Dianaira

Petrichor

Archive for the tag “#AkademiCeritaBandung”

Bentang, I can’t Believe This!!!

Satu hal yang terlintas dalam pikiran saya ” I can’t believe this!!!”. Sebuah perjalanan rahasia untuk menggapai cita-cita dan saya benar-benar melakukannya. Awalnya agak ragu menjalankan misi rahasia ini, mengingat saya termasuk orang yang tak bisa berbohong di hadapan orang tua. Namun, kali ini saya percaya pada White Lies, kebohongan dengan tujuan yang baik ya, apalagi kalau bukan menggapai cita-cita saya sebagai seorang penulis.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak mengutarakan keinginan saya untuk ke Yogyakarta diantaranya: 1. Ayah saya yang overprotective 2. Saya ingin memakai uang sendiri 3. SENSASI!! 4. KEJUTAAN!!. Well, akhirnya ketika sampai di St. Kiara Condong saya tak hentinya bergumam ” I can’t believe this!! Mom, Dad I’ll really be fine.” ini adalah kali pertama saya naik kereta api (alay :”(( )

And I’m really fine God, setelah kurang lebih 9 jam berada di kereta kelas ekonomi yang lumayan nyaman itu (meski bangkunya terlalu tegak, hingga membuat saya sulit tertidur). Saya dan anak-anak Akademi Bercerita Bandung (komunitas yang belum lama ini saya ikuti) tiba dengan sentosa di St. Lempuyangan sekitar pukul 5 shubuh. Kemudian kami menuju mushola sebelah stasiun untuk solat.

Wisma Aisyah, titik pertama yang kami kunjungi setelah tiba di Yogyakarta, apalagi kalau untuk sekedar melepaskan lelah. Tempatnya sangat nyaman, pemiliknya juga sangat ramah. dan yang tidak saya sangka adalah, nasi dan air mineral sudah mereka siapkan selama kami tinggal. Bagi saya itu adalah pelayanan yang sangat memuaskan mengingat biaya inapnya yang murah.

Sampailah ke destinasi utama kami, yaitu Bentang Pustaka yang berada di JL. Plemburan No. 1, Pogung Lor. Kami harus mengalami perjalanan yang cukup ekstrem yaitu berjalan di pinggir jalan yang saya rasa tak ada trotoarnya, yang nampak hanyalah garis bahu yang begitu sempit ( seperti berjalan di jalan setapak), lantaran kami tak tahu jalan mana lagi yang bisa kami tempuh. Nyatanya, kami tiba di Bentang Pustaka sekitar pukul sebelas lebih 15 menit. Di saat itu kami bertemu seseorang yang biasa dipanggil mas Udin. Kemudian bertemu (lagi) dengan mas Imam, para editor : Ka Ika, Ka Dila dan Ka Noni.

Sekilas tentang mas Udin dan mas Imam entah mengapa saya mengira kalau mereka itu mirip atau mungkin kembar (??) mungkin karena efek kacamata dan dua-duanya yang sama-sama memiliki sifat humoris.Kemudian,  perhatian saya beralih pada editor di mulai dari Ka Dila yang bagi saya sangat Cute apalagi saat tertawa, kemudian ada kak Noni yang terlihat sangat serius dengan kacamatanya dan Ka Ika yang begitu cerdas, tegas dan kritis. Melihat ke-tiga editor ini membuat saya teringat pada kakak perempuan saya yang juga ber-profesi sebagai editor di sebuah penerbit buku, dalam benak saya bertanya  jangan-jangan kakak saya juga se-kritis mereka??

Presentasi naskah pun dilakukan di hari itu juga (red: Jumat). Presentatornya adalah : Gelar, Ira, Amel dan teh Ica. Walaupun hari itu saya tak kebagian untuk mempresentasikan Draft saya, tapi jujur saya juga ikutan deg-degan. kemudian hari Sabtu dilanjutkan dengan Kak Tria, Ega ( Akademi Bercerita Jogja), Saya, Kak Tia, kak Nanae, Kak Oeti dan kak Lela. Presentasi naskah di mulai dari jam 10 pagi sampai pukul 14.00. Semua pun akhirnya selesai menjalankan misi bersama untuk menjual naskah masing-masing kepada para editor.

Setelah dari Bentang kami melakukan perjalanan lagi dengan menyewa sebuah mobil. Kami ber-8 (minus kapten dan Amel) mengelilingi Jogja dan singgah di Candi Ratu Boko. Yups, tujuannya untuk melihat sunset di sana. Pertama kali saya berada di Ratu Boko, mengingat saat ke Yogyakarta beberapa waktu yang lalu Candi Ratu Boko tak ada di daftar destinasi saya. Adalah puing-puing Candi yang begitu menakjubkan, saya merasa sedang berada di Roma (ga tau kenapa malah mikir ke sana) kemudian khayalan saya melayang bila saya hidup di zaman kejayaan Candi ini. Hidup tanpa listrik, tanpa gadget , menyatu dengan alam AAARRGGH apakah saya bisa melewati semua ini?!! ( red: abaikan).

Hari ketiga di Bentang Pustaka, kami bertemu dengan pemilik nama Salman Faridi CEO dari Bentang Pustaka, setelannya asik (bergaya anak muda) sempat saya berpikir kalau beliau itu….. ahh sudahlah lupakan. Mas Salman berbagi cerita kepada kami tentang dunia penerbitan. Banyak ilmu yang bisa kami dapatkan, impian saya: saya bisa bergabung dengan kalian.

Setelah berbagi ilmu dengan mas Salman, kami kembali ke Wisma Aisyah untuk packing. hal yang membuat saya terenyuh ketika ibu pemilik Wisma mengajak kami berfoto bersama (berasa artis) dan setelah itu statusnya berucap ” Makasih romb. penulis muda Bdg.. (amiin). Meninggalkan Wisma Aisyah kami berbelanja oleh-oleh dan sekitar pukul lima sore kami tiba di stasiun Lempuyangan. Untuk kembali ke tanah tercinta Bandung.

Sebuah perjalan untuk meraih impian masih kami tempuh, pada akhirnya ketika tiba di Bandung dengan selamat, sentosa sejahtera dan tak ada satu yang kurang pun saya berpikir kalau cita-cita memang harus diperjuangkan. Bila sudah yakin dengan cita-citamu yang harus kamu lakukan adalah fokus, tak perduli seberapa ratus kali kamu terjatuh haruslah bangkit lagi. Dan saya benar-benar melakukannya untuk meraih impian saya, dulu saya memang agak ragu pada cita-cita saya ini, mengingat masih jarang ada yang menjadikan penulis sebagai impian utamanya (ambisi) tapi faktanya orang bisa sukses dalam bidang apapun bila ia fokus terhadap tujuannya dan akan sangat menyenangkan bila profesi berawal dari hobby.

Saya jadi ingat akan puisi yang saya pelajari di kampus karya Robert Frost berjudul The Road Not Taken. Saya mengambil jalan berbeda dari orang kebanyakan ketika orang-orang memilih untuk menjadi scientist, dokter dan sebagainya saya memilih menjadi penulis yang jarang orang tapaki ” I took the one less traveled by, And that has made all the difference.” Apalagi saya berkuliah di jurusan sastra ketika orang-orang semakin melupakan sastra, mungkin saya memang harus berada di jalur ini.

Dan semoga benar-benar ada KEJUTAAN untuk orang tua saya, ketika nama saya terpampang di sebuah buku sebagai penulisnya. (CEEEILEEE!!!)

IMG-20140922-WA0007

(tengah) mas Salman  bersama (dari kiri) Gelar, Ka Ica, Ka Tia, Ka Oeti, Ka Lela, Amel, Ira, Kapten Ariel, Ka Tria, Saya, dan Ka Nanae.

IMG-20140922-WA0004

Thanks to Wisma Aisyah

IMG-20140920-WA0006

(kiri) Gelar, Mas Udin, Mas Imam, Kak Tria, Saya, Kak Nanae, Kak Lela, Kak Tia, Kak Ika, Amel, Ka Ica, Ira.

IMG-20140918-WA0007

Kereta Api Kelas ekonomi yang nyaman.

Pict2393

Sebuah misi rahasia.

Advertisements

Mereka Datang dan Menjelma Aku

Kamu dikalahkan oleh peran yang kamu ciptakan sendiri. Kata-kata itu masih sangat terngiang dikepalaku, Dirga berulang kali mengatakan hal itu. Aku hanya bisa menelan ludah atas semua hal yang telah aku lakukan, ‘aku sudah tidak mengenalmu’. Aku tak pernah bisa melupakan semua kalimat yang terucap dari bibirnya itu, kalimat itu adalah hal terakhir yang aku dengar sampai hari ini.

Di sebuah ruangan pengap ini aku terbaring. Ruangan ini sangat bau, maklum aku tak begitu suka dengan aroma khas obat-obatan. Sudah seminggu aku berada di tempat ini dengan sebuah alat bernama Elektrokardiagram yang bertugas mendeteksi denyut jantungku serta berbagai alat suntik, infus dan opname sebagai alat untuk bernafas. Aku melihat diriku yang terbaring itu, sejenak aku berpikir keras untuk kembali pada tubuh yang lemah itu. Aku perhatikan tiap bagian tubuhnya, hingga ke pergelangannya yang memiliki bekas sayatan.

Aku tak bisa mengingat atas apa yang telah aku lakukan pada tubuhku yang malang itu hingga akhirnya Dirga datang dan menjenguk. Aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan—mungkin karena kami berbeda dimensi—aku hanya bisa memperhatikan gerak-geriknya yang penuh kesedihan itu.

Berulang kali aku mencoba membunuh diriku sendiri, meski pada dasarnya aku memang sudah mati. Akhirnya aku ingat semua itu. Sebuah potongan beling kini berada di ingatanku. Tangan yang bersimbah darah itu seakan menjelma dan mengotori roh ini.

“ Dia datang Dir.” Kataku dengan mata yang sangat ketakutan. “ Dia siapa?!” “ Dia, dia yang datang dari kegelapan, dia sisi gelapku.” Aku masih mencoba meyakinkan Dirga, bahwa ada seseorang yang selalu mengejarku, yaitu diriku sendiri. “ Kamu kenapa sih akhir-akhir ini jadi sering berhalusinasi Gis? Nggak ada yang datang Gisaang. Di sini cuman kita berdua. Percaya sama suamimu ini.” “ Nggak Dirga, dia datang, dia mengejarku, AKU BISA GILA!!” aku mengacak-acak rambutku yang tergerai itu. Sesaat aku berteriak dan melempar semua benda yang ada di hadapanku.
Ada sesuatu yang mengejarku, ia adalah diriku sendiri. Ia datang lewat mimpi dan bayangan cermin, aku yakin dia akan menangkapku dengan tatapannya yang menyeringai itu. Dia memiliki kekuatan yang sangat jahat dan gelap. Aku tak berani untuk menatapnya, meski ia selalu datang tanpa diduga-duga.
Semua itu terjadi sejak aku menjadi seorang penulis fiksi profesional, setelah buku pertamaku berhasil di terbitkan oleh salah satu penerbit ternama. Aku memang sangat tertarik untuk menulis cerita-cerita thriller yang mengandung unsur darah dan pembunuhan, buku pertamaku yang berjudul “ The Confessions” itu memanglah ber-genre thriller. Aku seakan terjebak pada sebuah peran yang aku ciptakan entah ini sebagian dari naluri psikopatku atau memang bakatku yang lebih terasah saat menulis sesuatu yang penuh dengan kengerian dan kekejian.
Aku telah menerbitkan 10 buku dan semuanya ber-genre Thriller, kadang suamiku Dirga selalu mengingatkanku agar aku tidak terjebak dengan sebuah genre. Kini aku terkena dampaknya, tokoh yang aku ciptakan tiba-tiba menjelma yang semakin lama berubah menjadi diriku sendiri.
“ Dir, kamu ingatkan tokoh Kyrani yang aku ciptakan? Dia memanggilku, dia datang dengan satu matanya yang buta itu. Dia datang dan tiba-tiba berubah menjadi aku. Ingat kamu jangan sekali-kali mematikan laampu atau ia akan datang membunuhku, membunuh kita. Jangan tinggalkan aku sendirian Dirgaaa.. aku ketakutan sangat ketakutan.” Dipojok kamar aku duduk dengan lutut yang terlipat dan tangan yang tak terlepas memeluk lututku sendiri.
“ Nggak ada yang akan datang Gisang. Kamu cuman berhalusinasi. Kamu harus kembali ke psikiater. Kamu harus banyak istirahat.”
“ Kamu pikir aku gila?! Aku nggak GILA!! Mereka memang datang, semua tokoh yang aku ciptakan datang dari kegelapan. Lama kelamaan mereka menyatu dan berubah menjadi diriku sendiri. Kamu tahu kenapa dia datang? Apalagi kalau tidak untuk membunuhku.!!”
“ Kamu nggak gila sayang, tapi kamu harus berkonsultasi. Kamu sudah minum obat penenang hari ini?”
“ Berhenti menyuruhku memakan obat sialan itu. Kau tahu, dia membuatku tertidur. Mereka akan mendatangiku lewat mimpi. Aku tak mau tertidur atau aku akan kalah dari mereka.” Kataku dengan nada bersungguh-sungguh, sudah dua hari aku tak tidur. Aku sangat takut saat memejamkan mata, saat melihat cermin dan juga saat berada di kegelapan.
Dirga tiba-tiba kehilangan kendali dan berteriak “ Dasar wanita sialan!! Ya, kamu memang sudah gila. Aku sudah bilang padamu berkali-kali agar meninggalkan ceritamu yang penuh darah dan mengerikan itu!! Aku sendiri selalu ngeri saat membaca ceritamu itu, apa kau tak merasakannya sama sekali? Wajar saja bila mereka mendatangimu. Mungkin mereka ingin membalas dendam atas cerita yang telah kau buat. Aku lelah dengan semua perubahan sikapmu itu, kau menjadi aneh luar biasa aneh. Sudah hampir setahun kau selalu begini, kau tahu aku berusaha sabar, tapi kini aku sudah tak bisa menahannya lagi!” Dirga membanting lampu tidur itu ke lantai sesekali aku menjerit. Aku semakin ketakutan, Dirga berubah menjadi seseorang yang mengerikan.
“ BUNUH AKU SEKARANG WANITA JALANG!! Atau lama kelamaan aku yang jadi gila.” Ia mengambil serpihan beling lampu tidur itu dan menyodorkannya ke arahku.
“ Tolong Dirga, jangan seperti ini aku takut. kau lama-lama menjadi tokoh yang aku ciptakan 10 tahun yang lalu, jangan menjadi Jack sayang!!” aku mencoba memeluknya namun ia menolak.
“ Kalau aku memang Jack kenapa?!!! Bukankah seperti yang kau katakan, para tokoh itu datang menemuimu, tenang sayang aku tidak akan membunuhmu kau saja yang menancapkan beling ini ke jantungku maka hidupmu akan selamat.” Ia menarik tanganku dan memaksaku untuk menancapkan potongan beling itu ke arahnya, jelas aku menolak dan berusaha berdiri.
Aku berlari menghindarinya dan membanting pintu kamar ada kalimat yang aku dengar “ KAMU TERJEBAK OLEH PERAN YANG KAU CIPTAKAN SENDIRI. AKU SUDAH TIDAK MENGENALMU!!!” teriak lelaki itu. Aku hanya bisa merintih, dia lelaki itu, orang yang kucintai berubah menjadi sosok yang mengerikan bagiku. Langkahku begitu rapuh sambil menggigit jari, air mata tak bisa aku berhentikan, sesaat Dirga tiba-tiba menghampiri dan memelukku “ Maafkan aku sayang, tak seharusnya aku berperilaku seperti ini!” ia mencium rambut dan keningku berulang kali. Aku yakin ia menyesali atas apa yang telah ia katakan kepadaku.
“ Aku janji akan menolong dan selalu berada disisimu.” Ia tersenyum tulus, namun senyuman itu berganti menjadi sebuah seringaian yang sangat mengerikan. “ JACK?!!!” aku mendorongnya dan masih menggenggam potongan beling yang Dirga berikan padaku. “ Apa kabar Gisang? Sang Pencipta!! Kau tahu aku lahir dari tangan dan naluri pembunuhmu itu.”
“ Bukan, kamu bukan Jack kamu Dirga suamiku!!!” langkahku mundur perlahan.
“ Suamimu itu sudah mati, aku Jack!”
“ Jangan berani memajukan langkahmu itu.”
“ Atau?”
“ Aku akan membunuhmu.”
“ Bagaimana kalau seperti ini?” ia memajukan langkahnya dan berubah menjadi diriku sendiri. Aku kaget dengan spontan aku menancapkan beling itu tepat di perutnya. Aku berhasil menusuknya, sesaat aku merasa puas. Namun setelah aku membalikkan badannya ternyata itu adalah Dirga, suamiku.

Aku dikalahkan oleh mereka, aku mengambil potongan beling yang menancap di perut Dirga. Aku menyayat tanganku sendiri, dan memakan berbagai jenis obat penenang denga jumlah banyak. Semenjak hari itu, aku tak tahu lagi berada di mana.


Aku hanya bisa menangis saat mengingat apa yang telah kulakukan. Syukurlah suamiku masih hidup dan sudi menjenguk ragaku yang lemah itu. Ya, mereka berhasil menjebakku Kyrani, Jack, Delvan dan lainnya. Tapi aku belum sepenuhnya kalah, karena jantung itu masih tetap berdetak.

Post Navigation