun sekalipun aku tak pernah melakukannya bersama Deva.

Aku merasa sepi namun tak ingin pulang. Dibalik kaca aku masih menatap jalanan Braga yang begitu lengang berbeda dari biasanya. Sedangkan waktu masih menunjukkan jam 4 sore, tak seharusnya aku berada disini mengingat angkot yang semakin malam akan semakin sepi. Akhirnya aku mencapur kata “ Good Luck” itu dan meneguknya secara perlahan. Meski sudah mulai mendingin aku masih menikmati rasa yang tercipta oleh sang Coffee Maker.

Aku masih memandang jalanan Braga dengan tatapan kosong sampai pandanganku tertuju pada seorang perempuan berambut panjang, ia begitu cantik dengan sepatu wedges yang terhias di kakinya yang semampai, Dress biru yang ia kenakan begitu cocok untuk tubuhnya yang ramping, tak lupa pula sebuah Sling bag terhias dibahunya yang kecil.

Ia baru saja turun dari sebuah motor gede sambil sesekali menatap kaca spion dan membenarkan rambutnya yang tadi tertutup oleh sebuah helm. Sedang didekatnya ada seorang pria bertubuh jangkung dan berbadan kurus. Aku bisa menebak bahwa lelaki itu adalah kekasihnya. Dan aku kembali meneguk Capuccino yang mulai mendingin itu.

Gadis itu lebih dulu memasuki De’Kaffee, sambil masih bingung mencari tempat duduk yang masih kosong. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat kekasihnya yang masih berada di luar. Kemudian dengan mesra lelaki itu meraih tangannya, ia tersenyum.

Ia adalah orang yang aku kenal. Seseorang berbadan tinggi dan bertubuh kurus. Aku terkejut ternyata ia adalah seseorang yang bernama Deva. Aku meremas  kedua tanganku dan menjadikannaya dua buah kepalan seprti bola. Lututku terasa lemas. Bagaimana mungkin Deva mampu berkencan dengan wanita selain Naya? Bukannya ia tak pernah bisa melupakan perempuan bersuami itu? Kini matanya mencari-cari tempat yang nyaman untuk mereka tempati. Sampai pandangannya tertuju dan pandangan kami saling bertaut , matanya menyipit dan tersenyum tipis  kini aku yakin ia sedang tersenyum ke arahku.

Satu detik senyuman yang ia berikan padaku, ku balas dengan hati yang begitu teriris. Sepertinya Deva sudah mulai berusaha untuk melupakan Naya dengan perempuan lain yang pastinya bukan aku.

Kusimpan rasa ini dalam-dalam pada seorang pria yang sama sekali tak menyadari bahwa ada seseorang yang begitu dalamnya memiliki perasaan hanya untuknya. Aku memang tak pernah menjadi bagian dari kehidupan Deva, percuma saja berani mendekati dan menyatakan perasaanku padanya, karena Deva hanya berkutat pada gadis yang ia cintai.

Sebuah tiket Bandung Berisik masih berada digenggamanku yang baru saja membuatnya menjadi sebuah kepalan. Aku kembali merapikannya, sambil menata kembali  tulang-tulangku yang lemas remuk itu . Meski berat rasanya aku harus segera meninggalkan tempat ini.

Mereka Datang dan Menjelma Aku

Kamu dikalahkan oleh peran yang kamu ciptakan sendiri. Kata-kata itu masih sangat terngiang dikepalaku, Dirga berulang kali mengatakan hal itu. Aku hanya bisa menelan ludah atas semua hal yang telah aku lakukan, ‘aku sudah tidak mengenalmu’. Aku tak pernah bisa melupakan semua kalimat yang terucap dari bibirnya itu, kalimat itu adalah hal terakhir yang aku dengar sampai hari ini.

Di sebuah ruangan pengap ini aku terbaring. Ruangan ini sangat bau, maklum aku tak begitu suka dengan aroma khas obat-obatan. Sudah seminggu aku berada di tempat ini dengan sebuah alat bernama Elektrokardiagram yang bertugas mendeteksi denyut jantungku serta berbagai alat suntik, infus dan opname sebagai alat untuk bernafas. Aku melihat diriku yang terbaring itu, sejenak aku berpikir keras untuk kembali pada tubuh yang lemah itu. Aku perhatikan tiap bagian tubuhnya, hingga ke pergelangannya yang memiliki bekas sayatan.

Aku tak bisa mengingat atas apa yang telah aku lakukan pada tubuhku yang malang itu hingga akhirnya Dirga datang dan menjenguk. Aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan—mungkin karena kami berbeda dimensi—aku hanya bisa memperhatikan gerak-geriknya yang penuh kesedihan itu.

Berulang kali aku mencoba membunuh diriku sendiri, meski pada dasarnya aku memang sudah mati. Akhirnya aku ingat semua itu. Sebuah potongan beling kini berada di ingatanku. Tangan yang bersimbah darah itu seakan menjelma dan mengotori roh ini.

“ Dia datang Dir.” Kataku dengan mata yang sangat ketakutan. “ Dia siapa?!” “ Dia, dia yang datang dari kegelapan, dia sisi gelapku.” Aku masih mencoba meyakinkan Dirga, bahwa ada seseorang yang selalu mengejarku, yaitu diriku sendiri. “ Kamu kenapa sih akhir-akhir ini jadi sering berhalusinasi Gis? Nggak ada yang datang Gisaang. Di sini cuman kita berdua. Percaya sama suamimu ini.” “ Nggak Dirga, dia datang, dia mengejarku, AKU BISA GILA!!” aku mengacak-acak rambutku yang tergerai itu. Sesaat aku berteriak dan melempar semua benda yang ada di hadapanku.
Ada sesuatu yang mengejarku, ia adalah diriku sendiri. Ia datang lewat mimpi dan bayangan cermin, aku yakin dia akan menangkapku dengan tatapannya yang menyeringai itu. Dia memiliki kekuatan yang sangat jahat dan gelap. Aku tak berani untuk menatapnya, meski ia selalu datang tanpa diduga-duga.
Semua itu terjadi sejak aku menjadi seorang penulis fiksi profesional, setelah buku pertamaku berhasil di terbitkan oleh salah satu penerbit ternama. Aku memang sangat tertarik untuk menulis cerita-cerita thriller yang mengandung unsur darah dan pembunuhan, buku pertamaku yang berjudul “ The Confessions” itu memanglah ber-genre thriller. Aku seakan terjebak pada sebuah peran yang aku ciptakan entah ini sebagian dari naluri psikopatku atau memang bakatku yang lebih terasah saat menulis sesuatu yang penuh dengan kengerian dan kekejian.
Aku telah menerbitkan 10 buku dan semuanya ber-genre Thriller, kadang suamiku Dirga selalu mengingatkanku agar aku tidak terjebak dengan sebuah genre. Kini aku terkena dampaknya, tokoh yang aku ciptakan tiba-tiba menjelma yang semakin lama berubah menjadi diriku sendiri.
“ Dir, kamu ingatkan tokoh Kyrani yang aku ciptakan? Dia memanggilku, dia datang dengan satu matanya yang buta itu. Dia datang dan tiba-tiba berubah menjadi aku. Ingat kamu jangan sekali-kali mematikan laampu atau ia akan datang membunuhku, membunuh kita. Jangan tinggalkan aku sendirian Dirgaaa.. aku ketakutan sangat ketakutan.” Dipojok kamar aku duduk dengan lutut yang terlipat dan tangan yang tak terlepas memeluk lututku sendiri.
“ Nggak ada yang akan datang Gisang. Kamu cuman berhalusinasi. Kamu harus kembali ke psikiater. Kamu harus banyak istirahat.”
“ Kamu pikir aku gila?! Aku nggak GILA!! Mereka memang datang, semua tokoh yang aku ciptakan datang dari kegelapan. Lama kelamaan mereka menyatu dan berubah menjadi diriku sendiri. Kamu tahu kenapa dia datang? Apalagi kalau tidak untuk membunuhku.!!”
“ Kamu nggak gila sayang, tapi kamu harus berkonsultasi. Kamu sudah minum obat penenang hari ini?”
“ Berhenti menyuruhku memakan obat sialan itu. Kau tahu, dia membuatku tertidur. Mereka akan mendatangiku lewat mimpi. Aku tak mau tertidur atau aku akan kalah dari mereka.” Kataku dengan nada bersungguh-sungguh, sudah dua hari aku tak tidur. Aku sangat takut saat memejamkan mata, saat melihat cermin dan juga saat berada di kegelapan.
Dirga tiba-tiba kehilangan kendali dan berteriak “ Dasar wanita sialan!! Ya, kamu memang sudah gila. Aku sudah bilang padamu berkali-kali agar meninggalkan ceritamu yang penuh darah dan mengerikan itu!! Aku sendiri selalu ngeri saat membaca ceritamu itu, apa kau tak merasakannya sama sekali? Wajar saja bila mereka mendatangimu. Mungkin mereka ingin membalas dendam atas cerita yang telah kau buat. Aku lelah dengan semua perubahan sikapmu itu, kau menjadi aneh luar biasa aneh. Sudah hampir setahun kau selalu begini, kau tahu aku berusaha sabar, tapi kini aku sudah tak bisa menahannya lagi!” Dirga membanting lampu tidur itu ke lantai sesekali aku menjerit. Aku semakin ketakutan, Dirga berubah menjadi seseorang yang mengerikan.
“ BUNUH AKU SEKARANG WANITA JALANG!! Atau lama kelamaan aku yang jadi gila.” Ia mengambil serpihan beling lampu tidur itu dan menyodorkannya ke arahku.
“ Tolong Dirga, jangan seperti ini aku takut. kau lama-lama menjadi tokoh yang aku ciptakan 10 tahun yang lalu, jangan menjadi Jack sayang!!” aku mencoba memeluknya namun ia menolak.
“ Kalau aku memang Jack kenapa?!!! Bukankah seperti yang kau katakan, para tokoh itu datang menemuimu, tenang sayang aku tidak akan membunuhmu kau saja yang menancapkan beling ini ke jantungku maka hidupmu akan selamat.” Ia menarik tanganku dan memaksaku untuk menancapkan potongan beling itu ke arahnya, jelas aku menolak dan berusaha berdiri.
Aku berlari menghindarinya dan membanting pintu kamar ada kalimat yang aku dengar “ KAMU TERJEBAK OLEH PERAN YANG KAU CIPTAKAN SENDIRI. AKU SUDAH TIDAK MENGENALMU!!!” teriak lelaki itu. Aku hanya bisa merintih, dia lelaki itu, orang yang kucintai berubah menjadi sosok yang mengerikan bagiku. Langkahku begitu rapuh sambil menggigit jari, air mata tak bisa aku berhentikan, sesaat Dirga tiba-tiba menghampiri dan memelukku “ Maafkan aku sayang, tak seharusnya aku berperilaku seperti ini!” ia mencium rambut dan keningku berulang kali. Aku yakin ia menyesali atas apa yang telah ia katakan kepadaku.
“ Aku janji akan menolong dan selalu berada disisimu.” Ia tersenyum tulus, namun senyuman itu berganti menjadi sebuah seringaian yang sangat mengerikan. “ JACK?!!!” aku mendorongnya dan masih menggenggam potongan beling yang Dirga berikan padaku. “ Apa kabar Gisang? Sang Pencipta!! Kau tahu aku lahir dari tangan dan naluri pembunuhmu itu.”
“ Bukan, kamu bukan Jack kamu Dirga suamiku!!!” langkahku mundur perlahan.
“ Suamimu itu sudah mati, aku Jack!”
“ Jangan berani memajukan langkahmu itu.”
“ Atau?”
“ Aku akan membunuhmu.”
“ Bagaimana kalau seperti ini?” ia memajukan langkahnya dan berubah menjadi diriku sendiri. Aku kaget dengan spontan aku menancapkan beling itu tepat di perutnya. Aku berhasil menusuknya, sesaat aku merasa puas. Namun setelah aku membalikkan badannya ternyata itu adalah Dirga, suamiku.

Aku dikalahkan oleh mereka, aku mengambil potongan beling yang menancap di perut Dirga. Aku menyayat tanganku sendiri, dan memakan berbagai jenis obat penenang denga jumlah banyak. Semenjak hari itu, aku tak tahu lagi berada di mana.


Aku hanya bisa menangis saat mengingat apa yang telah kulakukan. Syukurlah suamiku masih hidup dan sudi menjenguk ragaku yang lemah itu. Ya, mereka berhasil menjebakku Kyrani, Jack, Delvan dan lainnya. Tapi aku belum sepenuhnya kalah, karena jantung itu masih tetap berdetak.

Kisah Seekor Cicak

Akulah yang tidak disukai oleh hampir kebanyakan orang. Akulah yang dianggap sebagai hama. Akulah yang menempel di dinding rumah. Akulah yang terjatuh dan hinggap di kepala manusia, sehingga dianggap sebagai sumber kesialan. Akulah yang membuat kebisingan di tengah sunyinya malam. Akulah yang bertelur. Akulah yang mampu memutuskan ekorku sendiri. Akulah saksi hidup dari setiap perilaku manusia di dalam rumah. Akulah yang mengamatimu, mengamati manusia.
Agak lama aku tinggal di rumah ini, rumah yang sederhana dan dihuni oleh seorang gadis dan ayah tirinya. Gadis tersebut baru ditinggal mati oleh ibu kandungnya sejak satu tahun yang lalu, dan kini tinggal bersama pria yang sudah dinikahi ibunya selama empat tahun. Aku tak tau jelas berapa umur gadis tersebut, mungkin saja sekitar 13 tahun, wajahnya cantik meski awan mendung selalu menyelimuti cerianya, tubuhnya banyak dihiasi luka memar, dan aku selalu memergokinya sedang menangis.
***
Seperti biasa aku sedang mengamati serangga kecil bernama nyamuk untukku jadikan santapan pagi. Kuamati kemana ia terbang dan kubiarkan ia makan dengan kenyang terlebih dahulu. Dan setelah ia merasa lengah ku santap ia dengan lahap. Hap! Ku julurkan lidahku yang panjang ini dan dengan tangkasnya kumasukkan ia ke dalam mulutku. Pagi ini aku sudah mendapatkan santapan lezat. Namun, tidak begitu dengan gadis pemilik rumah ini, ia terlihat meringkuk kesakitan diatas kasur yang sudak kuyu itu.
BRAKK !! Tiba – tiba datanglah seseorang yang mendobrak pintu kamar gadis itu.
“hey bisu!!” kata pria yang tak lain adalah ayah tirinya.
“ngapain lu diem di situ?bukannya nyiapin sarapan buat gue.” Pria tersebut mendekati gadis itu dan mulai menjambakki rambut gadis yang terurai panjang itu. Wajahnya terlihat begitu pucat, dan berkeringat dingin. Gadis itupun mulai memegang dahinya sambil menunjukkan isyarat bahwa ia sedang sakit.
“ sakit?enak aja lo!!duit mana duit?”
Gadis itu mulai menangis sambil menggelengkan kepalanya.
“warisan dari nyokap lo mana hah?” gadis itu semakin menangis dalam diam. Sedangkan mata sang ayah tirinya yang merah menyalah penuh kemarahan itu tiba – tiba berubah menjadi tatapan penuh kebahagiaan dan kerakusan.
“nah ini kalung siapa? kalung lo kan? cepat lepas!!” gadis itu kembali menggelengkan kepalanya sambil memegang erat kalung yang terpasang dileher indahnya. Namun, tenaga pria itu tetap dan selalu lebih besar, iapun berhasil merebut kalung berbentuk hati dari jemari gadis kecil itu. Lelaki tinggi besar itu berlalu dengan cepatnya, sedangkan si gadis cantik masih menangis dalam bisunya.
***
Gadis itu memang bisu sejak kepergian ibu tercintanya. Aku tak tau bagaimana dan mengapa ibunya meninggal. Yang pasti sejak ku singgahi rumah ini, gadis cantik tersebut sudah tidak bisa mengeluarkan suara layaknya manusia – manusia yang lain. Mungkin saja kepergian ibunya menyisakan luka yang sangat dalam sehingga ia tak mampu untuk mengeluarkan suara tangisnya lagi.
Setiap hari ayah tirinya menyiksa tubuh mungil gadis yang sampai sekarang tak kuketahui namanya itu. Semua harta yang ada didalam rumah telah lenyap entah kemana, mungkin sang ayah yang tak sepantasnya dipanggil ayah itu telah menjual segala yang ada didalam rumah demi kepentingan hidupnya sendiri. Ia menghabiskan harinya dengan berjudi, bermain perempuan, dan sesekali membawa perempuan yang berbeda kedalam kamarnya. Entah apa yang ia lakukan.
Aku sendiri hanya bisa mengamati tingkah mereka berdua dari kejauhan, sesungguhnya aku sangat ingin membantu gadis tersebut keluar dari segala penderitaan yang membayangi hidupnya. Namun, aku hanyalah seekor cicak yang mungkin saja bisa terbunuh oleh tingkah kejam manusia. Jadi, aku hanya bisa memperhatikan dan berdoa kepada tuhan agar gadis itu mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
***
Kawan – kawanku tak ada yang betah untuk tinggal di rumah ini, meski sebenarnya dirumah ini banyak sekali serangga kecil yang bisa dijadikan santapan. Alasan mereka mudah saja yakni tak tega melihat seorang gadis kecil yang selalu disiksa, dan dianiaya. Aku sendiri bukannya tega, namun entah mengapa aku sadar sepertinya aku harus lebih lama lagi untuk tinggal disini.
Lagi, aku menatapi gadis itu dengan rasa kasihan di dinding kamar. Dan ternyata gadis itu menyadari keberadaanku, ia menatapku seperti ingin berbicara. Aku yakin didalam hatinya pasti ia ingin mengungkapkan isi hatinya. Namun, apa daya ia hanya seorang gadis bisu.
Aku tak mampu berdiam diri menatapi gadis cantik itu, jadi kuputuskan untuk keluar dari kamar melalui celah kecil di atas pintu kamar. Aku merayapi dapur, dan sampai ke tengah rumah. Ramai sekali disana, penuh dengan pria – pria mabuk dan wanita berbaju seksi. Aku tahu mereka sedang berjudi, sungguh tindakan maksiat dan memalukan. Namun, rasanya aku harus mengamati mereka, menurutku itu keputusan yang tepat.
“ punya apa lu Bred? Udah kere begini masih aja pingin ikutan” kata seorang pria mabuk berbadan kurus, kepada sang ayah tiri itu.
“ tenang aja kali ini gue pasti menang”
“ kalo lu kalah lagi apa jaminannya?” Tanya seoang pria yang terlihat sedang memeluk seorang wanita.
Pria yang disapa Bred itu kini terdiam seperti sedang berpikir keras.
“ya udah gue kasih si cewek bisu itu aja deh”
“maksudnya anak tiri lu?”. Pria bangsat itu menganggukkan kepalanya.
“yang bener lu? Tu cewek biar masih bocah tapi cantik juga sih, Masih perawan nggak tu cewek?”
“ gue jamin dia masih perawan”
“ yakin lo belum pernah ngapa – ngapain dia?”
“perlu dibuktiin sekarang?” tantang pria itu kepada kawan – kawannya. Mereka semuapun tertawa terbahak – bahak.
Aku tak mengerti dengan jelas bagaimana proses perjudian itu. Yang pasti uang bergilir kesana kemari dan penuh dengan tawa riang serta botol – botol minuman bererakkan di sekitar meja judi. Aku berharap semoga pria jahat itu memenangkan perjudian tersebut. Bukannya, aku mendukung ia, namun aku tak mau melihat anak tirinya ternoda karena ulah pria – pria pendosa itu.
Suasana semakin memanas, ketika Abred mulai kebingungan dan rasa kesal menyelimuti wajahnya. Wajahnya terlihat pucat dan putus asa.
“ aduh Bred, gue bilang juga apa bentar lagi lo juga kalah lagi” ia hanya terdiam.
Tiba – tiba tawa riuh,kembali membahana. Seorang pria bertubuh kurus mengeluarkan kartu andalannya.
“hahaha..gue menang. Janji lo harus lo tepati Bred.”
“tuh dia ada di kamar” kata ayah tak bermoral itu.
“sorry bray.. kayaknya lo semua, harus pergi, gue mau menikmati malam indah sama tu cewe bisu itu.”
“oke oke..kita semua ngerti.. hahahah..”
Para pemabuk dan wanita – wanita nakal itupun meninggalkan rumah ini, termasuk si ayah tiri. Sekarang hanya tinggal kami bertiga yang ada didalam rumah. Aku, pria hidung belang dan gadis cantik itu.
Lelaki itu terlihat sedang bersiap – siap dengan mata binalnya. Langkahnya maju perlahan sambil memanggil nama gadis itu dengan pelan dan lembut. Ku ikuti setiap langkahnya. Hingga sampai disebuah kamar kecil yang didalamnya gadis itu. Kemudian, ia mengetok pinu itu dengan perlahan.
“Dinda sayang buka pintunya dong” namun sepertinya, gadis itu tak mau membuka pintu kamarnya.dan ku harap ia tidak akan pernah membukakan pintu kamarnya.
“Dinda…” ulang lelaki itu. Berkali kali ia memanggil nama gadis itu. Namun, dinda tak juga muncul dari balik kamarnya. Dengan rasa penasaran aku merayap ke dalam kamar gadis mungil itu. Dan kulihat ia sedang ketakutan sambil memeluk sebuah bantal. Aku rasa Dinda sudah tahu akan hal itu.
Dinda mulai menangis dan lelaki itu mulai mencoba mendobrak pintu kamarnya yang sudah rapuh itu.
“Dindaaa.. kalo lo nggak juga buka ini pintu gue dobrak!!”
BRAKKK!!! Pintu itu terbuka lapang. Dan kulihat seorang pria tinggi kurus menatap Dinda dengan penuh birahi.
“mau apa lo sekarang?”lelaki itu tersenyum dan mulai mendekati Dinda.
Gadis cantik mulai melempari barang – barang yang ada didekatnya ke arah lelaki itu namun, semua terasa sia – sia dan percuma.
“mau lempar apa lagi sayang?semuanya nggak akan berguna. Bokap tiri lo udah ngejual lo ke gue. Gue bebas mau ngelakuin apa aja.” Pria itu mulai menyentuh pipi gadis cantik yang terlihat ketakutan itu.oh tuhan!
Aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi, gadis itu masih sangat polos dan baik hati. Sedangkan pria itu mulai melakukan tindakan – tindakan tidak pantas. Kuputuskan untuk merayap dan terdiam tepat diatas kepala pria itu, setelah itu pluk! kujatuhkan tubuh mungilku kekepalanya untuk mengalihan perhatian.
“AH!!! apa ini?” pria itu terkejut sambil mencoba untuk menyingkirkanku dari kepalanya yang berambut gondrong itu Namun aku tetap mencoba bertahan dengan kaki – kakiku yang lengket.
Setelah beberapa saat ia berhasil membantingku dengan tenaganya yang besar itu. Akupun terpelanting didekat kakinya.
“ dasar cicak sialan!!!” aku berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia mulai mencari benda untuk memukulku hingga ia dapatkan sebuah tongkat besar yang siap untuk membunuhku. Namun, aku tak putus asa kugunakan keahlian terakhirku untuk mengalihkan perhatiannya yaitu dengan cara memutuskan ekorku.kuharap ini akan berhasil. Tapi ternyata kali ini dugaanku salah, lelaki itu tetap mengejarku. Kekuatanku semakin melemah, hanya satu harapanku kali ini semoga gadis itu bisa berlari sejauh mungkin.
Setelah susah payah, pria itu berhasil mendapatkanku, dan memukulku dengan segala upaya yang ia punya. Tatapanku makin tak karuan, tenagaku semakin melemah.kuharap gadis itu segera pergi dari rumah ini, aku tak peduli dengan keadaanku sekarang mungkin sang malaikat maut sudah siap menjemput sang binatang dengan penuh kesialan ini.

Percintaan Kucing Ras dan Kucing Kampung

              Aku mengamatinya dari balik kaca. Ia berwarna kuning keemasan, bola mata yang besar dan berwarna kuning, juga tubuh yang kekar. Ia memang bukan dari kalangan atas sepertiku, yang makan dengan mudahnya, tidur ditempat yang luas, juga susu yang menjadi minuman tambahanku. Ia hanyalah jantan biasa yang tidur dimana saja dan makanpun didapat dari hasil mencuri atau sisa-sisa makanan orang.

            Kami sering bertemu di teras depan rumah, ketika aku bersantai ia datang dengan tubuhnya yang cukup tinggi itu “ Meong” katanya. Aku jawab lagi dengan kata “Meong” sejak saat itu aku sering keluar dari rumah ini hanya untuk bertemu dan mengeong dengannya.

            Gaya hidupku memang sangat berbeda darinya. Setiap hari aku memakan makanan kucing dengan harga yang lebih mahal daripada manusia, walaupun sebenarnya makanan seperti itu hanya bisa membuat gigiku menjadi tumpul. Setiap dua minggu sekali aku selalu dibawa ke salon untuk dimandikan, dan memotong kuku, padahal kuku adalah caraku untuk memangsa buruan dan bertahan hidup. Aku juga sering diberi vaksin agar terlihat lucu dan sehat.

            Dari matanya yang tajam itu, sudah terlihat kalau ia pejantan yang berbeda denganku. Makan ikan asin saja sudah menjadi barang mewah baginya, kadang ia juga minum dari got-got perkotaan yang berwarna hitam pekat. Tapi hidupnya sehat-sehat saja, tidak sepertiku yang hanya dengan memakan makanan yang harganya sedikit murah saja langsung jatuh sakit.

            Akhir-akhir ini aku sering dikunci di dalam rumah, tidak dibiarkan untuk main-main di halaman rumah seperti biasanya. Aku selalu berharap bahwa ada seseorang yang akan membukakan pintu berkaca itu, dengan seketika aku akan berlari dan mengeong bersamanya lagi. namun apa daya setiap aku berusaha untuk mengelak, mereka selalu menangkapku dan menggendongku dengan rasa gemas.

“ aku tangkap kamu, hayooo mau kemana?? Mau kabuur ya?!!! Hayoo pasti mau pacaran, ih awas ya kamu nggak boleh pacaran sama kucing kampung. Nanti anak kamu jelek loh”.

“ Meong” jawabku datar.

            Majikanku yang satu ini memang sangat memanjakanku, setiap hari ia selalu mengelusku dan berusaha untuk berbicara denganku. Kadang saat aku tidurpun ia menggendongku hingga akhirnya membangunkan tidurku yang lelap. Aku sungguh beruntung tinggal dirumah seperti ini. Semua orang menyukaiku, gemas akan rambutku yang berwarna putih polos dan lebat. Namun satu hal yang tak kusukai  yaitu, mereka melarangku untuk menjalin hubungan dengan lelaki yang selama ini kudambakan.

“ wah, Runa sudah dewasa ya… harus dikawinin dong. Hati-hati loh nanti malah sama kucing kampung jadinya” kata teman majikanku.

“ iya, tapi mau dikiwinin sama siapa ya?”

“ke Obay aja, kucingnya lucu-lucu loh.”

            Firasatku mulai tak enak, sepertinya aku akan dijodohkan dengan kucing lain. Namanya juga manusia, kadang mereka bisa menjadi sangat baik, tapi kadang juga bisa menjadi tega. Apa mereka pikir aku ini tak punya rasa? Aku juga ingin bersama dengan kucing yang kucintai, meski ia hanyalah seekor kucing kampung.

            Kucing baru itu mendatangi kediamanku. Ia berambut lebat, berwarna belang, berhidung pesek, berakaki pendek, bertubuh gempal. Mungkin ia keturunan persia, giginya tertata rapi, matanya begitu bersih. Sungguh dari kalangan kucing kelas atas, sama sepertiku. Namun, aku tak menyambutnya dengan baik karena aku tahu dialah kucing yang akan dijodohkan denganku.

            “ meeeeong…….!!” kataku saat ia mencoba mendekatiku.

            Ia tetap mencoba mendekatiku, mengajakku untuk berkenalan. Aku masih enggan, mencoba untuk menghindarinya. Aku berlari kesana-sini, dari tempat ke tempat yang lain. Bersembunyi dibawah meja, didapur, lemari tapi ia tetap saja mengikutiku. Pintu depan terbuka ini saatnya aku untuk melarikan diri.

            “ meong…” ia sudah tiba, dibalik pagar. Matanya memelas, mengajakku untuk ikut berlari bersamanya. Dengan seketika aku ikut dengannya, meninggalkan kucing berkaki pendek itu.

            Ia memberiku dunia baru, ternyata dibalik rumahku yang penuh dengan fasilitas mewah. Masih banyak kucing liar yang terlantar, ada kucing yang pincang, rambutnya rontok karena tersiram air panas, mata kanannya tak bisa melihat. Semuanya itu hanya bisa terjadi karena dua hal yaitu faktor genetik dan ulah manusia.

            “ meong… meooong.. meoong..”

            “ meong… meooong.. meoong.. meong”

            “ meong? ”

            “ meong “

             Kami saling mengeong berdua, kejar mengejar, bermain, dan saling menyatakan cinta. Aku tidak begitu jauh dari rumah, namun aku belum mau pulang. Biar saja perutku kosong atau haus yang pasti aku bahagia bila aku bersamanya.

            Ikan asin menjadi santapanku kali ini. baru pertama kali aku menyantapnya, rasanya begitu enak meski awalnya aku tak mau untuk menyentuhnya. Aku tak memikirkan perutku yang sangat sensitif ini. namun, baru saja aku menyatap lahapan yang terakhir majikanku sudah bertengger tepat dihadapanku. Ia sedang bersiap-siap untuk menangkapku, matanya begitu siaga, gerakkannya sangat waspada. Ia melangkahkan kaki kanannya dengan hati-hati. Dalam hitungan ketiga ia menangkapku, tapi ternyata kakiku lebih cekatan.

            Aku tidak membenci majikanku, apalagi ia sangat baik terhadapku. Tapi sekali ini saja aku ingin terlepas darinya. Perjuanganku belum berkahir untuk terlepas darinya, kekasihku pun tidak bisa berbuat apa-apa, tiap kali ia ingin menyelamatkanku. Majikanku sudah menatapnya dengan wajah garang, sambil memberikan isyarat mengusir dan berucap “HUUUUSS” padanya.

            “ meooong…” aku menatapnya dengan memelas

            “ ayooo sayang.. nanti kamu diculik..” katanya dengan hangat

            Tatapannya menunjukkan rasa kasih sayang, akupun tak kuasa untuk menolaknya. Aku biarkan tangannya untuk meraih tubuhku. Ia tersenyum dan menatapku dengan wajah gembira.

            “ pulang yuu… nanti kalau kamu diculik terus aku gimana?”

            “ meong..”

            kucing berwarna kuning itu menatapku, mungkinkah ini adalah pertemuan yang terakhir? Aku menatapnya sedih, aku yakin setelah ini aku pasti akan bertemu lagi dengan kucing keturunan persia itu dan menjalin kisah baru bersamanya.

            Kucing bertubuh gempal itu masih menatapku dengan rasa penasaran, aku tetap mengambil jarak darinya, setiap ia melangkahkan kakinya kearahku, aku sudah siap menunjukkan taring kearahnya, rambutku pun terasa berdiri, begitu pula dengan kumisku.

            “ meooong….”

            “ grrrrr…”

            “ meong “

            “ grrrr… “

            “ meooong…” ia menangkapku, aku mencakarnya

            “ grrrr… MEEEEOOOONG.. grrrrr ”

            Akhirnya ia menatapku dengan pasrah, sepertinya ia sudah kelelahan oleh tingkahku. Syukurlah, hari ini ia tidak menyentuhku. Selang beberapa saat ia tertidur pulas, aku bisa meregangkan tubuh dan juga tertidur.

            “ meooong” ada seekor kucing yang memanggilku dari luar. Ternyata dia adalah seekor kucing kampung, kucing pujaanku. Aku menghampirinya dari balik kaca, ternyata dia masih menanti dan mengharapkanku. “ meooong” jawabku.

            “ meeooong meeong meoong.. meoong meoong meoong..”

            “ meoong meoong”

            Aku melihat sekeliling, sepertinya majikanku sedang tidak ada. Inilah waktunya  keluar dari rumah ini untuk yang kedua kali. Kudorong pintu berkaca berkali-kali dan semakin lama celah semakin terbuka. Ya, pintu sudah terbuka sebesar sepuluh cm tentu saja aku bisa keluar dari rumah ini.

            Kami saling berciuman, akhirnya kami bisa bertemu kembali dan bisa bersamanya. Entah kapan aku akan kembali lagi ke rumah ini, mungkin saja pada saat kucing persia itu sudah pergi atau ketika aku sudah mengandung anak dari kucing kampung.

 

Hujan yang Berdamai dengan Kembang api

 

Jejak-jejak hujan akhir tahun di Kota Kembang Bandung masih terasa sangat basah. Gerimis;  aku tak yakin kalau tahun baru kali ini masih se-meriah biasanya; penuh dengan kembang api, teriakkan terompet atau acara-acara musik yang menggelegar di setiap titik keramaian. Mungkin, kali ini akan menjadi ‘tahunnya’ acara  televisi, karena dari pagi tadi hujan tak henti-hentinya turun. Orang-orang mungkin malas untuk keluar rumah, dan terpaksa “mau” dimanjakan oleh acara-acara televisi yang biasa menayangkan film Box Office itu.

Aku tidak begitu tertarik dengan perayaan tahun baru, apalagi semua keluargaku sedang tidak ada di rumah, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Di keluargaku memang hampir tidak pernah menjalankan tradisi tahunan itu. Baginya tahun baru adalah saat untuk merenung—untuk interopeksi diri dan membuat resolusi—bukannya hura-hura atau semacamnya. Ya, setidaknya aku memang setuju dengan perkataan mereka.

Hari ini—tanggal 31 Desember—rintik hujan masih belum berhenti. Hujan kota Bandung masih membasahi aspal. Aku yakin orang-orang akan melewatkan tahun baru  seperti hari-hari biasanya; banyak orang yang akan tertidur karena hujan atau mungkin karena bosan menonton tv. Tapi ternyata dugaanku salah, bunyi terompet masih saja mengusik telingaku; anak-anak kecil menyalakan petasan seperti di bulan puasa, suara klakson motor dan mobil saling bersahutan, kemacetan terjadi dimana-mana. Orang-orang tetap menerobos hujan demi menyambut tahun baru.

Sebenarnya, aku agak sedikit heran. Kenapa orang-orang begitu menyukai perayaan tahun baru, apa mungkin tahun baru itu semacam lampu wasiatnya aladdin  yang bisa mengabulkan permintaan orang-orang? Tapi yang aku sukai dari tahun baru hanyalah kembang api, sebenarnya jarang sekali aku sengaja keluar rumah untuk melihat kembang api. Aku hanya melihatnya di balik jendela kamar. Kadang aku malah menutup mata dan berdoa kepada tuhan seperti sedang melihat bintang jatuh. Aku selalu berpikir mungkinkah aku melihat kembang api yang sama seperti yang ia lihat—seseorang yang dari dulu kusukai—sama seperti ketika aku melihat bulan, bintang dan langit; akan sama seperti yang ia lihat.

Aku tahu Kota Bandung memanglah luas, lagipula kembang api bukanlah seperti bulan yang bisa terlihat dari mana saja; ia hanya bisa terlihat dalam radius beberapa km. Tapi disetiap pergantian tahun itulah yang selalu aku harapkan; melihat kembang api yang sama, di bawah langit yang sama dan malam yang sama dengannya. Mungkin aku akan terlihat sangat bodoh, tapi yang pasti setiap aku melihat kembang api aku selalu berdoa.

“Di bawah langit yang sama, Bintang yang sama, bulan yang sama dan malam yang sama, aku harap aku bisa melihat kembang api yang sama dengannya. Memang bukanlah hal yang mudah; apalagi kota Bandung begitu luas; kembang api juga selalu datang silih berganti di sepanjang pergantian tahun. Tapi semoga saja aku bisa melihat kembang api yang sama dengannya”

Tapi hujan tak hentinya berhenti, aku tak yakin kalau kali ini kembang api akan semeriah biasanya, meski orang-orang tetap memaksakan diri untuk keluar dari rumah. Apa mungkin kembang api bisa menyala jika hujan tetap turun?

Aku memantapkan kakiku di Jalan Braga, tempatnya yang unik dan tidak terlalu luas membuat semuanya terasa sesak dan ramai namun tetap terasa nyentrik. Gerimis tak jadi hambatan, sebuah panggung musik berhasil memblokir jalan; ukurannya tidak terlalu besar tapi cukuplah untuk ditempatkan satu set alat band. Di sisi jalan banyak terdapat pedagang kaki lima; mulai dari bajigur, kue ape, bandros, sekoteng dan jajanan tradisional lainnya. Bahkan ada yang menjualnya secara gratis; aku, tentu saja tak lupa untuk mencicipinya.

Satu cangkir bajigur dan sebuah ubi rebus mampu mengalahkan dinginnya gerimis Bandung. Tentu saja, aku jarang sekali menemukannya di hari-hari biasa; sekalipun ketika musim hujan.

“ Mana temen-temennya neng?” kata seorang tukang bajigur yang sedang sibuk melayani pembeli yang lain.

“ Sendirian aja kok mang, tadi kebetulan lewat.”

“ Kenapa atuh sendirian? Kan sayang neng ngerayain tahun baru malah sendirian.”

“ Ini kan banyak orang mang, kan jadi nggak kerasa sendiriannya hehehe..”

“ Ah, si neng mah suka gitu” aku tertawa simpul. Tatapanku masih tertuju pada orang-orang yang berkerumun melawan gerimis. Di sepanjang jalan ada yang asik menonton konser musik; memakai payung, membiarkan tubuhnya terkena hujan atau menggunakan jaket sebagai pelindung. Musik yang terdengar adalah lantunan jazz yang agak sedikit nge-beat. Ada juga orang-orang yang sibuk berburu makanan; bersama teman atau bersama pacar. Pandanganku terhenti pada seseorang yang menggunakan jaket berbahan kulit yang menutupi kaos berwarna merah tua. Badannya lumayan tinggi, ia memakai celana berbahan jeans dan sepatu pentofel. Sepertinya aku mengenalinya. aku mengamatinya agak lama, sampai orang-orang menutupi pandanganku padanya.

 

***                                                              

Perutku masih belum merasa puas, aku menghampiri seorang tukang sekoteng yang berada tidak cukup jauh dari tukang bajigur yang baru saja aku beli. Beruntungnya, aku kali ini. si tukang sekoteng menjualnya secara cuma-cuma. Aku duduk disebelahnya, sambil melihat keramaian. Gerimis masih tak mau mengalah. Aku masih tak yakin kalau tengah malam nanti akan ada jeritan kembang api.

“ Mang, kira-kira kembang api bakal tetep ada nggak ya?” aku memulai pembicaraan.

“ Ya, saya kurang tau neng. Emang kalau gerimis gini kembang api bisa nyala ya?” si tukang sekoteng malah balik bertanya kepadaku.

Aku masih berharap bahwa kembang api tetap menghiasi langit Bandung, bukan karena tahun baru; bagiku, asal ada kembang api hatiku akan terasa gembira; kapan saja, entah pada saat lebaran atau hari besar apapun yang penting bagiku adalah kembang api. Saat melihat kembang api, orang-orang pasti harus melihat langit. Saat itu pula aku berharap bahwa ia juga akan melihat ke arah langit; melihat kembang api.

Ia adalah seseorang yang tak pernah bisa aku ungkapkan, sudah tiga tahun lebih aku memendamnya; aku tak pernah mempunyai alasan untuk menyukainya; ia seseorang yang membuatku begitu penasaran. Sebenarnya, rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Tapi anehnya sampai saat ini kami tidak pernah saling mengenal. Aku ingat kami selalu berpas-pasan pada saat itu; hampir tiap hari malah. Tapi sejak setahun belakangan ini aku hampir tak pernah melihatnya lagi.

Kamera Single Lens Reflex yang kini menggantung di leherku menjadi saksi-nya. Aku sempat memotretnya secara diam-diam beberapa kali, sambil memakan semangkuk sekoteng yang sudah hampir habis aku mulai membuka-bukanya kembali.

Aku memang suka memotret. Bagiku di dunia ini tak ada hal yang bisa memuaskan diri selain memotret. Dimana dan kapan saja kamera Single Lens Reflex sudah menjadi teman sejatiku sejak dua tahun yang lalu, aku tak mengerti mengapa aku sangat menyukainya yang pasti ia sudah menjelma menjadi mataku. Setiap hal yang menarik pasti ku abadikan dengan kamera, dimulai dari hal kecil sampai ke hal-hal yang unik. Memotret memang sangat menarik, aku bisa tersenyum sendiri karenanya; seperti orang yang sedang dilanda cinta.

Saat itu aku tak sengaja melihatnya di kampus, aku tak begitu tau apa dia sekampus denganku atau hanya mampir-mampir biasa saja. Ia menggunakan kemeja kota-kotak yang lengannya dilipat hingga sebatas siku. Kancingnya dibiarkan terbuka supaya kaos polos berwarna hitam tetap bisa kelihatan. Ia seperti sedang membaca, atau mungkin hanya melihat-lihat kertas yang berada digenggamannya saja. Spontan, aku langsung memotretnya hingga berkali-kali. Ia menghilang dari lensa kamera ku.

“ Kenapa neng? Kok senyum-senyum sendiri?” kata tukang sekoteng.

“ Ngga mang, ini lagi liat foto-foto” aku masih melihat lcd kamera.

“ Mang beli satu porsi ” seorang pria akhirnya duduk disebelahku. Aku tak terlalu memperdulikannya, lagipula apa peduliku.

“ Sendirian aja ncep? ” sapa si tukang sekoteng kepada lelaki itu.

“ Iya mang..”                                      

“ Oh sama atuh kaya si neng..” ia menatap ke arahku.

“ Sendirian apanya mang? Kan disini banyak orang” jawabku sambil asik menatap layar kamera.

“ Tahun baru kalau Gerimis gini emang bakal ada kembang api mang?” tanya lelaki itu. Aku masih asik dengan kameraku.

“ Moga aja ada ncep, mudah-mudahan nanti hujan berhenti.”

“ Oh iya mang, pasti banyak yang nyampah ya?”

“ Ya iya atuh ncep.. eeuh sampah teh bertumpuk dimana-mana, petugas kebersihan pada kewalahan pemulung juga ngga cukup buat ngebantuin.”

“ Biasalah sampah akhir tahun buat tahun baru hehehe” mereka berdua tertawa cengengesan.

“ Bener mang ini gratisan?” kataku memotong pembicaraan.

“ Ya iya atuh neng, se-pe-syal ini mah”

“ Makasih atuh ya mang”

“ Sumuhun neng geulis”

Aku berlalu meninggalkan pria ber-sepatu pentofel itu. Sekilas aku merasa mengenalnya, tapi apa iya? Ah, tatapanku kembali terhenti pada sebuah potret yang sekitar setahun lalu berhasil ku ambil, tak lain adalah pria itu; lelaki bernama Bimo.

Tiap minggu pagi aku memang tak pernah absen untuk berolahraga, sebenarnya bukan untuk berolahraga. Tapi untuk berburu foto, minggu pagi memang santapan menarik untuk memotret. Kadang aku memotret seseorang bersama anjingnya, ada yang bersepeda dan juga berjogging ria bersama keluarga. Lensa kameraku tertuju pada pria itu, sebenarnya setelannya bukan seperti sedang berolahraga; malah seperti orang yang akan pergi ke sebuah tempat. Sebuah Helm sudah berada dalam genggamannya, sebuah tas gitar juga sudah berada di punggungnya. Ia menggunakan jaket kulit berwarna cokelat dan sepatu boots yang terpasang dikakinya. Rambutnya waktu itu agak sedikit gondrong berwarna kecokelatan. Dengan sigap aku memotretnya hingga berkali-kali.

Lagi, aku tersenyum simpul sendiri. Betapa rindunya hatiku ingin melihatnya lagi. aku selalu berharap setiap jepretan yang aku tangkap di kameraku, gambarnya akan selalu tiba-tiba hadir. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih ada sekitar dua jam lagi untuk melihat kembang api yang masih belum tentu keberadaannya. Gerimis masih terasa di kepalaku. Tapi semakin lama aku semakin tak peduli. Sebuah band akhirnya menyanyikan lagu kesukaanku.

“ And all the roads we have to walk are winding

And all the lights that lead us there are blinding

There are many things that I would like to say to you

But I don’t know how”

Semakin lama bibirku menikmatinya dan mulai bernyanyi sekencang-kencangnya, aku merasa senang karena ada yang membawakan lagu ini.

“ because maybe.. you’re gonna be the one that saves me.. and after all.. you’re my wonderwall”

“ I don’t believe that anybody feels the way I do.. about you know”

And all the roads that lead you there were winding

And all the lights that light the way are blinding

There are many things that I would like to say to you

But i don’t know how..”

 “ I said maybe.. you’re gonna be the one that saves me.. and after all.. you’re my wonderwall…”

Lagu Oasis berjudul Wonderwall sukses di bawakan oleh sebuah band indie asal Bandung. Dari kejauhan panggung aku tak lupa memotretnya. Memotret sang Vokalis, Gitaris, Bassist hingga yang paling belakang Drummer. Aku juga tak lupa memotret para penonton yang lumayan kebasahan, ada juga orang yang dari tadi meneriaki payung yang menghalangi pemandangannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa, pandanganku kembali tertuju pada kamera, melihat-lihat hasil jepretanku tadi.

***

Gerimis masih tetap enggan mengalah, hingga pukul setengah sebelas malam. Ia masih bermain-main dengan bumi. Ah, sepertinya kembang api memang tak akan hadir di tahun baru kali ini. tapi orang-orang sama egoisnya dengan hujan—tak ada yang mau mengalah—mereka terus bernyanyi untuk menyambut tahun baru.

Hujan semakin deras, orang-orang mulai berlarian untuk berteduh. Panggung semakin lama semakin sepi oleh penonton. Banyak orang mencaci, kenapa hujan harus datang sekarang? Para pedagang sepertinya yang malah kebagian untung. Mereka semua dipenuhi oleh para pembeli yang sedang berteduh. Cuaca semakin dingin, banyak orang yang yang ingin pulang. Harapanku tentang kembang api semakin sirna. Aku mengencangkan jaket untuk menolak dinginnya angin hujan. Sesekali aku mengusap kameraku agar tak kebasahan. Semua orang berderet dipinggir jalan mengusap-usap kedua tangannya.

Mungkin dugaanku benar, seharusnya aku tak keluar rumah malam ini. toh, biasanya juga aku melihat kembang api dari balik jendela. Padahal, seharusnya aku menonton acara televisi  saja; aku tak akan kedinginan seperti ini pastinya. Ah, harusnya aku memotret ini. di balik hujan aku memfoto semuanya, panggung, orang-orang, hujan, pedagang kaki lima dan pelanggannya. Semakin lama aku menikmatinya, kembali tersenyum sendiri.

Hujan semakin reda, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tinggal beberapa menit lagi untuk bisa melihat kembang api. Sepertinya hujan sudah mengadakan negosiasi dengan kembang api. Lihat saja Gerimis tiba-tiba tak terasa lagi di kepalaku. Panggung kembali ramai oleh penonton, pengisi acara pun semakin antusias untuk menghadapi malam pergantian tahun. Musik kembali memenangkan rinai hujan. Cuaca semakin terasa dingin. Harapan itu kembali berada di otakku.

Melihat kembang api yang sama di bawah langit yang sama, mungkinkah bisa terjadi? Aku biarkan musik mengalun di pendengaranku. Aku menutup mata, si vokalis band itu menyanyikan sebuah lagu yang sangat aku kenal. Yaitu Fix You.

when you try your best but you don’t succeed

When you get what you want but not what you need

Stuck in reverse..

Lights will guide you home..

And ignite your bones and I will try to fix you”

Musik berhenti…

Gerimis kembali..

“ SEMUANYA.. kita tutup tahun ini dengan sebuah kebahagiaan. Biarkan semuanya menjadi kenangan. Kita jalani tahun baru dengan kata OPTIMIS siapkan resolusi, kerja keras daaaaan… berdoa….”

“ DALAM HITUNGAN LIMA KITA SAMBUT TAHUN BARU!!!!”

“LIMA….”

“ EMPAT..”

“ TIGA…”

“ DUA…..”

“ SELAMAT TAHUUUN BAAARUUU DUA RIIBU EMPAAT BELAS!!!!…”

Kembang api datang silih berganti, distorsi musik muncul mengalun rendah.

Sepertinya hujan mau berdamai dengan kembang api, dingin melebur bersama api hingga menghasilkan hangat. Berkali-kali dentuman itu berbunyi begitu keras, percikkannya terasa sampai ke mata. Namun, gerimis tetap merintik, tapi tidak terasa dingin. Malah terasa seperti air hangat yang memercik kulit dan kepalaku.

Aku melihatnya, melihat kembang api. Juga suaranya; suara dentumannya yang keras ; juga suara musik yang masih mengalun rendah, gerimis terasa di kulit kepalaku. Tapi tak memadamkan semangat si kembang api. Aku menutup mata dan berdoa kepada tuhan.

“Semoga aku berada di langit yang sama, di bawah langit kota Bandung. Juga dengan kembang api yang sama. Dalam hitungan yang sama di malam yang sama.”

Dalam doa, musik masih mengalun rendah.

“high above and down below, when you too in love to let it go.. But if you never try you’ll never know.. just what your worth..

Lights will guide you home… and ingnite your bones and I will try to.. fix.. you..”

Kembang api semakin memudar, musik semakin meninggi.

“ Tears streaming down your face when you lose something you cannot replace, tears stream and down your face….. and  I…. Tears streaming down your face  promise you I will learn for my mistake.. tears streaming down your face and I……. lights.. will guide…. you home… and ignite… your bones…and I will try… to… fix you.”

Aku membuka mata dan tersenyum. Semuanya terasa begitu indah, gerimis masih terasa. Aku melihat sekeliling, dan juga menoleh ke arah kanan. Ia tepat berada di sebelahku. Jaket kulitnya, rambutnya yang agak kebasahan, badannya yang lumayan tinggi. Tepat berada di sampingku.

***

Waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi, Jejak Hujan Tahun lalu masih enggan pergi. Pagi yang dingin di tanggal 1 Januari. Secangkir cokelat panas sudah siap untukku minum. Kembang api masih terngiang di kepalaku, tak akan pernah ku lupakan.

Aku tak begitu yakin, apa benar itu adalah ia? Sempat aku ingin memperhatikan wajahnya, tapi apa daya ia begitu cepat berlalu dengan sebuah motor yang terparkir cukup jauh. Namun, entah mengapa jantungku begitu berdegup kencang; hatiku terasa gembira. Seperti ada sesuatu yang memecah rindu.

Lamunanku kembali tertuju kepada Bimo. Mungkinkah Tuhan mengabulkan doaku? Mungkinkah kami melihat kembang api yang sama? ah, kalaupun benar aku bisa apa? Sebenarnya mataku masih merasa kantuk. Sempat aku berpikir untuk tertidur lagi, setelah sampai di rumah pukul setenga dua dini hari tadi. Tapi aku rasa tidak perlu.

            Kamera tergeletak di atas meja belajarku, aku mulai mengambilnya dan memasukkan kartu memorinya ke dalam laptop. Satu persatu aku lihat, ada yang terlihat begitu romantis, karena jaket yang memayungi yang terlihat sebagai sepasang kekasih itu. Ada juga yang fotonya tidak jelas, ada yang narsis. Yang pasti semuanya berhasil membuatku tersenyum.

            Ternyata lelaki itu berhasil ku foto, namun wajahnya tidak begitu jelas. Kutekan keyboard next dan lelaki itu ternyata selalu berhasil ku foto. Tapi lagi-lagi tidak begitu jelas. Hingga agak  lama aku mendapatkan potretnya lagi, kini foto itu lumayan terlihat jelas.

            Bimo?!! Benarkah itu dia?!! Tunggu bukankah lelaki itu juga yang duduk di sebelahku waktu makan sekoteng? Apa dia juga yang berdiri di sebelahku?! Aku kembali memperbesar foto tersebut. Iya, itu benar-benar Bimo. Tapi kenapa rambutnya berbeda? Apa mungkin ia memotong rambutnya?

Aku masih terkejut, kami benar-benar melihat kembang api yang sama. kenapa aku tidak menyadarinya? Aku mulai tersenyum. Di luar masih hujan. Aku mendekat ke arah jendela. Di bawah ada seseorang yang melewati rumahku. Ia tak menggunakan payung, wajahnya masih terlihat acak-acakkan, dari kejauhan, aku memutarkan lensa kameraku. Di awal tahun untuk yang pertama kalinya, aku memotretnya sekali lagi.

***

Bandung, 1 Januari 2014

Hujan yang Berdamai dengan Kembang Api

Hujan. Aku tak tau kapan kau berdamai dengan kembang api. Bagaimanapun kau tidak pernah akur bila melihatnya. Tapi gerimis. Kemarin aku tetap merasakannya. Melebur. Bersama percikkan kembang api.

Gerimis menyentuh kulit kepalaku. Tapi aku tetap bisa melihat langit yang dipenuhi cahaya. Bukan. Bukan bintang. Bukan juga bulan. Tapi kembang api, juga dentumannya.

Kembang api. Aku melihat langit; melihatnya. Semua orang juga terpesona padanya. Aku harap ia seperti bulan. Di lihat oleh semua orang. Di lihat oleh seseorang yang ku harapkan.

Kembang api. Memang bukanlah sebuah bulan. Yang bisa dilihat semua orang dari sisi manapun. Tapi aku selalu berdoa. Kalau aku bisa melihat kembang api yang sama seperti yang ia lihat. Di bawah langit yang sama. dalam detik yang sama dan malam yang sama.

Hey, ternyata kau sedari tadi berada di sampingku. Kita melihat kembang api yang sama di bawah percikkan gerimis. Harusnya tadi kau tau. Saat kembang api masih menyala, aku menundukkan kepala dan berdoa kepada tuhan layaknya melihat bintang jatuh. Semoga aku bisa melihat kembang api layaknya aku melihat bulan. Bentuk yang sama seperti yang kau lihat.

Jejak hujan. Masih membekas di tahun baru. Menyisakan kenangan. Untuk tahun lalu. Aku masih ingat kembang api. Aku juga masih ingat gerimis. Aku masih ingat kembang api yang memercik gerimis. Aku juga masih mengingatmu, saat aku mendoakanmu yang ternyata ada disampingku.

Untuk kembang api yang memercik gerimis. Aku harap kau akan tetap seperti itu. Gerimis yang berubah menjadi air hangat. Dan kembang api yang terasa jatuh di kepalaku. Berdamailah kalian. Meski air enggan berdamai dengan api. Atau panas yang enggan berdamai dengan dingin.

Untukmu, aku harap kita akan selalu melihat kembang api yang sama, dalam detik yang sama, di malam yang sama. dan hati yang sama.

                                                  

Sebuah sajak yang ku buat, untuk Bimo, kembang api dan gerimis di akhir tahun. Ku tulis di sebuah lembar buku harian yang agak usang. Lagi-lagi semuanya akan menjadi kenangan saat aku menghadapi tahun yang baru.

selesai

Kala Senja

Sudah dua tahun terakhir ini ia terbaring di kasur berwarna putih gading itu. Tak ada yang bisa ia lakukan; ia hanya bisa berteriak, kadang juga ia terduduk untuk mengacak-ngacak apa saja yang ada dihadapannya. Ia sudah lupa padaku, yang ia ingat hanyalah masa mudanya dulu; masa kecilnya. Sering ia mengompol di atas kasur ; untuk sekedar menceboki-nya adalah hal biasa bagiku. Apalagi soal berak; kadang ia malah mengacak-acaknya di atas kasur kapuk itu.

Makan harus aku yang suapi; untuk menyuapinya memakan waktu lebih dari satu jam; kadang ia me-lepehnya ; makanannya berceceran dimana-mana. Aku sudah terbiasa menghadapinya, tak ada lagi rasa jijik menimpa batinku. Aku sudah mati rasa; apalagi akulah satu-satunya anaknya yang tersisa.

Ia adalah ibuku. Ia sudah tidak muda lagi; aku juga tidak bisa disebut anak muda. Ibuku berusia delapan puluh lima tahun dan aku lebih muda empat puluh tahun darinya. Sebenarnya, aku adalah anak bungsu dari 5 bersaudara tapi semuanya pada mati muda. Tinggal aku yang tersisa, wanita berusia empat puluh lima tahun.

Selain menjadi seorang anak, aku juga menjadi seorang ibu bagi ke tiga anak-anakku. Yang paling tua berusia 24 tahun; seorang lelaki, yang tengah berusia 16 tahun; seorang gadis dan si bungsu berusia sepuluh tahun. Gandhi anakku yang paling tua adalah tulang punggung keluarga kami, apalagi setelah sepeninggal suamiku; ayah mereka yang wafat tiga tahun yang lalu. Kini aku hanyalah wanita tua yang sedang mengurus seorang wanita tua yang kenak-kanakkan.

Sesekali ia melamun dan tertawa sendiri; aku sangat sedih ketika melihatnya. Aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya. Kadang aku mengenang semua hal yang sudah ia berikan padaku, ah bukan semua tapi sebagian karena tentu saja apa yang sudah ia berikan padaku tak akan pernah bisa terhitung. “ bu, apa ibu ingat? Aku harap kau masih ingat kalau aku adalah anakmu. Anak yang dulu pernah kau lahirkan, kau susu-i , kau nina-bobokan, kau gendong, kau peluk dan kau manja?” wanita tua itu hanya menatapku dengan tatapan kosong. aku menyisir rambutnya yang sudah sangat putih itu, di dalam kamarnya aku hampir menitikkan air mata, tapi untungnya aku bisa menahannya.

“ ah, sudahlah bu. Mungkin kau sudah lupa padaku, tapi kalau aku ingat saat masa kecil dulu aku sangat bahagia. Saat kita masih di kampung bu. Apa kau ingat? Waktu itu aku pernah terbawa arus sungai. Ibu, bapak dan warga mencariku. Kau tau bagaimana saat aku melihatmu lagi? aku sangat bahagia bu. Dulu, aku pikir aku akan mati tenggelam dan tak bisa bertemu denganmu lagi.” aku tertawa.

Ia masih tak bergeming. Aku menatapnya dengan cemas, apa dia benar-benar sepikun itu? Aku yang anaknya sendiri sudah lupa. Ah, apa ia masih ingat pada bapak yang meninggal 15 tahun yang lalu? Apa ia masih ingat pada alm. kakak-kakakku? Atau ia masih ingat pada cucu-cucunya? Ya, jangankan cucu-cucunya yang lain, yang tinggal serumah saja masih tidak ingat.

“ Bu, apa kau ingat cucumu? Liara, anak ke-dua-ku bu. Ia sungguh anak yang baik. Kemarin, kau tau siapa yang membersihkan kotoranmu? Dia yang membersihkannya bu. Padahal aku tidak menyuruhnya, tapi ia bilang Liara sangat kasihan padaku. Ia ingin membantuku walau hanya sedikit; tak ada rasa jijik terbesit di hatinya. Aku bangga padanya, pada Gandhi, pada Liara, juga pada si bungsu Ryan.”

“ mas…. Rah….man?”

“ kau ingat bapak bu?”

“ aku juga bangga padanya. Ia adalah bapak yang sangat baik dan tegas. Ia mengajarkan kita hidup sederhana dan rendah hati. Aku ingat, bapak tidak pernah pilih kasih. Semua anak-anaknya ia marahi kalau ada yang bertindak salah.”

Aku tersenyum, akhirnya ibu bicara. Walau hanya sepatah kata tapi semua terasa bermakna buatku, aku selesai menyisir rambutnya yang sebatas pinggang itu dan kemudian menggelungnya.

***

Terkadang ia ingat namun kadang ia lupa, itulah kebiasaannya sehari-hari. Kadang ia menyebut namaku, kadang ia menyebutku dengan nama kakak-kakakku. Mungkin pikirannya memang sudah lelah, kini ia hanya bisa menunggu; menunggu kematian. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ibu memang sudah menderita penyakit ini; penyakit tua; penyakit pikun. Namun dulu tak separah sekarang, aku ingat sekali waktu itu. Ibu menghilang selama hampir seminggu. Ia tersesat saat akan pulang ke rumah, padahal ia hanya jalan-jalan pagi selama tiga puluh menit. Sejak itulah penyakitnya berangsur-angsur parah.

“ ma, apa nanti semua nenek-nenek kaya’ gitu?”

“ maksud kamu apa sayang?” aku bertanya pada anak bungsuku.

“ iya, kaya gitu ma…. nggak bisa ngapa-ngapain. Kamarnya bau, terus ngompol dimana-mana  kaya bayi, makan harus disuapin. Emang kaya gitu ya ma?” aku masih mengusap-usap rambutnya yang tergerai di pangkuanku.

“ sayaaaaang.. kamu nggak boleh ngomong gitu ah. nggak semua nenek-nenek kaya gitu ko..”

“ tapi ne—nek?”

“ walau gimanapun dia tetep nenek kamu. Orang yang udah melahirkan mama, kamu tau nggak gimana nenek kamu itu dulu? Hmmm.. dia itu orang yang sangat baik, wajahnya cantik, terus rela berkorban apa aja demi anak-anaknya.”

“ kaya mama?”

“ iya sayaaaang… kaya’ mama. Mau berkorban demi kamu, Kak Gandhi dan Kak Liara”

Ryan diam dan berpikir sebentar.

“ tapi emang mama nggak cape apa? Mama harus ngurusin rumah, kita sama nenek.” Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“ mama mana mungkin bisa cape.. kaan ada kamu…tapi kamu sayangkan sama mama?” Ryan mengangguk dan tersenyum. Aku memeluk tubuh mungilnya.

“ makanya, kamu cepet gede, biar bisa jagain mama. Udah ah tidur sana, mama mau ke kamar nenek dulu” aku mengecup keningnya dan memadamkan lampu kamarnya.

Ryan memang masih sangat polos. Dengan hatinya yang jujur, ia katakan lewat perkataannya; ia hanya belum bisa mengerti. Mungkin saat aku tua nanti aku bisa saja seperti ibu; kamar yang bau; mengompol ah, tapi kuharap aku tak akan seperti itu. Kasihan aku dengan mereka, yang pasti aku harus sehat; agar tak menyusahkan mereka.

Aku mengintip ibu dari balik pintu, ia sudah tidur; hingga saat semua orang tertidur ia malah terjaga. Aku memang harus selalu berada disampingnya; takut-takut ia terjatuh dari kasur atau apa-lah. Kadang aku harus memaksakan diriku untuk menahan rasa kantuk; semua ini kulakukan hanya untuk ia;untuk ibu. Sempat aku berpikir untuk menyewa seorang pengasuh, agar bebanku agak sedikit berkurang. Namun, rasanya aku masih bisa menanganinya sendiri. Agar tidak terlalu lelah untuk membersihkan bekas ompolnya aku pernah membelikannya diapers namun hal itu tidak bertahan lama. Ibu merasa tidak betah dan malah berusaha untuk membukanya.

Ibu terlihat seperti orang yang sudah lelah akan kehidupan, badannya tinggal ditutupi oleh kulit yang keriput. Tatapannya kosong, ngomongnya ngelantur. Aku hanya bisa meng-iyakan semua perkataannya.

***

            Ia mulai lagi, ibu buang kotoran di atas kasur lagi. sistem pencernaannya sedang tidak baik; mungkin karena ia sudah sangat renta. Berkali-kali aku membersihkannya; mengganti sprei-nya. Aku berusaha untuk bersabar; walau kadang terbesit rasa kesal di hatiku.

“ bu… minum obat dulu ya” ibu tak mau membuka mulutnya.

“ Gen—dis ?” ia menyebutku dengan nama kakak ke-tiga ku.

“ bukan bu, ini Rima”

“ Gen—dis?”

“ hmm… iya bu.. ini Gendis. Minum obat dulu ya bu.”

“ Gun—tur ?” aku terdiam menarik napas.

“ Dhika mana?” sambung ibu.

“ Seeee—ruuu—ni ?.. mas Rah—man mana?”

“ mereka semua sudah meninggal bu..”

“ bu apa kau tak ingat padaku? Kau belum menyebut namaku bu..”

Aku menatapnya dengan sendu, berharap ingatannya akan pulih. Bukankah aku juga anak kandungnya. Tatapannya masih kosong, masih enggan untuk membuka mulut. Aku kesal; aku lempar obat sekaligus sendoknya ke atas lantai.

“ bu.. coba tatap aku?! Apa kau tak ingat padaku bu? Apa kau tak ingat kalau kau pernah melahirkan aku? Kenapa kau ingat mereka semua? Sedangkan aku tidak?! Apa kau lupa dengan semua rasa kasih sayang pernah kau berikan padaku dulu?! Aku sendiri tidak pernah melupakannya bu. Lihat aku bu, lihat air mata yang mengalir ini. ingat aku buuuu…. aku mohooooooon…..!!” aku menyentuh wajahnya hingga akhirnya memeluknya.

Ibu melihatku dengan tatapan kosong sesekali ia memperhatikan raut mukaku yang basah. Akhirnya tangannya menyentuh wajahku.

“ Riiii—maaa..?”

“ Riiii—maaa…?” ulangnya. Aku mengangukkan kepala.

“ Riii—maaa.. anak bungsu ku?”

“ a—nakk—u ya—ng tersi—sa sa—tu—sa—tu—nya?”

“ ibu ingat padaku?” iya mengangguk dan menitikkan air mata.

Air mata kami mengalir, ada kerinduan yang terlepas. Ia ingat namaku, ia ingat pada anaknya; tidak ia tak pernah lupa. Ia tidak pernah melupakanku; ini hanyalah faktor umur. Ingatannya tertutup oleh kenangan; kenangan yang sangat-sangat jauh dari waktuku lahir.

“ maafkan aku bu… tadi aku menggertakmu… sungguh aku tak bermaksud.”

Ia tidak mendengar ucapanku, ia tetap memelukku dengan erat seakan-akan enggan berpisah denganku. “ ja—ngan per—gi” sambungnya.

“ aku tak akan pergi kemana-mana bu. Sudah ayo minum obat.” Aku baru ingat kalau botol obat tersebut pecah karena aku banting.

“ tunggu sebentar ya bu.. aku ambil lap dulu..” aku meninggalkan ibu yang berwajah sedih nan dingin.

GUBRAKKKK!!!

Suara apa itu? Ada suara yang cukup keras hingga terdengar sampai ke dapur; suara itu berasal dari kamar ibu. Astaghfirullah!!! IBU?!

Antara Empat Ratus Potret Yogyakarta

Bagiku di dunia ini tak ada hal yang bisa memuaskan diri selain memotret. Dimana dan kapan saja kamera Single Lens Reflex sudah menjadi teman sejatiku sejak dua tahun yang lalu, aku tak mengerti mengapa aku sangat menyukainya yang pasti ia sudah menjelma menjadi mataku. Setiap hal yang menarik pasti ku abadikan dengan kamera, dimulai dari hal kecil sampai ke hal-hal yang unik. Memotret memang sangat menarik, aku bisa tersenyum sendiri karenanya; seperti orang yang sedang dilanda cinta.
Yogyakarta salah satu kota yang tak mungkin aku lupakan. Di setiap sudutnya tak ada moment yang terlewat untuk tak diabadikan. Dari penduduknya, kuliner sampai bangunannya selalu ada cerita; selalu pantas untuk ku jepret. Sekitar tiga bulan yang lalu aku berada di sana; di Yogyakarta. Aku masih ingat untuk apa aku berada, aku masih ingat gudegnya yang manis, cuacanya yang cukup panas, juga foto-foto hasil jepretanku sendiri. Semuanya masih berada dalam ingatanku, dalam ingatan si kamera.
Aku membuka kembali folder hasil jepretanku di Yogyakarta; cukup banyak, hampir empat ratus. Dari bangunan, kuliner sampai orang-orang yang tak kukenal terpampang disetiap foto, ada yang mengundang tawa, mengundang takjub sampai mengundang penasaran.
Diantara empat ratus jepretan itu, ada foto-foto yang membuatku tersenyum simpul; ia adalah pria bertubuh tinggi, berkemeja merah, bercelana jeans belel, serta berkalung kamera. Aku secara diam-diam sering memotretnya; hasil potretan yang cukup banyak. Hampir seminggu aku berada di Jogjakarta, hampir seminggu itu pula kami bertemu. Segala memori tentang pria itu kembali teringat.
Panas, cuaca yang cukup berbeda dari kota asalku Bandung. Aku membeli sebotol minuman mineral dipedagang asongan dekat keraton. Dahaga terasa mencekik kerongkongan, saat itu pula aku melihatnya. Ia hanya seorang diri, asyik memotret sekitar keraton. Mungkin dia juga seorang wisatawan sepertiku, tiba-tiba mataku terhenti padanya. Aku langsung menyambar kamera yang tergantung di leherku dan memotretnya; hasil yang sempurna. Ia tidak menyadari bahwa aku baru saja memotonya.
Keraton memang menjadi salah satu objek foto yang menarik, dimulai dari penjaga-penjaganya yang menggunakan baju khas daerah Jogjakarta, lampu-lampunya juga begitu unik; desain khas belanda tempo dulu. Lukisan-lukisan sultan hamengku Buwono dari yang pertama sampai saat ini, terpampang disebuah ruangan; tak lupa pula dengan puteri-puterinya.
Wisatawan asing sudah menjadi pemandangan biasa disana, beberapa kali aku meminta berfoto bersama mereka, memang terkesan agak kampungan tapi kami juga sempat berbincang, bertukar pikiran; bertukar pandangan.
Lagi-lagi aku melihat lelaki itu, ia sedang berbincang dengan penjaga keraton. Mungkin ia sedang mengulik informasi atau hanya sekedar bertukar pikiran. Sekali lagi aku memotretnya namun aku merasa tidak puas, aku memotretnya lagi; memotret lagi; memotret lagi setiap detik dari gerakkannya aku abadikan. Kameraku juga tak hentinya memperbesar lensa untuk memfokuskan untuk memperjelas raut wajahnya. Hidungnya lumayan mancung, matanya tajam, kulitnya berwarna kecokelatan. Aku tersenyum melihatnya, sungguh objek yang menarik.
***
Di benteng Vedenburg aku melihatnya lagi, ia masih seorang diri asyik bersama kameranya. Aku memang tidak melihat wajahnya karena aku berada dibelakangnya, tapi aku masih ingat baju apa yang tadi pagi ia kenakan. Kaos berwarna merah dengan tulisan berbahasa Inggris itu masih melekat ditubuhnya, aku memotretnya lagi tepat dengan latar benteng bertuliskan Vedenburg, sungguh hasil foto yang memuaskan.
“ mbak boleh minta foto?” seorang ibu, memintaku untuk memotretnya bersama keluarga. Aku sih mengiyakan saja hitung-hitung membantu orang. Namun, saat aku memfoto mereka lelaki itu menghilang dari pandanganku.
“ makasih ya mbak, biasalah saya baru pertama kali datang kesini.”
“ iya sama-sama ibu, saya juga baru pertama kali” aku menyunggingkan senyum.
“ loh, emang darimana?”
“ dari Bandung”
“ oh satu kampung kalo gitu, saya juga dari Bandung. Makasih atuh ya.”
Ibu berperawakan agak gemuk itu meninggalkanku bersama suami dan ke-tiga anaknya yang masih kecil.
Mataku kembali mencarinya, berharap ia akan datang tak sengaja. Tapi kali ini dugaanku salah, aku sama sekali tak melihat batang hidungnya. Kameraku kembali memotret benda-benda yang lainnya; orang-orang yang sedang berlalu lalang, pedagang pinggir jalan, dan lain-lain sudah cukup untuk menghibur hatiku. Aku memang sangat suka memotret, seandainya ia benda hidup aku pasti bersedia menjadi pasangannya, tapi apa daya kamera tetaplah hanya kamera.
Aku tinggal disebuah hotel sederhana dekat Malioboro, bagiku tempat mewah bukan gayaku. Yang penting ada tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat. Makanan khas Jogja sudah aku cicipi, dimulai dari gudeg yang sering aku temui di kota asalku sampai makanan yang kurasa aneh.
Mencari oleh-oleh sudah menjadi hal wajib ketika berwisata, apalagi hotelku sangat dekat dengan pasar Malioboro. Banyak sekali barang dagangan yang dijual murah, aku membeli beberapa aksesoris seperti kalung, gelang dan gantungan kunci untuk dibagikan kepada keponakan-keponakanku. Suasana yang sangat ramai, dipenuhi oleh wisatawan lokal dan asing. Para berdagang berlomba untuk mendapatkan pembeli, para pembeli juga berbondong-bondong untuk menawar harga. Ada yang tidak tanggung-tanggung menawar hingga setengah harga, ada pula yang takut-takut. Aku tak lupa untuk memotret berjuta ekspresi yang beragam itu.
Pria berkaos merah itu muncul lagi di mataku untuk yang kesekian kalinya. Entah ini yang namanya jodoh atau apa yang pasti ia berada diantara keramaian bersamaku. Sekali lagi aku memotretnya diam-diam, tapi mungkin kali ini ia mulai menyadarinya. Tiba-tiba ia melihat dan menatapku dengan lekat. Jelas saja jika aku merasa salah tingkah.
Ini sudah waktunya makan malam, perutku mulai kosong. Nasi kucing menjadi makanan yang paling aku buru selama di Jogja. Dengan harga seribu lima ratus rupiah sudah bisa mendapatkan satu porsi nasi dengan lauknya. Porsinya memang tidak sebanyak nasi bungkus yang lainnya maka dari itu makanan ini disebut nasi kucing.
Disebuah angkringan aku memakan seporsi nasi kucing ditemani oleh secangkir teh manis, sinden-sinden khas Jawa menghiasi malam Jogjakarta, aku memang tak mengerti tentang apa yang pesinden itu dendangkan namun aku cukup menikmatinya.
Ada seorang pria duduk tepat disebelahku, ia menggunakan kaos berwarna merah serta kamera yang tergantung dilehernya.
“ satu porsi mbok” katanya
Beberapa menit kemudian sebungkus nasi kucing dan segelas kopi tubruk sudah ia dapatkan. Sepertinya aku mengenalinya,aku mencoba untuk melirik ke arahnya. Kini lelaki yang sering ku foto secara diam-diam tepat berada disampingku. Dia membalas tatapanku dan tersenyum.
Folder dengan empat ratus foto yang berjudul Yogyakarta sudah selesai kulihat; semuanya mengukir kenangan indah. Tak akan pernah kulupa sedikitpun. Tiga bulan memang sudah berlalu, tapi kuharap aku bisa kembali kesana; ke Yogyakarta.

Janda Belum Berlaki

Janda Belum Berlaki

Berpacaran dan kemudian ditinggalkan, itu yang terjadi pada diri Ayu. Berulang kali ia ditinggalkan oleh pria yang ia cintai. Baginya berpacaran adalah hal yang wajib, meski akhirnya ia harus ditinggalkan. Entah berapa kali tubuhnya rusak karena dijamahi pria yang belum jadi suaminya yang sah; entah berapa kali bibirnya yang ranum itu diberikan pada mereka dengan mudahnya.
Ia adalah pemuja cinta; pemuja lelaki, ia juga merasa sangat beruntung bila ada banyak pria yang mengejar-ngejarnya; mengemis-ngemis untuk meminta hatinya. Padahal lelaki itu hanya ingin mempermainkannya; mengangkatnya dan kemudian membuangnya. Entah sudah berapa lelaki yang sudah pernah menjalin hubungan dengannya, bilapun harus dihitung dengan jari sepuluh jari tangan pun tak akan cukup untuk menghitung jumlah mantan kekasihnya.
Sudah sering kali hatinya merasa dilema, memilih pria mana yang pantas menjadi kekasih hatinya; ia benar-benar merasa menjadi primadona, sebenarnya tak ada satupun pria yang benar-benar ia cintai; tak ada satupun pria yang benar-benar mencintainya. Karena itu hati kecilnya tetap merasa kosong; terus mencari pria dengan terus memacarinya.
Ia mungkin terlalu polos atau mungkin terlalu bodoh. Hari-harinya selalu dihiasi oleh lelaki-lelaki nakal, baginya ia sudah dihiasi dengan cinta. Pesan singkat, setiap hari selalu membanjiri telepon selulernya; entah hanya untuk sekedar menyapa atau mengajak makan. Setiap hari pikirannya dipenuhi dengan iming-iming cinta; iming-iming para lelaki.
Sebenarnya aku tak begitu peduli dengan apapun yang sudah ia lakukan, namun hal itu cukup mengusik pandanganku. Setiap ada lelaki yang menghampiri, logikanya jadi tidak karuan; kadang ia menjerit, atau berbicara dengan suara lengkingan manja. Sebagai seorang lelaki aku memang pernah menyukainya; menyukai sifat Ayu yang manja. Tapi semakin lama aku makin semakin jijik padanya; ia bagaikan seorang janda yang haus lelaki.
Teman-teman dikampusku sangat banyak yang mengenalnya;mengenal sosok Ayu dengan dekat. kadang aku selalu menemukan hal yang lucu: temanku adalah mantan kekasihnya dan temannya temanku juga mantan kekasihnya,ternyata temannya teman temanku adalah mantan kekasih Ayu. Aku sering tertawa sendiri karena sudah menjadi saksi betapa banyaknya mantan kekasih Ayu.
Sebagai seorang lelaki, aku tak pernah memandang Ayu sebagai wanita yang cantik, mungkin karena cantik relatif, jadi bagiku ia wanita yang biasa-biasa saja. Ia hanya gadis pesolek ditambah dengan sifatnya yang manja. Pria mana yang tak bernafsu dengan wanita seperti itu; apalagi melihat penampilannya yang begitu aduhai.
Ayu masih memutar-mutarkan penanya yang berwarna merah jambu, melayangkan matanya ke langit-langit kelas. Bajunya begitu ketat; berwarna hijau terang, rambutnya dibiarkan tergerai panjang. Lelaki yang duduk dibelakangnya banyak yang berbincang tentangnya.
“ ssst… bisa nggak lo dapetin si Ayu?”
“ ah! kalau cuman Ayu mah, nggak usah dikejer juga dateng sendiri.”
“ Ayuuu…!!!” kata Boris dengan manja.
Ayu menoleh dengan matanya yang binal, kemudian ia menjadi hilang akal.
“ Apaaaa Boriiiiiiis?”
“ duduk disini dong… Boris mau ngomong” Boris menyediakan satu tempat duduk kosong disebelahnya.
“ apa sih kamu?! Ya udah deh Ayu kesana” . Ayu beranjak dan duduk disebalah tempat duduk yang didiami Boris. Kini ia dikelilingi oleh pria-pria iseng, dan aku hanya bisa menyeringai.
Gadis itu begitu kegirangan, ia seakan memamerkan dirinya dihadapan wanita lain yang berada di kelas. Kadang ia menjerit “AUUW!”; “IIIH” atau tertawa terbahak-bahak. Perilakunya membuat seisi kelas merasa terganggu tapi mereka hanya bisa diam; mendengarkan Ayu.
“ IIIH.. Ayu kan sukanya sama Ibeng..” ia menunjuk ke arahku dan langsung memindahkan tempat duduknya kedekatku.
“ Ibeeeeng… lagi apa sih?! Kok diem terus?!!” rayunya.
“ apaan sih lo, ganggu banget”
“ ciieee… Ibeng dideketin Ayu.. hajar aja Beng!!”
“ Ibeng kok jutek sih sama Ayu? Ayu kan cuman nanya.”
Ia terus menempel didekatku, dosen belum juga datang setelah memberikan tugas. Aku masih fokus dengan tugas; Ayu masih mencoba menarik perhatianku.
Ayu lupa kalau kekasihnya adalah temanku; teman sekelas, yang artinya juga teman sekelasnya. Hari ini Rino tidak masuk, katanya sih sakit. Tapi aku sudah tau sifat temanku itu, paling ia berkencan dengan wanita lain.
“ inget pacar Yu…” tambah Boris
“ IIIH pacar?! Ayu kan pingin pacarannya sama Ibeng, lagian Rino tuh ya udah sebulan nggak ngasih kabar. Katanya sih sakit, tapi pas Ayu dateng ke kosannya dia nggak ada.”
Memang sudah sebulan ia tidak masuk kelas, sempat beberapa kali aku mengirim pesan padanya. Tapi tak satupun pesan ia balas, kalaupun dibalas yaitu pesan seminggu yang lalu yang menyatakan kalau dirinya sedang sakit, katanya ia juga memutuskan kembali ke tempat asalnya untuk beberapa waktu.
“ Yu.. si Rino itu emang bener sakit atau kawin sama cewek lain?”
“ sakit sih katanya, sms nggak dibales soalnya”
“ kawin kali” canda Ryan.
“ apaan sih Ryaaaaaan…?! ya udah deh kalo gitu Ayu mau sama Ibeng aja.”
Desas-desus kalau Rino menikah memang sudah terendus sejak dua minggu yang lalu, namun Ayu tak pernah percaya; Ayu yakin kalau Rino sakit. Desas-desus kalau Rino menghamili anak orangpun terus terangkat. Aku sih percaya saja, karena Rino memang dikenal sebagai lelaki nakal.
Tatapan Ayu padaku tidak se-centil tadi, ia menatap telepon selulernya dengan hampa. Memandang fotonya yang berada dalam pelukkan Rino, mungkin ia merasa ragu sudah satu bulan Rino tidak menghubunginya.
Tiba-tiba nada dering telepon selulerku berbunyi, tertulis nama Rino di dalamnya.
“ halo Beng? Mulai hari ini gue keluar dari kampus. Gue mau langsung nyari kerja.”
“ loh? Emang kenapa No?” Ayu menatapku dengan lekat, berharap ia bisa berbicara dengan kekasihnya.
“ besok gue mau nikah Beng, minta doanya aja ya.”
“ nikah?! Nikah sama siapa?!! Lo sekarang dimana?! Terus Ayu?!!”
Tatapan Ayu mulai melemah, badannya hampir tumbang. Wajahnya pucat, Ayu seakan kehilangan dunianya.
“ ya… nikah sama calon istri gue… hmm Ayu hmm gimana ya? Buat lo aja deh.” Rino menutup teleponnya tanpa sampai ke telinga Ayu terlebih dahulu.
Mata Ayu mulai meneteskan air mata, hingga akhirnya menangis.
***
Sudah seminggu Ayu ditinggal kawin oleh pacarnya, gosip tentang pernikahan Rino tetap menjadi misteri. Lagi-lagi Ayu ditinggal; lagi-lagi Ayu dipermainkan. Semua orang berbicara tentang Ayu; tentang cara berpacaran mereka berdua dahulu yang terlampau liberal.
Mungkin Ayu menyesal, karena sudah sangat merasa tersakiti hatinya; mungkin batinnya merasa ditipu. Sempat beberapa kali aku melihatnya termenung, tak ada lagi sapaan manja yang terdengar ditelingaku.
Aku ingat saat mereka berdua masih berpacaran, kemesraan selalu terumbar didepan umum. Entah hanya sekedar bercanda, berpegangan tangan ataupun berpelukkan. Semuanya terlihat secara jelas, tak bersensor sedikitpun
***
Dua bulan sudah berlalu, aku pikir dia sudah benar-benar berubah. Tapi ternyata ia tetap menjadi Ayu yang dulu; Ayu yang haus akan kasih sayang. Setiap melihat lelaki ia tetap menjadi perempuan yang manja. Sekarang ia siap dipacari lagi, hingga akhirnya ditinggalkan.

Post Navigation