Dianaira

Petrichor

short stories

Kisah Seekor Cicak

 

Akulah yang tidak disukai oleh hampir kebanyakan orang. Akulah yang dianggap sebagai hama. Akulah yang menempel di dinding rumah. Akulah yang terjatuh dan hingggap di kepala manusia, sehingga dianggap sebagai sumber kesialan. Akulah yang membuat kebisingan di tengah sunyinya malam. Akulah yang bertelur. Akulah yang mampu memutuskan ekorku sendiri. Akulah saksi hidup dari setiap perilaku manusia di dalam rumah. Akulah yang mengamatimu, mengamati manusia.

Agak lama aku tinggal di rumah ini, rumah yang sederhana dan dihuni oleh seorang gadis dan ayah tirinya. Gadis tersebut baru ditinggal mati oleh ibu kandungnya sejak satu tahun yang lalu, dan kini tinggal bersama pria yang sudah dinikahi ibunya selama empat tahun itu. Aku tak tau jelas berapa umur gadis itu, mungkin saja sekitar 13 tahun, wajahnya cantik meski awan mendung selalu menyelimuti cerianya, tubuhnya banyak dihiasi luka memar, dan aku selalu memergokinya sedang menangis.

***

Seperti biasa aku sedang mengamati serangga kecil bernama nyamuk untukku jadikan santapan pagi. Kuamati kemana ia terbang dan kubiarkan ia makan dengan kenyang terlebih dahulu. Dan setelah ia merasa lengah ku santap ia dengan lahap. Hap! Ku julurkan lidahku yang panjang ini dan dengan tangkasnya kumasukkan ia ke dalam mulutku. Pagi ini aku sudah mendapatkan santapan lezat. Namun, tidak begitu dengan gadis pemilik rumah ini, ia terlihat meringkuk kesakitan diatas kasur yang sudak kuyu itu.

BRAKK !! Tiba – tiba datanglah seseorang yang mendobrak pintu kamar gadis itu.

“hey bisu!!” kata pria yang tak lain adalah ayah tirinya.

“ngapain lu diem di situ?bukannya nyiapin sarapan buat gue.” Pria tersebut mendekati gadis itu dan mulai menjambakki rambut gadis yang terurai panjang itu. Wajahnya terlihat begitu pucat, dan berkeringat dingin. Gadis itupun mulai memegang dahinya sambil menunjukkan isyarat bahwa ia sedang sakit.

“ sakit?enak aja lo!!duit mana duit?”

Gadis itu mulai menangis sambil menggelengkan kepalanya.

“warisan dari nyokap lo mana hah?” gadis itu semakin menangis dalam diam. Sedangkan mata sang ayah tirinya yang merah menyalah penuh kemarahan itu tiba – tiba berubah menjadi tatapan penuh kebahagiaan dan kerakusan.

“nah ini kalung siapa? kalung lo kan? cepat lepas!!” gadis itu kembali menggelengkan kepalanya sambil memegang erat kalung yang terpasang dileher indahnya. Namun, tenaga pria itu tetap dan selalu lebih besar, iapun berhasil merebut kalung berbentuk hati dari jemari gadis kecil itu. Lelaki tinggi besar itu berlalu dengan cepatnya, sedangkan si gadis cantik masih menangis dalam bisunya.

***

Gadis itu memang bisu sejak kepergian ibu tercintanya. Aku tak tau bagaimana dan mengapa ibunya meninggal. Yang pasti sejak ku singgahi rumah ini, gadis cantik tersebut sudah tidak bisa mengeluarkan suara layaknya manusia – manusia yang lain. Mungkin saja kepergian ibunya menyisakan luka yang sangat dalam sehingga ia tak mampu untuk mengeluarkan suara tangisnya lagi.

Setiap hari ayah tirinya menyiksa tubuh mungil gadis  yang sampai sekarang tak kuketahui namanya itu. Semua harta yang ada didalam rumah telah lenyap entah kemana, mungkin sang ayah yang tak sepantasnya dipanggil ayah itu telah menjual segala yang ada didalam rumah demi kepentingan hidupnya sendiri. Ia menghabiskan harinya dengan berjudi, bermain perempuan, dan sesekali membawa perempuan yang berbeda kedalam kamarnya. Entah apa yang ia lakukan.

Aku sendiri hanya bisa mengamati tingkah mereka berdua dari kejauhan, sesungguhnya aku sangat ingin membantu gadis tersebut keluar dari segala penderitaan yang membayangi hidupnya. Namun, aku hanyalah seekor cicak yang mungkin saja bisa terbunuh oleh tingkah kejam manusia. Jadi, aku hanya bisa memperhatikan dan berdoa kepada tuhan agar gadis itu mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

***

Kawan – kawanku tak ada yang betah untuk tinggal di rumah ini, meski sebenarnya dirumah ini banyak sekali serangga kecil yang bisa dijadikan santapan. Alasan mereka mudah saja yakni tak tega melihat seorang gadis kecil yang selalu disiksa, dan dianiaya. Aku sendiri bukannya tega, namun entah mengapa aku sadar sepertinya aku harus lebih lama lagi untuk tinggal disini.

Lagi, aku menatapi gadis itu dengan rasa kasihan di dinding kamar. Dan ternyata gadis itu menyadari keberadaanku, ia menatapku seperti ingin berbicara. Aku yakin didalam hatinya  pasti ia ingin mengungkapkan isi hatinya. Namun, apa daya ia hanya seorang gadis bisu.

Aku tak mampu berdiam diri menatapi gadis cantik itu, jadi kuputuskan untuk keluar dari kamar melalui celah kecil di atas pintu kamar. Aku merayapi dapur, dan sampai ke tengah rumah. Ramai sekali disana, penuh dengan pria – pria mabuk dan wanita berbaju seksi. Aku tahu mereka sedang berjudi, sungguh tindakan maksiat dan memalukan. Namun, rasanya aku harus mengamati mereka, menurutku itu keputusan yang tepat.

“ punya apa lu Bred? Udah kere begini masih aja pingin ikutan” kata seorang pria mabuk berbadan kurus, kepada sang ayah tiri itu.

“ tenang aja kali ini gue pasti menang”

“ kalo lu kalah lagi apa jaminannya?” Tanya seoang pria yang terlihat sedang memeluk seorang wanita.

Pria yang disapa Bred itu kini terdiam seperti sedang berpikir keras.

“ya udah  gue kasih si cewek bisu itu aja deh”

“maksudnya anak tiri lu?”. Pria bangsat itu menganggukkan kepalanya.

“yang bener lu? Tu cewek biar masih bocah tapi cantik juga sih, Masih perawan nggak tu cewek?”

“ gue jamin dia masih perawan”

“ yakin lo belum pernah ngapa – ngapain dia?”

“perlu dibuktiin sekarang?” tantang pria itu kepada kawan – kawannya. Mereka semuapun tertawa terbahak – bahak.

Aku tak mengerti dengan jelas bagaimana proses perjudian itu. Yang pasti uang bergilir kesana kemari dan penuh dengan tawa riang serta botol – botol minuman bererakkan di sekitar meja judi. Aku berharap semoga pria jahat itu memenangkan perjudian tersebut. Bukannya, aku mendukung ia, namun aku tak mau melihat anak tirinya ternoda karena ulah pria – pria pendosa itu.

Suasana semakin memanas, ketika Abred mulai kebingungan dan rasa kesal menyelimuti wajahnya. Wajahnya terlihat pucat dan putus asa.

“ aduh Bred, gue bilang juga apa bentar lagi lo juga  kalah lagi” ia hanya terdiam.

Tiba – tiba tawa riuh,kembali membahana. Seorang pria bertubuh kurus mengeluarkan kartu andalannya.

“hahaha..gue menang. Janji lo harus lo tepati Bred.”

“tuh dia ada di kamar” kata ayah tak bermoral itu.

“sorry bray.. kayaknya lo semua, harus pergi, gue mau menikmati malam indah sama tu cewe bisu itu.”

“oke oke..kita semua ngerti.. hahahah..”

Para pemabuk dan wanita – wanita nakal itupun meninggalkan rumah ini, termasuk si ayah tiri. Sekarang hanya tinggal kami bertiga yang ada didalam rumah ini. Aku, pria  hidung belang dan gadis cantik itu.

Lelaki itu terlihat sedang bersiap – siap dengan mata binalnya. Langkahnya maju  perlahan sambil memanggil nama gadis itu dengan pelan dan lembut. Ku ikuti setiap langkahnya. Hingga sampai disebuah kamar kecil yang didalamnya gadis itu. Kemudian, ia mengetok pinu itu dengan perlahan.

“Dinda sayang buka pintunya dong” namun sepertinya, gadis itu tak mau membuka pintu kamarnya.dan ku harap ia tidak akan pernah membukakan pintu kamarnya.

“Dinda…” ulang lelaki itu. Berkali kali ia memanggil nama gadis itu. Namun, dinda tak juga muncul dari balik kamarnya. Dengan rasa penasaran aku merayap ke dalam kamar gadis mungil itu. Dan kulihat ia sedang ketakutan sambil memeluk sebuah bantal. Aku rasa Dinda sudah tahu akan hal itu.

Dinda mulai menangis dan lelaki itu mulai mencoba mendobrak pintu kamarnya yang sudah rapuh itu.

“Dindaaa.. kalo lo nggak juga buka ini pintu gue dobrak!!”

BRAKKK!!! Pintu itu terbuka lapang. Dan kulihat seorang pria tinggi kurus menatap Dinda dengan penuh birahi.

“mau apa lo sekarang?”lelaki itu tersenyum dan mulai mendekati Dinda.

Gadis cantik itu mulai melempari barang – barang yang ada didekatnya ke arah lelaki itu namun, semua terasa sia – sia dan percuma.

“mau lempar apa lagi sayang?semuanya nggak akan berguna. Bokap tiri lo udah ngejual lo ke gue. Gue bebas mau ngelakuin apa aja.” Pria itu mulai menyentuh pipi gadis cantik yang terlihat ketakutan itu.oh tuhan!

Aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi, gadis itu masih sangat polos dan baik hati. Sedangkan pria itu mulai melakukan tindakan – tindakan tidak pantas. Kuputuskan untuk merayap  dan terdiam tepat diatas kepala pria itu, setelah itu pluk! kujatuhkan tubuh mungilku kekepalanya untuk mengalihan perhatian.

“AH apa ini?” pria itu terkejut sambil mencoba untuk menyingkirkanku dari kepalanya yang berambut gondrong itu Namun aku tetap mencoba bertahan dengan kaki – kakiku yang lengket ini.

Setelah beberapa saat ia berhasil membantingku dengan tenaganya yang besar itu. Akupun terpelanting didekat kakinya.

“ dasar cicak sialan!!!” aku berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia mulai mencari benda untuk memukulku hingga ia dapatkan sebuah tongkat besar yang siap untuk membunuhku. Namun, aku tak putus asa kugunakan keahlian terakhirku untuk mengalihkan perhatiannya yaitu dengan cara memutuskan ekorku.kuharap ini akan berhasil. Tapi ternyata kali ini dugaanku salah, lelaki itu tetap mengejarku. Kekuatanku semakin melemah, hanya satu harapanku kali ini semoga gadis itu bisa berlari sejauh mungkin.

Setelah susah payah, pria itu berhasil mendapatkanku, dan memukulku dengan segala upaya yang ia punya. Tatapanku makin tak karuan, tenagaku semakin melemah.kuharap gadis itu segera pergi dari rumah ini, aku tak peduli dengan keadaanku sekarang mungkin sang malaikat maut sudah siap menjemput sang binatang dengan penuh kesialan ini.

***

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: