Dianaira

Petrichor

Archive for the tag “#KlubCeritaDwita”

I Love You, You Love Her but She Belongs to Him

KCD-01_zpsd7686963Ia masih memalingkan perasaannya pada gadis itu. Seseorang yang sebenarnya tak mungkin ia raih. Gadis itu memang cantik—primadona kelasku—bermata bundar, memiliki hidung yang kecil dan lancip juga kulit yang lumayan putih. Namun, hanya tinggal hitungan bulan saja sebuah cincin akan segera melingkar di jari manisnya. Naya memang dijodohkan oleh ke dua orang tuanya dengan lelaki yang sepuluh tahun lebih tua darinya, jelas ia tak mampu menolak karena tuntutan ekonomi, namun hal yang paling menyedihkan adalah Naya dan Deva tetap menjalani sebuah hubungan yang sepatutnya tidak terjadi pada wanita yang siap dipinang.

Aku masih menyukainya. Seseorang yang tak pernah menoleh ke arahku—yang dengan sengaja selalu memberikan perhatiannya pada wanita yang sebentar lagi akan dinikahi oleh lelaki lain—dan selalu memberikan senyumnya pada gadis sok polos itu. Dia Deva, seseorang bertubuh tinggi nan kurus serta kulitnya yang berwarna kecokelatan. Wajahnya tak begitu tampan, namun aku tak mengerti sejak kapan menyimpan perasaan ini padanya.

Sebenarnya banyak sekali yang kubagi dengannya. Hatiku telah memilih dan meyakini bahwa lelaki yang selalu memakai kaos bertuliskan “ Bring Me The Horizon” itu adalah seseorang yang kucari selama ini. Apalagi setelah aku tahu bahwa kami memiliki selera musik yang sama, kami sama-sama menyukai musik Hardcore. Sejak itu aku memutuskan untuk terus memelihara perasaan ini selama bertahun-tahun.

Di kampus pertama kali aku berjumpa dengannya. Sejak awal ia memang sudah menaruh perhatian pada gadis bernama Naya itu. Apapun yang Naya pinta pasti selalu ia turuti demi mendapat perhatian darinya. Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan dengan tatapan yang agak kesal.

Aku masih terbaring bersama khayalku yang menggantung di langit-langit kamar. Sesekali memainkan jemari dan membentuknya menjadi lambang metal. Kakiku berusaha menendang langit, bibirku tak hentinya bergerak mengucapkan kalimat bahasa Inggris yang kadang membuat lidahku bergerak tak karuan. Ku mainkan rambutku yang tergerai panjang yang menyentuh sprei dan menutupi sebagian dari wajah. Aku bangkit dan melonjak-lonjakkan kakiku hingga suara ranjang berderik meminta tolong. Tanganku berpura-pura menggenggam microphone, dan menyanyikan band kesukaanku Sleeping With Sirens.

Tembok pun menutup telinganya saat mendengar  Kellin Quinn mengeluarkan suara scream. Tembok malang yang dihiasi berbagi poster band metal itu masih berusaha tegak berdiri. Sound speaker dari komputerku aku putar sekencang-kencangnya. Seperti inilah hidupku dihiasi oleh musik-musik bernada kencang dan keras yang juga bisa juga diartikan sebagai pelarian atas perasaan yang mengendap di dasar hatiku.

Sementara langit kabupaten Bandung di hari minggu masih cerah. Aku harap hujan tak akan mengguyur daerah ini. Jika hujan, aku pasti akan segera bersiap-siap mengantisipasi banjir dan mengangkat barang-barang ke atas loteng. Sungguh hal ini sudah menjadi kebiasaan keluargaku yang sebenarnya membuatku begitu lelah.

Besok rutinitas kembali di mulai. Dengan berbagai perasaan yang selalu bergejolak di dalam dada. Dengan rasa cemburu yang selalu menimpa hidupku, aku harus mampu menghadapi dua sejoli yang di mabuk asmara itu. Mendengarkan cerita-cerita Naya yang bimbang karena akan segera dinikahi oleh pria mapan. Sebenarnya hatiku sangat gembira saat mendengar Naya akan segera menikah dengan pria lain, namun setengah dari hatiku juga merasa sedih melihat Deva harus patah hati.

Tak ada yang lebih melelahkan selain menempuh perjalanan ke kampus. Kampus ku memang berada di ujung kota Bandung, bayangkan saja dari ujung ke ujung dan aku harus melewatinya bertahun-tahun dengan 4 angkot. Setiap hari aku harus siap bangun lebih pagi dan menaikki 4 jurusan angkot yang berbeda Ciparay- Dayeuh kolot, Dayeuh Kolot- Buah Batu, angkot berwarna cokelat dan Cicadas-Cibiru. Pernah aku merengek untuk dibelikan motor kepada ke dua orang tuaku namun sepertinya mereka masih terlalu takut, mengingat aku adalah satu-satunya anak mereka.

Dengan langkah cepat, aku masih menyumpahi angkot yang telah membuatku terlambat masuk kelas. Berulang kali aku menatap arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Jarum panjang dan pendeknya sama-sama menunjukkan angka 8 aku terlambat hampir setengah jam.

Hari ini adalah mata kuliah Survey of Victorian Literature. Ya, aku memang berkuliah di jurusan sastra Inggris. Pada saat itu aku tak mengerti mengapa aku memilih jurusan ini, aku hanya melakukan ritual menutup mata dan memilih sekenanya.

Sialan, pak Ramzi adalah dosen dari mata kuliah yang biasa disingkat Sovlit itu, ia dosen terkiller. Ia selalu memberikan kuis mendadak bagi siapa saja yang terlambat masuk ke kelasnya.

Perjuangan yang sangat melelahkan, aku berhasil meraih pintu yang terletak di lantai tiga itu. Aku menarik napas panjang dan meraih gagang pintu yang memberikan aroma mistik itu, semoga aku tidak mendapatkan kuis mendadak dari Pak. Ramzi.

“ Boleh masuk pak?” kataku dengan nada ragu.

Pria berbadan besar bagai Bodyguard itu menganggukkan kepalanya, dengan tatapan acuh tak acuh. Aku duduk di baris paling depan lantaran hanya bangku itulah yang masih tersisa.

“ Lo dari mana aja sih?” Ariana berbisik padaku.

“ Gila! Angkotnya ngetem. Sialan bangetlah.”

“ Eh, udah denger info belum?”

“ Apaan?” aku membalas bisikkannya dengan rasa penasaran. Sesekali aku menatap raut muka pak Ramzi yang sedang menerangkan materi kuliah yang sebenarnya tak begitu aku pahami. Aku harap ia tak menyadari tingkah kami yang sedang asyik membicarakan hal lain.

“ Bulan depan Naya mau nikah. Sekarang dia udah berhenti kuliah, calon suaminya nggak izinin dia ngelanjutin.”

Sontak aku merasa kaget. Tatapanku kembali tertuju pada pak. Ramzi yang sedang asyik bersama power point yang ia tunjukkan melalui proyektor. Ia tak menyadari ekspresi kaget yang aku tuangkan dengan menutup mulut dengan ke dua tanganku. Bukannya Naya baru akan menikah tahun depan. Lantas bagaimana dengan nasib Deva?

“ Gue pingin banget ngeliat gimana mukanya Deva pas Naya nikah. Pasti sakit tuh, lagian Naya udah mau nikah masih aja nekat dipacarin.” Jelas Ariana dengan nada meringis.

“ Iya Ri, gue juga ngerasa puas ngeliat Deva patah hati.” Apa yang telah aku katakan jelas berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. Deva yang sangat memuja Naya, hatinya pasti hancur berkeping-keping. Hatiku pun merasa teriris bisa saja Deva kehilangan semangat hidupnya.

“ Ran, lo udah nggak suka sama Deva kan?”

“ Ya, enggaklah. Cowo freak kaya’ dia mana mungkin masih gue pertahanin.” Lagi-lagi apa yang telah kukatakan berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan. Aku memaksakan senyumku mengembang dan memperlihatkannya pada Ariana. Perempuan berwajah imut itu membalas senyumanku dan memalingkan pandangannya pada layar, kemudian ia mencatatnya pada binder kesayangannya yang berwarna merah itu.

Sejak dulu Ariana memang tidak pernah menyukai Deva, Begitu pula dengan Kayana teman seperjuanganku yang satu lagi. Yang lebih parahnya lagi hampir seisi kelas tak ada yang menyukai Deva selain aku dan Naya tentunya. Kesalahan terbesar yang dilakukan Deva adalah mencintai seseorang yang sudah hampir dipinang. Bahkan ia rela melakukan segala cara demi mendapatkan cinta Naya dan hasilnya perempuan bermata bundar itu juga membalas perasaannya meski tetap saja tak merubah keadaan untuk membatalkan hari pernikahan.

Di sela pintu yang sedikit terbuka, aku melihat Deva. Ia memakai kemeja kotak-kotak yang bagian lengannya ia lipat hingga sebatas siku. Sebuah kacamata stylish ia gunakan sebagai penghias, sebuah topi berwarna biru dan hitam juga terpasang rapi di kepalanya. Aku teringat pada yang Kayana katakan waktu itu, katanya gayanya terlihat berlebihan sebagai lelaki yang menyukai musik metal. Memang iya, tapi apa peduliku toh aku tetap menyukainya.

Dengan Mata Kuliah yang sama, ia masuk seusai kelasku berakhir. Sementara ia masih asyik pada smartphone dan juga sepasang handsfree yang menempel di telinganya. Pikiranku menerawang, musik apakah yang sedang ia dengarkan sekarang? Sleeping With Sirens, Bring Me The Horizon, Burgerkill atau Dream Theater? Sungguh aku penasaran akan musik yang sedang ia dengarkan itu. Aku ingin berbagi pengetahuan musik metalku padanya.

Lalu aku teringat pada yang dikatakan Ariana barusan. Sontak aku ingin memahami perasaannya, hatinya pasti sedang kalut dan bercampur aduk. Orang yang ia cintai akan menikah hanya dengan hitungan minggu. Mungkinkah musik metal adalah pelarian dari kesedihan dan kemarahannya sama?

Tiba-tiba Kayana bangkit dari tempat duduknya, ia menutup pintu rapat-rapat. Harapanku untuk menatap Deva lama-lama sirna sudah. Pandangaku kembali tertuju pada layar proyektor, dengan lagak sok serius aku mulai mencatat hal-hal yang sudah diterangkan oleh pak Ramzi.

Cincin sudah melingkar di jari manis Naya, terhitung sudah tiga bulan sejak hari pernikahannya. Akupun tak lupa untuk mengecek status yang telah dibuat Deva sebagai luapan perasaannya. Di mulai dari Facebook, twitter, BBM hingga Path. Untaian kalimat mengandung makna patah hati ia luapkan di semua jejaring sosial. Perasaanku ikut teriris meski harusnya aku merasa bahagia.

Di hari pernikahannya Naya memang terlihat berbeda. Senyumnya selalu ia tebarkan pada tamu yang berusaha menyalaminya di pelaminan. Kebaya berwarna merah tua begitu cocok ia kenakan pada tubuhnya yang ramping. Akupun berusaha membalut rasa tak sukaku padanya dengan sebuah senyuman dan ucapan selamat yang ia balas dengan sebuah pelukan dan sampai detik ini aku masih tak memahami yang sebenarnya Naya rasakan, entah bahagia atau justru kesedihan sedang melanda hatinya. Tak kulihat batang hidung Deva sama sekali selama acara resepsi berlangsung, ah mana mungkin ia bisa menguatkan hatinya saat melihat gadis yang ia cintai bersanding dengan lelaki lain.

You’re so beautiful and I can’t forget your lips when you smile at me.

Aku yakin pernikahan tak menjamin sebuah kebahagiaan.

Itulah dua status terakhir yang ia tulis di beberapa jejaring sosial. Hatiku merasa iba, meski sejumlah pertanyaan juga menumpuk. Apakah hanya Naya yang kau cinta? Kenapa hanya Naya yang kau cinta? Bagaimana bisa hanya Naya yang kau cintai? Kapan kau akan berpaling dari Naya?

Aku masih mengenggam smartphoneku dengan hati teriris, di ruangan yang bernamakan kamar ini aku bisa dengan leluasa meluapkan perasaan. Aku masih duduk dipojok kasur dekat jendela sambil melipat kedua lututku dan membalutnya dengan kedua tanganku. Sudah tiga bulan Naya menikah. Memang tak mudah untuk melupakan seseorang yang sangat dicintai. Harapanku masih per nol sekian persen untuk membuat Deva menyukaiku, meski kami memiliki kegemaran musik yang sama.

Namun tiba-tiba sebuah kabar mengejutkan datang dari Naya. Baru sekitar dua menit yang lalu ia memperbaharui statusnya “ Alhamdulillah, kandunganku sudah berusia 2 bulan. Mudah-mudahan diberi kelancaran. Amiin. J”  Naya akhirnya akan menjadi seorang ibu.

“ Kalian kan punya selera musik yang sama. Deketin aja kenapa sih, lagian Deva belum deket sama siapa-siapa lagi” Kayana meyakinkanku sehabis pulang ngampus. Akhirnya Ariana dan Kayana tahu bahwa aku masih menyimpan perasaan pada lelaki bertubuh kurus itu.

“ Gimana caranyaa Kaaay?”

“ Yah gampang, lo tuh kan admin twitter Sleeping With Sirens Bandung tuh. Ajak aja ke event-event SWS. Terus kalian bisa tuker-tukeran lagu-lagu yang lo suka.” Kayana masih sibuk dengan segelas jus jambu yang meluncur melalui sedotannya. Sedangkan Ariana masih sibuk dengan seporsi seblak1 yang berhasil membuatnya bungkam karena kepedasan.

“ Boro-boro nanya Kaay, tiap ketemu sama dia. Lutut gue terasa lumpuh, gue ngga bisa ngapa-ngapain lagi lidah gue juga langsung kaku kalau ketemu dia.”

“ Emang lo sesuka itu ya sama si Logay?” kata Ariana berusaha menelan makanannya, bibirnya berwarna merah menyala. Logay adalah singkatan dari Loba Gaya yang bila dibahasa Indonesiakan berarti Banyak gaya.

Aku mengangguk lemah sambil menatap poster boyband Korea yang tertempel di dinding kosan Kayana. Kamar berukuran 5×6 meter itu adalah tempat peristirahatanku yang paling nyaman, harus kuakui sebagai pecinta musik Hardcore aku juga menyukai Boyband asal negeri ginseng itu, khususnya Big Bang.

“ Jujur ya dari dulu sampe sekarang gue nggak pernah suka sama si Deva.” Sambung Kayana.

“ Iyaaa gue tau.”

“ Nah untuk ratusan kalinya gue tanya ke lo. Kenapa lo suka sama Deva?”

Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemah. Tak ada jawaban yang tepat untuk menjelaskan alasan mengapa aku begitu menyukainya, mulutku bungkam oleh sesumpit lumpiah basah yang aku beli di dekat kampus. Sebentar lagi aku akan menginjak tingkat akhir, namun perasaan ini belum juga berakhir.

“ Naya udah melahirkan belum ya?” Ariana memecahkan lamunan kami bertiga.

“ Nggak tahu, gue belum ngedenger kabar lagi.”

“ Harusnya sih udah.” Kayana mencoba mengkalkulasi waktu kehamilan dengan jarinya.

“ Ciie Rana.. udah mau punya keponakan nih.” Ariana menggodaku.

“ Sialaaan!! ”

“ Iih nggak boleh gitu sama keponakan, harus baik-baik.”

Mereka berdua tak hentinya menggodaku dengan candaan. Sesekali aku ikut tertawa, namun aku pun merasa geli ketika anak Naya memanggilku dengan sebutan tante nantinya. Anak seseorang yang sangat dicintai Deva, seseorang yang sangat aku cintai.

Sumpitan terakhir sudah berhasil ku lahap dengan rasa kenyang dan ditutup dengan tegukkan air mineral yang membasuh dahaga. Setelah menahan lapar sejak jam kuliah selesai, aku merasa puas. Aku berbaring di atas kasur dan mulai mengeluarkan sepasang headset dan siap menempelkannya pada smartphone. Lagu Don’t go yang dibawakan oleh lelaki tampan bernama Oliver Sykes dan bandnya yang bernama Bring Me The Horizon mulai menggema di kepalaku. Perlahan namun pasti aku mulai terlalap hingga sesaat kemudian Ariana dan Kayana menindih badanku.

 Aku memutuskan untuk menyimpan perasaanku sendiri. Tak ada kesempatan bagiku untuk mendekati Deva. Ia masih terpuruk dan masih menyimpan perasaannya untuk Naya. Sampai hari ini pun status-status yang ia buat hanya untuk perempuan beranak satu itu. Aku pun tak hentinya hanya bisa memandang Deva dari kejauhan, sambil berharap waktu akan membuat Deva melupakan Naya atau setidaknya waktu dapat membuatku melupakan Deva.

 Kami berada di ruangan yang sama. Mata kuliah umum menyatukan kami, ia duduk tepat didepanku. Sekujur tubuhku serasa tersetrum, perasaan itu masih tersimpan di dasar hatiku.

“ Eheem.” Kayana berdehem sekeras mungkin. Aku mengerti, Kay sedang melakukan kode.

Aku masih terdiam sambil membenarkan wajahku yang tersipu. Aku tak mampu menahan senyuman yang dengan spontan tersungging di ujung bibir. Perasaanku tak karuan sambil menggantungkan kakiku di kaki kursi.

Berada di belakangnya saja mampu membuatku merasa begitu bahagia, meski hanya melihat tulang punggungnya aku tak kuasa menahan senyuman. Materi kuliah yang dijelaskan oleh pak Ahmad pun terasa menguap. Rasanya ingin terus berada di posisi ini, berada tepat dibelakangnya. Mengamati ujung rambut yang menyentuh kerah kemejanya juga tulang leher yang jenjang itu. Sesekali tangannya yang kurus itu menyentuh tungkai leher. Posisi duduk yang berubah dari menyender hingga tegak menghadap ke depan. Aku masih asik mengamatinya, sampai tak sadar materi sudah dijelaskan seluruhnya oleh pak Ahmad.

Setelah pak Ahmad keluar dari kelas, para mahasiswa langsung berhamburan keluar. Meja dan lutut saling berantuk sedangkan Deva masih asik pada smartphone. Rasanya berat untuk meninggalkannya dari ruangan ini. Ariana dan Kayana pergi entah kemana, langkahku terasa memberat. Namun apa lagi yang bisa kulakukan di sini rasanya aneh bila aku berlama-lama di tempat ini.

Kuputuskan untuk meninggalkannya sambil berharap ia akan menoleh ke arahku. Namun aku rasa itu hanya tinggal di anganku saja, Deva tak pernah mengarahkan pandangannya padaku.

Deva memang sudah sangat keterlaluan. Rasa cintanya pada Naya tak mampu ia hentikan, perasaannya malah semakin menggebu. Aku tak memahami bagaimana Naya sangat berarti bagi hidupnya sampai detik ini. Seperti sebuah kalimat yang begitu familiar ku dengar “ ku tunggu jandamu”. Ya, Deva masih mau menunggu Naya seorang wanita bersuami dan beranak satu.

Semakin banyak gosip miring yang bermunculan, meski Naya sudah berhenti kuliah. Kisah hidup Naya masih selalu menjadi pusat perhatian. Orang-orang masih banyak yang membicarakannya, tentang sebuah hubungan terlarang antara Deva dan dirinya.

Begitu kerasnya perasaan Deva, bagiku harusnya Deva sadar diri. Tak sepatutnya ia masih menunggu perempuan yang sudah dinikahi orang lain, tak etis rasanya bila Deva tetap mempertahankan Naya. Sementara, aku yakin bila harus memilih Naya pasti akan tetap memilih suaminya yang mampu memberinya nafkah secara lahir dan bathin sedangkan Deva hanyalah mahasiswa dan pemain band di kampus.

Atau Naya yang harusnya sadar diri karena tak pantas seorang istri menjalin sebuah hubungan rahasia dibelakang suaminya, apalagi kini ia sudah memiliki seorang putra. Seharusnya Naya bisa melepaskan Deva seseorang yang sangat mencintainya itu. Bila Naya tak melepaskan Deva, tentu saja Deva akann terus bertahan untuk Naya.

Dan mungkin aku yang seharusnya sadar diri. Aku takkan pernah menjadi bagian penting dalam hidup Deva. Lagipula, kami tak begitu saling mengenal. Yang ia tahu tentangku hanyalah selera musik yang sama.

Salah mataku yang  peka melihatnya saat pertama bertemu, Salah bibirku yang selalu membalas senyumannya meski ia tak tersenyum padaku, salah lututku yang selalu lemas bila melihatnya, salah pendengaranku yang menyukai musik sama seperti yag ia suka.

Secangkir Hot Capuccino masih terisi penuh, lukisan cokelat bubuk bertuliskan “ Good Luck” masih terhias rapi diantara busa yang menempel hingga bibir cangkir. Aku sama sekali tak berniat untuk mengaduk abjad yang berisikan harapan itu sama sekali. Sesekali jari telunjukku menyentuh bibir cangkir yang dihiasi oleh busa. Aku merasa tak mengenali diriku sendiri, sebegitu hebatnyakah cinta sampai mampu mengubah diriku yang biasanya selalu asyik sendiri dengan Sleeping With Sirens, Bring Me The Horizon dan Burgerkill.

Diantara keramaian aku merasa begitu seorang diri. Meski musik telah terpasang keras-keras ditelingaku, keramaian De’ Kaffee juga tak mampu membuatku merasa nyaman. Tak biasanya aku berada di tempat seperti ini, karena jujur saja aku lebih sering kumpul bareng di Basecamp bersama komunitas penikmat band Hardcore.

Sebuah tiket acara musik bernamakan Bandung Berisik masih berada digenggamanku. Bandung Berisik adalah acara tahunan yang diisi oleh band-band indie beraliran metal seperti Burgerkill dll. Aku tak pernah absen untuk menontonnya, apalagi harganya bisa dibilang murah. Acara seperti ini memang selalu ku nantikan setiap tahunnya.

Namun ada yang berbeda sejak bertemu dengan Deva. Disetiap tahun aku selalu berharap tiket yang kugenggam sekarang ini berjumlah dua. Satu untukku dan satu lagi untuk Deva. Dalam imajinasiku kami berteriak bersama, menyanyikan lagu keras bersama-sama. Namun sekalipun aku tak pernah melakukannya bersama Deva.

Aku merasa sepi namun tak ingin pulang. Dibalik kaca aku masih menatap jalanan Braga yang begitu lengang berbeda dari biasanya. Sedangkan waktu masih menunjukkan jam 4 sore, tak seharusnya aku berada disini mengingat angkot yang semakin malam akan semakin sepi. Akhirnya aku mencapur kata “ Good Luck” itu dan meneguknya secara perlahan. Meski sudah mulai mendingin aku masih menikmati rasa yang tercipta oleh sang Coffee Maker.

Aku masih memandang jalanan Braga dengan tatapan kosong sampai pandanganku tertuju pada seorang perempuan berambut panjang, ia begitu cantik dengan sepatu wedges yang terhias di kakinya yang semampai, Dress biru yang ia kenakan begitu cocok untuk tubuhnya yang ramping, tak lupa pula sebuah Sling bag terhias dibahunya yang kecil.

Ia baru saja turun dari sebuah motor gede sambil sesekali menatap kaca spion dan membenarkan rambutnya yang tadi tertutup oleh sebuah helm. Sedang didekatnya ada seorang pria bertubuh jangkung dan berbadan kurus. Aku bisa menebak bahwa lelaki itu adalah kekasihnya. Dan aku kembali meneguk Capuccino yang mulai mendingin itu.

Gadis itu lebih dulu memasuki De’Kaffee, sambil masih bingung mencari tempat duduk yang masih kosong. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat kekasihnya yang masih berada di luar. Kemudian dengan mesra lelaki itu meraih tangannya, ia tersenyum.

Ia adalah orang yang aku kenal. Seseorang berbadan tinggi dan bertubuh kurus. Aku terkejut ternyata ia adalah seseorang yang bernama Deva. Aku meremas  kedua tanganku dan menjadikannaya dua buah kepalan seprti bola. Lututku terasa lemas. Bagaimana mungkin Deva mampu berkencan dengan wanita selain Naya? Bukannya ia tak pernah bisa melupakan perempuan bersuami itu? Kini matanya mencari-cari tempat yang nyaman untuk mereka tempati. Sampai pandangannya tertuju dan pandangan kami saling bertaut , matanya menyipit dan tersenyum tipis  kini aku yakin ia sedang tersenyum ke arahku.

Satu detik senyuman yang ia berikan padaku, ku balas dengan hati yang begitu teriris. Sepertinya Deva sudah mulai berusaha untuk melupakan Naya dengan perempuan lain yang pastinya bukan aku.

Kusimpan rasa ini dalam-dalam pada seorang pria yang sama sekali tak menyadari bahwa ada seseorang yang begitu dalamnya memiliki perasaan hanya untuknya. Aku memang tak pernah menjadi bagian dari kehidupan Deva, percuma saja berani mendekati dan menyatakan perasaanku padanya, karena Deva hanya berkutat pada gadis yang ia cintai.

Sebuah tiket Bandung Berisik masih berada digenggamanku yang baru saja membuatnya menjadi sebuah kepalan. Aku kembali merapikannya, sambil menata kembali  tulang-tulangku yang lemas remuk itu . Meski berat rasanya aku harus segera meninggalkan tempat ini.

Post Navigation